<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804</id><updated>2011-12-31T08:47:38.241-08:00</updated><title type='text'>DHARMOGHANDUL</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-6286130655240816306</id><published>2007-07-20T01:23:00.000-07:00</published><updated>2007-07-20T01:25:43.974-07:00</updated><title type='text'>SEJARAH WALI SONGO</title><content type='html'>To: &lt;a href="mailto:debate_religious@yahoogroups.com"&gt;debate_religious@yahoogroups.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;From:  "feifei_fairy" &lt;&lt;a href="mailto:feifei_fairy@yahoo.com.sg"&gt;feifei_fairy@yahoo.com.sg&lt;/a&gt;&gt; &lt;br /&gt;Date: Tue, 17 Jul 2007 05:16:38 -0000&lt;br /&gt;Subject: `debate_religious` Sejarah Wali Songo    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Wali Songo&lt;br /&gt;Oleh Swatantre (Faithfreedom)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.wihara/"&gt;http://www.wihara&lt;/a&gt;. com/forum/ showpost. php?p=11588&amp;postcount=43&lt;br /&gt;sumber sitijenar : &lt;a href="http://jawapalace/"&gt;http://jawapalace&lt;/a&gt;. org/sitijenar. html ,&lt;br /&gt;dari buku serat Dharmogandhul saya mendapatkan:&lt;br /&gt;... pada waktu Siti Jenar dihukum mati darahnya berwarna putih dan berbau harum. terdengar musik dari angkasa .. namun atas kelicikan walisongo, mayat Siti Jenar diganti dengan mayat anjing kemudian dipertontonkan di depan umum...&lt;br /&gt;Aliran Siti Jenar inilah yang kemudian berkembang menjadi aliran kejawen di Jawa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- ------- with thanks to wachdiejr :&lt;br /&gt;SEJARAH WALISONGO&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.jawapala/"&gt;http://www.jawapala&lt;/a&gt; ce.org/walisanga 2.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menengok konflik Masa Lalu Biasanya, konflik yang terjadi di kalangan ulama -terutama ulama jaman dahulu, lebih banyak diakibatkan karena persoalan (rebutan pengaruh) politik. Tidak hanya terjadi pada era kiai-ulama masa kini, tapi sejak jaman Wali Songo-pun, konflik seperti itu pernah terjadi.&lt;br /&gt;Bahkan, sejarah Islam telah mencatat bahwa jenazah Muhammad Rasulullah SAW baru dimakamkan tiga hari setelah wafatnya, dikarenakan para sahabat justru sibuk rebutan soal posisi khalifah pengganti Nabi (Tarikh Ibnu Ishak, ta'liq Muhammad Hamidi).&lt;br /&gt;Di era Wali Songo -kelompok ulama yang "diklaim" oleh NU sebagai nenek-moyangnya dalam perihal berdakwah dan ajarannya, sejarah telah mencatat pula terjadinya konflik yang "fenomenal" antara Wali Songo (yang mementingkan syari'at) dengan kelompok Syekh Siti Jenar (yang mengutamakan hakekat).&lt;br /&gt;Konflik itu berakhir dengan fatwa hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dan pengikutnya. Sejarah juga mencatat bahwa dalam persoalan politik, Wali Songo yang oleh masyarakat dikenal sebagai kelompok ulama penyebar agama Islam di Nusantara yang cukup solid dalam berdakwah itu, Ternyata juga bisa terpolarisasi ke dalam tiga kutub politik; Giri Kedaton (Sunan Giri, di Gresik), Sunan Kalijaga (Adilangu, Demak) dan Sunan Kudus (Kudus).&lt;br /&gt;Kutub-kutub politik itu memiliki pertimbangan dan alasan sendiri-sendiri yang berbeda, dan sangat sulit untuk dicarikan titik temunya; dalam sidang para wali sekalipun. Terutama perseteruan dari dua nama yang terakhir, itu sangat menarik. Karena pertikaian kedua wali tersebut dengan begitu gamblangnya sempat tercatat dalam literatur sejarah klasik Jawa, seperti: "Babad Demak", "Babad Tanah Djawi", "Serat Kandha", dan "Babad Meinsma".&lt;br /&gt;Lagi-lagi, konflik itu diakibatkan karena persoalan politik. Perseteruan yang terjadi antara para wali itu bisa terjadi, bermula setelah Sultan Trenggono (raja ke-2 Demak) wafat. Giri Kedaton yang beraliran "Islam mutihan" (lebih mengutamakan tauhid) mendukung Sunan Prawata dengan pertimbangan ke-'alimannya. Sementara Sunan Kudus mendukung Aryo Penangsang karena dia merupakan pewaris sah (putra tertua) dari Pangeran Sekar Seda Lepen (kakak Trenggono) yang telah dibunuh oleh Prawata (anak Trenggono). Sedangkan Sunan Kalijaga (aliran tasawuf, abangan) mendukung Joko Tingkir (Hadiwijaya) , dengan pertimbangan ia akan mampu memunculkan sebuah kerajaan kebangsaan nusantara yang akomodatif terhadap budaya.&lt;br /&gt;Sejarah juga mencatat, konflik para wali itu "lebih seru" bila dibandingkan dengan konflik ulama sekarang, karena pertikaian mereka sangat syarat dengan intrik politik yang kotor, seperti menjurus pada pembunuhan terhadap lawan politik. Penyebabnya tidak semata karena persoalan politik saja, tapi di sana juga ada hal-hal lain seperti: pergesekan pengaruh ideologi, hegemoni aliran oleh para wali, pengkhianatan murid terhadap guru, dendam guru terhadap murid, dan sebagainya.&lt;br /&gt;*catatan wachdie.. bagaimana bangsa indonesia tidak dijajah? jika kita melihat cerita para negarawan islamnya sendiri pada rakus kekuasaan!!! !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- ------- with thanks to moe:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.indonesi/"&gt;http://www.indonesi&lt;/a&gt; a.faithfreedom. org/forum/ viewtopic. php?t=2735 MISSING LINK : ARAB - MUHAMMAD &amp; JAWA - WALISONGO May 19, 2006&lt;br /&gt;Dalam rangka untuk mencapai tujuannya, salah satu usaha yg dilakukan oleh Muhamad adalah : mengadopsi tokoh2 , kisah dan firman Tuhan yang ada pada Kaum Yahudi dan Nasrani (Ahlul Kitab) yang ada di tanah Arab saat itu.&lt;br /&gt;Tokoh, kisah dan firman tadi kemudian dipermak menurut kepentingan Muhamad menjadi produk baru bernama Quran &amp;amp; Islam. Selanjutnya produk baru ini dijual kembali kepada Kaum Yahudi dan Nasrani. Yang tahu ttg produk ini tentu saja menolak. Yang tidak tahu pasti menerima (meskipun menerima dg bayaran nyawa).&lt;br /&gt;Bagi kaum Yahudi dan Nasrani yang menolak, Muhamad menyebut mereka sebagai orang kafir, penghuni neraka.&lt;br /&gt;Sekarang mari kita lihat sejarah perkembangan Islam di Jawa.&lt;br /&gt;Walisongo (Sunan Kalijogo), mengadopsi cerita wayang yg sudah menjadi budaya Jawa dengan latar belakang Hindu India (Mahabarata) . Baik tokoh, cerita dan 'firman' dalam cerita pewayangan tadi diubah (baca: dibelokkan) oleh walisongo, dipermak menjadi produk baru dan lagi2 produk ini dijual kepada orang2 Hindu Jawa. Bagi yang tahu, mending kabur kayak leluhurnya dahulu yg pada kabur ke Pulau Bali. Lagi2, bagi orang Jawa yg memiliki cerita pewayangan asli yg tidak percaya dg cerita wayang versi Walisongo disebut : Kapir, calon penghuni neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut link dalam bahasa Jawa :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.suaramer/"&gt;http://www.suaramer&lt;/a&gt; deka.com/ cybernews/ kejawen/blencong /blencong- kejawe n09.html&lt;br /&gt;Terjemahannya Kurang lebih begini :&lt;br /&gt;Menyambut Hari Raya Idul Fitri ini, ada suatu cerita dalam pewayangan yang perlu diperhatikan.&lt;br /&gt;Walisanga dalam mengemban tugas luhur dalam rangka mengIslamkan tanah Jawa, mengetahui bahwa wayang bisa menjadi sarana siar Islam yang sangat efektif. Dalam bukunya, Poerbosoebroto yang berjudul Wayang lambang Ajaran Islam, banyak sekali hal2 yang berkaitan dengan maksud Walisanga tadi.&lt;br /&gt;Oleh walisanga, wayang diubah menjadi media dakwah Islam. Akidah Islam disiarkan melalui mitologi Hindu. Hal2 yang berkaitan dengan Dewa (Hyang, Sang Hyang) yang menjadi sesembahan masyarakat waktu itu dikait-kaitkan dengan cerita nabi. Mitologi Hindu berpegang pada dewa sebagai sesembahannya. Karena itu, walisanga memadukan cerita silsilah wayang dengan nabi2.&lt;br /&gt;Cerita silsilah wayang digarap dan diurutkan ke atas sampai pada nabi Adam. Metode dakwah Walisanga lewat mitologi Hindu, sangat tepat dengan kontek budaya masyarakat Jawa waktu itu (abad 15) yang memeluk agama Hindu.&lt;br /&gt;Untuk menyiarkan akidah Islam, Walisanga memilih cara atau metode, yang menurut Drs Ridin Sofyan cs dalam buku Islamisasi Jawa disebut 'de-dewanisasi' cerita (lebih tepatnya de-sakralisasi dewa/tuhan hindu kali ya .red). Cerita yang berhubungan dengan dewa2 diubah supaya akidah Islam bisa masuk hati sanubari masyarakat waktu itu.&lt;br /&gt;Rukun Islam juga menjadi pilihan siar dan dakwah Islam. Kalimasada (kalimat sahadat) sebagai ajaran (tauhid) islam masuk dalam cerita pewayangan. Puntadewa yang juga mempunyai nama Dharmakusuma yang juga Yudhistira menjadi wayang pilihan yang memegang surat atau Jamus Kalimasada.&lt;br /&gt;Prof Poerbatjaraka menerangkan bahwa Kalimasada berasal dari kata kali+maha+usada yang berarti 'suatu hal yang mempunyai nilai agung untuk sepanjang jaman'. Dalam dunia pewayangan, Kalimasada adalah jimat atau senjata pusakanya Prabu Puntadewa, raja Amarta. Dalam perang Barathayudha, Salya (dari kerajaan Kurawa) harus bertarung melawan Puntadewa. Salya mempunyai senjata pusaka Aji Candrabirawa yang dahsyat, namun dikalahkan oleh Puntadewa. Jamus Kalimasada mampu mengakhiri kekuatan Salya.&lt;br /&gt;Dalam pedahlangan diceritakan bahwa Puntadewa adalah putra dari Dewi (dalam hal ini manusia) Kunthi dengan Bethara (Dewa ya dewa, bukan manusia) Darma melalui mantra Adityarhedaya. Dewa Darma di Kahyangan (Surga) adalah dewa kebenaran dan keadilan. Alkisah Prabu Pandhu saat itu ingin memiliki seorang putra yang dapat bertindak adil dan benar. Dalam pewayangan, Puntadewa memiliki watak/sifat yang halus,penurut, bersahaja, rela,iklas,sabar, menerima.Puntadewa menjadi tokoh wayang yang memiliki darah berwarna putih.Menjadi lambang wayang yang berhati bersih dan suci.Maka sangat tepat sekali bila Puntadewa dipilih sebagai tokoh yang memiliki Jamus Kalimasada. Masih berkaitan dangan hal Kalimasada atau kalimat sahadat, di tanah Demak ada cerita tutur tinular (cerita turun temurun kali ya, cerita dari kakek nenek). Waktu itu Sunan Kalijaga (salah satu tokoh walisanga) bertemu dengan seorang yang sudah tua pikun.Orang tadi mengaku bernama Darmakusuma, yang sudah lama sekali berkelana kemana mana. Pada akhirnya dia mengeluh kepada Sunan Kalijaga supaya diberitahu jalan mati (makssudnya: sudah tua pikun, pengin segera mati kog ya ndak mati2).Sunan Kalijaga memberi petunjuk untuk membaca Kalimasada atau kalimat sahadat.&lt;br /&gt;Diceritakan bahwa setelah Darmakusuma membaca kalimasada, dia langsung meninggal. Mayatnya diurus dan dikuburkan dibelakang Masjid Demak. Ternyata kalimat sahadat dalam dunia pewayangan diletakkan oleh walisanga dalam penggarapan cerita wayang secara indah dan unik. Dalam bulan puasa yang penuh berkah dari Allah swt ini, watak dan sifat Puntadewa tadi dapatlah menjadi cermin atau teladan yang dapat diterapkan dalam dunia keluarga.&lt;br /&gt;Sutadi, Ketua Pepadi jawa Tengah Moe, translator&lt;br /&gt;------------ --------- --- Note: 1. Sesungguhnya saya bersaksi, bentuk kalimasada sesungguhnya adalah senjata tajam (saya lupa kalo ndak cakra/pedang) - coba search aja. Memang kata ini mirip sekali dg kalimat sahada. Inilah kepandaian mereka dalam membelokkan sesuatu. 2. seingat saya dalam cerita buku yang saya baca dulu :dewa darma mengintip dewi kunthi itu saat mandi di danau, menjadi birahi dan orgasme. Air maninya jatuh ke dauh tempat dewi kunthi yang membuatnya hamil.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mail/"&gt;http://www.mail&lt;/a&gt;- archive.com/ &lt;a href="mailto:ateis@yahoogroup"&gt;ateis@yahoogroup&lt;/a&gt; s.com/msg03689. html&lt;br /&gt;Kegeraman seorang Indonesia akan rusaknya budayanya sendiri karena Islam.&lt;br /&gt;Arab/Islam sumber kerusakan bangsa Kaji Dullah Sat, 16 Dec 2006 12:26:39 -0800&lt;br /&gt;Dalam refleksi kosong, kadang-kadang saya jadi geram ketika mengingat sejarah tentang penyebaran virus Islam ke Indonesia.&lt;br /&gt;Para penjahat itu adalah Wali Songo dan mereka-mereka yg membuka jalan bagi masuknya virus Arab ke nusantara. Dulu, pada abad ke-8 saja leluhur kita sudah berteknologi tinggi dan mampu membangun Borobudur (salah satu bukti peradaban paling maju pada zaman itu).&lt;br /&gt;Abad ke-13 Gajah Mada menjelajahi dan menyatukan sebagian besar kawasan Asia Tenggara, dan sebagai bangsa kita mencapai masa keemasan.&lt;br /&gt;Abad berikutnya, mulai para pembawa virus Arab (bukan orang Arab) datang (yakni antara abad 14-15) yang akhirnya pelan-pelan menggerogoti kerajaan Majapahit dan hancur tinggal puing-puing. Dari kerajaan adi-kuasa di Asia Tenggara dengan bangunan2 megahnya (pura, candi-candi) , menjadi kerajaan tengu di Yogja &amp; Solo yg istananya aja cuma dari kayu dan udah mau roboh ditiup angin.&lt;br /&gt;Coba kalau Islam tidak masuk ke Indonesia, barangkali kita sudah lebih maju saat ini dan cara berfikir kita pasti lebih advanced. Kalau sejak abad ke-8 saja sudah bisa bikin Borobudur, membangun kota-kota seindah Bali, menguasai kawasan seluas Asia Tenggara harusnya pada abad ke-16 menara Eifel ada di Jawa, bukan di Paris.&lt;br /&gt;Terkadang saya jadi bertanya, Islam sudah memberi apa sih kpd Indonesia? Kecuali terorisme, budaya jenggot, dan jilbab? Sementara meskipun hanya sisa-sisa, kita sampai sekarang masih bisa menikmati hasil warisan leluhur kita melalui industri pariwisata Borobudur &amp;amp; Bali. Ironisnya, Islam bukan saja telah merusak mental bangsa kita, bahkan telah beberapa kali berusaha menghancurkan warisan budaya asli kita.&lt;br /&gt;Thn 85-an teroris muslim beberapa kali mengebom Borobudur dan belakangan ini mau menghancurkan Bali.&lt;br /&gt;Saya sampai sekarang belum bisa melihat sisi baik apa yang sudah disumbangkan oleh orang Arab ? Kecuali duit2 recehan dari Saudi ke masjid-masjid yang pro Wahabi. Itu pun dampaknya lahir para pasukan jihadi yang siap menjadi relawan perang membela orang Arab yg berantem dengan sepupunya sendiri (Yahudi).&lt;br /&gt;Justru, setelah bangsa kita digerogoti oleh virus Arab (mulai abad 14-15), akhirnya (pada abad ke-16) bangsa kecil seperti Belanda bisa menguasai kita. Demikianlah seterusnya sampai hari ini. Dengan kata lain, penyebaran virus budaya jahiliyah Arab (melalui Islam) telah merusak banyak tatanan sosial budaya lain yang tanpanya barangkali malah bisa lebih maju.&lt;br /&gt;Jika salah satu kriteria bangsa yg maju/modern adalah bangsa yg telah memperkenalkan budaya-budaya unggul, maka seberapa majukah bangsamu hari ini? Ukurannya ada di organ bagian atasnya Muslim Melayu yang mereka tutupi dengan peci bau minyak pelet atau jilbab penutup ketombe.&lt;br /&gt;Kaji Dullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7026672496482314804-6286130655240816306?l=dharmoghandul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/6286130655240816306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7026672496482314804&amp;postID=6286130655240816306' title='22 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/6286130655240816306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/6286130655240816306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/sejarah-wali-songo.html' title='SEJARAH WALI SONGO'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>22</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-4027767996625151215</id><published>2007-07-16T23:38:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T23:39:07.417-07:00</updated><title type='text'>BUDDHA IS ALSO A EUROPEAN SAINT</title><content type='html'>THE DHAMMA TIMES (6 July 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha is also a European saint&lt;br /&gt;The ancient tale of Gautama Siddhartha, the founder of Buddhism, spread from his homeland to Europe, where he became a Christian saint with the name of "Iosaphat."&lt;br /&gt;That’s the conclusion of a group of Korean researchers who have conducted a multi-linguistic study of the westward spread of the story of the Buddha.&lt;br /&gt;"It is apparent that the name Iosaphat originates from Buddha," Paik Seung-wook, a lecturer of Spanish at Seoul National University said.&lt;br /&gt;According to Paik, while the Buddha’s tale spread westbound, his name "Buddha" or "Bodhisatta" in Sanskrit, changed gradually in accordance with various linguistic backgrounds with similar accounts of the tale.&lt;br /&gt;For example, it changed to "Bodisav" in Persian texts in the sixth or seventh century, "Budhasaf or Yudasaf" in an eighth-century Arabic document and "Iodasaph" in Georgia in the 10th century.&lt;br /&gt;The name in turn was adapted to "Ioasaph" in Greece in the 11th century, and "Iosaphat" or "Josaphat" in Latin since then.&lt;br /&gt;"The gradual change of the name shows the westward spread of the tale from Nepal (where the Buddha was born) to Persia, the Middle East, Greece and Europe," Paik said.&lt;br /&gt;Paik is a member of a project research team undertaking a study of the literary interchange between the East and the West. The Korean Research Foundation is sponsoring the study, and the study results were published in the June-July edition of the bimonthly "Antiquus."&lt;br /&gt;As it spread, the tale adapted different versions according to various religious backdrops. In the Greek account, a hero Ioasaph, a prince in India, one day witnessed blind, sick and old people on the streets outside of the palace. The scenes shocked the innocent prince and led him to contemplate the agony and emptiness of life. One day, a Christian monk named Barlaam visited the anguished prince and taught him the religion. Enlightened, Ioasaph abandoned his secular values and led an ascetic life until his death. This account has a striking similarity to that of the Buddha’s tale.&lt;br /&gt;In Europe, the story spread to most regions, especially since the 11th century, and the tale’s hero has been acclaimed as the champion of Christianity, not Buddhism.&lt;br /&gt;"There are slight differences in accounts in different texts. For example, in an Arabic account, the prince married a woman, but in a Greek text, he overcomes temptation from female figures," Paik said.&lt;br /&gt;According to Paik, there have been previous studies in Britain and Germany on the cultural transmission of Buddha’s tale to Europe, but he said this study is the first time scholars approached the subject in a comprehensive and multi-linguistic way.&lt;br /&gt;"The research covered eight languages: Sanskrit, Georgian, Arab, Turkish, Persian, Greek, Latin and Spanish. Our team studied the original text in six languages, and the other two in English," Paik said. [KOREA TIMES]&lt;br /&gt;==========Tibetans countdown to Dalai Lama's birthday today - A sea of prayer flags called wind horses cover the slopes of this Himalayan town where Buddhist faithful are preparing to celebrate the 70th birthday of the exiled Dalai Lama, hoping he may live long enough to finally return home. "We have hoisted hundreds of wind horses as this is no ordinary birthday," Tibetan Women's Association president B. Thering said of the pennants which Buddhists believe offer longevity. "We have a huge number of these flags and they're being hoisted as we celebrate his birthday the whole year," she said as other Tibetans festooned nearby hills with more pennants. Thousands of the Tibetan diaspora and supporters from around the world are set to gather in the seat of the Dalai Lama's government-in-exile on his birthday Wednesday in an event tinged with hope that he can one day return home to the land he fled almost fifty years ago after an uprising against Chinese rule was crushed. [AFP VIA YAHOO! NEWS]&lt;br /&gt;Buddhists flee Southern Thailand - Thousands of Buddhist teachers and residents are fleeing Thailand's Muslim south as 19 months of anti-government violence shows no sign of slackening, officials said on Tuesday. Another 2,000 teachers were expected to move to safer provinces after at least two dozen of their colleagues were among nearly 800 people killed by militants since violence erupted in the largely Malay-speaking region in January last year, they said. [REUTERS]Buddhist temple vandalized - Fireworks were used to vandalize a Buddhist Temple in South Nashville.Several explosive devices were thrown through the windows of the Temple overnight. One exploded near the altar. Police have notified the FBI and they're investigating the case as a possible hate crime. The monks say some local kids are probably to blame. The kids have caused problems before. The monks say they need help from police to keep the peace. [NEWSCHANNEL5.COM]==========ALSO IN THE NEWS:[KOREA TIMES] &lt;a href="http://times.hankooki.com/lpage/culture/200507/kt2005070420044711680.htm" target="_blank"&gt;Wooden Buddha statue Found to Be Korea's Oldest&lt;/a&gt;[XINHUA] &lt;a href="http://news.xinhuanet.com/english/2005-07/04/content_3170846.htm" target="_blank"&gt;Zen offers philosophy of life&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7026672496482314804-4027767996625151215?l=dharmoghandul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/4027767996625151215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7026672496482314804&amp;postID=4027767996625151215' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/4027767996625151215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/4027767996625151215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/buddha-is-also-european-saint.html' title='BUDDHA IS ALSO A EUROPEAN SAINT'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-3932880603953438706</id><published>2007-07-16T23:36:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T23:37:37.133-07:00</updated><title type='text'>BEYOND BELIEF</title><content type='html'>KALAMA SUTTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa hidup sang Buddha, seperti kehidupan sebelumnya dan sekarang dibuat bingung oleh kepercayaan-kepercayaan agama yang  jumlahnya banyak sekali, yang diajarkan oleh guru-guru agama yang mengangkat ajaran-ajaran mereka sendiri dan secara terbuka menentang yang lain-lainnya. Khotbah ini diberikan oleh Sang Buddha ketika Beliau ditanya oleh para Kalama (penduduk dari Kesaputta) yang merasa bingung oleh banyaknya jumlah agama pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha mengatakan:&lt;br /&gt;Janganlah menanggapi apapun yang hanya kabar angin (misalnya: menganggap bahwa begitulah memang kita sudah lama mendengarnya)&lt;br /&gt;Janganlah menanggapi apapun oleh karena hanya tradisi (misalnya: menganggap bahwa memang begitulah yang telah diwariskan selama beberapa generasi)&lt;br /&gt;Janganlah menanggapi apapun atas dasar gosip (misalnya: mempercayai apa yang dikatakan orang tanpa menyelidiki)&lt;br /&gt;Janganlah menanggapi apapun yang hanya karena itu terasa cocok dengan kitab sucimu&lt;br /&gt;Janganlah menanggapi apapun yang sifatnya hanya kira-kira yang bisa dijadikan perumpamaan belaka&lt;br /&gt;Janganlah menanggapi apapun karena sifatnya hanya usaha untuk menyimpulkan suatu keadaan belaka&lt;br /&gt;Janganlah menanggapi apapun karena sifatnya hanya dipandang dari segi penampilan belaka&lt;br /&gt;Janganlah menanggapi apapun hanya karena cocok dengan jalan pikiran yang telah ada pada kita&lt;br /&gt;Janganlah menanggapi apapun hanya karena kelihatannya seperti masuk diakal (misalnya: harus diterima)&lt;br /&gt;Janganlah menanggapi apapun karena berpikir bahwa pendeta itu terhormat ; kita hormati (oleh karenanya adalah benar untuk menerima kata-katanya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelah mencari tahu dan menganalisa, ketika angkau mendapatkan bahwa semuanya cocok dengan hal tersebut dan bisa membawa kebaikan dan keberuntungan bagi sesorang dan semua orang, barulah terima dan berpeganglah kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR ISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. PRAKATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. KRITIK TERHADAP ARGUMENTASI  KRISTEN TENTANG ADANYA TUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. MENGAPA TUHAN TIDAK MUNGKIN ADA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. TUHAN ATAU BUDDHA - SIAPA YANG TERTINGGI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. KENYATAAN DAN KHAYALAN DI DALAM KEHIDUPAN YESUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. KRITIK TERHADAP ALKITAB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. BUDDHISME - ALTERNATIVE YANG LOGIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. BAGAIMANA UNTUK MENJAWAB PARA PENGABAR INJIL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRAKATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga lapisan dalam tujuan dari buku ini . Yang pertama bertujuan untuk menguji secara kritis akan kleim kleim yang sering dibuat oleh para golongan Kristen fundamentalis, evangelis dan karismatik, dan dengan demikian menegaskan problem-problem yang sifatnya logis, filosofis dan etis dalam interpretasi mereka tentang Kristiani. Dalam melakukan ini saya berharap untuk dapat menyediakan fakta-fakta kepada umat Buddhis yang dapat mereka gunakan pada saat golongan Kristen mencoba mengkhotbahi mereka. Buku ini akan membuat suatu pertemuan yang lebih seimbang, dan mudah-mudahan lebih memungkinkan umat Buddhis untuk tetap sebagai Buddhis. Sebagaimana nyatanya, banyak umat Buddha yang hanya tahu sedikit sekali akan ajaran agama sendiri, dan sama sekali tidak tahu tentang Kristiani – yang akan menyulitkan mereka untuk menjawab pertanyaan pertanyaan orang Kristen atau untuk menangkis kleim kleim yang mereka buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan kedua dari buku ini adalah untuk menolong siapa saja dari golongan Kristen fundamentalis yang kebetulan membacanya agar mengerti mengapa beberapa orang tidak, dan tak akan pernah menjadi Kristen. Semoga, pengertian ini bisa membantu mereka untuk meningkatkan daya terima mereka darisana suatu persahabatan yang sejati dengan umat Buddhis, daripada menganggap mereka sebagai calon calon yang mempunyai potensi untuk dibujuk pindah agama.. Demi inilah, saya memajukan pertanyaan-pertanyaan sulit sebanyak mungkin dan bukan pertanyaan yang nilai kebenarannya hanya sepihak. Kalau kelihatannya kadang-kadang saya agak terlalu keras terhadap Kristiani, saya harap  agar tidak diinterpretasikan sebagai motif dari rasa dengki. Sayapun dulunya juga umat Kristen selama bertahun-tahun and masih mempunyai anggapan yang baik, dan bahkan kekaguman, untuk beberapa aspek dari Kristiani. Bagi saya, ajaran Yesus justru merupakan langkah langkah penting kearah menjadikan saya seorang Buddhis dan saya merasa bahwa saya telah menjadi umat Buddhis yang lebih baik karenanya. Akan tetapi, ketika para orang Kristen golongan fundamentalis, evangelis dan karismatik meng-kleim, sebagaimana banyak yang berbuat seperti ini, bahwa agama merekalah yang benar, dan berusaha untuk memaksakan kepercayaan mereka atas orang lain, maka mereka haruslah bersiap sedia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sasarannya adalah tentang agama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan ketiga dari buku ini adalah untuk membangunkan orang orang Buddhis akan apresiasi yang lebih dalam atas agama mereka sendiri. Di beberapa negara Asia, Buddhisme dianggap sebagai suatu tahyul yang sudah kadaluarsa, sedangkan agama Kristen dianggap sebagai agama yang mempunyai semua jawaban. Sebagaimana negara negara ini makin mendapat pengaruh Barat,  Kristiani dengan kesan “modern”-nya mulai kelihatan makin tambah menarik. Saya rasa buku ini akan cukup mendemonstrasikan bahwa Buddhismepun mampu mengajukan banyak pertanyaan mengenai Kristiani yang sulit dijawab, serta sekaligus, menawarkan penjelasan-penjelasan  tentang teka-teki kehidupan, yang membuat penjelasan penjelasan Kristen menjadi terlihat agak kekanak kanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang Buddhis yang mungkin tidak setuju terhadap buku seperti ini, karena yakin akan ajaran yang lembut dan toleran seperti Buddhisme seyogyanyalah menahan diri demi tidak mengkritik agama lain. Tentunya ini bukan apa yang telah diajarkan oleh Sang Buddha. Di dalam Mahaparinibbana Sutta ia berkata bahwa murid-muridnya harus bisa “mengajarkan Dhamma, menyampaikan Dhamma, menjadikan Dhamma, menguraikan Dhamma, menganalisa Dhamma, membuatnya menjadi jelas, dan dapat bertindak secara Dhamma untuk menangkal ajaran-ajaran palsu yang telah muncul.” Mengarahkan suatu pandangan kedalam penyelidikan dan kritik memainkan peranan penting dalam membantu memperjelas kebenaran dari yang salah, supaya kita berada dalam posisi yang lebih baik untuk memilih di antara “dua dan enam puluh sekte yang saling bersaing.” Kritik-kritik terhadap agama lain tidaklah pantas jika hanya berdasarkan atas kesengajaan dalam suatu kesengajaan salah penyajian dari agama tersebut, atau bahkan memburuk kedalam suatu aksi leceh-melecehkan dan saling mengatai. Saya harap saya telah menghindari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KRITIK TERHADAP ARGUMENTASI KRISTEN TENTANG ADANYA TUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen berpendapat bahwa ada Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Pengasih itu ada yang menciptakan serta mengontrol alam semesta ini. Beberapa argumen dipakai untuk membuktikan ide ini. Kita akan menguji setiap argumentasi tersebut dan menampilkan sangkalan Buddhis terhadap argumen tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuasa dari Alkitab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika diminta untuk membuktikan adanya Tuhan, orang Kristen seringkali akan membuka Alkitab dan berkata,”Alkitab mengatakan Tuhan ada, Dia pasti ada.” Masalahnya adalah, jika kita bertanya kepada seorang Hindu, Islam, Sikh atau Yahudi, maka merekapun akan menunjukkan kitab suci untuk membuktikan adanya tuhan tuhan mereka. Haruskah kita hanya percaya kepada Alkitab Kristen tapi tidak percaya dengan kitab suci agama lain ? Menggunakan Alkitab untuk menunjukkan adanya Tuhan baru mutlak JIKA hanya Alkitab sendiri yang berisi kata-kata Tuhan. Akan tetapi, kita tidak menemukan bukti bahwa begitulah adanya. Malahan nyatanya, seperti yang akan kita demonstrasikan selanjutnya bahwa Alkitab sesungguhnya adalah suatu dokumen yang tak dapat diandalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya Alam Semesta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usaha mereka untuk membuktikan adanya Tuhan, orang Kristen terkadang berkata,”Alam semesta ini tidak terjadi begitu saja, pasti ada seseorang yang membuatnya, oleh karenanya pasti ada Sang Pencipta.” Argumenttasi sangat lemah. Ketika hujan mulai turun kita tak bertanya,”Siapa yang membuat hujan ini?” karena kita tau bahwa hujan ini tidak dikarenakan oleh seseorang akan tetapi karena sesuatu,- fenomena alam seperti panas, penguapan, pengendapan dalam bentuk awan, dsb. Ketika kita melihat batu yang halus di sungai, kita tidak bertanya,”Siapakah yang memoles batu-batu itu?” karena kita tau bahwa permukaan batu yang halus itu disebabkan bukan oleh seseorang, akan tetapi oleh sesuatu - kejadian-kejadian alam seperti pergesekan pasir dan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hal seperti ini ini terjadi mempunyai sebab,tapi tak harus oleh sesuatu mahluk. Sama halnya dengan alam semesta ini - tidak diciptakan oleh Tuhan, tapi oleh fenomena alam seperti pemecahan nukleus, gravitasi, tenaga inersia, dsb. Akan tetapi, walau kita percaya bahwa mahluk dari surga dibutuhkan untuk menerangkan terjadinya alam semesta, ada bukti apa bahwa mahluk tersebut adalah Tuhannya orang-orang Kristen? Bisa juga Tuhan orang Hindu, Tuhan orang Islam atau salah satu tuhan tuhan yang disembah dalam kepercayaan suku suku kecil. Akhirnya semua agama, bukan hanya Kristiani semata mata, yang berpendapat bahwa Tuhan  ataupun tuhan tuhan lah yang mencipta alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumentasi dari Perancangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai respon terhadap pembuktian yang salah, orang Kristen akan mempertahankan bahwa alam semesta ini tidak terjadi begitu saja, tetapi keberadaan alam semesta ini menunjukkan suatu rancangan yang sempurna. Ada, Orang Kristen mungkin akan mengatakan, suatu susunan dan kesetimbangan yang menunjukkan bahwa ini telah didesain oleh intelegensia yang lebih tinggi Dan intelegesia yang lebih tinggi ini adalah Tuhan. Tapi seperti sebelumnya, terlihat ada permasalahan dengan argumentasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bagaimana seorang Kristen bisa tahu bahwa ini adalah Tuhan mereka yang melatarbelakangi penciptaan? Mungkin saja tuhan-tuhan dari agama agama yang bukan Kristen yang merancang dan menciptakan alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bagaimana seorang Kristen bisa tahu bahwa hanya satu Tuhan yang mendesain semua ini? Nyatanya, sebagaimana alam semesta ini begitu ruwet dan kompleks sehingga kita boleh saja berpendapat bahwa diperlukan intelegensia dari beberapa, mungkin berlusin-lusin tuhan untuk merancangnya. Bagaimana sekiranya argumentasi penciptaan alam semesta membuktikan bahwa ada banyak tuhan, bukan satu seperti menurut pendapat orang Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kita juga harus menanyakan, apakah alam semesta ini telah dirancang secara sempurna? Kita harus mempertanyakan ini karena kalau Tuhan yang Maha Sempurna yang merancang dan menciptakan alam semesta ini, maka alam semestanyapun seharusnya sempurna. Marilah kita pertama-tama meneliti alam tanpa kehidupan. Hujan memberikan kita air murni untuk diminum, akan tetapi kadangkala karena kelebihan curah hujan, orang kehilangan nyawa, rumah, dan mata pencaharian. Dilain kejadian tiada hujan sama sekali,  jutaan orang meninggal karena kekeringan dan kelaparan. Apakah ini rancangan yang sempurna? Gunung-gunung memberikan kesedapan ketika kita memandangnya menjulang keangkasa. Tapi tanah longsor dan letusan gunung api telah berabad abad menimbulkan bencana dan kematian. Apakah ini yang disebut rancangan yang sempurna? Hembusan angin yang sejuk memang menyenangkan, tapi badai dan topan telah berulang ulang menyebabkan kematian dan kehancuran. Apakah ini rancangan yang sempurna? Malapetaka malapetaka ini dan lainnya membuktikan alam tanpa nyawa tidak mencerminkan kesempurnaan rancangan dan oleh karenanyalah mereka bukan diciptakan oleh suatu Tuhan yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang perhatikanlah alam yang ada kehidupan untuk melihat apakah mereka juga menampilkan rancangan yang sempurna. Bila dilirik pada bagian luarnya saja alam kelihatan indah dan harmonis; semua mahluk hidup dicukupi dan masing-masing mempunyai tugas di dunia ini. Akan tetapi, semua ilmuwan biologi menyatakan dan membenarkan bahwa alam ini sangatlah kejam. Untuk hidup, mahluk hidup harus memakan mahluk hidup  yang lain, dan harus bergulat untuk untuk tidak dimangsa oleh mahluk yang lain. Di alam ini tidak ada sayang, cinta dan belas kasihan. Kalau Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang merancang semua ini, mengapa rancangan yang kejam yang terlihat? Dunia binatang bukan hanya terasa tidak sempurna secara ethis, juga tidak sempurna karena sering terlihat tidak baik.. Setiap tahun jutaan bayi dilahirkan dengan cacat phisik maupun mental ataupun mati didalam perut atau mati begitu dilahirkan. Mengapa sang pencipta yang sempurna merancang hal hal yang mengerikan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau ada rancangan di alam semesta ini, kebanyakan darinya adalah tidak sempurna dan kejam. Ini menandakan bahwa alam semesta ini tidak diciptakan oleh Tuhan yang Maha Sempurna dan Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumentasi dari Penyebab Utama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang orang-orang Kristen akan mengatakan bahwa semua yang terjadi pasti mempunyai sebab, pasti ada penyebab yang pertama dan Tuhanlah penyebab yang pertama. Argumen yang sudah tua ini justru berisikan sangkalan terhadap dirinya sendiri. Karena jika semuanya yang terjadi mempunyai dikarenakan sipenyebab, maka sipenyebab itu sendiri juga harus terjadi karena suatu sebab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada problema lain dari argumentasi tentang penyebab pertama ini. Secara logika, Tidak ada alasan yang kuat untuk berasumsi bahwa semuanya mempunyai hanya satu saja penyebab yang pertama. Mungkin saja enam, sepuluh atau tiga ratus penyebab terjadi secara bersamaan yang menjadikan semuanya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujizat-mujizat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen mengkleim bahwa keajaiban dan mukjizat seringkali dilakukan dalam nama Tuhan membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Inilah Argumen yang terasa menarik bila belum diperhatikan secara lebih seksama.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Selagi orang-orang Kristen secara terburu buru menyatakan bahwa karena doa-doa mereka orang buta untuk jadi bisa melihat kembali, yang tuli bisa mendengar, dan yang pincang bisa berjalan normal mereka lamban sekali dalam memperlihatkan bukti yang menujang kleim kleim mereka.Buktinya, orang-orang Kristen sangat ingin membuktikan bahwa mukjizat telah terjadi karena doa persekutuan mereka, seringkali dihanyutkan oleh kleim kleim yang sifatnya sembarangan, berlebihan, penuh dengan bualan bahkan seringkali kebohongan yang disengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang hal hal yang tak umum dan sulit diterangkan benar benar terjadi dalam upacara upacara keagamaan - akan tetapi bukan hanya bagi Kristen saja. Orang-orang Hindu, Islam, Taoisme dan semua orang dari berbagai agama juga menyatakan Tuhan atau tuhan-tuhan menampilkan keajaiban-keajaiban. Yang pasti bukan hanya Kristen memonopoli semua keajaiban.  Demikianlah, jika mukjizat yang dilakukan dalam nama Tuhan membuktikan bahwa keberadaannya Tuhan dari golongan Kristen, maka mukjizat mujizat terjadi dalam nama banyak tuhan seharusnyalah sama sama membuktikan bahwa mereka juga ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen boleh mencoba untuk mengatasi kenyataan ini dengan mengklaim bahwa, ketika mukjizat terjadi di dalam agama lain, mukjizat itu dilakukan dalam nama Iblis. Mungkin cara terbaik untuk menkonter kleim tersebut ini adalah untuk mengambil salah satu isi Alkitab. Ketika Yesus menyembuhkan orang sakit, lawan-lawannya menuduhnya melakukan penyembuhan itu melalui perantaraan Iblis. Yesus menjawab bahwa menyembuhkan orang yang sakit menimbulkan kebaikan, dan jika Iblis berbuat kebaikan, maka Iblis akan menghancurkan dirinya sendiri. (Markus 3:22-26). Maka hal yang sama juga bisa dikatakan atas keajaiban-keajaiban yang dipertunjukkan didalam agama Hindhu, Yahudi maupun Sikhs. Jika ini dilakukan demi kebaikan, bagaimana mungkin ini pekerjaan Iblis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumen akan Pentingnya Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen akan sering berkata bahwa hanya dengan percaya kepada Tuhanlah, orang akan mempunyai kekuatan untuk menghadapi banyak problema kehidupan, dan dengan demikian kepercayaan kepada Tuhan itu adalah sangat penting. Klaim ini kelihatannya didukung oleh banyak buku yang ditulis oleh orang-orang Kristen yang telah menjalani dan mengatasi berbagai macam krisis kehidupan melalui kekuatan Tuhan. Beberapa dari buku buku ini adalah bacaan yang tinggi inspirasinya, begitulah katanya, bahwa seseorang bisa mengatasi problema problema hanya dengan pertolongan tuhan menjadi agak meyakinkan kedengarannya. –sebelum kita selami lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau klaim di atas benar, kita bisa mengira bahwa yang bukan Kristen tentunya hidup dalam perasaan yang tertekan, kebingungan dan keputusasaan, sedangkan semua orang Kristen yang percaya pada Tuhan akan selalu dapat mengatasi semua kendala tanpa perlu bantuan dari konsultan maupun dokter jiwa. Jelasnya, bahwayang bukab Kristen dan bahkan orang-orang tak beragama sekalipun juga bisa mengatasi krisis hidup seperti orang Kristen malahan kadang kadang lebih baik. Juga sering terlihat bahwa pemeluk Kristen yang patuh menjadi kehilangan iman mereka terhadap Tuhannya sesudah berhadapan dengan problem problem pribadi yang sangat besar. Dus, kleim bahwa Tuhan itu penting demi memecahkan serta mengatasi problema problema adalah tidak berdasar sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumentasi “Mencoba dan Menyangkal” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang-orang Kristen mendapatkan bahwa mereka tidak bisa membuktikan keberadaan Tuhan dengan memakai fakta fakta yang meragukan maupun logika, mereka akan merubah taktik mereka dan berkata,”Mungkin memang tidak bisa dibuktikan bahwa Tuhan itu ada. tapi anda juga tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada.” Tentu saja pernyataan cukup ini benar. Anda tidak bisa membuktikan keberadaan Tuhan- berarti tuhan tuhan dari Taoisme, Hindhuisme dan lusinan agama lainnyapun juga tidak terbukti ada. Dalam kata lain, sebaliknya omongan yang berlebihan, maupun kleim kleim yang hebat dan cara memproklamirkan yang meyakinkan, tetap saja tidak ada bukti yang lebih menunjukkan bahwa kenyataan adanya Tuhan orang Kristen itu lebih daripada tuhan-tuhan yang disembah dalam agama agama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                                                  Kesaksian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semuanya gagal, orang-orang Kristen akhirnya akan mencoba untuk meyakinkah kita bahwa Tuhan itu ada dengan pernyataan-pernyataan yang mengharukan. Orang-orang yang menyatakan dengan penuh haru tersebut akan berkata,”Saya dulunya sangat tidak bahagia dan tak pernah puas tapi setelah saya menyerahkan hidup saya ke tangan Tuhan, hidup saya menjadi bahagia dan penuh ketenangan.” Pengakuan-pengakuan seperti ini sangatlah menyentuh hati, tapi apa yang pengakuan-pengakuan itu bisa buktikan? Jutaan orang yang juga sama yaitu hidup dalam kehidupan yang bahagia dan  penuh arti setelah mereka memeluk ajaran agama Buddha, Hindu atau Islam. Sama halya, tidak bisa disangkal bahwa banyak orang yang hidupnya tidak berubah lebih baik sedikitpun walau mereka telah menjadi Kristen – kelemahan kelemahan dan problema problema yang sama tetap saja ada. Demikianlah argumentasi ini seperti juga yang lainnya tidak dapat membuktikan adanya Tuhan orang Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGAPA TUHAN TAK MUNGKIN ADA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah melihat beberapa argumentasi yang digunakan untuk membuktikan keberadaan Tuhan itu tidak cukup kuat. Sekarang kita akan mendemonstrasikan secara logika bahwa Tuhan yang Maha Pengasih, Maha Tahu dan Maha Kuasa seperti yang di-imani oleh orang Kristen itu tidak mungkin ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problema Kebebasan Kehendak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kehidupan beragama, supaya lebih berarti, kita harus memiliki kebebasan kehendak, kita harus bebas menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Sebab tanpa kebebasan kehendak, kitapun tidak harus bertanggungjawab atas perbuatan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut orang-orang Kristen, Tuhan itu Maha Tahu. Dia tahu masa yang lampau, masa sekarang, dan semua di masa yang akan datang. Kalau benar demikian, maka Tuhan pasti sudah tahu semua yang kita mau kerjakan jauh sebelum kita melakukannya. Ini berarti seluruh hidup kita sudah di tentukan olehnya terlebih dahulu, jadi kita bertindak bukanlah atas dasar kebebasan kehendak, tetapi menurut yang telah ditentukan. Kalau kita jauh sebelumnya sudah ditentukan untuk menjadi orang baik, maka kita akan menjadi baik, dan bila kita sebelumnya ditentukan untuk menjadi buruk, maka kita akan menjadi orang buruk/jahat. Kita berbuat sesuatu bukan karena kehendak atau pilihan kita, akan tetapi menurut yang telah ditentukan Tuhan. Meskipun demikian orang Kristen akan bersikeras bahwa kita tetap mempunyai kebebasan kehendak, hal inilah yang justru membuat ke-Maha Kuasaan Tuhan secara logika makin jauh daripada mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau manusia sifatnya jahat, ini dikarenakan Tuhan telah menentukan mereka untuk menjadi jahat (Roma 1:24-28) dan  menyebabkan mereka untuk tidak menuruti perintahNya (Roma 11:32). Kalau mereka tidak mengerti firman-firman Tuhan, itu dikarenakan Dia telah membuat otak mereka tumpul (Roma 11:8) dan menyebabkan mereka untuk membandel (Roma 9:18). Tuhan mencegah penyebaran ajaran Nasrani di beberapa tempat (Kisah Para Rasul 16:6-7) dan Dia menentukan segala sesuatu jauh hari sebelum semuanya terjadi, kapan seorang itu akan dilahirkan, kapan orang itu akan mati. (Kisah Para Rasul 17:26). Mereka yang akan diselamatkan telah terpilih sebelum asal mulanya waktu( Timotius II 1:9; Efesus1  ayat 11). Jika seorang beriman dan maka ia akan diselamatkan, iman berasal dari Tuhan, bukan usaha sendiri (Efesus 2:9-10). Siapa saja boleh bertanya,”Kalau seseorang hanya dapat berbuat apa apa yang telah ditentukan oleh Tuhan, dapatkah mereka dipegang agar bertanggung jawab atas perbuatan perbuatan mereka ?” Alkitab mempunyai suatu jawaban untuk pertanyaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang salah seorang darimu akan berkata kepadaku: “Jika demikian, bagaimana bisa Tuhan mencari kesalahan seseorang? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?”. Tapi kau anggap siapa dirimu, hei sahabat, berani benar menyahuti Tuhan? Sebuah Pot tanah liat tidaklah bertanya kepada yang membuatnya “Mengapakah engkau membentuk aku seperti ini?” Dan toh, sipembuat pot berhak untuk memilih tanah liat yang mana yang mau dipakainya, untuk membuat dua buah pot dari satu gumpalan tanah liat, yang satu untuk acara tertentu dan yang lain untuk penggunaan umum. Dan hal serupa ini adalah yang benar benar telah dilakukan Tuhan (Roma 9:19-22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi terlihat nyata di dalam ajaran Kristiani, jalan hidup seseorang dan takdirnya adalah sepenuhnya ulah Tuhan. Dan sebagai manusia belaka kita tidak punya hak untuk mengeluh tentang apa yang telah Tuhan putuskan untuk kita. Ide di mana semuanya telah ditentukan cukup cocok dengan ide bahwa Tuhan itu Maha Tau tapi membuatnya menjadi tidak masuk akal jika ditinjau dari segi konsep usaha untuk berbuat kebaikan atau menghindari kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problema Tentang Kejahatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin argumen yang paling kuat terhadap adanya Tuhan yang Maha Kuasa, penyayang adalah fakta yang tak bisa dipungkiri bahwa dunia ini terlalu banyak pedih dan derita didunia ini. Kalau benar benar ada  Tuhan Yang Maha Penyayang yang mempunyai kekuatan yang tak ada batasnya, mengapa Dia tidak mengakhiri semua kejahatan? Orang-orang Kristen akan mencoba untuk menjawab pertanyaan ini dengan berbagai cara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama, mereka pasti mengatakan bahwa kejahatan itu disebabkan oleh manusia bukan oleh Tuhan dan kalau saja manusia mau mengikuti perintah perintah Tuhan, mungkin tak akan ada kepedihan, kejahatan dan penderitaan ataupun kejahatan. Walau benar bahwa kejahatan seperti perang, perkosaan, pembunuhan, dan eksploitasi dapat disalahkan kepada mahluk manusia, tetapi manusia tidak mungkin bisa disalahkan akan jutaan nyawa yang melayang setiap tahun yang disebabkan oleh gempa bumi, banjir, penyakit menular dan kecelakaan, yang mana adalah kejadian kejadian alam. Buktinya, menurut Alkitab, kuman-kuman yang menyebabkan penyakit yang mengerikan seperti TBC, polio, kolera, lepra dsb, dan semua kesengsaraan, cacat dan derita dimana penyebabnya, diciptakan Tuhan sebelum Dia menciptakan manusia. (Kejadian 1:11-12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain yang orang Kristen akan coba terangkan tentang kejahatan adalah mengatakan bahwa ini adalah hukuman Tuhan bagi siapa saja yang tidak mengikuti perintah-perintahNya. Akan tetapi, yang terkandung disini adalah bahwa celaka hanya menimpa yang jahat saja dimana hal ini tentunya tidak benar. Kita sering mendengar tentang penyakit-penyakit yang menyiksa atau bencana bencana menimpa orang-orang baik termasuk orang Kristen yang baik, sama halnya sering kita dengar tentang orang yang benar benar jahat yang kelihatannya malah mendapat  yang tiada lain adalah rezeki dan sukses. Jadi tak dapat dikatakan bahwa penderitaan dan kejahatan adalah cara Tuhan untuk menghukum yang berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, orang-orang Kristen akan berkata bahwa Tuhan membiarkan kejahatan untuk muncul di dunia karena dia mau memberikan kebebasan kepada semua orang untuk memilih antara kebaikan atau kejahatan dari sanalah keselamatan didapat. Kejahatan, katanya, adalah untuk mencoba kita. Sekilas kedengarannya seperti suatu penjelasan yang bagus.Jika seseorang melihat ada orang yang sedang digebuki oleh seorang yang sok jagoan maka dia mempunyai pilihan untuk menyingkir (berbuat salah) atau memutuskan untuk menolong sikorban (berbuat baik). Jika dia memutuskan untuk menolong, maka dia telah melewati percobaan itu dengan mencapai kebaikan. Toh, seperti yang kita telah lihat sebelumnya, Tuhan yang Maha Tahu sudah tau pilihan mana yang seseorang akan buat, tak dapatkah Tuhan Yang Maha Penayang memikirkan cara yang lebih tidak kejam dan lebih tidak menyakitkan untuk hal ini? Terlihat tak-sayang dan tak-adil untuk membiarkan rasa sakit harus diderita oleh seseorang supaya orang lain bisa mempunyai kesempatan untuk memilih antara yang baik dan yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang Kristen akan berusaha membebaskan Tuhan dari tanggung-jawab atas kejahatan dengan mengatakan kejahatan itu bukan diciptakan oleh Tuhan, melainkan diciptakan oleh Iblis. Pernyataan ini mungkin saja benar, tetapi jika Tuhan begitu Maha Pengasih dan Penyayang, mengapa Tuhan tidak mencegah Iblis untuk melakukannya? Apapun masalahnya, siapa yang pertama kali menciptakan Iblis? Tentu saja Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahapan ini, orang-orang Kristen mulai menjadi kalang kabut, meningkatkan argumentasi dari logika kepada iman-kepercayaan. Dia pasti mengatakan bahwa meskipun benar ada penderitaan di dunia ini, kita bisa menggunakan penderitaan itu untuk membangkitkan keteguhan hati dan kesabaran. Ini tanpa diragukan lagi memang benar, tetapi tetap saja tidak saja menjelaskan mengapa Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang membiarkan para bayi mati karena kanker, pemakai jalan yang tak bersalah tewas dalam kecelakaan, dan penderita penyakit kusta untuk menderita cacat dan kesakitan? Faktanya adanya kesakitan, penderitaan dan kejahatan yang tidak perlu ada didunia adalah bukti yang sangat kuat dari ketiadaannya Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Mencipta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen mengklaim bahwa Tuhan itu Sempurna, bahwa Dia itu lengkap dalam hal apa saja, tapi jika Tuhan benar benar menciptakan alam semesta ini, bukan menjadi terbukti bahwa Dia tidak sempurna. Marilah kita uji mengapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Tuhan menciptakan alam semesta ini, tak ada apapun (hampa) - tidak ada matahari, tidak ada bumi, tidak ada orang, tidak ada kebaikan maupun kejahatan, tidak ada penderitaan. Tak ada apa apa kecuali Tuhan yang menurut orang Kristen sempurna. Nah jika Tuhan demikian sempurna dan tak ada lagi kecuali kesempurnaan yang ada, apa yang motivasi Tuhan untuk menciptakan alam semesta ini dan jadi membawa ketidak sempurnaan kedalam mahluk hidup? Mungkinkah karena dia merasa bosan sehingga ingin melakukan sesuatu? Apakah karena dia kesepian sehingga ingin mendengar seseorang berdoa kepadanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen berpendapat Tuhan menciptakan semuanya karena cintaNya yang besar kepada manusia, tapi ini adalah mustahil! Tuhan tidak mungkin bisa mencintai manusia sebelum mereka ada melebihi daripada, jika dibandingkan dengan, seorang wanita yang tidak mungkin bisa mencintai anak anaknya sebelum dikandungnya. Kebutuhan Tuhan untuk mencipta menunjukkan bahwa Tuhan tidak terpuaskan dalam beberapa hal dan maka itulah Ia tidak sempurna. Orang Kristen bisa saja mengatakan bahwa Tuhan menciptakan apa saja secara spontan dan tanpa kebutuhan maupun keinginan. Toh ini akan berarti bahwa seluruh alam semesta telah tercipta tanpa tujuan ataupun dipikirkan terlebih dahulu dan karena itulah ini bisa berarti bahwa Tuhan bukanlah Sipencipta Yang Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problema Tuhan Yang Sembunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen selalu mengkleim bahwa Tuhan ingin kita percaya kepadaNya sehingga kita bisa diselamatkan -  tapi bila demikian mengapa Tuhan tidak muncul saja dan melakukan suatu mukjizat sehingga setiap orang bisa melihatnya dan percaya? Orang Kristen pasti berkata bahwa Tuhan ingin kita percaya kepadaNya dengan iman, bukan kareba telah melihat dengan mata kita. Biar bagaimanapun Alkitab sendiri yang mengatakan, Tuhan dulunya memperlihatkan mukjizat yang terhebat dan sering kali secara dramatis mencampuri urusan manusia supaya manusia bisa melihat kehadiranNya. Nah kalau itu pernah diperbuatNya dimasa yang lalu, mengapa tidak dilakukanNya sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen akan berkata bahwa Tuhan mempertunjukkan mujizat mujizat saat ini (penyembuhan, membantu memecahkan masalah pribadi, dan sebagainya) tapi dengan bandel dan jahat hampir semua orang menolak untuk percaya. Walau apapun juga keajaiban-keajaiban yang dikumandangkan itu sifatnya individu dan kecil dan tentunya sangat dapat diragukan. Nah jika Tuhan mempertunjukkan suatu mujizat yang sangat memukau yang tak ada penjelasannya, mungkin kebanyakan orang tentunya akan percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan menurut Alkitab, waktu orang Israel meng-arungi gurun pasir selama 40 tahun lamanya, Tuhan memberi makan kepada mereka dengan membuat makanan jatuh dari langit secara teratur  (Keluaran 16:4). Di tahun 1980-an, jutaan umat Kristen asal Ethiopia mati secara perlahan-lahan dan penuh derita karena kelaparan yang disebabkan kemarau yang berkepanjangan. Tuhan saat itu mempunyai kesempatan emas untuk menjatuhkan makanan dari langit, seperti yang Alkitab kleim, yang dilakukanNya dimasa lalu, untuk membuktikan keberadaan diriNya, kekuasaaNya dan cintaNya. Orang-orang Buddha malah akan mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah (memanifestokan) memperjelas kehadiranNya karena dia sebenarnya tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN ATAU BUDDHA – SIAPA YANG TERTINGGI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi orang Kristen menganggap Tuhan sebagai pencipta dan raja mereka, umat Buddha memandang Buddha sebagai contoh bentuk dan pandangan hidup. Meski umat Kristen belum pernah melihat Tuhan, tapi katanya mereka mengenal Tuhan dengan berkomunikasi denganNya lewat doa dan merasakankehadiranNya. Mereka juga bersikeras bahwa mereka bisa mengetahui kehendak Tuhan dengan membaca firman-firmanNya yang kata mereka terdapat didalam Alkitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana orang Buddhis tidak berdoa kepada siapapun maupun mengakui adanya Tuhan, cara satu satunya mereka bisa mendapatkan bayangan tuhan itu seperti apa adalah dengan membaca Alkitab. Akan tetapi waktu orang Buddhis memperhatikan apa yang Alkitab bicarakan tentang Tuhan mereka seringkali dibuat terkejut. Mereka menemukan bahwa Tuhan seperti yang digambarkan didalam Alkitab benar benar beda dengan Tuhan yang mereka dengar dari penuturan orang Kristen tentangNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi umat Buddha menolak konsep ketuhanan Kristiani karena kelihatannya tidak logis dan tidak mempunyai fakta fakta yang menunjang, mereka juga menolaknya karena  kelihatannya lebih rendah daripada ajaran sang penuntun jalan hidup mereka, yaitu Sang Buddha. Nah sekarang kita akan menguji apa yang Alkitab tuturkan tentang Tuhan, bandingkanlah dengan apa yang Tipitaka (Kitab suci umat Buddha) berkata tentang Sang Buddha, dan darisana bisa mendemonstrasikan ke-superioritas-an moral dari yang disebut kemudian – Sang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan Rupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa rupa Tuhan? Alkitab mengatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia menurut imaginasi rupaNya (Kejadian 1:26) jadi dari situ kita bisa anggap Tuhan mempunyai rupa yang kira kira sama dengan manusia. Alkitab memberitahu kita bahwa Tuhan mempunyai tangan (Keluaran 15:12), lengan (Ulangan 11:2), jari (Mazmur 8:4) dan wajah (Ulangan 13:17). Dia tidak suka kalau manusia melihat wajahNya, akan tetapi dia tidak keberatan jika manusia melihat punggungNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian kusingkirkan tanganku dan engkau akan melihat punggungku, tetapi wajahku tidakboleh dilihat.” (Keluaran 33:23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Tuhan kelihatannya mempunyai tubuh seperti manusia dia juga terlihat tidak berbeda dengan setan dan patung patung penjaga pintu yang bertampang menyeramkan yang sering terlihat di kelenteng India dan Chinese. Contohnya, api keluar dari badan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Api menjalar di hadapan-Nya, dan menghaguskan para lawan-Nya sekeliling” (Mazmur 97:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah kita datang dan tidak akan berdiam diri, di hadapan-Nya api menjilat dan disekeliling-Nya bertiup badai yang dahsyat.” (Mazmur 50:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang orang menggerutu tentang buruknya nasib mereka yang didengar oleh TUHAN dan ketika dia mendengarnya kemarahannya meluap.Kemudian api dari Tuhan menjalar ditengah tengah mereka dan menghanguskan sampai ketepi perkemahan” (Bilangan11:1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Tuhan sedang marah,  yang mana tampaknya cukup sering, asap dan api keluar dari tubuhNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bumi gemetar dan menggempa, dan fondasi gunung terguncang, mereka gemetar karena dia sedang marah. Asap keluar dari lubang hidungnya; api yang menghanguskan keluar dari mulutnya, batu-bara yang menyala-nyala berterbangan keluar dari sana” (Mazmur 18:7-9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Nabi Yehezkiel melihat Tuhan bersama pendampingnya para malaikat, dia menuturkan bagaimana mereka terlihat seperti ini. (Yehezkiel 1:4-21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kelima dari bulan itu – pada tahun kelima disaat raja Jehoiachin berada dalam pengasingan – firman tuhan disampaikan kepada Yeheskiel sipendeta, anak Buzi, yang tinggal di sungai Kebar ditanah yang dikuasai oleh bangsa Babilonia. Disanalah tangan Tuhan memberi kekuatan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kupandangi, dan kumelihat badai mendatangi dari utara - awan yang amat besar dengan gemerlapnya kilat dan dikelilingi oleh sinar sungguh brilian; ditengah-tengah api yang terlihat seperti logam yang bernyala-nyala, dan didalam api tersebut terdapat apa yang terlihat sepertiempat mahluk hidup. Yang terlihat bentuk mereka menyerupai manusia, tetapi masing-masing mempunyai empat muka dan empat sayap. Kaki mereka lurus ; telapak kaki mereka seperti kaki lembu dan berkilau-kilau seperti tembaga yang dipoles. Dibawah sayap-sayap mereka pada keempat sisi mempunyai tangan tangan seperti tangan manusia. Mereka berempat mempunyai muka dan sayap, dan sayap mereka saling menyentuh satu sama lain. Masing masing diluruskan kedepan;mereka tidak digerakan pada saat mereka bergerak pindah&lt;br /&gt;Muka mereka terlihat seperti ini; semua dari mereka berempat mempunyai seperti orang dan disebelah kanannya mempunyai muka seperti singa, dan disisi kiri bermuka seperti banteng, semuanya juga mempunyai muka yang seperti elang. Begitulah muka muka mereka. Sayap sayap mereka direntang keatas; mereka semua mempunya dua sayap, saling menyentuh satu sama lain pada sisinya, dan dua sayap melingkupi badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya maju kedepan. Kemana saja roh roh pergi, kesitu mereka pergi, tanpa menoleh pada saat mereka bergerak. Tampak mahluk tersebut seperti batu-bara yang sedang menyala-nyala atau seperti obor. Api bergerak kian kemari bersama dengan mahluk tersebut; sungguh terang benderang dan kilat menyambar-nyambar. Mahluk mahluk tersebut bergerak kian kemari dengan cepatnya seperti gerlapan gerlapan kilat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kupandang mahluk mahluk hidup tersebut, kulihat suatu roda diatas tanah disebelah tiap tiap mahluk yang mempunyai empat wajah ini. Beginilah tampak dan struktur dari roda roda tersebut: Mereka gemerlapan seperti kristal chrysolium, dan keempatnya terlihat serupa. Semuanya kelihatan dibuat seperti saling sebuah roda yang tegak lurus dengan roda yang satunya lagi (Yehezkiel 1:4-21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Kristen seringkali melihat rupa dewa-dewa yang berlengan dan berwajah banyak ditempat pemujaaan Hindhu dan pemeluk Tao, dan mengatakan bahwa mereka iblis iblis ketimbang dewa dewa – tapi begitu Alkitab memberikan gambaran jelas tentang rupa Tuhan orang Kristen ternyata sangat mirip dengan rupa dewa-dewa Hindu dan Taois. Lebih lanjut, dewa-dewa atau tuhan-tuhan Hindu dan Taois membawa berbagai senjata seperti  juga halnya Tuhan orang Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari dimana Tuhan akan menghukum dengan  pedang-Nya yang  kuat, hebat dan penuh kuasa”(Yesaya 27:1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Matahari, bulan tak bergerak disurga terkilau oleh melesatnya anak panahmu, tersilaukan oleh berkelebatnya tombakmu. Dalam kegeraman Engkau melangkah melintasi bumi, dalam kemurkaanmu menerabas bangsa-bangsa” (Habakuk 3:11-12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan seperti guntur yang meggeledek dari surga, suara dari Yang Tertinggi bergema. Dia menembakkan panah panahnya dan membubarkan musuh musuhnya” (Mazmur 18:13-15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi Allah menembak mereka dengan panah panah; sekonyong-konyong mereka terhajar roboh.” (Mazmur 64:8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan akan muncul dihadapan mereka, dan anak panah-Nya akan melesat secepat kilat. Dan raja yang berkuasa akan meniup trompetnya.” (Zakaria 9:14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain yang menarik dimana cara Tuhan Kristen ini mirip cara dari dewa-dewa non-Kristen adalah cara ia berpindah tempat. Alkitab memberitahukan kita bahwa Tuhan berpindah dari satu tempat ke tempat lain sambil berduduk diatas awan (Yesaya 19:1) atau menaiki punggung salah seorang malaikat (Mazmur 18:10). Jelas sekali terlihat dari kutipan-kutipan ini bahwa Tuhan mempunyai penampilan yang biadab dan menakutkan. Suatu kesimpulan sekalilagi diuji kebenarannya oleh Alkitab dimana orang lain dituturkan seperti yang dikatakan dibuat ketakutan oleh tampangnya Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Layanilah Tuhanmu dengan penuh rasa takut dan gemetar, ciumlah kaki-Nya jika tidak ia akan marah dan engkau akan binasa, karena kegeramannya akan segera menyala” (Mazmur 2:11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah sebabnya aku merasa takut ketika berada dihadapannya. Ketika aku memikirkannya aku berada dalam kengerian, Tuhan telah membuat hatiku kecil. Yang Kuasa telah menkutkan aku.” (Ayub 23:15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus berulangkali mengatakan bahwa kita harus takut akan Tuhan (misalnya yang tercantum di Lk 12:4-5). Alkitab juga scara benar mengatakan bahwa dimana ada ketakutan, di situ tidak akan ada cinta (1 Yohanes 4:18) dan jadi jika Tuhan menciptakan ketakutan dalam diri semua orang sulit untuk mengetahui bagaimana dengan sekaligus dia dapat dicintai oleh manusia dengan setulusnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terlihat dalam wujud sang Buddha? Sebagai manusia, Sang Buddha memiliki tubuh seorang selayaknya seperti manusia biasa. Akan tetapi Tipitaka (kitab suci Buddhisme) beulang-ulang membicarakan mengenai kecantikan personalitinya yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seorang yang rupawan, sedap untuk dipandang, menyenangkan untuk dilihat, wajahnya indah, bentuk dan air muka dari seorang Brahmana, penampilannya yang cantik. (Digha Nikaya, Sutta No.4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia yang tampan, berinspirasi keyakinan, dengan indera-indera yang tenang dan pikiran yang lenggang, teguh dan terkontrol, seperti seekor gajah yang sungguh sungguh jinak (Anguttara Nikaya, Sutta No.36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali orang melihat Sang Buddha, ketenangannya mengisi hati mereka dengan kedamaian, dan senyumnya yang lembut meyakinkan mereka. Seperti yang terlihat, suara Tuhan itu keras dan menakutkan seperti petir (Mazmur 68:33) sedangkan suara Buddha itu lembut dan menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berada di dalam biara, dia mengajarkan Dhamma,dia tidak meninggikan ataupun merendahkan yang hadir. Sebaliknya, dia menggemberakan, mengangkat, menginspirasikan dan menyenangkan mereka dengan pembicaraan Dhamma. Suara dari Gautama yang baik mempunyai 8 karakteristik; jelas dan dapat diterima dengan akal budi, manis dan mudah didengar, lancar dan jelas, dalam dan menggetarkan (Majjhima Nikaya, Sutta No. 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Kristen membawa senjata karena dia harus membunuh musuh-musuhNya dan karena dia mengatur manusia dengan kekerasan dan ancaman. Sang Buddha sebaliknya, tidak menunjukkan permusuhan kepada siapapun dan dapat mengatur orang dengan memberikan paham yang masuk akal. Raja Pasenadi pernah mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah seorang raja, bisa menghukum mereka yang patut dihukum, mendenda siapa siapa yang patut didenda, atau mengasingkan mereka yang pantas diasingkan. Tetapi ketika saya sedang mengadili, orang-orang seringkali mengganggu. Bahkan saya tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk berkata: “Jangan mengusik saya! Tunggu sampai saya selesai berbicara.” Tetapi ketika Sang Buddha sedang mengajar Dhamma, batukpun tak terdengar ditengah tengah yang hadir. Pernah, disaat saya duduk mendengarkan Sang Buddha mengajarkan Dhamma salah satu murid terbatuk dan temannya menepuk lututnya dan berkata,”harap tenang pak, jangan berisik. Sang Buddha sedang mengajar Dhamma”, dan saya berkata kepada diri saya dalam hati, sungguh memukau, luarbiasa, sungguh murid-murid yang terlatih baik walau tanpa tongkat pemukul ataupun pedang. (Majjhima Nikaya, Sutta No.89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat kita bayangkan bagaimana Tuhan orang Kristen akan bereaksi jika ada seorang yang mengganggu ketika Tuhan sedang berbicara. Kita dapat melihat dari apa yang telah tertulis di atas bahwa penampilan tubuh Sang Buddha mencerminkan ketenangan dalam hati yang sangat dalam dan penuh perasaan. Orang selalu terinspirasi oleh pancaran damai yang mengelilingi Sang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan Mental&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah melihat bahwa orang-orang Buddhis tidak percaya kepada Tuhan karena bagi mereka kepercayaan ini tidak masuk akal dan bertentangan dengan kenyataan yang ada. Orang Buddhis juga menolak Tuhan Kristen karena, kalau Alkitab betul, malah Tuhan Kristen kelihatan sangat tidak sempurna. Semua jenis emosi yang negatif, yang tak dapat diterima oleh orang yang beradab pada umumnya akan justru ditemukan di dalam diri Tuhan . Marilah kita pelajari bagaimana Alkitab menuturkan pikiran Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi yang dihubungkan dengan Tuhan tak lebih tak kurang adalah kecemburuan. Tuhan sendiri pun mengakui bahwa dia itu pencemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena Tuhan adalah api yang menghanguskan, Tuhan yang cemburu” (Ulangan 4:24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada lagi yang bisa membuat Tuhan lebih cemburu dari orang menyembah tuhan-tuhan lain, dan dia memerintahkan kita untuk membunuh anak kita sendiri jika mereka melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saudara laki-lakimu, anak laki laki dari ibumu, anak perempuan, istri kesayangan atau sahabat karibmu, secara diam-diam membujukmu, mengatakan “ayo pergi dan menyembah tuhan-tuhan lain” yang engkau maupun moyangmu kenal, tuhan-tuhan dari orang orang disekitarmu baik dekat maupun jauh dari satu ujung dunia keujung lainnya, jangan ikuti dia atau dengarkan dia, ataupun memperlihatkan mata yang simpati kepadanya, ataupun kau ampuni dia, juga jangan kau lindungi dia, melainkan bunuh saja dia. Tanganmulah yang harus menjadi yang pertama membunuhnya dan sesudah itu yang lain boleh menghantamnya (Ulangan 13:6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkitab menyatakan kepada kita bahwa Tuhan berulangkali kehilangan kesabaranNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah, hari Tuhan sedang datang, hari yang kejam, dengan geram dan kemurkaan yang menakutkan, akan membuat tempat menjadi mengkocar-kacirkan dan menghancurkan para pendosa yang berada didalamnya” (Yesaya 13:9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan marah setiap hari (Ps 7:11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan akan membuat manusia mendengarkan suaranya yang berpengaruh dan akan membuat mereka melihat lengannya turun dengan kemarahan yang mengganas dan api yang membakar (Yesaya 30:30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarahannya akan membakarmu dan akan memusnahkanmu dari muka bumi (Ulangan 6:15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memberitahu kita untuk mencintai tapi dia digambarkan sebagai membenci dan dipenuhi dengan kebencian yang amat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuhilah yang melakukan kejahatan. Musnahkan semua yang membohong; orang orang yang haus darah dan penipulah yang amat dibenci Tuhan (Maz 5:5-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia selanjutnya dituturkan sebagai membenci banyak hal hal lain termasuk manusia (baca Ulangan 16:22, Mala 2:16, Lev 26:30). Tuhan mempunyai kebencian yang sangat besar terutama kepada agama-agama lain yang bisa menerangkan mengapa hingga hari ini Kristen tetap merupakan agama yang  begitu tidak mempunyai toleransi. Tuhan sering dituturkan sebagai secara khusus membenci siapa saja yang tidak mau menyembahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival Bulan Baru dan pesta pesta yang kau lakukan jiwaku amat membencinya (Yesaya 1:14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha penuh dengan kesabaran terhadap yang kejam, dia memaafkan semua yang berbuat salah, dan menghormati semua pemeluk agama lain. Kita bisa menduga bahwa Tuhan, yang mudah cemburu dan benci, akan membalas, dan tidak heran jika Alkitab sering menyebutkan balas dendam yang dilakukan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, Tuhan akan datang dengan pembalasan (Yesaya 35:4) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan sangat pendendan dan penuh dengan kemarahan,  Tuhan akan melakukan pembalasan terhadap semua musuhnya dan siap menghancurkan musuh musuhnya (Nahum 1:2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Karena kita mengenal dia yang berkata : “Ini bagianku untuk membalas; akan kubalas dan kubalas lagi, “Tuhan akan mengadili umatnya”. Ini adalah suatu hal yang tak enak dilihat jika jatuh ketangan Tuhan yang ada (Ibrani 10:30-31). (baca Rom 1:8, 2:5-6, 12:19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa gunanya menyembah Tuhan yang penuh dengan mental yang amat kotor yang kita sendiri saja berusaha mengatasinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama empat puluh tahun setelah mencapai tingkat ke-Buddha-an, Sang Buddha mengajak semua untuk meninggalkan kemarahan, &lt;br /&gt;kecemburuan dan ketidak-toleranan dan tidak sekalipun dalam masa itu dia gagal untuk berbuat sesuai dengan yang diajarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha bernuat seperti yang dikatakannya dan berkata seperti yang dilakukannya. Tak pernah bisa ditemui seorang guru kecuali dia yang begitu mantap jika kita telusuri dimasa lalu maupun sekarang (Digha Nikaya Sutta No. 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diseluruh isi Tipitaka, tak ada satu contohpun yang menunjukkan bahwa Sang Buddha memperlihatkan kemarahan, kebencian, kecemburuan dsbnya, karena begitu sempurnanya, dia bebas dari semua emosi emosi yang negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Terhadap Perang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkitab memberitahu kita bahwa ada waktu untuk membenci, ada waktu untuk perang (Keluaran 13:8) ini diakui secara luas pada saat sekarang ini bahwa kejahatan kejahatan yang amat besar bergantung satu sama lain. Seperti yang telah kita lihat, Tuhan cukup gampang membenci dan, tidaklah heran bila sering terlibat dalam perperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan itu seorang panglima perang” (Keluaran 15:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan berada ditengah tengah engkau sekalian, sebagai panglima yang yang memberi engkau kemenangan.” (Zefanya 3:17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan maju kedepan Seperti seorang yang gagah perkasa, seperti seorang ahli bertempur iapun mengamuk; ia menjerit, ia berteriak kencang, ia memperlihatkan kehebatanya kepada musuh musuhnya.” (Yesaya 42:13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ketika Aku mengasah pedang-Ku yang berkilau dan tangan-Ku memegangnya dalam keadilan, Aku melakukan pembalasan terhadap musuh-musuhku, dan membayar kembali kepada semua yang membenciku. Aku akan membuat anak panahku mabuk darah selagi pedang-Ku melahap daging: darah orang-orang yang disembelih dan yang ditawan, kepala-kepala dari para pemimpin musuh.” (Ulangan 32:41-42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa abad orang Kristen telah diilhami cerita cerita didalam Alkitab, yang menganjurkan kearah dan bahkan memuliakan perang, menggunakan kekerasan untuk menyebarkan agama mereka. Bahkan saat inipun, ada bau kemilitanan yang nyata pada agama Kristen. Salvation Army (Laskar Keselamatan) dengan mottonya “Darah dan Api”; hymne (lagu pujian) yang mengumandangkan “Majulah laskar Kristen berjalan menuju perang”; ucapan seperti “Pujilah Tuhan dan serahkan amunisi (senjata)” dan lain-lain. Alkitab berisi lusinan contoh di mana Tuhan membantu para pemujanya untuk merebut kota-kota, membunuh rakyat jelata dan mengalahkan angkatan-angkatan perang (misalnya Bilangan 21:1-3, Bilangan 31:1-2, Ulangan 3:3-7, Yosua 11:6-11, dll). Mengenai para tahanan perang Tuhan berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dan engkau harus memusnahkan semua orang ini bahwa Rajamu-Tuhanmu memberikan kepadamu, matamu tak akan mengasihani mereka (Ulangan 7:16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rajamu-Tuhanmu menyerahkan mereka ketanganmu dan kau kalahkan mereka, kau harus dengan tuntas membasmi mereka dan jangan menujukkan belas-kasihan kepada mereka (Ulangan 7:16). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski orang Kristenpun sering dibuat kaget waktu membaca cerita cerita seperti ini. Orang  Buddha justru merasa bahwa cerita cerita tersebut memantapkan penolakan mereka terhadap Tuhan Kristen dan mengukuhkan keyakinan mereka dalam ajaran Sang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sikap Sang Buddha terhadap perang? Tidak ada satu contohpun dari Sang Buddha yang memuji peperangan, meganjurkan berperang ataupun dia sendiri ikut pergi berperang. Sebaliknya, dia mengajak semua untuk hidup dengan rukun dan damai dan diutarakan  seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah seorang Pendamai bagi mereka yang sedang dalam konflik dan pendukung bagi mereka yang telah bersatu, yang sedang bergembira dalam damai, bersenang menikmati perdamaian, dialah yang selalu megeluarkan kata kata pujian untuk perdamaian (Digha Nikaya, Sutta No.1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                 Dia memberi contoh sebagai seorang cinta damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan pembunuhan, Pendeta Gautama hidup menjauhkan diri dari membunuh, ia tidak menggunakan tongkat ataupun pedang, ia hidup dengan penuh perhatian, cinta akan sesama dan simpati kepada yang lain (Digha Nikaya, Sutta No.1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha tidak cuma Buddha membicarakan perdamaian atau mencari damai sendiri. Dia dengan aktif meningkatkan perdamaian dengan berusaha menghentikan peperangan. Pada saat saudara-saudaraNya hendak berangkat kemedan tempur memperebutkan air sungai Rohini, Sang Buddha tak memihak siapapun, takmemberi semangat bertempur, tidak memberi advis tentang tactic bertempur maupun menganjurkan mereka agar tak berbelas kasihan kepada musuh musuh mereka, yang mungkin dapat dilakukan oleh Tuhan. Sebaliknya ia berdiri di antara kedua pihak dan berkata,”Mana yang lebih berharga? Darah atau air?” Para tentara menjawab,”Darah lebih berharga, Pak.” Lalu Sang Buddha berkata,”Maka bukankah sungguh tak berarti bila mengucurkan darah demi air?” Kedua belah pihakpun meletakkan senjata dan perdamaian pun pulih. (Dhammapada Atthakata Book 15,1) Sang Buddha telah menyingkirkan kebencian dan mengisi pikiran dengan rasa cinta saling mengasihi, jadi mengajak perang adalah suatu hal yang mustahil baginya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian mengenai keadilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadilan adalah suatu kwalitas yang bersifat tidak berat sebelah, dan seorang yang adil bertindak secara seimbang dan menurut apa yang benar. Akan tetapi pemikiran pemikiran tentang keadilan dan kebenaran berubah-ubah setiap saat, juga berlainan menurut pandangan masing masing. Orang Kristen berpendapat bahwa Tuhan itu adil, maka dengan meneliti tindakan-tindakan Tuhan, kita akan bisa mengenal konsep keadilan dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memberitahukan kita bahwa siapa saja yang tidak mematuhinya akan dihukum “tujuh kali lebih berat” (Imamat 26:18), yang berarti satu kali berbuat dosa dihukum tujuh kali (Imamat 26:18). Tuhan jelas terlihat menganggap ini adil dan merata. Dia juga memberitahukan kita bahwa dia akan menghukum anak-anak, cucu-cucu, dan bahkan cicit-cicit keturunan dari yang berbuat dosa, walau sebenarnya tak ikut ikut ataupun tahu menahu atas perbuatan moyangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku rajamu adalah Tuhan yang pencemburu, yang menghukum anak-anak atas dosa dosa dari ayah ayahmereka hingga kegenerasi yang ketiga bahkan keempat dari siapa saja yang membenci Aku.” (Ulangan 5:9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga dikenal sebagai hukuman kelompok; menghukum segenap keluarga atau seluruh kelompok atas kesalahan yang dilakukan oleh salah seorang anggotanya. Hukuman kelompok sangat dikecam pada saat sekarang ini karena tidak sepadan maupun adil tapi Tuhan terlihat menganggap hukuman itu cukup adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memberitahukan kita bahwa kesalahan yang sangat kecilpun mendapat hukuman mati. Contohnya, bagi mereka yang bekerja pada hari Sabbath harus dirajam (disambiti dengan batu) sampai mati. Pernah ada orang tertangkap sedang mengumpulkan kayu bakar pada hari Sabbath, dan Tuhan berkata kepada Musa dan orang-orang yang menangkap orang itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang ini harus mati. Seluruh yang hadir harus merajamnya diluar perkemahan.”  Sehingga yang hadir menyeretnya keluar perkemahan dan merajamya hingga binasa sesuai dengan yang diperintahkan oleh Tuhan kepada Musa (Bilangan 15:32-36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan Tuhan atas keadilan kelihatannya tidak atas pertimbangan bahwa hukuman itu harus sesuai dengan kesalahan. Kita diajarkan bahwa siapa saja yang tidak cinta akan Tuhanakan menderita hukuman selamanya dineraka. Banyak orang yang baik, jujur dan dermawan yang tak percaya Tuhan dan akan masuk keneraka. Apakah ini sesuai dan adil? Kelihatannya sih tuhan berpikir seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Sang Buddha adil? Sang Buddha telah mencapai kebebasan dari penerangan yang sempurna, dan dia mengajarkan kepada khalayak bagaimana caranya untuk mencapai kebebasan itu. Tidak seperti Tuhan, dia bukanlah pembuat hukum, bukanlah seorang yang menghakimi maupun menghukum. Ia adalah seorang guru. Dalam hubungannya dengan siapa saja, Ia sangatlah pantas, lembut dan penuh belas dan mengajak pengikut-pengikutnya untuk mengikuti jejaknya. Jika seseorang berbuat salah, dia berkata bahwa tak perlu terburu nafsu untuk menghukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup bersama di dalam kerukunan, seorang rekan Bhikku mungkin saja bisa berbuat salah, suatu pelanggaran. Akan tetapi janganlah engkau buru buru mengutuk dia, persoalannya haruslah diteliti dulu. (Majjhima Nikaya, Sutta No. 103)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tambahan, ketika seorang sedang diusut, yang lain tidak boleh terpengaruh oleh prasangka atau pihak-memihak, dan harus memperhatikan kedua sisi dari kasus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan dengan memberi keputusan yang berburu-buru seseorang menjadi adil, Orang yang bijaksana adalah seorang yang menyelidiki kedua belah pihak. Dia yang tidak menghakimi orang lain menurut anggapan sendiri mengenai benar salah orang tersebut, tetapi menyampaikan keadilan tanpa memihak dan sesuai dengan fakta-fakta, dialah pelindung hukum yang pantas disebut adil. (Dhammapada 256-257)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai hukuman, Sang Buddha tentunya akan menganggap merajam seseorang sampai mati atau segala jenis hukuman mati kejam. Dia sendiri selalu bersedia memaafkan. Pernah sekali seorang yang bernama Nigrodha melontarkan kata kata kotor terhadap Sang Buddha, tetapi kemudian menyadari kesalahannya dan mengakuinya kepada Sang Buddha. Dengan penuh kasih dan maaf Sang Buddha berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, Nigrodha, pelanggaran membuat engkau khilaf ketika melalui kelalaian, kebutaan, dan kejahatan engkau melontarkan kata kata seperti itu kepadaku. Tapi setelah kau akui perbuatanmu yang tak baik dan merperbaikinya, kuterima pengakuanmu (Digha Nikaya, Sutta No.25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha memaafkan semua tanpa perduli apakah mereka menerima ajarannya atau tidak, dan bahkan jika Nigrodha tetap menolak untuk meminta maaf, Sang Buddha tidak akan mengancam untuk menghukumnya. Bagi Sang Buddha tanggapan yang layak kepada kesalahan kesalahan bukanlah mengancam untuk menghukum akan tetapi pendidikan dan maaf. Seperti yang dikatakannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tiga hal seorang bijaksana bisa dikenal. Apakah ketiga macam hal tersebut? Dia melihat kesalahan-kesalahannya sebagaimana adanya. Ketika dia melihat kesalahan kesalahan tersebut dia memperbaikinya dan ketika seorang yang lain mengakui kesalahannya orang bijak tersebut memaafkannya karena selayaknyalah dia itu harus. (Anguttara Nikaya, Book of Threes, Sutta No.10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Terhadap Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit, problem kesehatan dan wabah selalu menjadi menjadi momok bagi manusia selama berabad-abad, menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan yang tidak bisa diceritakan. Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan selalu menganggap penyakit sebagai cara yang berguna untuk menyampaikan kemarahanNya dan melampiaskan  balas dendamNya. Ketika Firaun menolak untuk melepaskan orangYahudi, Tuhan menimbulkan gelembung dikulit seperti luka bakar pada semua orang Mesir (Keluaran 9:8-12). Tuhan menggunakan sakit semacam itu untuk menghukum pria, wanita, anak-anak dan bayi-bayi atas dosa yang dilakukan oleh hanya satu orang. Kemudian Tuhan membuat semua anak laki-laki pertama di dalam keluarga untuk mati. Dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir akan mati, dari anak sulung Firaun yang duduk di takhtanya sampai kepada anak sulung budak perempuan yang menghadapi batu kilangan. Dan jerit tangis yang kencang akan meliputi tanah Mesir-lebih buruk daripada yang pernah terjadi ataupun yang akan terjadi (Keluaran 11:5-6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah contoh bagus lainnya dari ide Tuhan tentang keadilan dan kasih sayang. Tak terhitung berapa ribu pria, anak laki-laki, dan bayi-bayi tak berdosa yang dibunuh oleh Tuhan hanya karena Firaun tidak mau patuh. Di banyak tempat dalam Alkitab Tuhan menjanjikan bahwa dia akan menimbulkan penyakit yang menyeramkan kepada semua yang tidak mematuhi perintah perintahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan akan mewabahkan penyakit penyakit hingga engkau terbasmi, dengan demam dan panas….” (Ulangan 28:21-22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sang Raja akan membuat kau sakit dengan gelembung luka bakar Mesir, dengan borok dan dengan tumor tumor, luka luka yang bernanah, dan dengan rasa gatal, dimana engkau tidak dapat disembuhkan.” (Ulangan 28:27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sang Raja akan mengirim wabah wabah yang menakutkan kepadamu dan keturunanmu, bencana yang menyengsarakan dan berkepanjangan dan hebat sekali dan tak mau pergi pergi. Ia akan membawa untukmu segala wabah Mesir yang kau takuti itu dan mereka akan mencengkeram engkau. Sang Raja juga akan mendatangkan bagimu segala jenis penyakit dan bencana” (Ulangan 28:59-61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang Tuhan bahkan menimbulkan wabah penyakit yang menakutkan kepada orang hanya untuk menguji iman orang tersebut. Untuk menguji Ayub, Tuhan membiarkan semua anak Ayub untuk mati (Ayub 1:18-19) dan Ayub sendiri dihinggapi penyakit yang parah (Ayub 2:6-8). Begitu tak terbayangkan kesedihan Ayub dan menderita hingga dia berharap dia untuk tidak pernah di lahirkan (Ayub 3:1-26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan bahkan meciptakan beberapa orang buta dan membiarkan mereka untu melewati hidup mereka sebagai pengemis terlunta lunta dalam kegelapan hanya supaya Yesus dapat menyembuhkan mereka dengan mujizat sekaligus memamerkan kekuatan Tuhan (Yohanes 9:1-4). Jelaslah, Tuhan menganggap segala penyakit sebagai cara cara yang berguna untuk menghukum orang dan mepertunjukkan besarnya kekuatanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang marilah kita telaah sikap Sang Buddha akan penyakit. Sang Buddha melihat penyakit sebagai bagian dari penderitaan pada umumnya dari situlah dia memperkenalkan cara untuk membebaskan umat manusia darinya. Dia disebut sebagai “dokter yang penuh kasih”. Tidak pernah ada contoh di mana Sang Buddha pernah menyebabkan orang menjadi sakit untuk menghukum mereka atau karena dia marah kepada mereka. Sang Buddha tepatnya mengerti bahwa selama kita mempunyai tubuh kita akan bisa terkena penyakit. Dia mengajak kita untuk mencapai Nibbana dan terbebas dari penderitaan selamanya. Di saat beliau mencoba memecahkan masalah sampai keakarnya, dia juga melakukan hal-hal yang nyata untuk menghibur orang sakit dan mengembalikan kesehatan mereka. Justru bukan dengan menimbulkan penyakit bagi manusia, seperti yang dilakukan Tuhan, dia memberikan nasihat-nasihat yang berguna untuk menolong dan menghibur si sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lima kwalitas seseorang mempunyai nilai untuk merawat yang sakit. Apa kelimanya itu? Seseorang dapat menyiapkan obat yang tepat; seorang tahu apa yang berguna bagi si pasien dan menawarkannya, dan apa yang tidak baik jangan diajukan; seseorang merawat yang sakit karena kasih bukan karena keuntungan; seseorang harus tak tergerak dengan  kotoran yang keluar dari tubuh pasien, kencing, muntahan dan air ludah; dan setiap saat dapat menginstruksikan, menginspirasikan, menggembirakan dan memuaskan sisakit dengan kata kata Dhamma (Anguttara Nikaya, Book of Fives, Sutta No.124)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau tidak hanya mengajarkan ini tapi juga melaksanakannya persis seperti yang diajarkannya. Ketika sekali waktu, beliau menemukan seorang bhikku yang sakit, terlantar dan terbaring di atas kotoran sendiri, dia memandikannya, menghiburnya dan kemudian memanggil bhikku bikhu secara bersama dan berkata kepada mereka, “Kalau kamu bersedia merawat saya, rawatlah juga mereka yang sakit.” (Vinaya, Mahavagga 8). Waktu Tuhan sedang marah dia akan menimbulkan penyakit-penyakit atas manusia dan menyaksikan mereka menderita. Ketika Sang Buddha melihat ada orang yang sakit, karena kasih sayanglah dia lakukan sebisanya untuk mengembalikan mereka kesembuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menciptakan Kejahatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menciptakan semua yang baik, tetapi karena Tuhan menciptakan segalanya, dia juga menciptakan yang jahat. Tuhan sendiri yang berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akulah Raja dan tiada yang lainnya. Kujadikan terang dan kuciptakan kegelapan, Aku membuat yang baik dan kubuat pula yang jahat ” (Yesaya 45:7-8) (Lihat juga Roma 11:32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita membayangkan alam dan mengingat bahwa Tuhanlah yang seharusnya telah menciptakan segalanya, maka kita mengerti arti dari kata-kata ini. Kuman lepra menyebabkan penderitaan yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata dan ini diciptakan oleh Tuhan. Kuman penyakit TBC membunuh dan mecacatkan jutaan manusia setiap tahun dan inipun diciptakan oleh Tuhan. Tuhan menciptakan wabah bakteri, kutu dan serangga dan tikus-tikus dimana bersama-sama mereka ini menyebabkan penyakit pes bubonic dan yang beratus-ratus tahun lamanya telah membunuh mungkin sebanyak ratusan juta jiwa. Di tahun 1665, 68 ribu orang mati oleh karena wabah cuma dikota London saja. Tak diragukan lagi semua ini adalah apa yang Tuhan maksud ketika ia mengatakan bahwa dia sudah menciptakan kegelapan dan kejahatan. Tetapi Tuhan juga menciptakan bentuk bentuk kejahatan yang lain. Tuhan sendiri berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bencana datang menimpa suatu kota, Bukankah Tuhan yang telah membuatnya? (Amos 3:6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja yang dimaksud diatas adalah gempa bumi, kebakaran, kekacauan dalam masyarakat, peperangan dan segala macam bentuk kejahatan yang telah begitu sering menimpa desa dan kota tempat tinggal manusia. Kita juga membaca dalam Alkitab bahwa bahkan roh-roh jahat berasal  sebenarnya datang dari Tuhan. Dalam  Samuel I 16:14-16, kita diberitahu bahwa roh jahat kiriman Tuhan meyiksa Saul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Sang Buddha menjadikan kejahatan? Karena Buddha bukan tuhan yang mencipta, dia tidak mungkin bisa diminta untuk bertanggungjawab atas “kegelapan dan kejahatan”.  Satu-satunya hal yang beliau “ciptakan” adalah Dhamma yang beliau temukan dan proklamirkan ke seluruh dunia. Dan yang telah dibawa oleh Dhammanya hanyalah penerangan, kebaikan dan kelembutan dimana saja ini di disebarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korban Persembahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimasa Perjanjian Lama ketika orang-orang melanggar perintah perintah Tuhan, Tuhan akan menjadi marah dan satu-satunya cara bagi pelanggar untuk bertobat dan meredakan murka Tuhan adalah dengan mempersembahkan kurban berupa binatang. Tuhan sendiri yang memberitahukan bagaimana cara yang tepat untuk meneyembelih hewan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika persembahan kepada Tuhan burung yang dibakar sebagai korban, ia harus mempersembahkan burung tekukur atau dari anak burung merpati. Pendeta akan menempatkannya diatas altar, lalu memuntir kepalanya dan membakarnya di atas meja sembahyang. Darahnya harus dikucurkan hingga kering dipinggir altar. Tembolok beserta isinya haruslah dikeluarkan dan dibuang kesebelah timur altar, dimana abu ditumpuk. Dan ia harus merentang sayap burung itu tapi tidak sampai putus; lalu imam tersebut harus membakarnya di atas altar di atas kayu yang menyala disebelah altar” (Imamat 1:14-17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memberitahukan kita kapan daging, lemak, kulit dan tulang dari kurban persembahan itu dilemparkan ke dalam api dan dibakar, dia menyukai aromanya. (Imamat 1:9, 1:17). Tapi tidak semua kurban  yang Tuhan minta adalah dari binatang binatang; terkadang Tuhan juga meminta kurban manusia. Tuhan pernah berkata kepada Abraham:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “bawalah anakmu laki-lakimu, anak tunggalmu itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moriah dan korbankanlah dia di sana sebagai korban bakar pada salah satu gunung yang akan Kutentukan kepadamu.” (Kejadian 22:2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abraham membawa anaknya ke tempat yang telah ditunjuk oleh Tuhan, membangun altar, membaringkan anaknya di atas altar tersebut dan mengangkat pisaunya tinggi-tinggi. Persis sebelum Abraham menyayat leher anaknya sendiri, Abraham dihentikan oleh seroang malaikat. (Kejadian 22:12). Barangkali, Abraham adalah seorang yang amat patuh karena telah secara membuta, tanpa bertanya tanya lagi dan dengan rela melakukan apa saja yang diperintahkan Tuhan kepadanya, bahkan sejauh mempersiapkan penyembelihan anak satu satunya sebagai kurban untuk Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa abad berikutnya, dosa manusia menjadi bertambah sehingga kurban dari binatang tidak lagi menghapus kemurkaan Tuhan. Tuhan mensyaratkan kurban yang lebih besar, lebih berharga - anakNya sendiri, Yesus. Sekali lagi darah seorang korban yang paling dapat menebus dosa yang dapat mendamaikan para pendosa dengan Tuhan. Jadi orang Kristen jaman modern ini sering mengatakan,”dosa dosa kita telah dibersihkan oleh darah Yesus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pendapat Sang Buddha tentang kurban binatang atau manusia? Pada jaman hidup Sang Buddha, dewa-dewa Hindu dipersembahkan kurban binatang seperti Tuhan Kristen, sehingga Buddha tahu benar akan adanya praktek kurban ini. Meski demikian Sang Buddha menganggap persembahan korban ini sebagai tindakan yang biadab, kejam dan tidak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengurbanan kuda atau orang, Upacara Pembuangan, Minuman Pengurbanan, Upacara Kemenangan, upacara Menangkal Petir, semua jenis upacara tidaklah bernilai walau dibandingkan dengan cuma seperenambelas dari hati yang penuh dengan cinta kasih, tidak melebihi pancaran bulan yang mengalahkan terangnya cahaya bintang bintang (Anguttara Nikaya, Book of Eights, Sutta No.1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen percaya bahwa darah Yesus bisa membersihkan dosa-dosa mereka mirip seperti orang Hindu yang percaya dijaman sang Buddha yang percaya bahwa dosa dosa mereka bisa dibersihkan dengan mandi di sungai-sungai yang dianggap suci. Sang Buddha mengkritik jalan pikiran Hindu sama halnya dia akan mengkritik ide Kristen kalau dia mengetahuinya. Mempercayai bahwa darah, air atau semua unsur-unsur dari luar bisa memurnikan hati yang adalah unsur ada didalam, kiranya sungguh bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Sungai Bahuka, di Adhikakka, bagian dari Gaya, bagian dari Sundrika, para Sarassati, para Payaga atau Bahumati,  si orang bodoh itu boleh mandi berkali-kali tapi tidak akan bisa membersihkan dosa dosanya. Apa yang bisa dilakukan oleh sungai-sungai Sundrika, Payaga atau Bahumati lakukan? Sungai-sungai itu tidak bisa membersihkan yang marah, keinginan dari orang yang salah ataupun berbuat dosa. Bagi yang bersih hatinya setiap hari beruntung. Bagi yang bersih hatinya, setiap hari suci.(Majjhima Nikaya, Sutta No.7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah masalahnya, mandi dengan darah korban atau disungai suci adalah seperti nilai bayaran yang jauh daripada cukup untuk membersihkan bathin yang dengan melakukan dalam cara yang bersih. Satu-satunya pengorbanan yang Buddha minta kita lakukan adalah mengakhiri keserakahan dan menggantinya dengan cinta, kebijaksanaan dan kasih terhadap sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita diberitahu bahwa Tuhan adalah cinta-kasih dan Alkitab beberapa kali menyebutkan bahwa kasih sebagai salah satu dari sifat sifat Tuhan. Akan tetapi, ada beberapa macam cinta kasih. Seseorang bisa saja mencintai anaknya sendiri akan tetapi membenci anak tetangga. Seseorang mungkin punya cinta yang besar kepada negerinya sendiri, tetapi mempunyai kebencian yang membara terhadap negara lain. Meskipun kita bisa mencintai seseorang secara mendalam, kita bisa saja, lewat perubahan keadaan, berubah dan bahkan menjadi benci kepadanya. Ini adalah yang lebih rendah, tidak dikembangkan, jenis cinta yang umum rasakan –  tapi ada jenis cinta yang lebih tinggi, lebih mendunia, jenis cinta yang lebih daripada yang tadi. Jenis cinta yang lebih tinggi ini yang ditutur-petakan dengan indah sekali  didalam tulisan-tulisan Buddhis dan juga di dalam Alkitab. Di Korintus kita bisa membaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cinta-kasih itu sabar; Cinta-kasih itu baik; ia tidak iri. Ia tidak membual, tidak sombong, ia tidak kasar. Ia tak mudah dibuat marah, dan tidak menyimpan kesalahan orang lain (dendam).” 1 Korintus 13:4-5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Tuhan menunjukkan jenis cinta-kasih yang lebih tinggi ini? Marilah kita teliti. Kita diberitahu bahwa cinta itu sabar. Kesabaran didefinisikan sebagai kemampuan untuk menunggu dengan tenang untuk jangka panjang, untuk mengontrol diri sendiri ketika marah, khususnya terhadap kebodohan dan kelambanan. Kita telah melihat bahwa Tuhan marah setiap hari (Mazmur 7:12) dan dia sangat cepat marah (Mazmur 2:11-12). Tentunya Tuhan mempunyai sedikit sekali kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali juga kita dengar bahwa cinta-kasih itu baik. Apakah Tuhan baik? Bacalah Ulangan 28:15-68 dimana Tuhan menjelaskan dalam kata-katanya sendiri sekejam apa dia bisa berbuat. Bacaan-bacaan yang mengejutkan ini membuktikan tanpa diragukan lagi bahwa Tuhan sangat mampu berbuat kekejaman yang mengerikan. Jelas kelihatan Tuhan tidaklah selalu baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita diberitahu bahwa cinta-kasih itu tidak iri. Iri, tentunya, sangat mirip dengan kecemburuan dan Tuhan sering sekali menuturkan diriNya sebagai yang cemburu luar biasa. Dia mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab Tuhanmu yang raja adalah api yang menelan, Allah yang cemburu.” (Ulangan 4:24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita diberitahu bahwa cinta-kasih itu tidak membual dan tidaklah angkuh. Apakah Tuhan tidak seperti ini? Tentunya Alkitab tidak memberikan kita impressi bahwa Tuhan itu sederhana dan tenang. Tuhan seringkali berkata kepada Ayub betapa hebatnya dia. (Ayub 40:4) dan menutup kata katanya dengan membanggakan diri bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memandang rendah terhadap semua yang sombong (dalam arti tidak menurut perintah Tuhan), Dia adalah raja diatas semua yang yang pongah (Ayub 41:1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya kita juga diberitahu bahwa cinta-kasih itu tidaklah mudah dibuat marah. Telah kita buktikan bahwa Tuhan itu cepat sekali marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layani Tuhan dengan rasa takut dan gemetar, cium kakinya jika tidak ingin dia marah dan akan musnah segera, karena kegeramannya akan segera menyala (Mazmur 2:11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kita diberitahu bahwa cinta-kasih itu tidaklah mencatat (dendam) kesalahan orang lain, kasih itu memaafkan dan melupakan kesalahan. Apakah Tuhan menyimapan catatan kesalahan yang diperbuat? Tuhan berkata bahwa dia akan menghukum anak-anak, cucu-cucu dan buyut dari pendosa. (Ulangan 5:9). Untuk bisa melakukan ini dia harus menyimpan catatan mengenai dosa yang yang diperbuat dan mengingatnya terus. Yesus memberitahu kita bahwa Tuhan tidak akan pernah memaafkan mereka yang menghina Roh Kudus (Lukas 12:10). Kita diberitahu bahwa Tuhan melempar para pendosa dan yang tak percaya ke dalam neraka yang abadi. Dalam kata lain, dia tidak akan pernah mau memaafkan mereka. Singkatnya, dia mencatat dosa yang manusia lakukan untuk selama-lamanya. Cukup jelas, Tuhan tidak meperlihatkan tingkat yang tertinggi dari cinta kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Buddha? Apakah dia menunjukkan tingkat yang tertinggi dari cinta-kasih? Ciri-ciri pertama dari cinta-kasih tertinggi adalah kesabaran, dan tidak pernah sekalipun tercatat di dalam Tipitaka bahwa Buddha kehilangan sabar. Bahkan ketika dia dimaki dan dihina, Beliau tetaplah tenang dan sabar. Semua perbuatannya menunjukkan kesabaran yang tak tergerakan dan kuat. Ketika Asurinda mengutuk dan mencaci-maki Sang Buddha, Beliau dengan kalem menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia yang membalas caci orang yang memakinya adalah yang terburuk dari mereka berdua. Untuk menahan diri untuk tak membalas adalah untuk memenangkan pertempuran yang sebenarnya sulit dimenangkan. Jika seseorang tahu bahwa yang lain sedang marah tapi dia sendiri menahan diri dari kemarah, orang itu telah melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri juga untuk orang yang marah itu. Orang inilah penyembuh dari kedua belah pihak. (Samyutta Nikaya, Chapter Seven, Sutta No.3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dia selalu sabar, dia juga terbebas dari kemarahan. Bahkan ketika sepupunya mencoba untuk membunuhnya, Sang Buddha hanya memperlihatkan rasa kasihan dan toleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga diberitahu bahwa cinta-kasih itu baik. Apakah Buddha itu baik? Sekali lagi, tidak pernah ada satu tanda-tandapun bahwa sang Buddha kelihatan lain daripada baik dan mengasihi sesama - bukan hanya kepada orang yang menerima ajarannya, akan tetapi juga kepada pengikut-pengikut semua aliran kepercayaan, bukan hanya kepada yang baik, tapi juga kepada yang jahat, bukan hanya kepada manusia, tapi juga kepada binatang. Dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun jangan berbuat hal yang tak baik yang orang bijak akan mengutuk.Hendaknya dia berpikir,”Semoga semua mahluk hidup aman dan bahagia. Mahluk apapun yang ada, yang bergerak atau yang tidak, tinggi, sedang atau pendek, besar atau kecil, terlihat atau tidak terlihat, yang tinggalnya jauh ataupun dekat, yang sedang ada, atau yang belum ada, semoga mereka semua berbahagia.” Hendaknya orang tidak menyakiti yang lain atau memandang hina siapapun juga walau apa alasannya. Jangan ingin melihat orang lain menderita karena marah atau cemburu. Diumpamakan sebagai seorang ibu yang akan melindungi anak satu-satunya meskipun harus mempertaruhkan nyawanya sendiri, walau demikian, dia hendaknya mengembangkan cinta yang tak terbatas kepada semua mahluk di dunia. (Sutta Nipata, Verses 145-149)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha tidak hanya mengajarkan, tetapi Beliau juga melakukan semua yang diajarkannya. Tuhan memberitahu kita bahwa dia pencemburu dan ini ia maksudkan bahwa dia cemburu kepada tuhan-tuhan lain dan agama-agama lain. Dia mau setiap orang untuk hanya menyembah dan memujanya saja. Begitu cemburunya dia hingga diberitahukannyalah para penyembahnya untuk harus membunuh bahkan anak mereka sendiri jika mereka menyembah tuhan-tuhan lain. (Ulangan 13:6) dan begitu bencinya Tuhan benci akan para pengikut agama-agama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku benci kepada orang-orang yang berlindung kepada berhala yang tak mempunyai nilai” (Mazmur 31:6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mendapat pengertian dari bimbingan bimbingan moral dari engkau, itulah sebabnya aku benci segala jalan yang salah.” (Mazmur 119:104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Buddha cemburu kepada agama agama lain? Tentu saja tidak! Seorang yang bernama Upali dulunya adalah pengikut agama Jain. Sang Buddha menjelaskan Dhamma kepadanya sesudah mana dia memutuskan untuk menjadi seorang Buddhis. Sang Buddha tidak merasa diagungkan maupun bernafsu untuk menarik Upali. Malahan dia menasehati Upali untuk memikirkan baik baik sebelum membuat keputusan yang penting:&lt;br /&gt;Selidiki dulu dengan seksama, Upali. Penyelidikan yang seksama baik bagi orang yang terkenal seperti anda. (Majjhima Nikaya, Sutta No.56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha kemudian menasehati Upali untuk tetap menawarkan derma kepada agama Jain. Dia mengatakan ini karena Beliau bisa melihat kebaikan dalam semua agama dan karena beliau telah terbebas dari iri dan cemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vacchagotta berkata kepada Sang Buddha,”Saya telah mendengar yang kata orang bahwa Kamu mengatakan derma sebaiknya hanya diberikan kepadamu saja bukan kepada guru-guru lainnya, kepada murid-muridmu jangan kepada para pengikut agama lainnya.” Kemudian Sang Buddha berkata,”Mereka yang berkata hal seperti itu tidak menugulangi ucapan-ucapan saya, mereka mewakili saya secara tidak tepat dan berbohong. Sebenarnya, siapa saja yang menghalangi orang untuk tidak menderma dalam tiga cara. Dia telah menghalangi si pemberi dari melakukan kebaikan, dia mencegah si penerima untuk mendapatkan pertolongan, dan dia menghalangi dirinya melalui kekejiannya. (Anguttara Nikaya, Book of Threes, Sutta No.57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pada saat ini banyak pengabar pengabar Kristen yang yang bersifat fundamental dan karismatik yang akan menolak hubungan dengan yang non-Kristen dan akan menolak untuk menolong mencarikan derma bagi yang non-Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha tidak membual ataupun bangga, dia tidak kasar ataupun mencari ketenaran diri, dia tak mudah marah dan tidak mencatat kesalahan-kesalahan yang diperbuat kepadanya. Sejak hari dimana dia mencapai penerangan sempurna, semua pemikirannya, kata-katanya, dan tindakannya adalah suatu ekspresi cinta-kasih dan menyayangi sesama. Sebagaimana seseorang yang hidup pada masa Sang Buddha berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mendengar ini dinyatakan,”Mematuhi cinta-kasih adalah benar benar mulia” dan Sang Buddha adalah buktinya karena kita bisa melihat bagaimana patuhnya dia dengan kehidupan yang penuh dengan cinta-kasih. (Majjhima Nikaya, Sutta No.55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kisah didalam Alkitab yang dikutip dalam bab ini agak mengejutkan; bahkan orang Kristenpun merasakan bahwa mereka ini sedikit meresahkan. Ketika kita menunjukkan ayat-ayat tersebut kepada mereka, mereka akan berkata bahwa ayat-ayat tersebut kebanyakan berasal dari Perjanjian Lama dan tidaklah menggambarkan Tuhan yang sebenarnya, akan tetapi bagaimana orang orang disaat itu memperkirakan tentang Tuhan. Sungguh menyenangkan sekali untuk berdiskusi tentang Alkitab dengan orang Kristen! Disuatu saat Perjanjian Lama adalah firman Allah, dan pada saat yang lain bukan. Ketika orang Kristen mengutip ayat-ayat dari Perjanjian Lama untuk membuktikan maksud dari suatu dogma, ini adalah catatan yang mutlak. Waktu kita (umat Buddha) mengutip sebagian dari kisah kisahnya yang mengejutkan itu, mereka berkata itukan cuma suatu bayangan dari pengertian manusia yang terbatas tentang Tuhan.&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAKTA DAN KHAYALAN MENGENAI KEHIDUPAN YESUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya yang membuat Kristiani seperti adanya hari ini, pondasi tempat mereka berpijak, adalah Yesus Kristus, atau lebih tepat, pendapat pendapat mengenai Yesus Kristus. Para fanatik Kristen selalu membuat pernyataan yang berlebihan tentang orang ini: “Yesuslah satu-satunya orang di dalam sejarah yang mengatakan dirinya Tuhan”; “Hanya dengan iman dalam Yesus yang bisa memberi seseorang kedamaian dan kebahagiaan”;” Pasti Yesus adalah Tuhan jika tidak dia adalah pembohong terbesar dalam sejarah”; ”Ribuan saksi telah melihat dia bangkit dari yang mati maka ini pastilah benar”; “Yesus adalah manusia paling sempurna yang pernah hidup”; dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Kleim-kleim tersebut terdengar sangat berkesan kalau belum kita lihat buktinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramalan-Ramalan Tentang dan Oleh Yesus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali ada perubahan dalam gejolak politik diTimur Tengah, orang-orang Kristen yang fundamental akan segera mencari dalam Alkitab dan dengan lantang menyerukan bahwa krisis terbaru yang terjadi ini telah dinubuatkan. Nubuat adalah ramalan  yang tertulis dalam Alkitab yang dimaksud untuk meramal kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa depan. Nubuat-nubuat tersebut dibicarakan kesana-sini untuk sementara waktu kemudian secara diam-diam tidak dibicarakan kembali ketika mereka tidak sesuai seperti yang seharusnya terjadi menurut yang diramalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen mengkleim bahwa banyak dari kejadian-kejadian yang terjadi di dunia dijaman ini, telah dinubuatkan jauh sebelumnya di dalam Alkitab. Ketika seseorang minta untuk melihat “nubuat-nubuat yang menakjubkan” ini, dia bisa melihat betapa luas dan umumnya nubuat nubuat tersebut hingga bisa saja diinterpretasikan berhubungan dengan kejadian apa saja. Contohnya, mereka akan mengatakan dunia ini akan segera berakhir karena Alkitab bernubuat bahwa pada hari terakhir,”Kamu akan peperangan atau gossip gossip tentang perang.” (Matius 24:6.) Masalahnya dengan nubuat ini adalah bahwa ini bisa saja dihubungkan dengan jaman apa saja dalam sejarah karena selalu beberapa perang yang terjadi. Orang-orang Kristen juga mengkleim bahwa semua kejadian mengenai kehidupan Yesus telah dinubuatkan di dalam Alkitab jauh sebelum ia dilahirkan dan bukti bahwa nubuat nubuat ini terjadi membuktikan bahwa Yesus benar benar seorang Mesias. Karena itu marilah kita bersama-sama menelaah sebagian dari nubuat-nubuat yang dimaksud dan melihat apakah ada kebenaran dalam klaim tersebut. Di kitab Yesaya di Perjanjian Lama tertuliskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“untuk kita seorang anak telah dilahirkan, untuk kita seorang putera diberikan; pemerintahan akan berada dipundaknya, dan namanya akan disebut ‘Penasihat Ajaib, Tuhan yang perkasa, Bapa yang Kekal, Pangeran  Perdamaian.” Kekuasaannya bersama kedamaian akan terus berkembang tanpa akhir.  Yesaya 9:5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini seharusnya menubuatkan kelahiran Yesus. Tapi apakah benar? Selain soal dilahirkan, tidak ada satupun kejadian yang disebutkan disini yang terjadi kepada Yesus. Kekuasaan tidaklah berada dipundaknya, Yesus tidak pernah disebut maupun menyebut dirinya dengan gelar-gelar yang disebut disini, dan kedamaian tak menjadi bertambah setelah ia dilahirkan dibandingkan sebelum kelahirannya. Ini adalah satu contoh yang cukup baik untuk “nubuat yang mempesona” dimana Kristiani berpijak. Sebelum kelahiran Yesus, seorang malaikat seharusnya telah menubuatkan bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan yang Raja akan menjadikannya seorang raja, seperti leluhurnya Daud adanya, dan ia akan menjadi raja dari kaum keturunan Yakub untuk selamanya” (Lukas 1:32-33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bila apa yang dikatakan Alkitab itu benar, Daud tidaklah mungkin menjadi nenek moyang dari Yesus, karena Tuhanlah, bukan Yusuf, ayah Yesus yang sebenarnya. Lagipula, Daud adalah raja dalam arti politik, sedangkan Yesus tidak pernah menjadi raja dengan keadaan yang seperti itu maupun dalam arti apa saja seperti Daud. Akhirnya, para keturunan Yakob (orang-orang Yahudi) tidak pernah menerima Yesus sebagai raja mereka secara politik secara spiritual maupun dalam arti apa saja - dan telah menolak untuk menerimanya mulai saat itu hingga kini. Maka seperti sebelumnya setiap sudut dari nubuat ini salah. Kembali lagi di dalam kitab Yesaya tercantum:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia ditindas, dan ia disakiti, toh ia tak mengatakan apa apa; seperti domba yang diseret kepejagalan dan seperti kambing yang gagu didepan pencukurnya, begitulah dia yang tidak membuka mulutnya sama-sekali ” (Yesaya 53:3-5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya ini menubuatkan tentang bagaimana ketika Yesus diserang oleh lawan-lawannya ia tidak akan membalas. Akan tetapi di dalam Injil secara perkasa digambarkan sebagai tegar terhadap kritik dan dengan lantang mengutuk musuh-musuhnya. Dia mengutuk dan mengkritik orang-orang Farisi ketika mereka menentangnya dan toh menurut Yohanes 18:33-37 Yesus tidak melakukan apa apa kecuali diam saja pada saat diadili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika prajurit-prajurit Romawi menyalibkan orang, mereka akan memaku mereka kekayu salib, meninggalkan mereka tergantung disana untuk beberapa saat dan akhirnya mematahkan kaki mereka, sehingga menambah penderitaan sikorban yang malang dan membuat mereka mati. Menurut Alkitab, ketika prajurit-prajurit Romawi datang untuk mematahkan kaki Yesus, Yesus sudah tewas sehingga mereka tak memperdulikannya (Yohanes 19:31-34). Begitulah kleim orang Kristen yang fundamental, suatu contoh yang menyolok dari nubuat dalam Alkitab, karena Mazmur 34:20-21 menyatakan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan satu tulangpun di tubuh Mesias untuk remuk. Sialnya orang-orang Kristen telah melongkapi fakta yang terpenting. Meski tulang tungkai kaki Yesus tidak ada yang  patah, tulang-tulang di telapak kaki Yesus pastilah remuk. Ketika paku itu ditancapkan ke dalam kaki Yesus, paku itu pasti setidaknya telah meremukkan satu atau beberapa dari tulang telapak kakinya (metacarpalsnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen mengklaim bahwa Yesus mati dan pada hari ketiga bangkit dari kematian. Dan tentunya mereka mengklaim bahwa telah dinubuatkan sebelum terjadi. Nubuat itu berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab seperti Yunus selama tiga hari dan tiga malam berada didalam perut ikan paus, demikian juga Anak Manusia tiga hari dan tiga malam didalam tanah” (Matius 12:40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biar bagaimanapun juga,   seperti nubuat-nubuat lain, inipun salah. Yesus menurut ceritanya mati pada hari Jumat (Jumat Agung) dan bangkit di pada hari Minggu pagi (Minggu Paskah). Bahkan seorang anak sekolah dasarpun bisa melihat bahwa ini bukan tiga hari tiga malam - melainkan satu hari dua malam. Masalah lainnya adalah sesaat sebelum Yesus tewas dia menoleh kepada kedua orang penjahat yang disalib bersamanya dan berkata,”Kuyakinkan engkau, hari ini engkau bersamaku di dalam Firdaus.”(Lukas 23:43). Jadi menurut nubuat, Yesus akan bangkit dari mati sesudah tiga hari; menurut Injil  ia bangkit dari kematian dan sesudah sehari dan semalam; dan menurut apa yang telah dikatakannya sendiri, dia bangkit dari mati dan pergi ke surga dihari kematiannya. Akan tetapi bukan saja nubuat tentang Yesus yang salah, nubuat yang dibuatnya sendiripun juga salah. Orang Kristen yang fundamental selalu meng-kleim bahwa akhir jaman sudah dekat. Darimana mereka dapatkan ide aneh ini? Mereka dapatkan ini dari Yesus. Dia percaya dan secara terbuka mengajarkan bahwa dunia ini akan berakhir pada masa kehidupannya atau segera sesudah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kukatakan kepadamu, generasi ini tidak meninggal, sebelum semuanya terjadi.” Lukas 21:25-33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan “Generasi ini” jelasnya yang sedang dimaksudkan dan ditujukan olehnya adalah para hadirin. Pada kesempatan yang lain kembali dikatakannya kepada yang sedang berdiri mendengarkannya bahwa beberapa dari mereka masih akan tetap hidup ketika akhir dunia ini tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ketika mereka menghukummu disebuah kota, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya kukatakan kepadamu: kamu tak akan dapat melalui semua kota kota di Israel sebelum Anak manusia tiba.” Matius 10:23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semua dari yang Yesus nubuatkan, terbukti salah. Orang-orang yang hidup pada jaman kehidupannya jelas jelas telah mati selama 2000 tahun dan toh dunia ini belum juga berakhir dan juga Yesus belum datang kembali. Murid-murid Yesus telah melewati seluruh kota di Israel dalam beberapa tahun setelah kematian Yesus dan Yesus masih belum juga kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh contoh ini dan lainnya membuktikan bahwa nubuat-nubuat yang paling ada hubungannya dengan Yesus salah. Bahkan meski dimana suatu nubuat kelihatan sepertinya benar, ini tidak berarti bahwa nubuat mempunyai suatu arti. Bisa diperlihatkan bahwa siapa saja yang menulis Injil telah dengan sengaja mengarang kejadian-kejadian dalam kehidupan Yesus dan mencocok-cocokannyakedalam nubuat nubuat tersebut. Kita akan memeriksa satu contoh yang terkenal. Beberapa ratus tahun sebelum Yesus, Perjanjian Lama diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani, bahasa digunakan pada saat itu. Ketika sebuah kisah di kitab Yesaya menyatakan bahwa Sang Mesias akan dilahirkan oleh seorang wanita muda (almah) (Yesaya 7:14), yang diterjemahkan, kata untuk menjadi seorang wanita muda (almah) telah disalah-terjemahkan sebagai gadis (parthenas) yang merubah arti nubuat itu sendiri tentunya. Ketika para pengnulis Injil membaca ini mereka beranggapan bahwa untuk menjadi memenuhi syarat menjadi Mesias, ibu Yesus semestinyalah seorang perawan sehingga mereka mengarang-ngarang tentang cerita mengenai kelahiran dari seorang perawan. Kenyataannya adalah perlunya mengarang cerita ini karena salah pengertian. Jadi bukanlah nubuat yang telah meramal kejadian dalam kehidupan Yesus, malah kejadian-kejadian tersebut yang telah di karang sedemikian rupa untuk dicocok-cocokan dengan nubuat-nubuat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran Yesus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mendengar kaum fundamentalis dan evangelis Kristen untuk membanggakan bahwa tidak ada seorangpun yang pernah menemukan kesalahan apun di dalam Alkitab. Seperti halnya kita sering mendengarkan mereka meng-kleim bahwa Alkitab adalah firman-firman yang diilhamkan oleh Tuhan maka tak mungkin salah. Menimbang bagaimana telitinya orang Kristen meneyeleksi teks teks dari Alkitab sulitlah untuk mengetahui bagaimana kleim-kleim seperti itu dapat dibuat, sulit dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita lihat Alkitab katakan tentang kelahiran Yesus. Mula-mula, kita diberitahu bahwa kabar tentang pastinya kelahiran Yesus diberitakan kepadaYusuf, ayah Yesus, lewat mimpi. (Matius 1:20). Lalu kita diberitahu bahwa kabar itu diberikan kepada Maria, ibu Yesus, oleh seorang malaikat (Lukas 1:28). Yang mana dari kedua cerita ini yang benar? Apakah Yusuf yang mendapatkan berita itu ataukah Maria? Orang Kristen akan mengatakan bahwa kedua-duanya dapat. Lalu mengapa kitab Matius tidak menyebut-nyebut munculnya malaikat kehadapan Maria dan kitab Lukas tidak menceritakan mimpi Yusuf?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu pihak kita diberitahu bahwa orang tua Yesus mengadakan perjalanan sebelum bayi Yesus dilahirkan (Lukas 2:4-7) dan dilain cerita mereka melakukan perjalanan sesudah kelahiran Matius 2:13-14 Yang mana dari cerita cerita ini yang benar? Ketika kita sampai ketempat Yesus sebenarnya dilahirkan, kita akan menemukan lebih banyak kontradiksi. Apakah Yesus dilahirkan dirumah (Matius 1:24-25) ataukah Yesus dilahirkan dipalungan di belakang sebuah rumah penginapan (Lukas 2:7)?  Kemudian kita menelusuri garis nenek moyang Yesus. Kita mempunyai dua daftar tentang nenek moyang Yesus dari garis ayah, akan tetapi ketika kita melihat nama-nama didalamnya, kita hampir tidak menemukan  hubungan mereka. Mereka tidak sependapat satu sama lain. Yang satu mengatakan nama kakek Yesus adalah Yakub. (Matius 1:16) dan yang lain mengatakan namanya Eli (Lukas 3:23). Lebih lebih lagi adalah patut dicemooh untuk membicarakan nenek moyang Yesus dari pihak ayah dan Yesus dihubungkan dengan Raja Daud (Matius 1:1), dimana sebenarnya bukan Yusuf, melainkan Tuhanlah yang sepatutnya ayah Yesus yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Yesus Seorang Guru yang Baik? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijaman kehidupan Sang Buddha ada satu sekte agama yang disebut Nigantha yang terpecah-belah setelah kematian pendirinya Nataputta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada saat kematiannya, orang Nigantha terpecah menjadi dua bagian, ribut, bertengkar, berkelahi dan saling menyerang, dan perang kata-kata.....Kamu mungkin telah menduga bahwa mereka merasa muak, dibuat tak senang, dan terusir ketika mereka melihat bahwa doktrin agama tersebut disajikan secara demikian buruk, dibabarkan secara demikian sembarangan dan sedemikian tidak efektifnya untuk memadamkan nafsu karena ini telah diajarkan oleh seorang yang belum mencapai penerangan sempurna dan sekarang menjadi tanpa penuntun ataupun penengah. (Digha Nikaya, Sutta No.29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup menarik, inilah apa yang tepatnya terjadi segera sesudah Yesus mati dan karena alasan yang benar benar sama. Yesus sungguh terkenal dengan perumpamaan-perumpamaan yang digunakannya dalam mengilustrasikan ide-idenya tapi sekaligus dia sering gagal dalam memperjelas artinya. Terkadang ini karena dia sendiripun tidak tahu jelas tentang idenya itu dan dibeberapa saat lainnya kelihatannya dia adalah seorang yang kurang begitu bisa berkomunikasi. Yang lebih aneh lagi adalah bahwa Yesus sendiri mengakui kalau dia sengaja menyamarkan pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika para muridnya menanyakan kepadanya apa maksud dari perumpamaan itu, dia berkata, kepadamu telah diberikan pengetahuan tentang rahasia kerajaan Allah; tapi bagi yang lain mereka dalam perumpamaan, sehingga sekalipun melihat mereka tak tahu, walau mendengar mereka tidak mengerti (Lukas 8:9-10, Markus 8:17-18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mereka tidak mengerti akan ungkapan ini, sebab artinya tertutup bagi mereka, tidaklah bisa untuk mereka perkirakan: Dan mereka takut untuk bertanya kepadanya tentang  arti ungkapan ini” Lukas 9:45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahkan kepada ketidak-jelasan yang disengaja dengan ide-ide yang penuh dengan kontradiksi dari ajaran Yesus, dan tak sukar untuk membayangkan mengapa para muridnya terjerumus kedalam pertentangan segera setelah dia tiada. Didalam Surat-surat secara terus menerus dapat ditemui hal-hal berhubungan dengan percekcokkan dan keributan yang tak ada juntrungannya antara beberapa kelompok Kristen dimasa awalnya. Paulus menggerutu karena semua gereja di Asia-kecil menentangnya (Timotius II 1:15) dan mereka menolak untuk memihak kepadanya dalam beberapa argumentasi ketuhanan  (Timotius II   4:14-16). Dia memberitahu kita tentang ribut-mulut dengan Petrus dan para tetua digereja Yerusalem (Galatia II 2:11-13), dan bagaimana dia tidak diladeni oleh orang gereja di Philippi (Thessalonika I  2:1-20), dan tentunya dia menuduh  para saingannya bahwa mereka tidak mempunyai iman yang sejati (Tesalonika II  3:1-3), mengajarkan “pengertian Kristus yang berbeda” dan benar benar tak mengenal Tuhan (Titus 1:10-16). Yohanes dengan pahit mengeluh bahwa para lawannya mengusir para pendukungnya keluar dari gereja (Yohanes 1:9-10). Paulus dengan penuh keputus-asaan dan sia-sia menghimbau demi keharmonisan antar sesama golongan Kristen dimasa awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku menghimbau kepadamu, saudara saudara sekalian, dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, agar engkau seia sekata janganlah ada perpecahan diantara engkau  karenanyalah engkau dapat bersatu dalam hati dan pikiran..” (Korintus I  1:10-12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih yang diributi oleh orang Kristen dimasa awalnya? Salah satu dari hal hal yang dipertentangkan yang tampaknya telah menjadi topik pada saat itu adalah apakah perlu adanya sunat atau tidak. (Roma 2:25-29, Galatia 6:12-15, Filipi 3:2-4, Kolose 2:11-13). Paulus menentangnya dan menyebut yang tak setuju kepadanya “anjing” (Filipi 3:2), dan berkata bahwa dia berharap mereka tercerai-berai dan mengebiri diri mereka sendiri (Galilea 5:12) dan dia memperingati orang Kristen lainnya untuk menjauhi mereka (Titus 1:10). Sedihnya, inilah yang sangat mengingatkan kita kepada orang-orang Kristen modern. Sewaktu menyatakan bahwa  cuma merekalah yang mempunyai kebenaran sejati, terjadi begitu banyak pertentangan di antara mereka tentang apa kebenaran itu, dan kebenaran mereka yang sejati adalah mereka pecah menjadi ratusan dinominasi, sekte-sekte, kultus-kultus, dan gereja-gereja, serta menolak untuk memuja Tuhan yang sama bersama bersama. Seperti orang Kristen dimasa awalnya banyak sekali niatyang tak sehat dan kecemburuan antar mereka dengan saling menuduh satu sama lain sebagai bukan “Kristen sejati”,  sebagai tidak mengerti Alkitab dengan baik, dan disalah-arahkan Setan. Bagi orang Buddhis dan yang non-Kristen ini sangatlah membingungkan. Jika benar bahwa pengabaran dariYesus tentang penyelamatan itu jelas dan jika benar bahwa Tuhan yang berbicara dan yang menuntun orang Kristen melalui doa, mengapa terdapat begitu banyak pertentangan dan permusuhan diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjamuan Akhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkitab hampir tak memberikan kita keterangan sama sekali keterangan tentang kehidupan Yesus hingga dia mulai mengajar pada saat dia kurang lebih telah berumur 30 tahun. Dan bahkan sesudah dia muncul dimuka umum terlihat kekacauan yang besar mengenai apa yang terjadi dan waktu kejadian. Contohnya, Injil Yohanes mengkleim bahwa amukan di Bait Allah terjadi pada awal perjalanan Yesus. (Yohanes 2:13-14) Tetapi Lukas mengkleim amukan tersebut terjadi pada saat terakhir. (Lukas 19:45-46). Disatu pihak kita diberitahu bahwa Yesus tinggal dirumah Petrus dan kemudian menyembuhkan seorang penderita kusta (Markus 1:29-45) Disaat lainnya kita diberitahu bahwadia menyembuhkan sipenderita kusta dan kemudian masuk kerumah Petrus (Matius 8: 1, 8:14). Disatu pihak kita diberitahu bahwa seorang panglima Roma berbicara langsung dengan Yesus (Matius 8:5) dalam suatu kontradiksi yang amat nyata kita diberitahukan bahwa sipanglima Romawi mengirim pesuruhnya untuk mewakilinya bicara kepada Yesus (Lukas 7:1). Di injil Markus kita diberitahu bahwa Yesus meninggalkan Tyre melalui Sidon menuju ke Laut Galilea (Markus 7:31). Dengan memperhatikan peta Israel akan terlihat bahwa ini sungguh mustahil karena Sidon berada dijurusan yang sama sekali berlainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen akan dengan berat hati mengakui adanya kesalahan-kesalahan ini, tapi mengatakan bahwa ini kesalahan kecil dan tidak penting. Mungkin saja begitu, tapi ini telah membuktikan bahwa Alkitab tidak luput dari kesalahan, dan jika Alkitab membuat kesalahan-kesalahan tentang apa yang  dilakukan Yesus, maka bisa saja membuat kesalahan-kesalahan tentang apa yang diucapkan oleh Yesus. Tapi bahkan ketika kita menelaah kejadian-kejadian yang sangat penting dalam kehidupan Yesus kita amlah mendapatkan kebingungan. Marilah kita telaah Perjamuan Akhir. Menurut Injil Matius, Markus dan Lukas, Perjamuan Akhir Yesus terjadi pada hari suci Yahudi-Paskah (Matius 26:17-20, Markus 14:12-17, Lukas 22:7-14). Diinjil Yohanes sebaliknya mengkleim bahwa Perjamuan Akhir terjadi sebelum Paskah (Yohanes 19:14). Matius, Markus, Lukas dan Yohanes seharusnya adalah murid Yesus hadir pada saat Perjamuan Akhir bersama Yesus. Mereka sebagai murid-murid Yesus yang seharusnya ingat dengan jelas dan menuliskan semua ajaran Yesus. Kalau mereka bahkan tidak bisa mengingat walau hanya hari Perjamuan Akhir, bagaimana kita bisa yakin kalau mereka bisa mengingat ajaran Yesus secara tepat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                                       Pengadilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita akan meneliti kejadian terpenting dalam hidup Yesus, pengadilannya. Seperti yang dituturkan dalam Alkitab  pengadilan ini dengan mudah ditebak penuh dengan kontradiksi, selain itu juga menimbulkan banyak pertanyaan yang sulit&lt;br /&gt; dijawab. Pengadilan dan kejadian-kejadian disaat sebelumnya biasanya diceritakankan oleh orang Kristen sebagai berikut: Yesus memasuki kota Yerusalem menunggang seekor keledai yang disambut dengan sorak-sorai dari penduduk kota tersebut. Kemudian dia ditangkap oleh segerombolan pendeta Yahudi yang memukulinya serta menyerahkannya ketangan orang Romawi. Gubernur Romawi, Pontius Pilatus, tidak mampu untuk menemukan kesalahan pada diri Yesus tapi para pemuka agama Yahudi tetap bersikeras bahwa dia bersalah. Karena tidak mampu membuat keputusan, Gubernur Romawi ini memutuskan untuk bertanya kepada rakyat apa yang mereka inginkan, lepaskan Yesusa atau lepaskan seorang pemberontak Yahudi? Rakyat menjeritkan kebebasan pemberontak Yahudi dan penyaliban Yesus. Begitulah penuh dengan rasa segan Pilatus dengan terpaksa memerintahkan agar Yesus dihukum mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah ada pengadilan yang berlangsung seperti ini? Marilah kita lihat. Kita diberitahu bahwa ketika Yesus menunggang keledai masuk ke Yerusalem rakyat yang bersukacita menyambutnya, menebarkan jubah mereka dijalan dan memujinya sebagai raja mereka. (Markus 11:8) Tetapi sehari kemudiam, mereka meneriaki Yesus agar ia disalibkan (Markus 15:12-14). Perubahan imaginasi yang tiba-tiba dari pujian menjadi kebencian sangatlah sulit untuk dijelaskan. Selanjutnya Yesus dibawa kehadapan Pontius Pilatus. Alkitab menggambarkan Pontius Pilatus sebagai seorang yang tidak bisa menemukan kesalahan Yesus  tapi terdesak untuk menyalibkannya oleh pendeta-pendeta Yahudi. Jelas ini tak mungkin. Bangsa Romawi terkenal karena pemerintahnya yang kuat dan efektif; sistem pengadilan mereka terkenal karena keadilannya dan mereka tidak mungkin mengirimkan seorang yang lemah dan tak dapat mengambil keputusan untuk memerintah wilayah bagian dari kerajaan yang penuh dengan kekacauan. Siapa yang mau mempercayai bahwa seorang Gubernur Romawi bisa memperbolehkan rakyat yang berada dibawah kekuasaannya untuk mengambil keputusan baginya dan memperlihatkan cara bagaimana dia harus menjalankan pengadilannya? Alkitab mengatakan bahwa Pilatus menanyakan orang banyak apakah mereka mau Yesus atau Barabas untuk dibebaskan. (Lukas 23:13-18), dan ketika mereka menyebut Barabbas, dia dilepaskan dan Yesus yang dihukum. Sekarang dimana kredibilitas telah terentang habis. Kita diminta untuk percaya bahwa seorang Gubernur Romawi dapat menghukum orang yang dia tahu tidak bersalah dan mau membebaskan seorang pengacau yang terlibat dalam pembunuhan untuk menggulingkan kekuasaan Romawi. (Lukas 23:19). Orang Romawi tidak menaklukkan dan memerintah Eropa, Afrika, dan Timur Tengah dengan membebaskan pemberontak yang berbahaya. Mereka sangatlah kuat, adil dan tidak pandang bulu terhadap semua yang menentang mereka. Maka catatan orang Kristen mengenai pengadilan Yesus sangatlah tidak meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita baca apa yang seharusnya Yesus ucapkan pada saat diadili, maka terlihatlah bahwa semuanya catatan tentang pengadilan itu adalah dibuat-buat. Menurut Injil Matius, ketika sedang diadili Yesus “tidak memberikan jawaban“ (Matius 27:12) dan “tidak menjawab pertanyaan, bahkan tidak kepada satu tuduhan pun, yang mana mengejutkan sang gubernur.” (Matius, 27:1-4) Disaat pengadilannya, dalam suatu kontradiksi yang nyata Injil Yohanes mengklaim bahwa Yesus menjawab semua tuduhan, memajukan pertanyaan pertanyaan dan berbicara banyak selama pengadilan. (Yohanes 18:33-37). Mana dari kedua injil diatas yang benar? Apakah Yesus diam atau Apakah dia berbicara? Seperti halnya Injil Yohanes, Injil Lukas juga mengkleim bahwa Yesus berbicara banyak selama persidangan. Tapi bila kita bandingkan pernyataan Yohanes dengan apa yang dikatakan Lukas, kita menemukan bahwa hampir semua kalimat yang diucapkan dalam ayat-ayat tersebut berbeda. (Bandingkan Yohanes 18:33-37 dengan Lukas 22:66-70). Nyata sekali, klaim-klaim orang Kristen bahwa Alkitab itu sangat akurat, dokumen sejarah yang bisa dipercaya adalah sangat tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Yang Terjadi Kepada Yudas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudas adalah murid yang mengkhianati Yesus. Setelah dia melakukan ini, katanya dia kemudian mati. Tapi bagaimana caranya dia mati?  Disini, seperti dengan kejadian-kejadian yang lain, Alkitab memberikan kita cerita-cerita yang membingungkan. Menurut Matius inilah yang terjadi:&lt;br /&gt;Waktu Yudas ,yang berkhianat melihat bahwa Yesus dihukum mati, Dia jadi sangat menyesal dan mengembalikan tiga puluh keping perak itu kepada imam-imam kepala dan tetua-tetua, ‘Aku berdosa’ katanya ‘karena aku telah berkhianat hingga membunuh yang tak berdosa’. ‘Apa artinya bagi kami semua ini’ jawab mereka. ‘itu adalah tanggung-jawabmu’  Demikianlah Yudas membuang uang tersebut kedalam kuil dan pergi. Dia pergi kemudian menggantung dirinya. Para pimpinan pendeta memungut keping keping perak tersebut dan berkata ‘karena ini adalah uang yang berlumur darah’ katanya ‘ adalah bertentangan dengan Torah jika memsukkan uang tersebut kedalam kas’ Maka mereka memutuskan untuk membeli tanah tempat penguburan bagi orang asing. Inilah mengapa tempat ini disebut lapangan berdarah hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibagian yang lain kita diberi cerita yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari upah yang diterima dari kejahatannya, Yudas ini telah membeli sebidang tanah; lalu ia jatuh tertelungkup, dan perutnya pecah dan hancur sehingga isi perutnya terpental keluar. Setiap orang diYerusalem mendengar tentang hal ini, maka mereka sebut lapangan tersebut dalam bahasa mereka sendiri “Hakal-Dama”, artinya lapangan  berdarah.” (Kisah Para Rasul 1:18-19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Yudas yang membeli ladang ataukah tetua agama? Apakah Yudas gantung diri ataukah dia jatuh hingga tubuhnya robek terbuka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Terakhir Yesus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak doktrin doktrin Kristen yang sering berdasarkan atas satu kata atau kalimat yang diperkirakan pernah diucapkan oleh Yesus. Untuk membuktikan kebenaran dari kepercayaan mereka orang-orang Kristen cepat-cepat membuka Alkitab mereka dan menunjukkan, ”Lihat itulah buktinya” Mereka beranggapan bahwa setiap ungkapan, setiap kalimat, setiap kata yang ada di dalam Alkitab adalah benar benar apa yang telah diucapkan oleh Yesus. Telah kita melihat bahwa Alkitab cukup kacau dalam hal apa yang Yesus lakukan dan Yesus katakan. Faktanya malahan kata-kata Yesus yang terakhirpun tidak dicatat dengan tepat. Menurut Matius, kata-kata terakhir Yesus adalah: “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46). Menurut Markus, Yesus hanya menjerit keras lalu mati (Markus 15:37). Menurut Lukas, Yesus berkata,”Bapa, kedalam tanganmu kuserahkan rohku” (Lukas 23:46). Menurut Yohanes, kata-kata terakhir Yesus adalah,”Genaplah sudah.” (Yohanes 19:30). Sekali lagi kita melihat perbedaan-perbedaan dan pertentangan-pertentangan yang membuat mustahil untuk mengetahui apa yang harus dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah benar-benar telah Yesus mati dan bangkit dari kematian setelah tiga hari? Catatan-catatan dari keempat injil dari kejadian yang paling penting adalah orat-oret yang membingungkan dan penuh dengan kontradiksi yang meyakinkan orang yang berpikir secara rational menjadi lebih mudah untuk meragukannya. Ditahapan ini pembaca diminta untuk mempersiapkan sebuah Alkitab untuk mencek semua petunjuk petunjuk. Kita akan melihat keempat catatan yang diceritakan mengenai Kebangkitan berbeda dalam hampir setiap detil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kapankah Kebangkitan itu terjadi?&lt;br /&gt;Keempat Injil sama sama menceritakan bahwa kebangkitan terjadi di hari Minggu pagi. (Matius 28:1, Markus 16:1, Lukas 24:1, Yohanes 20:1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Siapa yang pergi ke kubur?&lt;br /&gt;Sekarang problemanya timbul. Matius berkata bahwa dua Maria pergi ke kubur (Matius 28:1); Markus berkata bahwa kedua Maria, Salome pergi ke kubur (Markus 16:1); Lukas berkata kedua Maria, Joanna dan beberapa wanita lain pergi ke kubur (Lukas 24:10); dan Yohanes berkata cuma Maria yang pergi (Yohanes 20:1). Orang Kristen mengkleim bahwa Alkitab tidak mengandung kesalahan tapi nyatanya ada banyak kesalahan disini. Mereka mengkleim bahwa para penulis Injil diilhami oleh Tuhan seperti yang mereka tulis, tapi kelihatannya tidak cukup untuk diilhami sehingga bisa menceritakan secara rapih dan seragam.&lt;br /&gt;3. Apakah ada gempa bumi?&lt;br /&gt;Matius memberitahu kita bahwa disaat itu terjadi “gempa bumi yang dahsyat” (Matius 28:2), tetapi mengapa ketiga injil lainnya sampai tidak menyebut-nyebutnya? Pasti gempa yang dahsyat, terutama yang sedang terjadi pada saat begitu penting, akan sulitlah untuk melupakannya. Malahan jauh lebih memungkinkan kalau Matiuslah yang sekedar mengarang-ngarang cerita untuk mendramatisir cerita dalam Injilnya, dengan kata lain dia itu ngibul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ada berapa malaikat?&lt;br /&gt;Berikutnya, Matius mengkleim bahwa satu malaikat muncul dihadapan kedua wanita tersebut, mendorong batu penutup kubur dan duduk di atasnya. (Matius 28:2). Dia juga menyatakan bahwa para penjaga sangat ketakutan sehingga pingsan (Matius 28:4). Cerita Markus cukup berbeda. Dia mengkleim bahwa pintunya sudah terbuka sebelum wanita-wanita itu tiba, demikianlah mereka memasukki kuburan tersebut dan melihat malaikat didalamnya. (Markus 16:4-5). Dan dia tidak mennyebut-nyebut hadirnya para penjaga. Cerita Lukas bahkan lebih bersifat karangan. Dia mengkleim bahwa wanita-wanita itu masuk ke dalam kubur dan melihat bukan hanya satu, tapi dua malaikat. (Lukas 24:4). Jelas terlihat sebagai orang yang tidak menceritakan  kebenaran. Yohanes mengkleim bahwa Maria saja yang pergi ke kubur, melihat pintu batu terbuka, lari untuk memanggil murid-murid yang lain dan ketika mereka masuk ke dalam kubur ia menunggu diluar. Setelah semuanya pulang, Maria tetap menunggu, dan ketika kedua malaikat muncul di hadapannya, dan kemudian Yesus muncul meski Maria tidak bisa mengenalnya. (Yohanes 20:12-14). Dan pada “bukti-bukti” yang tak kuat  inilah Kristiani bersandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Yesus Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen mengkleim bahwa Yesus adalah Tuhan. Sekarang marilah kita lihat apakah kleim-kleim tersebut bisa dibenarkan. Kalau benar Yesus itu Tuhan, sangatlah aneh bahwa dia sendiri tidak pernah mengatakan begitu. Tidak ada satu bagianpun dalam Alkitab dimana Yesus secara gamblang berkata,”Saya adalah Tuhan.” Orang Kristen akan tidak setuju terhadap hal ini dan mengatakan bahwa Yesus sering menyebut dirinya  atau disebut anak Allah. Meski demikian, Alkitab jelas-jelas menunjukkan bahwa siapapun yang baik dan beriman layak untuk disebut Anak Allah. Seperti contoh, Yesus menyebut Adam, anak Allah. (Lukas 3:38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan terjadi bahwa ditempat ini juga dimana dikatakan akan mereka: “Kamu ini bukanlah umat-Ku,” mereka akan disebut: “Anak-anak Allah yang hidup.” (Roma 9:26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cintailah musuhmu dan doakanlah yang telah menganiayamu, hingga dapatlah engkau menjadi putra-putra Bapamu di sorga.” (Matius 5:44-45)&lt;br /&gt;“Engkau semua adalah putra-putra Allah melalui iman dalam Yesus Kristus.” (Galatia 3:26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau adalah milik Allah; engkau semua adalah putra putra dari Yang Tertinggi (Mazmur 82-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus disebut sebagai  satu-satunya Putra yang diperanak oleh Allah meski demikianpun tidaklah menjadi unik. Di Mazmur, Tuhan berkata kepada raja Daud,” “Engkau anakku,hari ini Kuperanak engkau.”(Mazmur 2:7). Faktanya, Yesus jelas-jelas berkata ketika dia menyebut dirinya anak Allah, dia tak memaksudkan dirinya adalah Tuhan atau dihubungkan dengan Tuhan dalam arti-kata. Ketika para pendeta Yahudi mengkritik Yesus karena mengklaim dirinya setara dengan Allah, Yesus berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ “Tidakkah tertulis dalam Tauratmu, ‘Telah Kukatakan engkau ini tuhan tuhan? Jika ia menyebut mereka ‘tuhan tuhan’ ditujukan kepada siapa firman Allah tersebut - dan Kitab tidak dapat ditiadakan – bagaimana  seseorang yang Bapak kecualikan sebagai miliknya yang satu itu dan yang diutusNya ke dunia?” (Yohanes 10:34-36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen akan memprotes bahwa kutipan-kutipan  “anak allah” tidaklah dimulai dengan huruf besar. Tetapi ketika Yesus mengklaim dirinya, huruf besarlah yang dipakai jadi, “Anak Allah”. Tapi huruf-huruf besar untuk menonjolkan sebuah ungkapan adalah suatu karya dari bahasa Inggris moderen. Di dalam bahasa Yunani kuno dan Aramaic, bahasa-bahasa yang dipakai untuk menulis Perjanjian Baru, huruf-huruf besar tak pernah digunakan dan perbedaan antara “anak allah” dan “Anak Allah” tidak pernah ada. Orang-orang Kristen demikian cerewetnya mengenai kleim-kleim Yesus untuk menjadi  anak Allah seperti yang dapat kita lihat, tidak ada yang unik sama sekali tentang kleim tersebut. Orang Kristen boleh saja mengkleim bahwa istilah “anak Tuhan” digunakan diAlkitab dalam dua cara yang berbeda - sebagai embel-embel kepada khususnya orang yang suci dan bagi yang sesungguhnya anak Allah, Yesus, yang berada bersama Tuhan disurga sebelum turun kebumi. Tetapi meski dalam arti yang kedua inipun Yesus juga tidaklah menjadi unik. Alkitab memberitahu kita bahwa Tuhan mempunyai banyak sekali putra yang bersama denganNya di surga yang kemudian turun ke dunia dan hidup bersama manusia seperti yang dilakukan Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika manusia itu mulai meningkat jumlahnya dan menyebar keseluruh dunia dan anak-anak perempuandilahirkan untuk mereka, putra putra Allah melihat bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambilnya sebagai isteri yang dipilihnya (Kejadian 6:1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Alkitab disebutnya Yesus sebagai Anak Manusia lebih dari 80 kali. Toh Alkitab juga memberitahu kita bahwa dimata Tuhan Anak Manusia tak kelebihannya dari seekor cacing. (Ayub 25:6). Bagaimana orang Kristen bisa mengkleim bahwa Anak Manusia adalah Tuhan kalau Alkitab saja mengatakan bahwa Anak Manusia tidak kelebihannya dari seekor cacing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen selanjutnya akan bersikeras bahwa Yesus disebut Mesias, tapi sekali lagi bukanlah aneh untuk dipanggil Mesias. Bahasa Ibrani “mashiah” yang terjemahan dalam bahasaYunani adalah “yang diurapi”, dan ini dimaksudkan bagi siapa saja yang dikirim oleh Allah untuk menolong bangsa Israel. Bahkan yang non-Yahudipun bisa disebut Mesias. Alkitab bahkan menggelari Raja Persia yang menyembah berhala yaitu Sirus sebagai Mesias karena dia telah membiarkan orang-orangnya Tuhan untuk kembali ke tanah asal mereka. (Yesaya 45:1). jadi karena hanya karena Yesus disebut Mesias tidaklah dapat dipakai untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan. Nyatanya, diseluruh isi Alkitab Yesus selalu menekankan dengan jelas bahwa dia bukanlah Tuhan. Ketika seseorang memanggil Yesus “seorang guru yang baik” Yesus berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kau menyebut Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain Tuhan sendiri.” (Lukas 18:19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang jika Yesus adalah Tuhan, lalu mengapa dia menyangkal bahwa dia itu baik? Kita diberitahu bahwa Yesus berdoa, Tapi jika Yesus adalah Tuhan apa perlunya dia berdoa kepada dirinya sendiri? Dan ketika Yesus berdoa, dia berkata kepada Tuhan,”bukanlah keinginanku, tapi keinginanMu” (Lukas 22:42). Dengan cukup jelas Yesus sedang membedakan antara keinginan Tuhan dengan keinginannya. Yesus berkata bahwa tidak seorangpun pernah melihat Tuhan. (Yohanes 1:18), berarti bahwa ketika orang-orang melihatnya mereka bukan sedang melihat Tuhan. Sekali lagi Yesus berkata dia tidak bisa melakukan apa-apa tanpa Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukatakan yang sebenarnya kepadamu, Anak ini tak berbuat apa-apa sendiri, Dia hanya bisa berbuat apa yang ia lihat Ayahnya lakukan (Yohanes 5:19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusendiri tidak dapat berbuat apa-apa; Aku mengadili hanya sesuai dengan apa yang kudengar dan keputusanku adil, karena aku tidak mencari kesenangan untuk diri sendiri melainkan untuk Dia yang mengutus Aku. Yohanes 5:30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak dapat berbuat apa-apa sendiri tapi hanya mengatakan apa yang telah Bapak ajarkan  (Yohanes 8:28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Yesus adalah Tuhan, dia bisa berbuat apa saja yang dia inginkan, dan dalam cuplikan-cuplikan di atas, dan lusinan lainnya dia memperjelas seperti kristal bahwa dia tidak sama dengan Tuhan “Bapak lebih besar daripada Aku” (Yohanes 14:28) memperjelas bahwa dia tidaklah sebesar Tuhan dan maka itu beda dengan Tuhan. Dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap orang yang menentang Anak Manusia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh kudus tak akan diampuni.” (Lukas 12:10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah jika Yesus dan Roh Kudus adalah satu, menghujat yang satu berarti menghujat yang satunya lagi. DiAlkitab kita diberitahu bahwa tak seorangpun yang lahir dari seorang wanita bisa menjadi suci. (Ayub 25:4). Yesus lahir dari seorang wanita, ibunya Maria, tentunya Yesus itu adalah tidak suci. Kalau Yesus tidak suci, bagaimana mungkin Yesus itu Tuhan? Kita diberitahu bahwa Yesus mati selama 3 hari sebelum naik ke surga. Bagaimana bisa mungkin Tuhan mati? Siapa yang menjaga alam semesta ini ketika dia mati? Yesus berkata bahwa pada akhir jaman ini dia akan duduk di sebelah kanan Allah untuk mengadili dunia ini (Lukas 22:69). Jika Yesus dan Tuhan adalah mahluk yang sama, bagaimana ini menjadi mungkin? Dengan cukup jelas keduanya itu terpisah dan berbeda. Dan sekali lagi Daud digambarkan duduk di sebelah kanan Tuhan, Jadi untuk melakukan ini seseorang tidaklah harus menjadi Tuhan. (Mazmur 110:1) Kita diberitahu bahwa Yesus berada di antara manusia dan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hanya ada satu Tuhan dan satu perantara antara Tuhan dan manusia, orang itu Yesus Kristus.” (I Timotius 2:5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ini dengan jelas menyatakan bahwa Yesus bukan Tuhan, karena kalau dia itu Tuhan, bagaimana mungkin meng-antara-i Tuhan dan manusia? Secara khusus mengatakan bahwa Yesus adalah seorang manusia (lihatlah juga Kisah Para Rasul 17:30-31). Di dalam Injil Matius dan Lukas (Matius 1:16, Lukas 3:23) kita diperlihatkan nama-nama dari ayah Yesus, kakek Yesus, dan seterusnya kembali kebeberapa generasi sebelumnya. Kalau Tuhan benar-benar ayah Yesus, apa perlunya Alkitab memberi daftar nama nenek moyang Yesus dari garis ayahnya? Orang Kristen selamanya mengklaim bahwa Yesus itu Tuhan dan secara berbareng dia juga sebagai anak Tuhan. Bagaimana mungkin bisa terjadi? Bagaimana mungkin seorang ayah bisa menjadi anaknya dan sekaligus dirinya sendiri? Dan menjadikannya lebih kacau lagi, Roh Kudus dibawa masuk dan kita diminta agar percaya bahwa Yesus, Tuhan dan Roh Kudus adalah berbeda tetapi sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim dari orang Kristen bahwa Yesus adalah Tuhan bertentangan dengan apa yang dinyatakan Alkitab, berlawanan dengan pendapat umum dan menimbulkan banyak sekali problema logika. Dimana jika kita lihat Yesus seyogyanya saja, seorang pelopor pembaharuan dan seorang nabi, semua problem di atas tidak mungkin muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Yesus Sempurna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang guru agama harus sempurna yang kita harapkan adalah tingkah laku dari orang yang seperti itu harus tak ada yang bisa disalahkan, ajaran-ajarannya  mesti manusiawi dan praktis dan harus selalu sesuai antara apa yang dikhotbahkan dengan apa yang diperbuat. Yesus, tentunya, menyangkal bahwa dia itu sempurna. (Lukas 18:19) tapi meski adanya sangkalannya ini yang disertai oleh bukti-bukti dalam Alkitab, orang Kristen terus mengkleim bahwa Yesus itu sempurna. Mereka harus melakukan ini karena mereka secara menyimpang menganggap Yesus Tuhan - bagaimana mungkin Tuhan itu tidak sempurna? Orang-orang Buddhis percaya bahwa Yesus adalah seorang manusia yang baik seperti halnya juga para pendiri agama-agama besar lainnya di dunia tapi karena dia belum mencapai penerangan sempurna seperti Sang Buddha, tentunya Yesus tidaklah sempurna. Seperti yang lain yang belum mencapai kesunyataan ia kadang-kadang melakukan kesalahan, beberapa hal yang dia ajarkan itu tidak praktis, dan kadang-kadang dia tak mampu mepraktekan apa yang dia dikhotbahkannya. Marilah kita uji-nyatakan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran-ajaran etis Yesus sering digambarkan sebagai “sangat agung”, “mulia”, “sempurna sama sekali” dan lain-lain. Tapi sungguhkah ini? Marilah kita tinjau ajaran tentang perceraian. Di dalam Perjanjian Lama, perceraian diperbolehkan atas dasar keadaan tertentu, yang tentunya ketika dua orang sepasang telah tidak lagi saling mencintai atau sudah saling tidak cocok, adalah hal yang paling manusiawi untuk dilaksanakan. Tetapi Yesus malah mengambil posisi yang sangat ekstrim terhadap perceraian, mengatakan bahwa perceraian itu hanya diperbolehkan atas dasar perzinahan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah dinyatakan: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi kukatakan kepadamu bahwa siapa saja yang menceraikan isterinya kecuali karena ketidaksetiaan terhadap perkawinan, akan menyebabkannya menjadi penzinah, dan siapa saja yang mengawini wanita yang diceraikan juga berbuat zinah.” (Matius 5:31-32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran kusut ini telah membawa arti bahwa hingga kini di negara-negara Kristen, jutaan pasangan yang terjebak dalam yang tak bahagia dan tanpa cinta tetapi tidak bisa bercerai. Ini juga berarti bahwa tak terhitung banyaknya wanita yang berhasil untuk cerai dari suami mereka meski tanpa berbuat zinah, harus dicap sebagai penzinah kalau mereka menikah lagi. Ajaran Yesus yang satu ini saja telah menyebabkan derita dan sakit hati yang tak terlukiskan. Contoh lain dari ajaran Yesus yang jauh dari sempurna ini adalah sikapnya terhadap uang. Yesus tampaknya memiliki kebencian yang dalam terhadap orang kaya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakalah hai engkau yang kaya, karena yang kau telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.” (Lukas 6:24-25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada benarnya bahwa orang kaya itu kadang-kadang serakah tidak punya pikiran (begitu juga yang miskin)  ini tak  pernah disebut-sebut. Yang kaya dimusuhi cuma karena mereka kaya. Pernah ketika seorang anak muda meminta jawaban dari Yesus tentang bagaimana dia bisa mendapatkan kehidupan abadi, Yesus akhirnya berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau engkau ingin sempurna, pergilah,  jual semua milikmu dan berikan kepada yang miskin ikutilah aku dan kau akan beroleh harta di sorga.” (Matius 19:21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus bahkan melangkah sejauh mana untuk mengatakan adalah benar-benar mustahil bagi sikaya untuk masuk kesurga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kukatakan kepadamu, sukar bagi orang kaya untuk memasuki Kerajaan Surga. kembali engkau kuberitahu, akan lebih mudah bagi seekor unta untuk menembus lobang jarum katimbang sikaya untuk memasuki Kerajaan Allah.” (Matius 19:23-24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen tentunya, tak pernah memperhatikan ucapan-ucapan Yesus ini, karena jika mereka lakukan keadaan ekonomi dinegara-negara Kristen di dunia ini akan ambruk dan semua kualitas baik yang dapat dimajukan oleh pengusaha besar yang jujur akan musnah. Ajaran yang kurang bisa dipraktekan dan tidak adil dari Yesus ini mempunyai kontras yang tajam dengan sikap Sang Buddha terhadap kekayaan. Dia mengakui kekayaan yang didapat secara jujur bisa menjadi sumber kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah sih kebahagiaan memiliki? Disinilah, seorang kepala keluarga memiliki kekayaan yang didapat dengan usaha yang penuh tenaga, yang didapat dari kekuatan tangan dan keringat dari kening, yang didapat secara adil dan sesuai hukum. Ketika dia memikirkan tentang hal ini, dia merasakan kebahagiaan dan kepuasan.&lt;br /&gt;Dan apakah sih kebahagiaan dari kekayaan? Disinilah, seorang kepala keluarga yang kekayaannya didapat secara adil dan sesuai hukum, dan dengannya dia melakukan banyak perbuatan baik. Ketika dia memikirkan tentang hal ini, dia merasakan kebahagiaan dan kepuasan.&lt;br /&gt;Dan apakah sih kebahagiaan lepas dari hutang? Disinilah, seorang kepala rumah tangga tidak mempunyai hutang kepada siapapun baik besar maupun kecil, dan ketika dia berpikir tentang hal ini, dia merasakan kebahagiaan dan kepuasan. (Anguttara Nikaya, Book of Fives, Sutta No.41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mengerti bahwa dengan tingkah laku yang benar, yang kaya dapat melakukan hal-hal yang sangat baik dengan uang mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekayaan yang didapat dari usaha tenaga, dimenangkan dengan kekuatan lengan, dan keringat dikening sesuai hukum dan secara adil, seorang murid yang mulia membuat dirinya, ibu dan ayah, istri dan anak-anaknya, pembantunya dan pekerjanya dan teman-teman serta kenalannya senang dan bahagia - dia menciptakan kebahagiaan yang sempurna. Inilah kesempatan pertama yang diraih olehnya, digunakan demi kebaikan dan dipakai dengan cara benar. (Anguttara Nikaya, Book of Fives, Sutta No.41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka katimbang meniadakan yang kaya sama sekali dari kehidupan beragama seperti Yesus lakukan, Sang Buddha mengajarkan mereka untuk menghasilkan uang dengan jujur dan menggunakan kekayaan mereka untuk kepentingan mereka dan masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ajaran Yesus yang telah menyebabkan lebih banyak masalah daripada ajaran lainnya adalah pernyataan yang dibuatnya bahwa dia dan hanya dia yang bisa menyelamatkan. (Yohanes 14:6). Yang diikuti secara axiomatis (axiomatis - percaya walau tanpa bukti) mulai dari sini bahwa agama lainnya akan menuntun kearah satu alternatif penyelamatan saja – neraka – maka itu adalah ajaran kejahatan. Sedihnya, kleim oleh Yesus ini adalah akar dari seluruh ciri khas/karakter kwalitasnya orang Kristen - tidak toleran. Kristiani selalu menyamakan ketidak-percayaan kepada Yesus dengan kejahatan, dan telah secara mambabi-buta mencap yang tidak percaya sebagai orang yang tak bertuhan, busuk, bandel, penyembah berhala, penghujat, pengikut para nabi palsu, pemuja patung (Lihatlah 2 Petrus 2:1-22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bergaul dengan yang tak percaya. Karena persamaan apa yang kebenaran dan kedurhakaan punyai? Atau persekutuan apa yang sinar/penerangan punya dengan kegelapan? Keharmonisan apa yang ada antara Kristus dan Iblis? Kemiripan apa yang rumah Allah terlihat  dengan kuil berhala-berhala? (Korintus II 6:14-16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Paulus tanyakan dalam bagian cuplikan ini, dapatkah seorang Kristen mempunyai persamaan dengan, misalnya, seorang buddhis?  Bagi Paulus sebagai seorang Kristen yang fundamentalis dan evangelis bahwa kenyataannya orang buddhis bisa menilai dan melaksanakan cinta-kasih, saling mengasihi, derma, kesabaran, kesederhanaan dan kebenaran yang nyata, seperti yang dilakukannya, tak mempunyai arti apa-apa. Bagi orang Kristen fakta satu-satunya bahwa orang Buddhis tak percaya bahwa Yesus itu Tuhan secara otomatis ada dipihak kejahatan dan kegelapan; dia adalah ppenyembah patung yang harus dijauhi dan yang pantas masuk neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hebatnya tragedi ke-Kristen-an - semakin ber-iman si-Kristen kepada Yesus semakin tambah ke-partai-an sifatnya, semakin sempit pandangan keagamaannya dan semakin tak toleran jadinya. Bukan main lepasnya hati kita semua yang bisa bernaung dibawah Buddha dan bisa mengagumi Lao Tzu, Nabi Muhamad, Khrisna, Guru Nanak dll, Alangkah menyenangkan bisa berkomunikasi dengan yang lain tanpa harus punya mengajak mereka pindah agama. Betapa manisnya dapat bersukaria melihat orang lain bersukacita dengan agama mereka. Kristiani tidak toleran karena mereka pikiran mereka hanya dipenuhi dengan Yesus dan tak ada tempat bagi yang menerima Yesus. Buddhisme selalu toleran karena sangat menghargai kebijaksanaan dan saling mengasihi dan menerima siapa saja dengan tangan terbuka, apapun agama mereka, siapa saja yang sedang meningkatkan mutu kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukjizat-mukjizat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang paling aneh tentang Yesus adalah mukjizat-mukjizat yang kata orang Kristen Yesus telah dia lakukan. Satu dar yang paling terkenal adalah membawa keluar Lazarus dari kematian. Lazarus telah meninggal paling sedikit empat hari dan kemungkinan telah berada disurga, ketika keluarganya sedang sedih dan berduka. Membangkitkan dia dari kematian, tentunya Yesus telah menunjukkan kehebatannya, tapi apa yang bisa didapat Lazarus dan keluarganya dari ini? Lazarus dipindahkan dari surga kembali ke “lembah air mata” hanya untuk mati sekali lagi disuatu saat yang akan datang dan keluarganya harus melalui duka-cita yang terulang. (Yohanes 11:1-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Buddhis, meski ini benar ada, rasanya tidak perlu begitu, dan bahkan ini kejam. Betapa jauh lebih-praktisnya dan lebih-manusiawinya cara Sang Buddha menangani kematian. Pada suatu kejadian seorang ibu muda yang bernama Kisagotami datang kepada Buddha membawa anaknya yang telah mati, diliputi kesedihannya dan mohon agar Sang Buddha memberi obat kepada anaknya. Dengan penuh belas, Sang Buddha meminta ibu tersebut untuk pergi dan mencari biji mustard dari sebuah rumah dimana tak seorangpun pernah mati. Dalam proses mencari biji mustard tersebut, Kisagotami berangsur-angsur sadar bahwa kematian adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan dan dia dapat meenguasai kedukaannya. (Dhammapada Atthakatta, Book 8,13). Yesus mempertontonkan kegaiban yang kelihatannya membuat orang tetap seperti semula tak tahu apa-apa, Sang Buddha dengan lembut dan ahli mengarahkan orang kedalam pengertian. Inilah yang dimaksud Sang Buddha bahwa pendidikan adalah mujizat terhebat. (Digha Nikaya, Sutta No.11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukjizat lainnya dimana Yesus tampaknya telah kurang matang berfikir akan konsekwensi dari perbuatannya adalah yang diperbuatnya di Godara. Seorang kerasukan setan-setan, dan sesaat sebelum Yesus mengusir setan darinya, iblis-iblis bertanya kepada Yesus apakah ia bersedia akan mengirim mereka kedalam segerombolan babi didekat sana. Yesus mengabulkannya, memasukkan peri-peri tersebut ketubuh babi-babi yang segera menceburkan diri dari tebing kedalam danau dimana mereka mati kelebu. (Markus 5:1-13). Tentunya orang yang dirasuki setan itu akan sangat berterimakasih untuk ini tapi orang akan terheran-heran apa yang pemilik babi-babi tersebut rasakan. Hilangnya ternak mereka  mestinya telah menimbulkan kesulitan keuangan yang besar bagi mereka.  Tak heran jika setelah insiden ini kita mendengar cerita bahwa penduduk desa disekitarnya datang kepada Yesus dan memohon kepadanya agar meninggalkan kampung mereka. (Markus 5:17). Harap dicatat bahwa Matius membawakan cerita yang sama tapi dia membumbui bahwa bukan hanya satu tetapi dua orang yang dari tubuhnya roh jahat telah diusir keluar. (Matius 8:28-32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keajaiban yang disebut sebut ini membuat Yesus makin terlihat tak memperdulikan yang sifatnya alami. Dia sebenarnya dengan mudah bisa mengusir para iblis tersebut tapi sebaliknya malah memilih untuk malakukan cara yang kejam dengan yang meyebabkan banyak sekali binatang yang benar benar tak membahayakan maupun bersalah mati. Dilain saat, dia menggunakan tenaga ajaibnya untuk membunuh sebatang pohon ara hanya karena pohon ara tersebut tidak bisa berbuah. (Matius 21:18-20). Kelihatannya dia tidak pernah memikirkan bahwa binatang binatang dapat hidup dari memakan daun pohon tersebut, burung-burung bisa bersarang di dahan-dahannya, yang lewat bisa berteduh di bawahnya dan akarnya bisa mencegah tanah longsor karena hujan dan angin - yang mungkin menjelaskan mengapa pohon itu dibiarkan tumbuh. Tak ada untung sama sekali yang bisa didapat dari membunuh pohon - ini kurang lebih seperti vandalisme yang bersifat iseng iseng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi beberapa mukjizat Yesus tak terlihat mempunyai maksud-tujuan yang jelas mujizat-mujizatnya yang lain kelihatan lebih dungu lagi. Suatu ketika Yesus diundang ke perjamuan pernikahan. Setelah beberapa persediaan anggur untuk diminum habis maka Yesus mengubah air-air  didalam tempayan-tempayan yang ada menjadi anggur. (Yohanes 2:1-11). Memang benar tuan rumah pasti berterimakasih karena tidak harus pergi untuk membeli alkohol lagi, tapi inikan tak ada juntrungannya dimana Tuhan menitis sebagai manusia, turun kebumi dan menggunakan kekuatannya hanya agar orang tidak kehabisan minuman dalam pesta mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidak-tetapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang telah kita ucapkan di atas menujukkan bahwa selagi beberapa ajaran Yesus adalah baik, yang lainnya kejam, tidak praktis, dan dalam kasus tertentu dungu. Dan bisa jadi tak heran kalau bukan saja orang Kristen tak bisa mempraktekan ajarannya Yesus, tapi Yesus sendiripun sering tidak menjalankan ajaran-ajarannya. Dia mengajar kita untuk mencintai tetangga kita tapi dia nampaknya ada masalah besar untuk melakukan ini. Dia percaya bahwa ajarannya bisa membawa manusia ke surga dan toh dia juga secara khusus menyuruh murid-muridnya untuk tidak mengkhotbahkan Injil kepada siapapun selain kaumnya sendiri, orang Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah pergi ketengah tengah bangsa lain (non-Yahudi) atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan carilah domba-domba Isarel yang hilang” (Matius 10:5-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang wanita malang yang sedang bersedih datang kepada Yesus memohon pertolongan ia menolak untuk menolong hanya sebab wanita tersebut bukan orang Yahudi. Yang Injil ajarkan orang Kanaan adalah, ia berkata, seperti mengambil makanan yang seharusnya untuk anak-anaknya lalu melemparkannya kepada anjing-anjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan bangsa Kanaan dari dekat-dekat sana mendatanginya sambil tersedu-sedu ‘Tuan, anak Daud, kasihanilah daku! Anak perempuanku menderita kesurupan” Yesus sama sekali tidak menjawab. Lalu murid-muridnya mendekatinya dan memohon kepadanya,’Usirlah dia, karena dia terus membuntuti kita sambil menangis’.  Dia menjawab, ‘Aku hanya diutus untuk domba-domba Israelyang hilang’. Perempuan itu mendekatinya dan berlutut didepannya, ‘Tuan, tolonglah saya’ katanya. Dia menjawab,  ‘Tak benar jika kuambil roti anak-anakku dan melemparkannya kepada anjing anjing itu’(Matius 15:22-26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya setelah didesak oleh murid-muridnya, Yesus akhirnya memutuskan untuk menolong wanita itu. Inilah hebatnya mengasihi tetangga. Yesus mengajar bahwa kita harus mengasihi musuh kita, tetapi kembali dia kelihatannya ada kesulitan dalam melakukannya. Ketika orang Farisi mengkritiknya dia membalas dengan makian yang mengutuk dan menghina. (contohnya Yohanes 8:42-47, Matius 23:13-36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus mengatakan janganlah kita menghakimi orang (Matius 7:12) dan dia juga bilang bahwa dia sendiri tidak menghakimi siapapun (Yohanes 8:15). Tapi sebaliknya dari ini dia terus-menerus menghakimi dan mengutuk orang lain, seringkali dalam cara yang kasar dan dan tak pandang bulu. (Yohanes 8:42-47, Matius 23:13-16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya sesuai dengan Perjanjian Lama Yesus mengajarkan kita untuk menghormati orang tua kita (Matius 19:19) Dilain saat dia mengajarkan kita untuk berbuat yang sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa yang datang kepadaku dan ia tidak membenci bapak dan ibunya dan isteri, anak-anak, serta saudara-saudaranya yang laki-laki maupun perempuan, bahkan jiwanya sendiri,maka ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lukas 14:26)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mengharuskan bahwa untuk mencintai Yesus kita harus bersedia untuk membenci yang lain, bahkan orang tua kita sendiri, kelihatannya amat bertentangan dengan ide hormat terhadap orang tua - apalagi untuk mencintai tetangga! Pernah waktu ibu Yesus dan saudara-saudaranya datang untuk menemuinya ketika dia sedang berkotbah hanya untuk di tolak secara kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ibunya dan saudara-saudara laki-lakinya mendatangi, sambil berdiri di luar mereka menyuruh orang datang dan memanggilnya. Dan orang orang sedang mengelilinginya, dan mereka berkata kepadanya: ‘ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, memanggilmu’ Yesus menjawab, ‘Siapa ibu dan saudara-saudara-Ku?’ sambil melihat kepada orang-orang yang duduk di sekelilingnya, dia berkata: ‘Inilah ibu dan saudara-saudara-Ku!’ (Markus 3:31-35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ibunya berbicara kepadanya dia menbentaknya:  ‘Hai perempuan ada apa engkau denganku?’ (Yohanes 2:4) Dan toh selagi beraksi seperti ini kepada orang tuanya dia bisa mengatai orang Farisi atas kemunafikan mereka akan hukum tentang hormat terhadap ibu dan ayah. (Matius 15:3-6, Markus 7:10-13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam beberapa contoh, sulit untuk menuduh Yesus atas tidak melaksanakan sesuai dengan kotbahnya dengan alasan yang sederhana bahwa dia mengajar hal hal yang saling kontradiksi. Orang Kristen sudah terbiasa dengan anggapan seperti ‘Yesus yang lemah lembut’, karena perintahnya ‘berikan pipi yang satu lagi’ dan ‘jangan menentang yang jahat’ (Matius 5:39). Dan memang Yesus terlihat  kadang-kadang pernah melakukan ini. Tapi disaat-saat lain dia jelas-jelas menjalankan peran sebagai orang yang brutal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah mengira bahwa Aku datang untuk membawa perdamaian keatas bumi. Aku bukan datang untuk perdamaian tapi pembunuhan. Aku telah tiba untuk membuat seseorang menentang ayahnya, seorang anak perempuan melawan ibunya, seorang menantu perempuan berhadapan dengan ibu mertuanya, dan musuh setiap orang nantinya adalah para anggota keluarganya (Matius 10:34-36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya dia tak merasa salah jika menggunakan kekerasan bila dikiranya perlu. Ketika dia melihat para penukar uang diBait Allah dia tak dapat mengendalikan emosinya dan menjalankan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari halaman kuil: dia mencerai-beraikan kepingan-kepingan uang logam milik para penukar uang dan menterbalikan meja meja mereka (Yohanes 2:15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ditangkap Yesus telah menduga keributan akan terjadi maka dia menyuruh murid-muridnya untuk mempersiapkan diri mereka dengan mencari senjata-senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak mempunyai sebilah pedang juallah jubahmu dan beli sebatang (Lukas 22:36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia ditangkap terjadi perkelahian dimana ‘salah satu dari teman Yesus’ mencabut pedangnya dan menghantam pembantu pendeta tinggi, memutuskan telinganya.” (Matius 26:51). Sulit sungguh bagi orang Buddhis untuk menyama-ratakan ini dengan ide kesempurnaan. Untuk membalas orang yang menuduh, untuk kehilangan kendali amarah, dan menganjurkan orang membawa persenjataan dan menggunakan mereka terlihat menurunkan nilai secara keseluruhan dari apa yang disebut kesempurnaan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditahap ini mungkin yang baik untuk menunjukkan bahwa selagi hampir seluruh ajaran-ajaran Yesus yang tak memadai dan terkonsepsi secara tak tepat, ada juga yang sangat baik. Ajarannya cinta-kasih, maaf, rendah hati, dan melayanani yang sakit dan miskin pantas mendapat pujian tertinggi. Meski demikian, tak ada satupun yang unik. Ide-ide semacam itu  bisa didapat, malahan lebih lengkap, dalam ajaran Buddha, Kong Hu Cu, Mo Tzu, Mahavira, Guru Nanak, dan lain-lain, diman hampir semua dari mereka hidup ratusan tahun sebelum Yesus. Yang baik dalam ajaran Yesus tidaklah unik dan apa yang unik di dalam ajaran Yesus tidak tentu baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen mendapat kesulitan yang besar untuk mengerti mengapa orang Buddhis dan non-Kristen lainnya tak mau menerima Yesus sebagai raja dan juru selamat seperti yang mereka lakukan.Tapi ketika membaca kehidupan dan ajaran-ajaran Sang Buddha - seorang yang tersenyum waktu dihujat, tetap tenang ketika dipanas-panasi dan selalu menghimbau antuk tidak melakukan kekerasan - alasan bagi penolakan mereka menjadi jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KRITIK TERHADAP ALKITAB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristiani adalah agama yang berdasarkan buku (kitab). Tak ada bukti bagi klaim-klaim dan ajaran-ajaran Kristen selain yang tertulis di Alkitab dan hanya ini saja yang membuat kitab ini menjadi landasan bagi agama Kristen. Di masa lalu juga dimasa kini orang Kristen saling berdebat mengenai isi Alkitab tentang arti dari ungkapan-ungkapan dan kata-kata dan mencoba meyakinkan yang non-Kristen akan kebenaran dari sebuah buku yang bahkan mereka sendiri saling tidak setuju. Tapi satu hal yang semua orang Kristen setuju adalah bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan - bukan yang berisi Firman Tuhan, tetapi adalah Firman Tuhan, yang tak bisa salah, petunjuk-petunjuk lengkap yang diberikan Tuhan kepada manusia. Kita akan menguji kleim ini dan menujukkan bahwa seperti hampir semua kleim-kleim yang dibuat oleh orang Kristen hanya mempunyai bobot yang amat kecil sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini Firman Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Alkitab benar-benar Firman Tuhan ini akan mengindikasikan bahwa dia adalah mahluk yang sungguh aneh. Seorang akan menduga bahwa Sang Pencipta alam semesta ini hanya berbicara kepada manusia hanya pada saat ada kepentingan dan yang dikatakannya akan menjadi tanda yang abadi. Nyata bukan demikian. Tawarikh misalnya kurang lebih terdiri dari daftar nama orang-orang yang kita tahu sedikit sekali mengenai mereka atau tidak sama sekali dan yang telah meninggal ribuan tahun yang lalu. Tak ada perintah-perintah, tidak ada prinsip-prinsip etika, tidak ada petunjuk bagaimana seharusnya hidup yang baik atau petunjuk cara menyembah Tuhan – hanya halaman demi halaman dari nama-nama yang tidak berguna. Mengapa Tuhan mau menyia-nyiakan waktuNya dan waktu kita untuk hal seperti ini? Dan bagaimana pula dengan Kidung dari Solomon? Kitab ini berisi tentang koleksi-koleksi puisi cinta yang erotis. Sekali lagi, dengan dunia yang penuh dengan kekacauan seseorang selayaknya menganggap Tuhan bisa memikirkan sesuatu yang lebih penting untuk diajarkan kepada manusia katimbang yang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kita tiba kepada Injil-Injil yang menceritakan kembali kehidupan Yesus. Mengapa Tuhan memutuskan untuk memperlihatkan seluruh kehidupan Yesus, bukan hanya sekali, tapi empat kali? Dan mengapa dia telah memperlihatkan apa yang , jelas jelas, merupakan empat versi berbeda dan kontradiksi satu sama lain mengenai cerita yang sama? Tidak seperti orang Kristen, ahli-ahli sejarah memberikan jawaban yang terasa seperti masuk akal terhadap pertanyaan-pertanyaan ini. Alkitab bukanlah wahyu dari Tuhan, melainkan sebuah kumpulan yang kurang rapih yang ditulis oleh orang-orang yang berbeda, dalam jangka waktu yang berabad-abad, yang dirubah isi dan susunannya dari waktu ke waktu, berisikan legenda legenda, cerita cerita, silsilah-silsilah, dongeng-dongeng, tulisan-tulisan suci dan duniawi. Tidak lebih diwahyui dari Tuhan dibanding dengan buku-buku cerita-cerita pengembaraan (Illiad dan Odysey), Ramayana, ataupun Mahabharata buku-buku yang lebih mirip dengan Alkitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Alkitab Diwahyukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen mengkleim bahwa meskipun tulisan-tulisan dalam Alkitab ditulis oleh orang-orang yang berbeda, orang-orang ini diberikan wahyu dan dituntun oleh Tuhan waktu menulis. Sementara orang-orang Kristen modern membuat klaim seperti ini, para pengarang dari kitab-kitab dijaman kuno tidak pernah berkata demikian. Contohnya Lukas pada awal kitabnya menuliskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah demikian banyak yang menyusun tulisan mengenai peristiwa peristiwa yang telah terjadi ditengah ditengah kita …..kelihatannya alangkah baiknya jika aku juga, setelah mengikuti peristiwa peristiwa ini dari dekat dalam waktu yang cukup lama, menulis catatan yang teratur untukmu……(Lukas 1:1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak membicarakan tentang yang diisi dengan roh Allah baik sebelum ataupun sewaktu menuliskan kitab, dia hanya mengatakan bahwa rekan yang lainnya telah membuat cerita tentang kehidupan Yesus, maka ia sendiri berpikir adalah mungkin ide yang bagus baginya untuk juga menulisnya. Kalau benar dia diwahyukan oleh Tuhan untuk menulis Injil, mengapa itu tidak dikatakannya? Tetapi kleim mengenai wahyu tidak hanya bukan kenyataan, juga menimbulkan sebuah masalah yang serius. Orang Kristen selalu mengkleim bahwa di dalam doa Tuhan berbicara kepada mereka, memberikan mereka nasihat dan memberitahu perbuatan mereka. Mereka mengkleim juga bahwa suara Tuhan sangat langsung, sangat jelas dan sangat nyata. Tapi jika mereka tak ragu ragu bahwa Tuhan sedang berkomunikasi dengan mereka pasti kata-katanya harus dicatat dan dimasukkan didalam Alkitab. Alkitab memuat kata kata yang dinyatakan Tuhan kepada Musa, Yosua, Matius, Markus, Petrus dan Paulus, lalu mengapa kata kata yang dikeluarkannya untuk orang Kristen dijaman Modern tidak mau diikut-sertakan? Orang-orang Kristen akan mencegat suara suara semacam ini yang hanya mennunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak begitu yakin bahwa kata-kata yang mereka dengar dalam hati mereka benar benar datangnya dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu Alkitab Atau sejumlah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jaman dulu, tidak ada dari Perjanjian Lama yang ditulis menurut standard yang sama. Kelompok-kelompok Yahudi yang berbeda dan wilayah-wilayah yang berbeda masing masing mempunyai versi mereka sendiri-sendiri. Ada versi Septuagint, Aquila, Theodosi dan juga versi Symmachu, semuanya memuat tulisan yang berbeda dan jumlah kitab yang berbeda. Perjanjian lama yang digunakan oleh orang-orang Kristen jaman sekarang adalah berdasarkan pada versi Masonetik, yang hanya muncul setelah Jamnia Synod pada akhir abad pertama Sesudah Masehi. Perjanjian Baru tidak muncul dalam bentuknya seperti sekarang sampai tahun 404 Sesudah Masehi. Sebelum masa itu, Kitab-kitab Thomas, Kitab-kitab Nikodemus, The Acts of Peter, The Acts of Paul dan selusin buku lainnya tidak dimasukkan ke dalam Alkitab. Di tahun 404 SM, kitab-kitab tersebut berisikan ajaran yang bertentangan dengan ilmu ketuhanan orang Kristen pada waktu itu. Salah satu kitab tertua, Kodex Sinaitikus, mencantumkan Surat dari Barnabas, Injil yang tidak diikutsertakan di dalam Alkitab moderen. Kalau buku-buku tersebut dianggap sebagai wahyu Tuhan oleh orang-orang Kristen pertama, mengapa orang Kristen moderen tidak menganggap buku-buku tersebut wahyu Tuhan juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita memperhatikan kepada Alkitab yang digunakan oleh Kristen moderen, kita menemukan ada beberapa versi yang berbeda. Alkitab yang digunakan oleh Gereja Ethiophia, salah satu gereja paling kuno dari semua gereja, mencantumkan Kitab-kitab Enoch  dan Gembala orang-orang Herma, yang tidak ditemukan di versi yang digunakan oleh Katolik maupun Protestan. Alkitab yang digunakan di Gereja Katolik mencantumkan Kitab-kitab Yudith, Tobias, Baruch, dll yang dihapus oleh Gereja Protestan. Profesor H.L. Drummingwright dari Southwestern Baptist Theological Seminary dalam pengenalan Alkitabnya, menjelaskan mengapa buke-buku tersebut dibuang dari Alkitab yang digunakan oleh gereja Protestant. Buku-buku tersebut, katanya,”dalam hampir semua Alkitab Protestan sampai abad ke-19, ketika penerbit, yang dipimpin oleh Badan Alkitab Inggris dan Asing dengan sukarela meniadakan buku-buku tersebut.” Sekali lagi, buku-buku tersebut berisi ide-ide yang gereja-gereja lain tidak suka hingga mereka menghapusnya. Bagaimana buku Yudith yang berisi ucapan Allah yang mula-mula tak bisa salah itu dan kemudian salah? Mengapa ada begitu banyak alkitab dengan versi yang berbeda? Dan Alkitab mana yang berisi Firman Tuhan yang tak mungkin salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah Kesalahan-kesalahan Di Dalam Alkitab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah kita lihat sebelumnya bahwa ada banyak sekali kesalahan-kesalahan dalam Alkitab, tapi kita hendaknya mengambil tiga contoh lagi dalan hal kebenarannya. Sekarang ini, bahkan anak-anak sekolahpun tahu bahwa bumi bergerak; berputar pada porosnya dan pada saat yang sama berputar mengelilingi matahari. Kita juga tahu bahwa keping-keping tektonik di permukaan bumi juga bergerak. Akan tetapi Alkitab, terang-terang menyatakan bahwa bumi tidak bergerak. Dalam  Tawarikh I 16:30 di Alkitab tertulis,”Dunia dijadikan dengan mantap, tidak dapat digerakkan.” (Lihat juga Mazmur 93:1, 96:10, 104:5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini, dan dibanyak bagian, Alkitab bertentangan dengan bukti ilmiah. Lebih-lebih lagi Alkitab tidak saja berlawanan dengan kenyataan ilmiah tapi juga berlawanan dengan isinya sendiri. Perhatikanlah cerita tentang penciptaan. Dalam buku pertama dari Alkitab, dikatakan bahwa Tuhan menciptakan semua tumbuhan dan pohon pada hari ke-tiga (Kejadian 1:11-13), semua burung, binatang dan ikan pada hari kelima (Kejadian 1:20-23) dan akhirnya, Laki-laki dan perempuan pada hari ke-enam (Kejadian 1:26-27). Tetapi tak jauh dari situ ada versi lain tentang cerita penciptaan mengatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia terlebih dahulu (Kejadian 2:7), kemudian semua tanaman dan pohon (Kejadian 2:9), sesudah itu semua burung dan binatang (Kejadian 2:19) dan kemudian barulah Tuhan menciptakan wanita (Kejadian 2:21-22). Kedua versi cerita ini jelas saling bertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang lihatlah Kisah Nabi Nuh. Di satu tempat dalam Alkitab kita diberitahu bahwa Nuh membawa dua dari setiap binatang, lalu memasukkannya ke dalam bahtera (Kejadian 6:19). Kemudian Alkitab menyatakan Nuh membawa tujuh pasang dari binatang-binatang yang dan burung-burung bersih dan dua dari mahluk lainnya dan memasukkannya ke dalam bahtera. (Kejadian 7:2). kembali Alkitab bertentangan sendiri. Orang Kristen tak setuju dengan ini dengan mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan ini dan yang lain dalam Alkitab hanya kecil dan tak berarti. Bagaimanapun juga, hanya satu kesalahan yang diperlukan untuk membuktikan Alkitab tidak bisa tanpa salah. Juga, kalau kesalahan-kesalahan dalam hal yang kecil kesalahan bisa dibuat, maka dibagian penting dapat terjadi. Dan, akhirnya, satu kesalahan adalah bukti bahwa Alkitab bukanlah firman Allah atau Tuhan bisa berbuat kesalahan-kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Alkitab Merupakan Kesaksian Yang Bisa Diandalkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah melihat bahwa Alkitab bukanlah  tak mempunyai kesalahan dan karena itulah tak bisa disebut wahyu. Jadi kalau bukan kata-katanya Tuhan kata-katanya siapakah Alkitab itu? Banyak tulisan-tulisan dalam Alkitab dinamakan menurut nama orang-orang yang dianggap telah menulisnya. Maka Injil Matius dianggap sebagai telah ditulis oleh Matius, salah seorang murid Yesus. Injil Markus ditulis seharusnya telah ditulis oleh Markus, murid Yesus yang lain, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen boleh saja mengkleim bahwa bahkan jika Alkitab tidaklah harus menjadi wahyu bebas dari kesalahan ini merupakan kesaksian dari orang-orang yang boleh dipercaya. Mereka boleh saja mengkleim bahwa Matius, Markus, Lukas dan Yohanes mengenal Yesus dengan baik, mereka hidup bersama Yesus untuk beberapa tahun, mereka mendengar ajaran-ajarannya dan mereka menulis apa yang mereka saksikan dan dengar dan tidak ada alasan bagi mereka untuk berbohong ataupun melebih-lebihkan. Jadi orang Kristen boleh saja mengkleim bahwa Alkitab adalah kesaksian yang bisa diandalkan. Selain sebagai kesaksian harus bisa dipercaya datangnyapun harus dari orang yang bisa diandalkan, orang-orang yang latarbelakangnya baik. Apakah murid-murid Yesus orang yang seperti itu? Marilah kita tinjau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa dari murid Yesus adalah pemungut cukai (Matius 9:9), seorang yang tidak jujur dan dari kelas yang tak terpandang (Matius 18:17); yang lain hanyalah nelayan yang buta huruf (Markus 1:16-17). Simon adalah orang Zelot/pemberontak (Lukas 6:15), orang-orang yang dikenal karena kefanatikannya dan juga perlawanannya yang beringas terhadap kekuasaan Romawi, dan seperti banyak orang lainnya yang terlibat dalam gerakan politik terlarang dia menggunakan nama samaran sehingga dia juga dikenal sebagai Petrus/Rocky (Matius 10:2). Petrus dan James diberi julukan “Boanerges” yang berarti “putra petir” (Markus 3:17) sekali lagi telah memberikan gambaran kepada kita akan keterlibatan mereka di dalam politik. Ketika Yesus ditangkap, murid-muridnya membawa pedang dan bersedia menggunakan pedang itu (Matius 26:51, Lukas 22:49). Sulitlah untuk kita merasakan ketenangan bila dekat dekat orang orang sejenis mereka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lainnya yang hendaknya membuat kita was-was untuk percaya kepada kesaksian murid-murid Yesus adalah mereka tampaknya seringkali salah mengerti apa yang Yesus katakan. (Markus 4:13, 6:52, 8:15-17, 9:32; Lukas 8:9, 9:45). Mereka yang seharusnya telah melihat Yesus mepertunjukkan mukjizat yang mempesona, dan toh tetap saja mereka meragukannya. Yesus memaki mereka dan menyebut mereka “orang-orang tipis imannya” (Matius 8:26, 17:20). Haruskah kita percaya akan catatan dari orang-orang yang sering tidak mengerti ucapan yang ditujukan kepada mereka, yang Yesus sebut orang-orang yang tipis imannya? Bahkan bila orang yang telah mengenal dan melihat Yesus saja punya “sedikit kepercayaan” bagaimana mungkin kita, yang tidak pernah melihat dia, bisa diharapkan percaya akan dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tak andal dan tak berimannya para penulis Alkitab adanya paling jelas digambarkan oleh apa yang mereka perbuat sebelum dan disaat Yesus ditangkap. Dia menyuruh mereka untuk berjaga-jaga tapi mereka malah tertidur (Matius 26:36-43). Setelah Yesus tertangkap, mereka berbohong dan bahkan menyangkal bahwa mereka mengenal Yesus (Markus 14:66-72), dan setelah Yesus dihukum mati mereka lantas kembali menjadi nelayan (Yohanes 21:2-3). Dan siapa mula mula yang mengkhianati Yesus? Muridnya Yudas (Matius 26:14-16). Bergaul dengan pendosa, pembohong dan yang dungu untuk menolong mereka, sepert yang Yesus lakukan, adalah perbuatan yang baik. Tapi haruskah kita percaya setiap ucapan dari orang-orang seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hal yang lebih menjengkelkan tentang murid-murid Yesus adalah berapa orang dari mereka yang sering kerasukan setan atau iblis. Maria Magdalena yang menyatakan  telah menyaksikan kebangkitan Yesus, pernah kesurupan tujuh iblis (Markus 16:9). Setan masuk kedalam Yudas (Lukas 22:3), mencoba merasuki Simon (Lukas 22:31) dan Yesus pernah sekali memanggil Petrus, murid utamanya, “Setan” (Matius 16:23) menandakan bahwa Petruspun kerasukan setan saat itu. Entah itu kerasukan setan benar benar terjadi ataupun hanya menunjukkan gejala dari kelainan jiwa yang serius seperti yang diyakini oleh psikiater jaman sekarang, apapun juga ini menunjukkan bahwa kita hendaknya menanggapi  kata kata dari pengikut Yesus dengan kewaspadaan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa Sih Yang Sesungguhnya Menulis Injil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah melihat bahwa Alkitab tak bebas dari kesalahan, bukan wahyu, dan bukan kesaksian yang andal. Sekarang kita akan meperlihatkan bahwa Alkitab bahkan bukan ditulis yang dikabarkan telah menulisnya. Marilah kita tinjau lima kitab pertama dari Alkitab: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Kelima buku tersebut mengkisahkan penciptaan dunia, wahyu pertama dari Tuhan kepada manusia, dan sejarah  awal suku-bangsa Israel dan katanya ditulis oleh Musa. Mereka, nyatanya, sering disebut “kitab Musa”. Namun, ini jelas tak mungkin, karena dalam buku-buku ini terdapat laporan tentang kematian Musa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demikianlah Musa seorang hamba Tuhan mati disana ditanah Moab, sesuai dengan firman Tuhan, Dan mereka mengubur dia di suatu lembah di tanah Moab diseberang Bet-Peor, tapi tak seorangpun yang tahu tempat kuburnya hingga hari ini.” (Ulangan 34:5-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin sih seseorang bisa menulis tentang kematian dan penguburannya sendiri? Kitab Ulangan pasti, setidak tidaknya, pasti telah ditulis bukan oleh Musa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang marilah meninjau Perjanjian Baru. Injil Matius mestinya ditulis oleh Matius (pemungut cukai/pajak, orang yang ragu, orang yang tipis iman), salah seorang murid Yesus. Dengan mudah kita tunjukkan bahwa Matius tidak mungkin menulis Injil Matius. Kita membaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selagi Yesus meneruskan perjalanan, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di kantor pajak dan berkatalah ia kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah dia lalu mengikutinya.” (Matius 9:9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma saat kini ataupun masa lampau penulis menempatkan dirinya sebagai orang ketiga. Kalau Matius yang sesungguhnya menulis Injil Matius, kita tentunya akan membaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selagi Yesus meneruskan perjalanan dari sana ia melihatku sedang duduk dikantor pajak, berkatalah ia kepadaku: “Ikutlah Aku.” Dan aku berdiri dan mengikutinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas-jelas ini bukan tulisan Matius tapi oleh orang ketiga. Siapa adanya orang ketiga ini tak kita ketahui tapi para ahli Alkitab telah menebak-nya. Dalam prakata dari terjemahan Injil Matius, sarjana Alkitab terkemuka J.B Phillip mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi awal menganggap Injil ini dibuat oleh Rasul Matius tapi hampir semua para sarjana saat ini tak menerima pendapat ini. Pengarangnya, yang masih saja kita katakan Matius cuma menuliskan kumpulan ujar-ujar tradisi. Dia dengan bebas menyalin dari injil Markus, meski dia menyusun kembali tata kejadiannya, dan dibeberapa tempat menggunakan istilah lain untuk cerita yang sebenarnya itu itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pengakuan yang amat mendongkolkan, apalagi datangnya dari seorang sarjana kitab-suci Kristen yang terkenal. Kita diberitahu bahwa “hampir semua” sarjana Alkitab moderen menolak pendapat bahwa Injil Matius benar benar telah ditulis oleh Matius itu sendiri. Kita diberitahu bahwa meski pengarang asli injil Matius itu tidak diketahui siapa, kan lebih enak jika menyebutnya Matius saja. Berikutnya kita diberitahu bahwa siapapun yang menulis Injil Matius telah “dengan sesuka hati” menjiplak isi Injil Markus. Dengan kata lain, Injil Matius adalah jiplakan yang bahan-bahannya telah “ditata-ulang” dan dinyatakan ulang dalam “kata-kata yang berbeda”. Maka kelihatan dalam injil Matius, bukan saja kita tidak menemukan firman Tuhan, kita bahkan tidak menemukan kata-kata dari Matius sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat jasa dari para sarjana Alkitab seperti Profesor J.B. Phillips, mereka terang-terangan mengakui ini serta tentang keaslian karangan Alkitab yang meragukan, nah pengakuan-pengakuan seperti inilah yang mengkleim bahwa Injil-injil yang ditulis oleh murid-murid Yesus pasti tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan-kesalahan Dan variasi-variasi Dalam Alkitab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita tiinjau bagian bawah dari halaman-halaman pada hampir semua Alkitab kita akan mendapati catatan-catatan. Catatan-catatan ini menunjukkan kesalahan-kesalahan, variasi-variasi maupun bacaan-bacaan yang meragukan dalam tulisan Alkitab. Dan ada ratusan jumlahnya. Sebagian dari kesalahan atau variasi ini hanya terdiri dari beberapa kata tapi sebagian lainnya adalah cerita-cerita yang panjang. (seperti contoh, lihatlah catatan untuk Lukas 9:55-56; Yohanes 5:3, Acts 24:6; I Korintus 8:36-38; 11:4-7; 2 Korintus 10:13-15). Juga perhatikan catatan untuk Markus 16:9-20 yang mengatakan bahwa isi dari Markus 16:9-20 tidak ditemukan di catatan kuno. Dengan kata lain, kisah yang cukup panjang ini telah ditambahkan disaat kemudian. Bagaimana bisa orang Kristen dengan jujur menyatakan bahwa Alkitab bebas dan tanpa kesalahan ketika semua kesalahan diperlihatkan disetiap bagian bawah dari seluruh halamannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Perjanjian Baru, Yesus dan murid-muridnya sering mengutip dari Perjanjian Lama dengan tujuan untuk menjelaskan sesuatu atau, biasanya, untuk berusaha membuktikan bahwa Perjanjian Lama menubuatkan kejadian-kejadian di dalam kehidupan Yesus. Tetapi ketika kita membandingkan kutipan-kutipan tersebut dengan isi asli Perjanjian Lama, kita menemukan bahwa keduanya itu hampir selalu berbeda. Kita akan menggunakan Versi Internasional Baru dari Alkitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjanjian Lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, Meski kau kecil diantara para keluarga Yehuda, darimu akan datang untukku seorang yang akan memerintah Israel, yang asalnya dari jaman dahulu kala” (Mikha 5:1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjanjian Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan engkau, Betlehem, ditanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara para pemimpin Yehuda, karena dari engkaulah bangkitnya seorang gembala bagi umat-Ku Israel.” (Matius 2:6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan di Perjanjian Baru ini bukan hanya beda kata-katanya, juga berubah arti dari aslinya. Apakah Matius keliru waktu mengutip Perjanjian Lama karena dia tidak terbiasa dengan isi Perjanjian Lama dan membuat satu kesalahan? Apakah dia sengaja mengubah kutipan supaya berubah artinya? Ataukah Perjanjian Lama yang Matius gunakan itu berbeda dengan yang kita miliki sekarang? Perjanjian baru mengutip dari perjanjian lama lusinan kali dan hampir tak ada kutipan yang tepat.Orang Kristen akan memprotes dan mengatakan bahwa perubahan-perubahan ini hanyalah kecil dan tak penting. Mungkin begitu, tapi inilah bukti-buktinya bahwa Alkitab banyak salahnya, tidak seperti yang dipujikan oleh orang Kristen. Juga anehnya Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan Paulus, yang menurut orang Kristen diberikan mendapat wahyu dari Tuhan untuk menulis Perjanjian Baru, bahkan masih saja tak dapat mengutip secara tepat dari Perjanjian Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengganti Doa Bapa Kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus mengajar  murid-muridnya Doa kepada Tuhan sebelum dia meninggal  dan sejak itu generasi-generasi Kristen selanjutnya telah menghafalnya. Tetapi siapapun yang menghafalnya 20 tahun yang lalu akan harus mempelajari lagi karena Doa ini telah diubah. Kita akan membandingkan Doa yang asli yang ditemukan disemua Alkitab mulai 20 tahun yang lalu dengan Doa ini sekarang dalam versi Internasional yang Baru (NIV) akan terlihat adanya make-up atas ajaran Yesus yang paling penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkitab Versi King James&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak kami yang ada disuga, dimuliakan namamu, datanglah kerajaanmu, jadilah engkau dibumi seperti disurga. Berilah kami makanan sehari-hari; dan maafkan kami atas kesalahan kesalahan seperti kamipun memaafkan yang bersalah kepada kami. Dan janganlah membawa kami kedalam cobaan, tapi bebaskan kami dari kejahatan, karena milikmu adalah kerajaan dan kekuasaan, dan kemenangan yang abadi. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkitab Versi Internasional Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak, dimuliakanlah namamu, datanglah kerajaanmu. Berikanlah kami makanan setiap hari. Ampuni dosa-dosa kami, karena kamipun mengampuni semua yang berdosa kepada kami. Dan janganlah membawa kami kedalam cobaan (Lukas 11:2-5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan ungkapan-ungkapan berikut ini - “yang ada disurga”,”jadilah engkau dibumi seperti disurga”,”tapi bebaskanlah kami dari kejahatan, karena milikmu adalah kerajaan dan kekuasaan, dan kemenangan yang abadi. Amin” - telah dibuang dari Doa Bapa Kami. Kita harus menanyakan kepada para sahabat Kristen kita mengapa ayat ayat ini dibuang dari ajaran yang paling terkenal dan penting dar semua ajaran Yesus. Tanyakan mereka yang mana dari kedua versi Doa yang berbeda ini yang bebas-salah, firman Tuhan yang tak pernah berubah. Tanyakan mereka siapa yang mempunyai cukup pengetahuan dan kebijakkan untuk mendandani Alkitab. Anda akan lihat bahwa mereka akan sulit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anda. Disini seperti dimana saja, para pembaca disarankan untuk pergi ke perpustakaan dan toko buku, carilah versi-versi Alkitab yang berlainan dan secara seksama bandingkan mereka. Kita akan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Alkitab-Alkitab itu saling berlainan akibat tambal sulam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuang Ayat-Ayat Alkitab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti bahwa Alkitab telah mengalami tambal sulam bisa dilihat disetiap halaman jika kita perhatikan. Tulisan-tulisan Alkitab diatur ke dalam pasal-pasal kemudian di susun dalam ayat-ayat. Selagi membaca Alkitab, kita terkadang menemukan satu-dua ayat yang hilang. Pada halaman di produksi  beberapa halaman dari Versi Internasional Baru yang dicetak oleh New York International Bible Society. Perhatikan ayat 44 dan 46 telah dihapus dari pasal 9 diinjilnya Markus. Ayat 37 telah dibuang dari pasal 8 dalam Kisah Para Rasul dan ayat 28 telah dibuang dari pasal 15 Injil Markus. Bagaimana orang Kristen bisa mengklaim bahwa Alkitab bebas-salah dan firman Tuhan yang tak pernah berubah kalau mereka membuang ayat-ayat dan kata-kata yang dirasakan kurang enak didengar? Dan mengapa ayat-ayat ini telah disingkirkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara menginterpretasi yang berdasar pilihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali orang-orang Kristen hendak meyakinkan kita akan kebenaran agama mereka, mereka akan mengutip dari Alkitab, Yakin akan perbuatannya, bahwa setiap kata dalam Alkitab itu adalah tulisan yang benar. Tapi ketika kita kutip dari Alkitab untuk membuktikan agama mereka primitif, bodoh atau tidak masuk akal (contohnya: asapa keluar dari hidung Tuhan dan api yang keluar dari mulut Tuhan, Psalms 18:7-8; atau keledai yang bisa berbicara, Bilangan 22:28) orang Kristen akan mengatakan: “ini sih cuma simbolis saja, bukan untuk diartikan sepert apa ditulis.” Orang Kristen mencomot dari sana-sini waktu menginterpretasikan Alkitab. Beberapa cerita adalah “Firman Allah” dan secara tulisan benar dan dibagian lainnya yang biasanya memalukan, bukanlah untuk diterjemahkan menurut apa yang tertulis. Apakah Alkitab adalah kata-kata Tuhan yang bebas-salah atau bukan, dapat dicomot-comot dan dipilih. Jika sebagian kisah kisah boleh dianggap apa adanya seperti yang tertulis dan yang lainnya tidak, bagaimana cara orang Kristen mengambil keputusan? Jika kisah kisah tentang keledaynya Balaam yang bisa bicara, Adam dan Hawa makan apel, atau Musa yang mengubah tongkatnya menjadi ular tak boleh diterjemahkan sesuai dengan tulisannya, mungkin juga, cerita cerita tentang kebangkitan Yesus mempunyai arti yang simbolis saja dan seharusnya tidak diartikan berdasar tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUDDHISME – SUATU ALTERNATIF YANG LOGIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kamu tidak mendapat guru yang memuaskan, maka ambillah Dhamma yang pasti ini dan jalankanlah. Karena Dhamma itu pasti, dan bila dijalankan dengan baik akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaanmu yang panjang.&lt;br /&gt;Sang Buddha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristiani didasarkan atas kejadian sejarah yang dianggap tentu (perawan yang melahirkan anak, kebangkitan dari mati, dan lain-lain), satu-satunya catatan mengenainya adalah yang diduga sebagai catatan terpercaya yang disebut Alkitab. Jika kejadian-kejadian tersebut dapat dibuktikan tidak pernah terjadi, dan jika dokumen-dokumen yang mencatat kejadian tersebut bisa terbukti tak bisa dipercaya, maka Kristiani akan roboh. Dalam buku ini telah kita lihat bahwa kleim-kleim yang paling bagus saja juga tetap meragukan apalagi yang paling jelek, salah kaprah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita menguji ajaran Buddha, kita mendapatkan suasana yang sungguh beda. Walau kita dapat membuktikan bahwa sang Buddha tak pernah ada ataupun adanya kesalahan-kesalahan dalam tulisan-tulisan Buddhisme, ini tidak bakal meroyak Buddhisme. Mengapa? Karena Buddhisme bukan sejarah mengenai Buddha ataupun kejadian-kejadian pada masa lalu; melainkan mengenai penderitaan manusia, apa yang menyebabkan penderitaan, dan bagaimana cara mengatasinya hingga manusia dapat bebas, bahagia dan ceria. Jika ingin meneliti atau mengerti tentang Buddhisme kita jangan mencomot dari kitabnya untuk mengorek-orek arti kata-kata maupun ungkapan ungkapan; tapi sebaiknya lebih peka akan pengalaman kita. Marilah kita uji keempat prinsip yang menjadi dasar ajaran Buddhisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(i) Ketika kita mati kita lahir kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen percaya bahwa ketika orang meninggal mereka hanya mempunyai satu dari dua tujuan yang mungkin - surga atau neraka. Mereka percaya bahwa kedua tujuan tersebut adalah abadi dan bahwa seseorang menjalaninya menurut keputusan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddhisme mengajarkan bahwa ketika orang meninggal, mereka bisa mempunyai berbagai macam tujuan (surga, neraka, sebagai manusia kembali, sebagai binatang, dan sebagainya). Buddhisme mengajarkan bahwa tidak satupun dari tujuan itu bersifat abadi dan bahwa, setelah menyelesaikan waktu dalam salah satu dari berbagai alam-kehidupan ini, ia akan meneruskan ke yang lain  Buddhisme juga mengajarkan bahwa tujuan dari seseorang itu adalahsesuai keadaan karma dari orang itu ( misalnya seluruh jumlah dari kebaikan dan keburukan yang dilakukannya semasa hidupnya). Ini berarti bahwa semua orang baik, tanpa peduli apapun agamanya, akan mendapatkan nasib yang baik. Ini juga berarti bahwa meskipun yang melakukan kejahatanpun tetap akan mempunyai kesempatan untuk menjadi baik lagi di kehidupan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen mengejek pandangan tentang kelahiran kembali dan mengatakan tidak ada bukti hal tersebut benar-benar terjadi. Tetapi pendapat tentang kelahiran kembali ini tidaklah begitu berbeda dengan pendapat orang Kristen tentang kehidupan setelah kematian - jika orang setelah kematian bisa menjadi malaikat di surga, mengapa mereka tidak bisa menjadi manusia di bumi? Dan dari segi bukti, yang pasti tidak ada bukti untuk teori kehidupan sesudah kematian dari Kristen sedang beberapa bukti bahwa orang bisa dilahirkan kembali itu ada (bacalah Twenty Cases Suggestive of Reincarnation, University Press of Virginia, Charlotteville USA, 1975)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ii) Hidup adalah penderitaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip berikutnya atas dasar yang mana Buddhisme diletakkan adalah pendapat bahwa hidup ini adalah derita. Meskipun orang Kristen menuduh orang-orang Buddhis pesimis karena mengatakan ini, warisan ketidakpuasan hidup adalah fakta yang dibenarkan oleh Alkitab: “ Didunia pasti engkau mempunyai kesulitan (Yohanes a6:33) “manusia dilahirkan kedalam kesusahan seperti percikan api yang beterbangan (Ayub 5:7)  “Segala sesuatu mempunyai rasa bosan” (Pengkhotbah 1:8). “Bumi berduka dan menjadi layu, dunia menjadi lemah dan layu; surga surga bersama-sama dengan bumi menjadi lemah (Yesaya 24:4) Tapi selagi kedua agama mepunyai pemikiran yang cocok dalam hal ini mereka tidak cocok pada hal mengapa derita itu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen bergantung kepada hanya kepada kepercayaan untuk menjelaskan asal usul kejahatan dan penderitaan, mengkleim bahwa mereka semua disebabkan oleh  Adam dan Hawa yang telah memakan apel. Buddhisme melihat penderitaan sebagai kejadian psikologis dengan sebab yang sifatnya psikologis - kemauan, ketergantungan, dan nafsu. Dan pengalaman kita membertahukan bahwa begitulah adanya. Disaat menginginkan sesuatu dan tidak bisa mendapatkannya, kita akan merasa frustasi, dan semakin kuat keinginan itu, semakin kuat juga rasa frustasinya. Bahkan jika kita mendapatkan apa yang kita mau tak lama kemudian kita akan menjadi bosan dan mulai menginginkan yang lain. Bahkan penderitaan badan disebabkan oleh ketergantungan karena ketergantungan yang kuat untuk hidup menyebabkan kita dilahirkan kembali dan ketika kita dilahirkan kembali kita bisa menjadi sasaran penyakit, kecelakaan, ketuaan dll, Buddhisme mengatakan bahwa meski berkat dari surgapun tidak permanen dan tidak sempurna, suatu kenyataan yang dipastikan oleh Alkitab. Alkitab memberitahu kita bahwa Setan dulunya adalah salah satu malaikat di surga, tetapi bahwa dia memberontak melawan Tuhan (contohnya dia tidak puas) dan dibuang dari surga ( contohnya keberadaan di surga tidak harus selalu abadi). Kalau pernah berada di surga seseorang bisa jatuh dari keadaan ini membuktikan bahwa surga bukan sempurna,seperti yang orang Kristen klaim, sempurna dan abadi. (Bacalah: Yesaya 14:12-15, 2 Petrus 2:4, Yudea 6, Wahyu 12:9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(iii) Penderitaan bisa diatasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip ketiga atas dasar mana Buddhisme diletakkan adalah ide dimana adalah mungkin untuk terbebas dari derita. Ketika ketergantungan dan keinginan berhenti, kehidupan seseorang menjadi lebih terpuaskan dan bahagia, dan disaat meninggal, ia tidak lagi ingin dilahirkan kembali. Keadaan bebas derita sepenuhnya ini disebut Nirvana dan dituturkan oleh Sang Buddha sebagai “Kebahagiaan Tertinggi” (Dhammapada 203). Orang Kristen sering salah anggap bahwa Nirvana adalah ketiadaan yang kosong dan menuduh Buddhisme penuh dengan kehampaan. Salah pngertian ini muncul karena ketidak-mampuan mereka untuk membayangkan konsep dari alam sesudah kehidupan yang lebih cocok daripada konsep surgawi mereka yang naif – suatu tempat “diatas sana” (Ps 14:2, 53:2) dengan pintu-pintu dan jendela jendela (Kejadian 28:17, Whayu 4:1,2,  Raja-raja 7:2, Maleakhi 3:10), dimana Tuhan duduk diatas singgasana (Wahyu 4:2) dikelilingi oleh orang Kristen yang memakai baju yang indah dengan mahkota dikepala mereka meniup terompet (Wahyu 4:4). Sang Buddha secara terang-terangan mengatakan bahwa Nirvana bukanlah suatu kehampaan. &lt;br /&gt;Ketika seseorang telah membebaskan pikiran, para dewa tidak bisa melacaknya, meski mereka menganggap: “Ini adalah kesadaran yang melekat kepada yang telah mendapat penerangan tertinggi ( tingkat ke-Buddha-an).” Dan mengapa? Ini disebabkan yang telah mencapai ke-Buddha-an tidak akan terlacak lagi. Meski saya mengatakan hal ini, ada beberapa pertapa dan guru-guru agama yang telah menyajikan (ajaran) saya dengan salah, berlawanan dengan fakta, menyatakan: “Bhikku Gautama (Buddha) adalah seorang yang percaya akan kehampaan karena dia mengajarkan jalan lintas, perusakan, dan lenyapnya sebuah bentuk nyata.” Tetapi yang pasti ini tidak pernah kuucapkan. Baik sekarang maupun dulu, saya hanya mengajarkan derita dan cara mengatasi derita. (Majjhima Nikaya, Sutta No.22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ia juga berkata bahwa Nirvana bukanlah “kehidupan abadi” yang mentah seperti yang digambarkan dalam Kristiani.. Adalah suatu keadaan yang benar benar suci dan penuh berkah dimana tidak ada suatu bahasa-umumpun yang bisa menjelaskan secara lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen kadang-kadang mengkleim bahwa Buddhisme dalam isinya sendiri saling bertentangan karena dalam keinginan untuk mencapai Nirvana seseorang akan timbul sesuatu rasa yang kuat yang akan mencegahnya kearah pencapaian itu.  Hal ini dikemukan pada masa hidup sang Buddha, dan dijawab oleh salah seorang murid utamanya, Ananda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang imam bertanya kepada rahib senior Ananda: “Apa tujuan dari kehidupan suci dibawah bhikku Gautama?” - “Ini demi meninggalkan nafsu”- “Adakah cara, latihan untuk bisa melepaskan nafsu?” - “Ada, yaitu dengan cara kemauan dari batin yang kuat, energi, pikiran dan pertimbangan yang disertai dengan pemusatan pikiran dan usaha yang sungguh-sungguh.” - “Kalau begitu, rahib senior Ananda, lalu ini sama saja dengan usaha yang tiada akhir. Karena untuk membuang satu keinginan sambil menggunakan keinginan lainnya adalah tidak mungkin.” - “Lalu saya akan mengajukan sebuah pertanyaan; jawablah sesukamu. Sebelumnya, apakah kamu mempunyai keinginan, energi, pikiran dan pertimbangan kearah sini? Dan setelah tiba, tidakkah keinginan itu, energi itu, pikiran itu dan pertimbangan itu sirna?” - “Ya, mereka sirna.” -“Nah, bagi seseorang yang telah menghancurkan segala kekotoran batin, sekali dia mencapai penerangan sempurna, keinginan itu, energi itu, pikiran itu, pertimbangan itu yang ada padanya untuk mencapai penerangan sempurna sekarang telah sirna.” (Samyutta Nikaya, Book Seven, Sutta No.15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (iv) Ada cara untuk mengatasi penderitaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir dari keempat prinsip yang membentuk dasar Buddhisme membertahu kita bagaimana caranya untuk menghilangkan ketergantungan untuk selanjutnya terbebas dari derita dalam kehidupan sekarang maupun mendatang. Ketiga prinsip pertama adalah bagaimana cara orang Buddhis berpandangan akan dunia dan terjebaknya manusia dalam derita selagi prinsip terakhir ini adalah apa yang umat Buddhis putuskan untuk mengatasi kesulitan tersebut. Dan reaksi Buddhis terhadap penderitaan adalah untuk menjalankan Delapan Jalan Kebenaran. Sistim berlatih yang praktis dan mendunia yand terdiri dari pengembangan  atas Pengertian yang baik dan tepat, Pikiran yang baik dan tepat, Cara berbicara yang baik dan tepat, Perbuatan yang baik dan tepat, Cara Hidup yang baik dan tepat, Usaha yang baik dan tepat, Perhatian yang baik dan tepat dan Konsentrasi yang baik dan tepat  Kita akan meninjau secara singkat setiap langkah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita tetap percaya bahwa kejahatan dan penderitaan disebabkan oleh yang dilakukan oleh Adam dan Hawa, atau telah disebabkan oleh iblis, kita tidak akan pernah bisa mengatasinya. Disaat kita mengerti bahwa kitalah yang menyebabkan penderitaan kita sendiri melalui kemasabodohan dan kesangat-inginan , kita telah mengambil langkah pertama dalam mengatasi penderitaan itu. Mengetahui penyebab sesungguhnya adalah awal mengatasinya. Dan adalah tidak cukup untuk hanya percaya - kita harus berusaha untuk mengerti. Pengertian membutuhkan kecerdasan, perhatian yang cermat, mempertimbangkan kenyataan-kenyataan, keterbukaan; dan dalam usaha untuk mengembangkan kebatinan, mutu-mutu inilah yang diperkuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran, Ucapan dan Perbuatan Benar&lt;br /&gt;Tiga tahap selanjutnya dari Delapan Jalan Kebenaran menyatu-tubuh ajaran-ajaran ethis dari Buddhisme. Orang-orang Kristen sering mencoba untuk memberikan kesan bahwa milik mereka adalah satu-satunya ajaran ethis yang berkisar diantara kelembutan, cinta kasih dan maaf. Biar bagaimanapun, kenyataannya adalah 500 tahun sebelum Yesus sang Buddha mengajarkan etika yang berpusatkan cinta kasih yang sama baiknya malahan dibeberapa bagian lebih lengkap daripada Kristiani. Untuk menjalankan Kebenaran Pikir, kita mesti mengisi pikiran-pikiran kita dengan rasa sayang dan belas kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembangkan pikiran yang penuh cinta kasih,  merasa belas kasih dan dikendalikan oleh kebajikan, bangkitkan energimu, berkeyakinan yang teguh dan selalu mantap dalam melangkah maju. (Theragata 979)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pikiran dipenuhi dengan kasih seseorang akan merasakan belas kasihan kepada seluruh dunia - diatas, dibawah dan disekeliling, tak terbatas dimana saja, terisi dengan kebaikan yang tak terbatas, lengkap dan yang tumbuh dengan baik; keterbatasan-keterbatasan apapun yang ada pada seorang jangan biarkan tetap dalam pikirannya.” (Jataka 37,38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti air yang menyejukkan kebaikan dan keburukan serta mencuci-bersih semua kotoran dan debu, dengan cara yang sama hendaklah engkau mengembangkan rasa kasihmu kepada teman dan lawan secara merata, dan dengan mencapai kesempurnaan dalam kasih kau akan capai penerangan tertinggi (Jataka Nidanakatha 168-169)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melatih Berbicara Benar, hendaklah kita menggunakan kata-kata yang meningkatkan kejujuran, kebaikan dan damai. Sang Buddha menuturkan Berbicara Benar seperti berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepantasnya jika ucapan mempunyai lima karakter… pengucapan yang baik, bukan disalah-ucapkan, bukan pelimpahan-kesalahan ataupun kutuk oleh orang-orang bijaksana (1), diucapkan pada saat yang tepat (2), sungguh-benar (3), lembut (4), langsung ketujuan (5), barulah  mereka dimotivasikan oleh cinta-kasih. (Anguttara Nikaya, Books of Fives, Sutta 198)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suatu kecantikan dan pengertian khas dari Sang Buddha, Beliau menjelaskan seorang yang berusaha mengembangkan Berbicara Benar seperti ini.berenti membohong, jadilah pembicara dari kebenaran, yang andal dan terpercaya, tempat bersandar, bukanlah penipu dunia ini. Hentikan fitnahan, jangan mengulangi disana apa yang didengar disini, atau mengulang disini apa yang didengar disana, demi memecah-belah orang. Jadilah pemersatu dari yang terpecah-belah, penyusun dari apa yang telah bersatu, berbahagia dalam damai, bergembira dalam damai, meningkatkan perdamaian; perdamaian adalah motive pembicaraannya. Hentikan ucapan yang kasar, orang hendaknya mengucapkan kata yang menimpakan-kesalahan, enak di dengar telinga, bisa disetujui, menyentuh hati, halus dan penuh sopan santun, menyenangkan dan disukai oleh semua khayalak. Hentikan obrolan yang tidak berguna, orang hendaknya berbicara pada saat yang tepat, mengenai fakta fakta, tepat pada sasaran, tentang Dhamma dan disiplin, kata-kata yang bernilai, bisa dirasakan, beralasan, dalam batasan yang jelas, dan berkaitan dengan tujuan. (Digha Nikaya, Sutta No.1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertindak benar mengharuskan bahwa kita menghindar dari pembunuhan, pencurian dan penyimpangan seksual dan bahwa kita berlatih kelembutan, kedermawanan, kendali diri, dan sikap-menolong kepada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkehidupan Benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melatih Berkehidupan Benar orang hendaknya melakukan pekerjaan yang penuh bermoral dan yang menghasilkan sesuatu yang tak merugikan masyarakat ataupun lingkungan hidup. Seorang pemberi-kerja haruslah membayar pekerja-pekerjanya dengan adil, memperlakukan mereka dengan hormat, dan memastikan keamanan kerja. Seorang pekerja sebaliknya harus bekerja secara jujur dan rajin. (Digha Nikaya, Sutta No.31). Seorang juga hendaknya menggunakan penghasilannya secara pantas - menyiapkan kebutuhan-kebutuhannya, menabung sebagian dan mengamalkan sebagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berusaha Benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan Kristen tentang Tuhan dan manusia membuat usaha manusia sifatnya menjadi tidak konsekwen. Manusia pada dasarnya rendah dan pendosa yang jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana orang dapat menjalankan kebenaran dihadapan Tuhan. Bagaimana dia yang lahir dar seorang wanita bisa bersih? (Ayub 24:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati ini penuh tipu daya diatas segalanya, dan mati-matian korup (Yeremia 17:9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak melebihi dari seekor belatung (Ayub 25:6) manusia tak mampu untuk menjadi baik, dan bisa diselamatkan bukan oleh usaha-usaha mereka sendiri tapi hanya melalui keagungan Tuhan. Buddhisme, secara mencolok, melihat alam hidup manusia pada dasarnya baik dan dalam kondisi yang baik lebih mungkin untuk berbuat baik katimbang jahat. (Baca Milindapanha 84). Dalam Kristiani, manusia harus bertanggungjawab atas kejahatan yang mereka perbuat  dalam masa hidup mereka tetapi juga manusia bertanggungjawab atas dosa yang diperbuat oleh Adam dan Hawa. Di dalam Buddhisme, manusia bertanggungjawab hanya atas perbuatan yang dilakukannya dan, karena alam hidup manusia pada dasarnya baik, ini berarti usaha, dorongan dan ketekunan sangatlah penting. Sang Buddha berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggalkan yang salah. ini bisa dilakukan. Jika ini tak mungkin dilaksanakan aku tak akan menganjurkan engkau untuk melakukannya. Oleh karena ini bisa dilaksanakan, maka kukatakan kepadamu: “tinggalkan yang salah”. Jika meninggalkan yang salah mendatangkan kerugian dan kesedihan, Tak akan kuanjurkan engkau untuk melakukannya. Tapi karena ini membawa manfaat dan kebahagiaan, maka kuanjurkan engkau: “tinggalkan yang salah”. Pupuklah kebaikan. Ini dapat dilaksanakan. Kalau ini tidak mungkin terlaksana, Tak akan kuanjurkan kau untuk melakukannya. Karena ini bisa dilakukan, maka kukatakan kepadamu:”Pupuklahlah kebaikan.” Kalau memupuk kebaikan membawa kerugian dan kesedihan, Tak akan kudorong engkau untuk melakukannya. Karena ini membawa maanfaat dan kebahagiaan, maka sangat kuanjurkan agar engkau:”Memupuk kebaikan.” (Anguttara Nikaya, Book of Twos, Sutta No.9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkeprihatinan dan Berkonsentrasi Benar&lt;br /&gt;Dua langkah terakhir dari Delapan Jalan Kebenaran ini secara bersama menuju kearah meditasi, latihan yang bersifat sadar dan lembut yang pertama demi mengenal pikiran, kemudian mengkontrolnya dan akhirnya mengubah pikiran tersebut. Meskipun kata meditasi muncul sekitar dua puluh kali di dalam Alkitab, tampaknya hanya ditujukan kepada praktek yang disederhanakan mengenai renungan atas kisah-kisah dari tulisan di AlKitab (seperti di Yosua 1:8). Alkitab rupanya hampir sama sekali meniadakan tehnik-tehnik tinggi dari meditasi yang ada ditulisan-tulisan Buddhis. konsekwensinya adalah, waktu orang Kristen fundamentalis dijangkiti oleh keinginan-keinginan yang buruk atau terganggu oleh pikiran-pikiran negatif tak dapat dihilangkan, satu-satunya yang bisa mereka perbuat adalah berdoa lebih keras. Ketidakhadiran meditasi adalah juga sebab mengapa orang-orang Kristen sering kelihatan tergoda dan kurang mempunyai kepribadian yang tenang yang menjadi ciri khas dari para umat Buddha. Tuhan berkata “Tenang dan ketahuilah bahwa Aku ini Tuhan” (Mazmur 46:10) tapi orang Kristen tidak terlihat bisa duduk dengan tenang, apalagi menenangkan pikiran, untuk sejenak. Tuhan juga berkata “menyatulah dengan hatimu ditempat tidurmu dan tenanglah.” (Mazmur 4:5) yang persis para umat Buddhis lakukan waktu mereka meditasi. Tapi layanan-layanan dan persekutuan-persekutuan doa dari orang Kristen golongan evangelis dan karismatik seringkali nampak perpaduan antara konser musik rock dan kekacauan, dengan pendeta yang berteriak-teriak dan bergoyang-goyang secara liar selagi para jemaat dalam kongregasi goyang kesana goyang kesini, ‘mengucapkan bahasa lidah’, menangis dan bertepuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan besar dar Buddhisme adalah bahwa ini bukanlah hanya menasehatkan kita untuk menjadi tenang, damai, bebas dari nafsu-nafsu yang tak mudah dikuasai dan sadar diri tapi juga menunjukkan kepada kita bagaimana cara mengembangkan keadaan-keadaan tersebut. Ada meditasi-meditasi yang membawa ketenangan, untuk merubah kekotoran-kekotoran mental tertentu, memberi-dorongan keadaan mental yang positif, dan juga untuk mengubah sikap-sikap. Dan tentunya, ketika pikiran tenang dan bebas dari prasangka-prasangka, ide-ide yang sudah tertanam, dan hawa nafsu yang mengganggu akan lebih memungkinkan untuk bisa melihat segala hal sesuai dengan apa adanya. Tak heran bahwa banyak  dari tehnik-tehnik meditasi yang diajarkan oleh Sang Buddha sekarang digunakan oleh para Psikolog, Psikiater dan para penasehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA KITA MENJAWAB PERTANYAAN PARA PENGABAR INJIL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari usaha mereka untuk mempromosikan kepercayaan mereka, para pengabar Injil sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada umat Buddhis yang tujuannya untuk membingungkan atau mengecilkan hati mereka. Akan kita lihat pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar dan berikan respon-respon Buddhis yang efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tidak percaya kepada Tuhan jadi kamu tidak bisa menjelaskan bagaimana mulainya dunia ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar Kristen mempunyai penjelasan tentang bagaimana mulainya segala-hal. Tapi apakah penjelasan itu benar? Marilah kita mengujinya. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segalanya dalam enam hari dan pada hari ketujuh, dia beristirahat. Cerita yang menakjubkan ini tidaklah lebih dari sekedar sebuah dongeng dan tidak lebih benar daripada dongeng Hindu yang mengatakan para dewa menciptakan semuanya dengan mengocok lautan susu, atau kepercayaan klasik bahwa alam semesta ini ditetaskan dari sebutir telur kosmos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bagian dari dongeng penciptaan ini adalah tidak masuk akal. Contohnya dikatakan bahwa pada hari pertama Tuhan menciptakan terang dan gelap tetapi pada hari keempat dia menciptakan matahari (Kejadian 1:15-16). Bagaimana bisa ada siang dan malam tanpa matahari? Dongeng penciptaan ini juga bertentangan dengan ilmu pengetahuan moderen yang telah membuktikan tentang awal alam semesta, dan bagaimana kehidupan berevolusi. Tidak ada bagian di ilmu perbintangan atau biologi diperguruan-perguruan tinggi manapun di dunia ini yang mengajarkan dongeng penciptaan dengan alasan sederhana bahwa dongeng tersebut tidak berdasarkan kenyataan. Maka, walau memang Kristen mempunyai penjelasan tentang bagaimana semuanya mulai (seperti halnya kebanyakan agama), penjelasan itu hanyalah dongeng belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang Buddhisme katakan tentang bagaimana mulainya segala sesuatu? Sedikit sekali yang Buddhisme katakan tentang hal ini dan dengan alasan yang sangat baik. Tujuan dari Buddhisme adalah untuk mengembangkan kebijaksanaan dan belas kasih sehingga bisa mencapai Nirvana. Mengetahui bagaimana alam ini mulainya tak bisa menyumbangkan apapun kepada tugas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah seseorang meminta Sang Buddha untuk memberitahunya bagaimana alam semesta ini mulai. Sang Buddha berkata kepadanya “kau ini seperti orang yang telah terkena anak-panah beracun dan yang, ketika dokter datang untuk mencabutnya, mengatakan ‘Tunggu! Sebelum anak panah ini dicabut aku mau tau nama orang yang melepaskannya, dari kelompok mana dia berasal, dikampung mana dia dilahirkan, aku ingin tahu dari jenis kayu apa busurnya terbuat, bulu apa yang ada di ujung anak panah ini, berapa panjangnya anak panah ini, dan lain-lain’. lain.’ Orang itu akan mati sebelum semua pertanyaan itu bisa terjawab. Tugas saya adalah untuk membantu kamu untuk mencabut anak panah penderitaan dari dirimu sendiri.” (Majjhima Nikaya Sutta No.63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddhisme berkonsentrasi untuk membantu kita memecahkan masalah-masalah hidup - tidak menganjurkan spekulasi yang tidak berguna. Dan jika seorang umat Buddhis ingin mengetahui bagaimana dan awal mula alam semesta, ia akan menanyakan pertanyaan ini kepada seorang ilmuwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Buddha praktis karena dikatakan kamu tidak bisa membunuh seekor semut sekalipun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita membela Buddhisme terhadap tuduhan tidak praktis, lihatlah apakah Kristianipun praktis. Menurut Yesus, jika seseorang menampar pipi kita hendaklah kita berikan pipi yang sbelah lagi. (Matius 5:25). Kalau kita menemukan seseorang telah mencuri celana kita, kita harus keluar dan memberikan maling itu baju kita juga (Matius 5:30). Jika kita tidak bisa menahan diri dari mencuri, kita harus memotong tangan kita sendiri (Matius 5:30). Kita bisa mengatakan semua ajaran ini tidak praktis meskipun orang Kristen akan lebih suka menyebutnya sebagai tantangan. Dan tentu saja mungkin mereka benar. Untuk memberikan pipi yang lain ketika seseorang menyerang kita tentunya tidak mudah. Ini memerlukan kita untuk mengendalikan amarah kita dan melakukan ini dapat membantu meningkatkan kesabaran, kerendahan hati, tidak membalas, dan cinta kasih. Kalau kita tidak pernah ditantang kita tidak tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha meminta kita untuk menghormati semua yang hidup, bahkan mahluk-mahluk yang sederhana. Mengenai memberikan pipi yang lain, ini tidaklah selalu mudah. Seperti sebagian orang, mahluk-mahluk seperti semut bisa menyebalkan dan mengganggu. Ketika kita menjalankan sila untuk tidak membunuh dan mencoba untuk mempraktekkannya kita ditantang untuk mengembangkan kesabaran, kerendahan hati, cinta kasih dan sebagainya. Maka dalam menghimbau kita untuk menghormati semua kehidupan, Buddhisme bukan lebih tidak praktis daripada Kristiani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha telah tiada maka ia tidak dapat menolong dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Buddhis terkadang mengalami kesulitan untuk menjawab secara benar ketika orang Kristen mengatakan ini kepada mereka. Akan tetapi kalau kita mengetahui Dhamma dengan baik, cukup mudah untuk menangkis kleim ini seperti yang orang Kristen meng-kleim tentang Buddhisme, ini atas dasar kesalah-pahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Sang Buddha tidaklah mati. Beliau telah mencapai Nirvana, sebuah keadaan yang disebut damai dan bebas. Nama lain yang diberikan Sang Buddha kepada Nibbana adalah Keadaan Yang Tak ada Kematian (Amita) karena setelah seseorang mencapainya ia tak akan menjadi subjek dari kelahiran maupun kematian. Tentu saja Nibbana beda suatu “kehidupan abadi” yang naif seperti yang dituturkankan dalam Alkitab, di mana badan dibangkitkan dan malaikat bernyanyi. Nyatanya demikian halusnya hingga tak mudah untuk dijelaskan. Namun ini bukanlah suatu ketidak-adaan, Sebagaimana Sang Buddha membuatnya jelas sekali. (Majjhima Nikaya Sutta No72; Sutta Nipata, Verse 1076)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama tidak benarnya jika mengatakan bahwa sang Buddha tidak dapat menolong kita. Dalam masa karir empat puluh tahun, sang Buddha menjelaskan secara sangat mendetil dan kejelasan yang dilakukan secara ahli mengenai segalanya yang dibutuhkan untuk mencapai Nirvana. Yang kita perlu lakukan adalah mengikuti instruksinya. Kata-katanya sama membantunya dan berlakunya pada saat ini seperti waktu dia pertama kali mengatakannya. Tentu saja Buddha tidak membantu kita dengan cara yang sama seperti yang dikleim orang Kristen tentang cara Yesus menolong mereka, dan untuk suatu alasan yang sangat baik. Jika seorang murid tahu bahwa disaat-saat ujian dia dapat bertanya kepada gurunya untuk jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ujian, dia tidak akan belajar dan tentunya tidak akan pernah belajar. Jika seorang atlit tahu bahwa hanya dengan memintanya dari juri  dan akan diberi kemenangan, dia tidak akan peduli untuk melatih dan mengembangkan fisiknya. Cukup memberi orang segala yang mereka pinta tak harus menolong mereka. Nyatanya, itu menjamin bahwa orang tersebut akan tetap lemah, bergantung dan malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha memberi petunjuk menuju Nibbana dan mengajarkan kita bekal-bekal apa yang kita perlukan untuk perjalanan menuju Nirvana. Begitu kita jalankan, kita akan belajar dari pengalaman-pengalaman kita dan dari kesalahan-kesalahan kita, mengembangkan kekuatan, kedewasaan dan kebijaksanaan. Hasilnya ketika kita selesai menempuh perjalanan ini, kita akan menjadi orang-orang yang benar-benar beda dari waktu sebelum kita memulainya. Berkat bantuan yang ahli dari sang Buddha kita akan mencapai Kesunyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah bahwa sang Buddha telah tiada dan tidak bisa menolong kita bukan hanya salah, tetapi juga mengandung makna bahwa Yesus itu hidup dan bisa menolongmu. Lihatlah asumsi ini. Orang Kristen mengkleim bahwa Yesus itu hidup, tapi bukti apa yang ada? Mereka akan mengatakan bahwa Alkitab membuktikan Yesus bangkit dari kematian. Sialnya pernyataan-pernyataan yang ditulis oleh beberapa orang ribuan tahun yang lalu  tidaklah membuktikan apa-apa. Suatu pernyataan di Mahabharata (salah satu dari Kitab Suci Hindu) mengatakan bahwa seorang suci mempunyai kereta perang yang bisa terbang. Tapi apakah ini membuktikan bahwa orang India kuno menciptakan pesawat terbang? Tentu saja tidak. Tulisan-tulisan kuno Mesir mengatakan bahwa Dewa Khnum menciptakan segalanya dari tanah liat yang dibentuknya diatas alat pembuat pot tanah liat. Apakah ini membuktikan bahwa semua yang ada itu adalah cuma dari tanah? Tentu saja tidak. Sebuah cerita di dalam Perjanjian Lama mengatakan seorang bernama Balaam mempunyai keledai yang bisa berbicara. Apakah ini bukti yang menyimpulkan bahwa binatang bisa berbicara? Tentu saja tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak boleh begitu saja menerima kleim-kleim yang dibuat diAlkitab lebih daripada kita secara tanpa berpikir menerima kleim-kleim dari para kitab suci lainnya. Ketika kita menguji kleim-kleim tentang kebangkitan Yesus, kita menemukan alasan yang sangat baik mengapa kita jangan mempercayainya. Nyatanya, Alkitab sebenarnya membuktikan bahwa Yesus tidaklah hidup. Sesaat sebelum Yesus disalib, Yesus memberitahu murid-muridnya bahwa dia akan kembali sebelum mereka semuanya mati. (Matius 10:23, 16:28, Lukas 21:32). Itu terjadi 2000 tahun yang lalu. Yesus masih belum kembali. Mengapa? Nyata sekali karena dia sudah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumpsi kedua adalah bahwa Yesus selalu menjawab ketika kamu berdoa kepadanya. Sungguh mudah untuk membuktikan bahwa ini tidak benar. Orang Kristen mati karena penyakit, ketidakberuntungan, mempunyai masalah-masalah emosi, menyerah ke dalam godaan dll seperti halnya yang bukan Kristen dan terbalik dengan faktanya bahwa mereka berdoa kepada Yesus agar ditolong. Saya mempunyai seorang teman yang telah menjadi Kristen yang kuat untuk selama bertahun-tahun. Sedikit demi sedikit dia mulai ragu dan meminta bantuan dari pendetanya. Sang pendeta mengajarkannya untuk berdoa dan bahkan meminta para anggota gereja untuk mendoakannya. Toh, sebaliknya dari semua doa ke pada Yesus demi kekuatan dan bimbingan keraguan teman saya ini semakin bertambah dan akhirnya meninggalkan gereja. Kemudian dia menjadi umat Buddha. Jika Yesus benar-benar hidup dan siap membantu, mengapa orang-orang Kristen mempunyai problem yang sama banyaknya dengan orang-orang non-Kristen? Mengapa Yesus tidak menjawab doa-doa teman saya dan membantunya untuk tetap menjadi orang Kristen? Tentunya karena Yesus telah mati dan tidak bisa membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjawab sangkalan ini, orang-orang Kristen akan mengatakan bahwa ada orang-orang yang bisa bersaksi bahwa doa-doa mereka telah dijawab (terkabulkan). Kalau benar demikian, berarti juga benar bahwa jika ada orang Islam, Hindu, Seikh, Tao, Shinto, Kuan Im yang juga bisa mengatakan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti Kristiani, Buddhisme demikian pesimisnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kamus Webster, pesimisme adalah “suatu kepercayaan bahwa jumlah kejahatan dalam hidup ini melebihi kebaikan”. Sungguh menarik bahwa orang Kristen menuduh umat-umat Buddha menjadi pesimis karena pendapat bahwa kejahatan lebih menyerap katimbang kebaikan adalah salah satu dari doktrin utama Kristiani. Kedua Alkitab favorit dari Kristen golongan fundamental mengutip “Semuanya telah berdosa, semuanya  jauh dari kegemilangan Tuhan” (Roman 3:10) dan “yang pasti tidak seorangpun yang menjalankan kebenaran didunia yang selalu berbuat baik dan tidak pernah berdosa.”(Pengkhotbah 7:20). Doktrin dari dosa asal mengajarkan bahwa semua orang adalah pendosa, tak bisa membebaskan diri mereka dari dosa, dan bahwa kejahatan didalam diri kita lebih kuat dari kebaikan (Roma 7:14-24). Orang Kristen akan mengatakan karena ini benar, kita bisa bebas dari dosa jika kita menerima Yesus. Mungkin saja begitu tapi yang masih menjadi persoalan adalah bahwa orang Kristen merasa mereka membutuhkan Yesus karena pandangan mereka mengenai alam hidup manusia demikian pesimisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddhisme sebaliknya mempunyai pandangan yang sangat berbeda, jangan lagi lebih realistis, tentang alam hidup manusia. Selagi benar-benar mengakui potensi manusia akan kejahatan, Buddhisme mengajar bahwa kita dapat menaklukkan kejahatan dan mengembangkan kebaikan melalui usaha kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggalkan kejahatan! Orang bisa meninggalkan kejahatan. Jika mustahil untuk meninggalkan kejahatan, aku tak akan menyuruhmu berbuat begitu. Tapi berhubung ini dapat dilakukan, kukatakan kepadamu: “Tinggalkan kejahatan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peliharalah kebaikan. Orang bisa memelihara kebaikan. Jika mustahil untuk memelihara kebaikan, aku tidak akan menyuruhmu untuk berbuat begitu. Tapi berhubung ini bisa dilakukan, oleh karena itulah kukatakan kepadamu:”peliharalah kebaikan.” (Anguttara Nikaya, Book of Twos, Sutta No.9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah orang setuju akan kepercayaan ini atau tidak, orang tentunya tidak dapat mengatakan bahwa itu pesimistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi tetapi Buddhisme mendorong kita supaya dingin dan lepas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tidaklah benar. Sang Buddha berkata bahwa kita hendaknya mengembangkan cinta kasih yang hangat dan penuh perhatian kepada semua manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ibu yang bersedia melindungi anak satu-satunya meski dengan resiko nyawanya sendiri, meski demikianpun orang harus dengan tanpa syarat apapun menjaga cinta kasih bagi semua mahluk. (Sutta Nipata Verse 150)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap indera kasih dalam Buddhisme sama pentingnya dengan yang ada didalam Kristiani dan penekanannyapun sama kuatnya. Akan tetapi ada sesuatu yang tetap merusak praktek cinta kasih dari orang Kristen. Suara paksaannya yang nyaring bahwa hanya merekalah yang mengasihi, bahwa kualitas dari cinta kasih mereka jauh lebih unggul daripada cinta kasih lainnya, dan sikap dari mereka yang terus menerus merendahkan dan mencemoohkan usaha orang lain untuk mepraktekkan cinta kasih membuat mereka terlihat benar-benar dengki. Demikian cilik dan cemburunya orang Kristen hingga mereka bahkan tidak mampu memuji atau menghargai suatu yang sama cantiknya dengan kasih, selain ada “dibuat oleh Yesus” tertulis di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau mengklaim bahwa waktu kita mati, kita akan lahir kembali, tetapi tak ada buktinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita memberi respon kepada ini marilah kita uji kedua teori alam sesudah kehidupan dari Kristen dan Buddhis. Menurut Kristiani, Tuhan menciptakan selembar jiwa baru yang menjadi seorang manusia yang menjalani hidup dan kemudian mati. Setelah kematian jiwa tersebut akan pergi ke surga abadi kalau percaya akan Yesus, atau ke neraka abadi kalau ia tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Buddhisme, adalah tidak mungkin untuk menyelami hingga ketempat yang paling dasar dari asal mula keberadaan. Setiap mahluk menjalankan hidup, mati dan lahir kembali kedalam keberadaan baru. Proses mati dan lahir-kembali ini adalah bersifat alami dan bisa berlangsung selamanya kecuali bagi yang mencapai Nirvana. Ketika satu mahluk mencapai Nirvana, pengertian mereka dan secara konsekwen tingkah-laku mereka, berubah dan ini merubah proses yang menyebabkan kelahiran kembali. Jadi sebaliknya dari lahir kembali kedalam suatu keberadaan yang baru mahluk tersebut mencapai Nirvana. Nirvana bukan suatu eksistensi (ada berarti bereaksi kepada sentuhan, tumbuh dan rusak, dan bergerak dalam waktu dan ruang, untuk mengalami diri seseorang sebagai sesuatu yang terpisah dsb) dan inipun juga bukan ketidak-adaan yang mengandung arti menihilkan. Dengan kata lainnya keberadaan setiap mahluk tak mempunyai asal dan akhir selain Nirvana dicapai dan sampai disitulah keberadaan tidak mempunyai tujuan lain daripada untuk menjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit sekali bukti mengenai kedua teori ini. Meskipun demikian, ada beberapa masalah yang sifatnya logis dan moral dengan teori orang Kristen yang tak ada terlihat dalam teori Buddhis yang menjadikan teori Buddhis lebih dapat diterima. Kristiani menganggap keberadaan mempunyai awal tapi tidak ada akhir, pada tempat yang sama Buddhisme menganggap ini bersifat siklus. Alam tak memperlihatkan contoh apapun mengenai proses-proses yang mempunyai asal tapi tak ada akhir. Malahan, semua proses alami yang kita bisa kita lihat justru bersifat siklus. Musim-musim pergi dan kembali lagi tahun depan. Hujan turun, mengalir ke laut, menguap, membentuk awan dan turun lagi menjadi hujan. Tubuh ini terbuat dari elemen-elemen yang kita telan yang berupa makanan, ketika kita mati tubuh ini hancur dan melepaskan elemen-elemen tersebut kedalam tanah, dimana mereka diserap oleh tumbuhan dan binatang-binatang yang kita makan untuk membentuk tubuh ini. Planet-planet mengelilingi matahari, dan bahkan galaksi yang mengisi tata surya perlahan lahan berputar. Teori Buddhisme tentang kelahiran kembali harmonis dengan proses perputaran yang kita lihat diseluruh alam selagi pada bagian yang sama teori Kristiani tidak sejalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen mengkleim bahwa Tuhan menciptakan kita dengan satu tujuan - supaya kita percaya kepadaNya dan turut, dan diselamatkan. Jika demikian sulitlah untuk menjelaskan mengapa, setiap tahun, jutaan janin secara alami gugur, jutaan bayi lahir dalam keadaan mati atau meninggal dalam dua tahun pertama kehidupan mereka. Lebih jauh lagi, jutaan orang lahir dan menjalani kehidupan cacat mental yang parah, tidak bisa membayangkan meski hal-hal yang paling sederhana. Bagaimana semua ini bisa cocok dengan yang seharusnya adalah rencana Tuhan? Tujuan apa yang dimiliki Tuhan dalam menciptakan suatu kehidupan baru dan membiarkannya mati bahkan sebelum lahir atau segera setelah lahir? Apa yang terjadi dengan semua mahluk-mahluk ini? Apakah mereka masuk surga atau neraka? Jika Tuhan benar-benar menciptakan kita dengan rencana dalam pikiran, rencana itu tentunya tidaklah kelihatan. Juga, karena mayoritas dari penduduk dunia adalah non-Kristen, dan karena bahkan tidak seluruh orang Kristen diselamatkan, Ini berarti bahwa jumlah yang besar dari jiwa yang Tuhan ciptakan yang akan masuk neraka. Rencana Tuhan untuk menyelamatkan setiap orang kelihatannya telah berjalan dengan sangat keliru. Jadi meskipun kita tidak bisa membuktikan keduanya baik teori sesudah kehidupan dari Kristen atau Buddhis, doktrin dari Buddhis lebih menarik dan masuk dapat diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita benar-benar dilahirkan kembali, bagaimana kamu menjelaskan meningkatnya jumlah penduduk dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mahluk-mahluk mati mereka lahir lagi tapi harus lahir menjadi mahluk yang sama. Misalnya, seorang manusia bisa saja terlahir sebagai serang manusia, sebagai seekor binatang, atau mungkin sebagai mahluk surga, tergantung pada karmanya masing-masing. Faktanya bahwa adanya peningkatan yang dramatis dari jumlah penduduk didunia menunjukkan bahwa lebih banyak binatang yang lahir kembali menjadi manusia (ada hubungannya denagn menurunnya jumlah binatang-binatang karena kepunahan dsb) dan lebih banyak manusia yang lahir kembali sebagai manusia tak dapat diragukan lagi karena meningkatnya penyebaran pengetahuan mengenai ajaran Buddha. Bahkan dimana Dhamma tidak dikenal secara luas kapasitas pengaruhnya atas kebaikan begitu kuatnya. Semua ini ada hubungannya dengan peningkatan jumlah manusia didunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nirvana adalah tujuan yang tidak bisa terlaksana karena membutuhkan waktu yang lama untuk mencapainya dan maka itu sedikit yang dapat melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar dalam mencapai Nirvana memakan waktu yang lama tetapi segi lainnya  lahir-kembali memberi kita banyak waktu. Jika&lt;br /&gt;seseorang tidak melakukannya di dalam kehidupan ini dia bisa mengusahakannya dikehidupan berikutnya. Sungguh,  ini bisa selama yang dikehendaki oleh orang itu. Sang Buddha berkata bahwa bila seseorang benar-benar ingin, ia bisa mencapai Nibbana dalam waktu tujuh hari (Majjhima Nikaya, Sutta No.10). Jika demikian, orang Kristen akan bertanya, mengapa tidak semua orang Buddhis telah mencapai Nirvana? Contohnya  alasan  bahwa keajaiban dunia masih tetap menjadi daya tarik bagi mereka. Sebagaimana nurani dan pengertian makin lama membuat daya tarik tersebut makin pudar ia bergerak selangkah demi selangkah, sesuai dengan kecepatan masing masing, kearah Nirvana. Seperti kleim bahwa hanya sedikit orang yang dapat mencapai Nirvana, ini tidaklah benar. Selagi dalam Kristiani seseorang hanya mempunyai satu dan hanya satu kesempatan untuk diselamatkan, ajaran-ajaran Buddhisme tentang lahir-kembali menjelaskan betapa seseorang mempunyai kesempatan yang tak terbatas untuk mencapai Nirvana. Ini juga mengandung maksud bahwa setiap orang pada akhirnya akan dibebaskan. Seperti yang dalam tulisan Buddhis menyatakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat keabadian ini telah dicapai oleh banyak orang dan akan tetap bisa dicapai walau hari ini oleh siapa saja yang berusaha. Tapi bukan oleh mereka yang tidak berusaha. (Therigatha, verse 513)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kristiani, sejarah mempunyai suatu arti dan sedang kearah tujuan tertentu. Pandangan siklus kehidupan dari Buddhisme maksudnya adalah sejarah tidak mempunyai arti dan inilah yang membuat umat Buddhis berserah kepada nasib dan tidak perduli dan tak mau tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa menurut Buddhisme sejarah tidaklah menuju kepada klimaks apapun. Tapi siapapun yang menjalani Delapan Jalan Kebenaran tentunya sedang menuju. Pria maupun wanita sama-sama menuju ke arah damai dan bebas di Nirvana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti mengalirnya sungai Gangga, meluncur, condong ke timur, demikian juga siapapun yang memelihara dan berbuat banyak akan Delapan Jalan Kebenaran mengali, cenderung kearah Nirvana. (Samyutta Nikaya, Great Chapter, Sutta No.67)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tak benar untuk mengatakan bahwa pandangan Buddhisme yang lebih realistis akan eksistensi dan sejarah harus ditujukan kepada ketidak-perdulian. Dan apa klimaks dari tujuan sejarah menurut orang Kristen? Kiamat, di mana mayoritas besar manusia dan hasil-karyanya akan dihancurkan oleh hujan belerang dan api. Bahkan segelintir orang beruntung yang diselamatkan akan mempunyai masa depan abadi yang suram menyadari bahwa setidaknya beberapa anggota keluarga dan teman, pada saat yang sama, sedang dihukum dineraka. Akan sulitlah untuk membayangkan masa depan yang lebih menekan perasaan daripada yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha menyontek ide karma dan kelahiran kembali dari agama Hindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindu memang mengajarkan tentang karma dan juga reinkarnasi. Meski demikian, versi-versi dari kedua ajaran ini sangat berbeda dari versi-versinya Buddhisme. Contohnya, Hinduisme mengatakan bahwa kita ditentukan oleh karma kita sedangkan Buddhisme menyatakan itu  hanyalah syarat bagi kita. Menurut Hinduisme, sebuah roh abadi (atman) berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain sedangkan Buddhisme menyangkal adanya roh seperti itu (anatman) mengatakan malahan ini adalah suatu tenaga mental yand senantiasa berubah yang disebut lahir-kembali. Ini hanyalah dua dari banyak perbedaan antara Hinduisme dan Buddhisme tentang karma dan lahir-kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar bagaimanapun, meski jika ajaran Buddhis dan Hindu itu identik, tak berarti bahwa Buddha telah dengan tanpa berpikir menyontek ide-ide dari orang lain. Kadang-kadang terjadi bahwa dua orang, yang terpisah tanpa hubungan satu sama lain, mendapatkan penemuan yang benar benar sama. Suatu contoh yang bagus mengenai ini adalah penemuan tentang evolusi. Pada tahun 1858, persis sebelum Ia menerbitkan bukunya yang terkenal  The Origin of the Species, Charles Darwin mendapatkan bahwa seseorang yang lain, Alfred Russell Wallace, telah mengkonsepsikan suatu ide dari evolusi persis seperti yang dilakukannya. Darwin dan Wallace tidak saling mencontoh ide satu sama lain; malahan dengan mempelajari tentang kejadian yang sama darimana mereka masing-masing tiba kepada suatu kesimpulan tentangnya  secara terpisah. Jadi meski jika ide dari Hindhu tentang karma dan kelahiran kembali identik dengan yang dimiliki oleh Buddhisme (yang sebenarnya tidak) ini tidaklah menjadi suatu bukti dari penyontekan. Kebenarannya adalah bahwa  orang-orang bijak dari golongan Hindhu melalui renungan-renungan yang mereka kembangkan dalam meditasi, mendapatkan ide ide yang tidak pasti tentang karma dan kelahiran kembali, yang sang Buddha selanjutnya perjelas secara lengkap dan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus mengampuni dosa kita, tetapi Buddhisme mengatakan bahwa engkau tak akan pernah bisa lolos dari akibat-akibat Karmamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya benar sebagian saja bahwa Yesus mengampuni dosa. Menurut Kristiani, setelah manusia diciptakan mereka akan hidup selamanya - pertama, untuk beberapa puluh tahun diatas bumi dan kemudian kehidupan abadi di surga atau neraka. Yesus akan mengampuni dosa orang selagi mereka hidup di dunia ini tapi untuk sisa kehidupan abadi dia menolak untuk melakukannya, tidak peduli berapa sering ataupun betapa memelasnya jiwa mereka dineraka memanggil-manggil namanya.. Jadi pengampunan Yesus itu hanyalah terbatas kepada periode yang sangat singkat dalam keberadaan manusia saja sesudah itu dia akan tidak memberikannya. Maka kebanyakan orang tak akan pernah lolos dari akibat dosa yang mereka perbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapatkah umat Buddhis lolos dari karma mereka? Doktrin tentang karma mengajarkan bahwa setiap perbuatan (kamma) mempunyai suata akibat (vipaka). Tetapi akibatnya tidaklah selalu sama dengan penyebabnya. Contohnya, jika seorang mencuri sesuatu, perbuatan ini akan membawa akibat yang negatif. Tapi jika setelah mencuri orang tersebut menyesal, mengembalikan barang yang dicuri, dan dengan tulus berjanji akan berusaha lebih berhati-hati di masa yang akan datang,  akibat yang negatif dari pencurian tersebut bisa menjadi berkurang. Mungkin masih ada efeknya tapi tak sekuat sebelumnya. Tapi meski jika sipencuri tidak mengurangi efek kesalahan dengan kebaikan kebaikan, ia akan bisa bebas dari perbuatanya sesudah akibatnya dijalankan. Jadi jika menurut Buddhisme kita bisa bebas dari karma kita menurut Kristiani dosa kita hanya diampuni dalam kesempatan yang sangat sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada segi-segi lain dimana doktrin Karma lebih baik daripada pendapat orang Kristen tentang pengampunan hukuman. Dalam Buddhisme selagi seseorang mungkin harus menjalani akibat-akibat negatif dari kejahatan yang telah diperbuat (yang tentu saja adil), ini berarti bahwa orang tersebut akan mengalami efek positif dari perbuatan baiknya juga. Tidak demikian dalam Kristiani. Contohnya, misalkan ada seorang non-Kristen yang jujur, berbelas kasih, dermawan dan baik hati, sebaliknya dari semua kebaikan ini, pada saat kematian orang ini akan pergi keneraka dan tak menerima pahala apapun atas kebaikan yang diperbuatnya. Lebih jauh lagi, menurut doktrin karma tentang efek yang  kita alami, semuanya secara sejajar, akan masuk kedalam suatu proporsi langsung dari sebab yang mereka lakukan.  Lagi-lagi tidak demikian menurut Kristiani – bahkan jika seseorang luar biasa jahatnya selama hidup, neraka yang abadi adalah suatu hukuman yang kenyataan tak proporsionil. Betapa lebih tak-adilnya, jika orang tersebut adalah orang yang baik tapi non-Kristen? Nyatalah sungguh ide dari neraka yang abadi, dan ide-ide bahwa semua yang non-Kristen akan dikutuk untuk dilempar kedalamnya, adalah ajaran-ajaran yang memancarkan suatu keraguan yang amat mengenai konsep dari Tuhan yang maha adil dan penyayang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristiani menyebar hampir kesetiap negara di dunia dan mempunyai pengikut yang lebih banyak dari agama manapun, jadi pasti benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa Kristiani telah menyebar luas tapi bagaimana terjadinya ini? Hingga abad 15 Kristiani hanya terbatas di benua Eropa saja. Setelah itu, angkatan perang Eropa menyebar ke seluruh dunia memaksakan agama mereka kepada orang-orang yang mereka taklukan. Di kebanyakan negara yang dijajah (seperti Sri Lanka, Filipina, Taiwan dan beberapa bagian dari India) dibuat hukum-hukum yang melarang semua agama yang bukan Kristen. Pada akhir abad ke-19, Paksaan yang brutal tidak lagi digunakan untuk memaksakan kepercayaan, tetapi di bawah diserahkan kedalam pengaruh dari para-misionaris, petugas-petugas negara penjajah mencoba menghalangi agama-agama non-Kristen sedapat mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang penyebaran agama Kristen didukung oleh bantuan keuangan yang berlimpah yang para misionaris dapatkan kebanyakan dari Amerika Serikat. Maka agama Kristen tidaklah tersebar luas karena kehebatan ajarannya, melainkan karena faktor-faktor lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah agama Kristen adalah agama yang terbesar didunia ini hanyalah sekedar definisi saja. Dapatkah kita menganggap orang-orang Mormon, orang-orang Saksi Yehova, orang- orang Moony sebagai orang Kristen? Bisakah kita memasukkan kumpulan-kumpulan dan sekte-sekte aneh yang berkembang di Amerika Selatan dan Afrika yang jumlahnya mencapai jutaan itu sebagai orang-orang Kristen? Semua orang Protestan tidak menganggap orang Katholik sebagai orang Kristen! Jika kita tidak menerima bahwa semua kultus-kultus yang telah keluar maupun telah bercampur dan grup grup Kristen yang aneh sebagai ‘Kristen Sejati’, ini mungkin akan membuat Kristiani menjadi salah satu agama terkecil di dunia. Ini juga tentunya menjelaskan mengapa Alkitab mengatakan bahwa hanya 144.000 orang yang akan diselamatkan pada Hari Pengadilan (Wahyu 14:3-4). Tapi bahkan jika Kristiani adalah agama yang terbesar di dunia, apa yang hendak dibuktikan? Dua ratus tahun yang lalu kebanyakan manusia percaya bahwa bumi ini datar. Sejak itu mereka telah terbukti salah. Ketepatan dari suatu kepercayaan tidaklah berhubungan dengan jumlah orang yang menerima kepercayaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memberkati mereka yang percaya kepadaNya. Itulah sebabnya mengapa negara-negara Kristen kaya raya dan negara-negara Buddhis miskin-miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua argumentasi yang orang Kristen gunakan untuk mencoba mengajak orang untuk pindah agama, inilah yang paling bodoh. Pertama-tama jika apa yang Alkitab nyatakan tentang kekayaan itu benar (Matius 19:23-24), kelihatannya bahwa berkat Tuhan sepatutnya tumpahkan kepada Eropa dan America adalah benar benar suatu kutukan yang terselubung. Kedua, jika kemakmuran adalah benar benar bukti dari bantuan Tuhan, tampaknya seolah-olah bahwa ia sangat menyukai orang Islam karena ia telah memberi mereka semua minyak bumi. Ketiga, beberapa negara-negara Kristen seperti Honduras, Filipina sangat miskin, sedangkan Jepang, yang jelas-jelas negara Buddhis sangat kaya. Terakhir, dengan membuat pernyataan-pernyataan seperti ini orang Kristen telah keluar dari motivasi mereka dalam menyembah Tuhan - menginginkan uang. Buddhisme demi perannya mengajarkan bahwa kwalitas-kwalitas seperti puas-diri, cinta kasih, kelembutan, damai dalam diri adalah lebih berharga daripada uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seluruh dunia termasuk Asia, Kristiani telah menjadi kekuatan demi kemajuan sedangkan Buddhisme hanya berbuat sedikit sekali untuk memajukan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah Kristen yang panjang banyak yang bisa dibanggakan dan juga mungkin sekaligus memalukan. Ambilah sebagai contoh, perbudakan, suatu institusi yang buruk yang hampir seluruh gereja mendukungnya hingga abad ke-19. Setelah Paulus menjadikan seorang budak pelarian bernama Oresimus ke dalam agama Kristen, ia meyakinkannya bahwa sebagai seorang Kristen ia hendaknya kembali kepada tuannya (Filemon 1:3-20). Paulus meminta sang tuan supaya memperlakukan Oresimus dengan baik, tetapi dia tidak meminta tuannya untuk membebaskan budaknya. Alkitab mengatakan bahwa budak-budak hendaknya mematuhi tuan-tuan mereka meskipun mereka diperlakukan secara kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budak-budak, berserahlah kepada tuanmu dengan penuh rasa hormat, bukan hanya kepada yang baik dan lembut, tetapi juga kepada yang kejam. Sebab seseorang hanya akan diterima jika, sadar akan kehendak Allah, ia menjalani siksaan yang diderita secara tidak adil. Apakah yang harus dipuji, jika engkau berbuat salah dan dipukul dimana engkau terima dengan sabar? Tetapi jika ketika engkau berbuat yang benar dan menderita karenanya dan kau terima dengan sabar, engkau akan diterima oleh Tuhan” (1 Petrus 2:18-20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah menurut Alkitab seorang budak haruslah menganggap tuannya seolah-olah ia itu Tuhan dan harus menganggap lebih baik dipukul karena berbuat baik daripada berbuat buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya mengapa para pemilik budak di Afrika, Amerika dan Brasilia mendorong agar budak-budak mereka menjadi orang Kristen adalah karena supaya membuat mereka menjadi pasif dan patuh. Di Inggris kampanye untuk menghapus perbudakan dalam abad ke-18 ditentang keras oleh pihak gereja sebagaimana juga mereka menentang kampanya yang sama di Mexico, Brasilia dan Amerika Selatan. (Untuk lebih lengkapnya, silakan baca bab “Slavery” di “The Encyclopedia of Religion and Ethics”, 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan di Barat terhambat oleh tentangan dari gereja. (Baca “A History of the Warfare of Science with Theology in Christendom, 2 Vol, A.D White, 1960). Tentangan Kristen untuk membedah mayat telah menahan perkembangan  ilmu kedokteran dan anatomi selama 300 tahun. Gereja-gereja menentang pembedahan itu karena mereka percaya bahwa pembedahan akan membuat kebangkitan badan menjadi mustahil. Gereja menentang pandangan heliosentris tentang alam semesta dan bahkan mengancam akan menghukum mati Galileo karena mengatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Ketika Benjamin Franklin menciptakan tongkat penangkal petir yang mencegah kerusakan gedung akibat sambaran petir, kemarahan gereja Protestan meledak. Mereka percaya bahwa Tuhan tidak lagi akan bisa untuk menghukum orang-orang berdosa dengan menyambar mereka dengan petir. Ketika chloroform ditemukan, gereja-gereja Kristen melarang penggunaan chloroform untuk meredakan rasa-sakit waktu melahirkan. Alkitab mengajarkan dan mereka percaya bahwa kesakitan waktu melahirkan adalah hukuman Tuhan atas dosanya Hawa (Kejadian 3:16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil ketidak-toleransian terhadap orang Yahudi. Dari semua lembaran hitam sejarah Kristen, inilah lembaran sejarah Kristen yang paling memalukan dan paling hina. Selama 2000 tahun, orang-orang Kristen telah mengganggu, memburu, menghina dan membunuh orang-orang Yahudi karena orang-orang Yahudi menolak untuk percaya kepada Yesus. Dan dalam hal ini Protestan tidaklah lebih baik dari Katholik. Di tahun 1986, seorang pendeta Protestan di Amerika Serika berkata,”Tuhan tidak mendengar ketika orang Yahudi berdoa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masih bisa menceritakan lebih banyak lagi tapi cukuplah sudah. Walau bagaimanapun juga semenjak abad ke-19 harus diakui bahwa gereja-gereja Kristen telah mulai untuk mengadopsi bagian luar dari tradisi duniawi lain yang lebih bebas dan menerima sebagai miliknya. Sehingga sekarang orang-orang Kristen seringkali dibarisan depan dari gerakan-gerakan demi keadilan, demokrasi dan persamaan hak. Tapi bertentangan sedikit sekali didalam Alkitab yang dapat mereka gunakan sebagai justifikasi gerakan mereka. Sebaliknya, Alkitab secara spesifik menyatakan bahwa semua penguasa, meski tak adil, mendapatkan kekuasaan mereka dari Tuhan dan melawan mereka sama dengan melawan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan setiap orang dibawah penguasa dari pemerintahan. Karena yang bisa berkuasa kecuali diberi oleh Tuhan dan semua yang ada telah di-institusikan oleh Allah. Oleh karenanya barangsiapa yang melawan pemerintah adalah melawan apa yang telah ditentukan oleh Allah, dan siapa yang melawan akan menghadapi pengadilan.” (Roma 13:1-2 lihat juga Yohanes 19:11, Titus 3:1, Petrus 2:13, Amsal 8:15-16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja-raja yang berkuasa dan kejam, kardinal-kardinal, uskup-uskup mengutip tulisan-tulisan seperti ini selama berabad-abad demi membenarkan kekuasaan mereka. Para ahli agama yang bebas dan aktivis sosial dari golongan Kristen tak mengeluarkan suara apapun tentang tulisan-tulisan tersebut. Filosofi sosial orang Kristen bukan berasal dari Alkitab, melainkan berasal dari tradisi diluar agama dari duniawi Barat yang telah ditentang oleh gereja-gereja selama 400 tahun. Sekarang mereka mencoba untuk berpura-pura bahwa nilai-nilai ini berasal dari Yesus. (Lihatlah “What the Bible Really Says, ed. M.Smith and R.S. Hoffman, 1989).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddhisme selalu kurang aggressive dan ter-organisir seperti Kristen. Ini berarti bahwa pengaruhnya terhadap masyarakat adalah halus, kurang terlihat, dan bahkan tidak sedinamis dari apa yang seharusnya. Sebaliknya ini juga berarti bahwa memburu-penyihir terhadap yang menyelweng dan hukuman terhadap yang tidak percaya, dan perang-perang agama berdarah yang telah mencoreng sejarah Kristen, sangat jarang atau tidak pernah ada di dalam Buddhisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Jauh didalam, umat Buddha sebenarnya mencari Tuhan&lt;br /&gt;(2) Buddhisme hanyalah ekspresi yang berbeda akan pengertian manusia mengenai Tuhan&lt;br /&gt;(3) Umat Buddhis sebenarnya adalah orang Kristen di luar gereja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini orang sering mendengar orang-orang Kristen yang lebih liberal membuat pernyataan-pernyataan seperti ini. Sedihnya, pernyataan-pernyataan semacam itu tidak ada artinya sama sekali. Orang bisa saja memutarbalikkan pernyataan-pernyataan itu dan berkata “Jauh di dalam, orang-orang Kristen mencari Nirvana”, “Tuhan Kristen hanyalah personifikasi dari Nirvana” atau “Kristen adalah Buddhis diluar kalangan Sangha”. Meski pernyataan-pernyataan semacam itu sering diterima dengan hangat oleh kaum Buddhis sebagai petunjuk bahwa orang Kristen liberal lebih toleran daripada saudara-saudara mereka yang fundamentalis, Ini sebenarnya tidaklah demikian. Pernyataan-pernyataan ini hanyalah menunjukkan bahwa orang-orang Kristen ingin menyatakan keunggulan agama mereka. Mereka juga menunjukkan bahwa yang seharusnya menjadi toleransi dari Kristen liberal adalah tergantung dari mempercayai bahwa Buddhisme itu adalah bentuk lain dari agama Kristen. Singkatnya, Ini didasari oleh suatu kepercayaan yang ngawur. Kristen liberal hanya akan sungguh-sungguh toleran waktu mereka dapat mengakui bahwa Buddhisme berbeda dari Kristiani, sangat berbeda, dan toleran terhadapanya walau adanya perbedaan-perbedaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddhisme mungkin adalah suatu falsafah yang agung, tapi jika kau perhatikan negara-negara Buddhis terlihatlah betapa sedikit orang yang menjalankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin! Tapi bukankah ini sama persis dengan negara-negara Kristen? Apa yang dapat dikatakan oleh orang Kristen yang jujur bahwa semua orang Kristen secara penuh, tulus dan dengan pengertian yang mendalam mengikuti ajaran Yesus? Janganlah kita tidak menilai suatu agama dengan menunjukkan anggotanya yang tak mempraktekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika apa yang telah ditulis sejauh ini telah merangsang para pembaca untuk mengetahui lebih banyak tentang Kristiani dan Buddhisme, kita akan secara singkat menganjurkan Anda untuk selanjutnya membaca beberapa buku lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku yang terkenal dan mudah untuk dibaca yang membuka pikiran-pikiran keliru Kristen terhadap Yesus adalah “Evidence” oleh Ian Wilson, 1984. Wilson meneliti  sejarah Alkitab dan menunjukkan bagaimana para ahli telah membuktikan tanpa ragu bahwa ini adalah kumpulan yang berantakan yang disusun selama dalam beberapa abad. Dia juga menunjukkan bagaimana seseorang yang bernama Yesus lambat laun menjadi dianggap sebagai Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku lain adalah “Rescuing the Bible from Fundamentalists” oleh John Spong, 1991. Spong adalah seorang uskup Kristen dan ahli agama yang secara terbuka mengakui bahwa hampir seluruh isi Alkitab adalah jika bukan sesuatu yang sifatnya khayalan  pasti sesuatu yang ngawu, dan dia menunjukkan segudang bukti-bukti mengenai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin studi yang paling ilmiah dan sempurna yang terbit baru baru ini adalah “Is Christianity True  (Apakah Kristiani benar)?” oleh Michael Arnheim, 1984. Studi yang menonjol ini menguji setiap doktrin Kristen dan membeberkan satu per satu dari mereka dengan sorotan yang dingin dari sinar analisa, dan tidak satupun dari ajaran itu yang lolos tanpa salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak buku-buku yang baik sekali yang membahas ajaran-ajaran Sang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pengenalan yang baik adalah “The Life fo the Buddha” oleh H. Saddhatissa, 1988. Buku ini mencakup riwayat Sang Buddha yang ditulis dengan baik sekali dan tulisan-tulisan yang jelas tentang konsep-konsep Buddhisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What the Buddha Taught” oleh W.Rahula, 1985 dan “The Buddha’s Ancient Path” oleh Piyadassi Thera, 1979 juga buku-buku pengenalan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A Buddhist Critique of the Christian Concept of God” oleh G.Dharmasiri, 1988, adalah buku yang sangat baik tapi berupa pengamatan yang sangat tehnis akan konsep Protestan tentang Tuhan dari sudut pandang Buddhis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang paling menarik adalah “Two Masters One Message” oleh Roy Amore, 1978. Di dalam studi ini, sang pengarang menunjukkan bahwa kebanyakan yang diajarkan oleh Yesus pasti berasal dari Buddhisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen fundamentalis memperlihatkan suatu ancaman nyata terhadap Buddhisme, dan sementara kita tidak pernah bisa berharap untuk menandingi agresi ataupun kemampuan berorganisasi mereka, kita bisa dengan mudah menangkal mereka dengan mengenal  banyak kelemahan doktrin Kristen yang besar jumlahnya dan kekuatan ajaran Buddhisme yang besar. Kalau tantangan Kristen bisa merangsang umat Buddha untuk menghargai Dhamma, dan hidup di dalam Dhamma, maka tantangan tersebut menjadi bermanfaat demi keuntungan Buddhisme.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7026672496482314804-3932880603953438706?l=dharmoghandul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/3932880603953438706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7026672496482314804&amp;postID=3932880603953438706' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/3932880603953438706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/3932880603953438706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/beyond-belief.html' title='BEYOND BELIEF'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-1669467411322816451</id><published>2007-07-16T23:33:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T23:35:23.861-07:00</updated><title type='text'>MENGENAL SE MIEN FO</title><content type='html'>( Four Face Buddha / Phra Phom )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;I.       Mengenal   ”” Se Mien Fo / Phra Phom ””&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam catatan sutra Buddha alam Pathana Jhana Bhumi terdapat 3 alam yaitu alam Brahma Parisajja, Brahma Purohita dan alam Maha Brahma. ”” Se Mien Fo ”” yang juga kita kenal sebagai Maha Brahma Sahampati ( dalam bahasa thai dikenal sebagai ” Phra Phom Sin Nei / Pah Pong ” ) adalah penguasa dari alam Maha Brahma yang merupakan alam tertinggi dalam alam pathana jhana bhumi dan merupakan penguasa alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah para Dewa Thailand, ditulis bahwa yang pertama sekali lahir di jagad raya ini adalah Maha Brahma   ( ”Se Mien Fo” ) oleh karena itu dia dianggap sebagai sang pencipta oleh para Dewa dan manusia, dia dianggap sebagai Dewa terbesar karena menggerakkan alam semesta dan merupakan penguasa dari alam-alam yang ada seperti manusia, asura, yakhsa, para Dewa, dan alam-alam lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phra Phom ( ”Se Mien Fo” ) memiliki kesaktian yang tidak terbatas, keistimewaan dari Phra Phom ialah menawarkan pertolongan kepada orang yang dengan tulus bersujud dan berdoa kepada-Nya dari seluruh arah, dan Dia akan dengan senang hati mengabulkan permintaan mereka sehingga terlihat semua hal yang dilakukan manusia adalah adil dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phra Phom memiliki empat muka yang melambangkan empat masa penciptaan, delapan telinga yang welas kasih mendengarkan doa dari seluruh makhluk hidup, dan delapan tangan yang membawa alat-alat keagamaan yang dipercaya memiliki makna khusus yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Tasbih ( manik-manik ) = Mengontrol karma makhluk hidup dan reinkarnasi.&lt;br /&gt;2.      Tangan di depan dada = Menawarkan belas kasih dan berkah kepada seluruh makhluk hidup.&lt;br /&gt;3.      Rumah Keong = Melambangkan kekayaan dan kemakmuran.&lt;br /&gt;4.      Vas Bunga ( Teko ) = Air berkat ( keinginan dipenuhi )&lt;br /&gt;5.      Buku ( Kitab Veda ) = Ilmu pengetahuan dan kebijkasanaan&lt;br /&gt;6.      Tongkat ( Tombak ) = Melambangkan daya kehendak dan kesuksesan .&lt;br /&gt;7.      Cinta Mani ( Bendera Kebesaran ) = Melambangkan kekuatan maha kuasa sang Buddha ( kesaktian ).&lt;br /&gt;8.      Roda Terbang ( Cakram ) = Untuk menangkal bahaya bencana dan celaka, menangkal setan dan juga menghilangkan semua kemuraman dan kekuatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena kewelas asihan dan kesaktian Phra Phom yang sangat besar hingga para Dewa dan alam semesta ini tunduk pada Phra Phom. Sebab itu kita yang telah menerima ajaran welas kasih Phra Phom juga dapat ikut menyelamatkan makhluk hidup lain yang ada di segala alam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan dari Phra Phom memberikan bantuan atas kewajiban yang penting, menyelamati nyawa-nyawa dalam bahaya, keuntungan dalam usaha, jodoh dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa jika seseorang ingin supaya keinginannya dipenuhi, maka dia harus mendapatkan seorang penari striptease ( tarian tanpa busana ) wanita untuk mengadakan pertunjukkan di hadapan Dewa Maha Brahma sebagai persembahan. Hal ini bukan hanya salah pengertian, tapi juga penuh dosa, memojokkan dan tidak menghargai Dewa Maha Brahma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mengembangkan ketulusan dan tidak terpaksa dalam membantu makhluk hidup lain, tidak mengharapkan imbalan, menganggap bahwa semua makhluk adalah sama, tidak memandang musuh atau kawan yang hendak ditolong. Maka tidak sampai satu tahun akan dilihat perubahannya, semua akan berjalan lancar dan tahun-tahun mendatang akan semakin baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II   Tata Cara Mengundang dan Menyembah Rupang ” Se Mien Fo ” di Rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengundang rupang ”Se Mien Fo” ke rumah untuk disembah harus memperhatikan beberapa hal. Tempat sembahyang ( Altar ) dari ”Se Mien Fo” jika tidak dapat ditaruh di ruang terbuka maka dapat ditaruh di dalam rumah, asal ada tempat yang bersih sudah boleh, hanya harus di ingat tidak boleh ditaruh di dekat toilet atau berhadapan dengan toilet serta tempat-tempat yang tidak bersih ( Sangat dianjurkan Rupang ditaruh di ruangan terbuka / diluar rumah yang letaknya didekat persimpangan jalan. )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Ulang Tahun ”Se Mien Fo” diadakan pada tanggal 9 November setiap tahunnya, dan ini merupakan hari terbesar karena merupakan hari kelahiran Phra Phom yang sangat dikeramatkan di Thailand ( bertempat di kota Bangkok, dipersimpangan jalan dekat Hotel Erawan / Sogo )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari khusus diperingati untuk berdoa dan memberikan sesajian kepada Phra Phom yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Hari uposatha ( che it, che pek, cap go, dji sha )&lt;br /&gt;2.      Hari kamis malam ( malam jumat ) dalam setiap minggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sembhayang yang terbaik untuk hari-hari biasa ialah Pagi jam 7 – 8 dan Malam jam 7 – 8.&lt;br /&gt;Jika kita hendak memohon sesuatu maka waktu yang terbaik ialah antara jam 7 sampai 8  setiap harinya, karena pada waktu-waktu itu menurut kepercayaan bahwa Phra Phom turun ke dunia, jadi sangat baik untuk berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat arah wajah Phra Phom memandang keempat penjuru mata angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        Face Depan =&gt;  memohon kesehatan, ketentraman, kerukunan, damai hidup, dijauhkan dari segala penyakit, marabahaya, panjang umur, kesembuhan untuk yang sakit dsb.&lt;br /&gt;·        Face Kiri    =&gt;  memohon jodoh yang baik untuk pribadi, pergaulan yang baik di masyarakat, wibawa dalam kepemimpinan, masalah-masalah dalam perkawinan supaya cepat selesai, masalah dengan temen baik, dsb.&lt;br /&gt;·        Face Belakang =&gt; memohon rezeki ( hokky ) baik cia chai, untuk dagang lancar, usaha berkembang, naik gaji dan pangkat, menang tender, kemakmuran, jual rumah, urusan utang-piutang, dsb.&lt;br /&gt;·        Face Kanan    =&gt;   memohon un khi yang baik, mohon kui jin, phien cai, selamat di perjalanan, ujian lulus, kebijakan, mengusir segala kesialan dan kemalangan, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berdoa kita mulai dari arah depan, lalu kiri, belakang dan yang terakhir sebelah kanan. Jadi kita berdoa dengan arah yang searah jarum jam.&lt;br /&gt;Jika kita berdoa memohon sesuatu yang khusus, maka lebih baik jika kita berjanji untuk ”tapsia” jika doa kita berhasil dikabulkan dan dimohon dengan sangat kita yang telah berjanji untuk tapsia agar menepati janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phra Phom dengan rendah hati akan mengabulkan semua permohonan dari setiap orang yang tulus berdoa kepadanya.&lt;br /&gt;Phra Phom sangat menyukai bunga mawar kuning, melati, kelapa hijau &amp; buah-buahan sebagai persembahannya.&lt;br /&gt;Phra Phom ( rupang / patung ) yang kita puja lebih baik terbuat dari emas atau warna emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note : Permohonan tidak boleh mencelakakan makhluk hidup lain, permohonan jangan aneh-aneh seperti pengen kaya tapi malas kerja, mau lulus ujian tapi malas belajar, dsb&lt;br /&gt;            Sangat dianjurkan untuk tidak memakan daging sapi.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Doa mantram suci dapat dibaca 3x, 7x, 9x, dan sangat dianjurkan sebelum kita membaca mantram suci ini badan kita dalam keadaan bersih baik lahir maupun batin, dan juga sebelum memakan makanan yang bernyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantram untuk mengundang sang Dewa Brahma :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Pah Pong ” ( dibaca 7x )&lt;br /&gt;” Om Palam Pati Lama ” ( dibaca 7x )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sam Buddhassa&lt;br /&gt;( dibaca 3x sebelum membaca doa suci / mantram / sutta )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa Suci Maha Brahma – Phra Phom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Om Karabindunatam Uppannam Brohmasaha Patinama Attikappe Su, A, Kato Pancapatunam Tisva Namo Buddhaya Vandanam.&lt;br /&gt;         Siddhi Kiccam, Siddhi Kammam, Siddhi Kariya Tadakato, Siddhi Teco Jayoniccam, Siddhi Ladho Nirantaram Sabba Kammam Pra Siddhime, Sabba Siddhi Bhawantu Me.&lt;br /&gt;Mantram Maha Brahma – Phra Phom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Maha Lapo, Maha Tero,                                                                                                             Maha Khong Kha Phan,&lt;br /&gt;         Maha Savathit, Maha Sitichai,&lt;br /&gt;         Maha Siti Chut, Maha Amalichut,&lt;br /&gt;         Om, Si, Siti Ut, Bhavantu Me,&lt;br /&gt;         Iti Piso Bhagava, Bhagavan Patik,&lt;br /&gt;         Namo Buddhaya, Buddhaya, Buddhaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha Manggala Sutta ( Sutta berkah termulia )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Eva-me sutang&lt;br /&gt;         Ekang samayang Bhagava savathiyang viharati Jetavane Anathapindikassa arame.&lt;br /&gt;         Atha kho annatara Devata abhikkhantaya rattiya abhikkan-tavanna kevalakappang Jetavanang obhasetva yena Bahagava tena’ upasankami Upasanakamitva Bhagavantang abhiyadetva ekamantang atthasi, Ekamantang thita kho sa Devata Bhagavantang gathaya ajjhabhasi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Bahu Deva manussa ca&lt;br /&gt;         Mangalani acintayung&lt;br /&gt;         Akankhamana sotthanang,&lt;br /&gt;         Bruhi mangala muttamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Asevana ca balanang&lt;br /&gt;         Panditanan ca sevana&lt;br /&gt;         Puja ca pujaniyanang,&lt;br /&gt;         Etang mangala muttamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Patirupadesavaso ca,&lt;br /&gt;         Pubbe ca katapunnata&lt;br /&gt;         Attha samma panidhi ca,                                                                                                            &lt;br /&gt;         Etang mangala muttamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Bahusaccanca sippanca&lt;br /&gt;         Vinayo ca susikkhito&lt;br /&gt;         Subhasita ca ya vaca,&lt;br /&gt;         Etang mangala muttamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Matapitu upatthanang&lt;br /&gt;         Puttadarassa sangaho&lt;br /&gt;         Anakula ca kammanta,&lt;br /&gt;         Etang mangala muttamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Danan ca dhammacariya ca&lt;br /&gt;         Natakananca sangaho&lt;br /&gt;         Anavajjani kammani,&lt;br /&gt;         Etang mangala muttamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Arati virati papa&lt;br /&gt;         Majjapana ca sannamo&lt;br /&gt;         Appamado ca dhammesu,&lt;br /&gt;         Etang mangala muttamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Garavo ca nivato ca&lt;br /&gt;         Santutthi ca katannuta&lt;br /&gt;         Kalena dhammasavanang,&lt;br /&gt;         Etang mangala muttamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Khanti ca sovacassata&lt;br /&gt;         Samanananca dassanang&lt;br /&gt;         Kalena dhammasakaccha,&lt;br /&gt;         Etang mangala muttamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Tapo ca bramacariya ca&lt;br /&gt;         Ariyasaccana dassanang&lt;br /&gt;         Nibbana sacchikiriya ca&lt;br /&gt;         Etang mangala muttamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;a href="http://www.geocities.com/sanphraphrom/"&gt;http://www.geocities.com/sanphraphrom/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;         Phutthassa lokadhammehi&lt;br /&gt;         Cittang yassa na kampati&lt;br /&gt;         Asokang virajang khemang,&lt;br /&gt;         Etang mangala muttamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Etadisani katvana&lt;br /&gt;         Sabbattha maparajita&lt;br /&gt;         Sabbattha sotthing gacchanti&lt;br /&gt;         Tang tesang mangala muttamang ti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah tulisan ini diperbuat untuk memuliakan Sang Maha Dewa Brahma / Phra Phom / Se Mien Fo / Four Face Buddha. Tolong bantu disebarluaskan email ini pada semua family, temen ( any one in this world / khususnya yg beragama Buddha. )&lt;br /&gt;Thanks.                                                                             Regards,   &lt;a href="mailto:Agan_liu7777@yahoo.com"&gt;Agan_liu7777@yahoo.com&lt;/a&gt;  /  Agan_liu@hotmail.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7026672496482314804-1669467411322816451?l=dharmoghandul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/1669467411322816451/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7026672496482314804&amp;postID=1669467411322816451' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/1669467411322816451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/1669467411322816451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/mengenal-se-mien-fo.html' title='MENGENAL SE MIEN FO'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-2948618670994398536</id><published>2007-07-16T23:31:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T23:32:43.402-07:00</updated><title type='text'>PENAMPAKAN DEWI KWAN IM</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_xOuLnnPISSw/Rpxic1tQ94I/AAAAAAAAAAU/19gudA-cMKU/s1600-h/Penampakan+Kwan+Im.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088049926614611842" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_xOuLnnPISSw/Rpxic1tQ94I/AAAAAAAAAAU/19gudA-cMKU/s320/Penampakan+Kwan+Im.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7026672496482314804-2948618670994398536?l=dharmoghandul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/2948618670994398536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7026672496482314804&amp;postID=2948618670994398536' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/2948618670994398536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/2948618670994398536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/penampakan-dewi-kwan-im.html' title='PENAMPAKAN DEWI KWAN IM'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_xOuLnnPISSw/Rpxic1tQ94I/AAAAAAAAAAU/19gudA-cMKU/s72-c/Penampakan+Kwan+Im.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-1252179402303686174</id><published>2007-07-16T23:25:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T23:31:03.099-07:00</updated><title type='text'>PERMOHONAN MAAF PENDETA THEODORES</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_xOuLnnPISSw/Rpxh91tQ93I/AAAAAAAAAAM/O0yGKFQo9oo/s1600-h/PERMOHONAN+MAAF+PENDETA+THEODORES.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088049394038667122" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_xOuLnnPISSw/Rpxh91tQ93I/AAAAAAAAAAM/O0yGKFQo9oo/s320/PERMOHONAN+MAAF+PENDETA+THEODORES.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7026672496482314804-1252179402303686174?l=dharmoghandul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/1252179402303686174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7026672496482314804&amp;postID=1252179402303686174' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/1252179402303686174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/1252179402303686174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/permohonan-maaf-pendeta-theodores.html' title='PERMOHONAN MAAF PENDETA THEODORES'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_xOuLnnPISSw/Rpxh91tQ93I/AAAAAAAAAAM/O0yGKFQo9oo/s72-c/PERMOHONAN+MAAF+PENDETA+THEODORES.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-95423100298321746</id><published>2007-07-16T23:24:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T23:25:18.243-07:00</updated><title type='text'>TEMAN DARI SUKU SAKYA</title><content type='html'>Dharmajala@yahoogroups.com&lt;br /&gt;From:  "ching ik/ djoni" &lt;chingik2003@yahoo.com&gt;  Add to Address Book  Add Mobile Alert &lt;br /&gt;Date: Sun, 16 Jul 2006 14:07:44 -0000&lt;br /&gt;Subject: [Dharmajala] Memperkenalkan teman dari suku Sakya&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Dear kalyanamitras,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkunjung ke sebuah website Buddhanet Taiwan, di dalam forum&lt;br /&gt;itu kebetulan ada seorang teman pengunjung yang ternyata adalah&lt;br /&gt;orang dari sisa2 suku Sakya, tapi sekarang tidak disebut suku Sakya&lt;br /&gt;melainkan Newari. Konon suku Sakya sudah dibabat habis oleh&lt;br /&gt;Pangeran Virudhaka 2500 tahun yang lalu. Tapi dari penuturan teman&lt;br /&gt;kita ini, dari pembantaian 70.000 suku Sakya saat itu ternyata ada&lt;br /&gt;sedikit yang sempat lolos. Keturunan suku Sakya masih dapat dijumpai&lt;br /&gt;di Nepal, dan teman kita ini adalah salah satunya.&lt;br /&gt;Di sini tidak bermaksud meninggikan status keturunan Suku Sakya,&lt;br /&gt;karena apalah arti seorang keturuan suku Sakya, toh ajaran Buddha&lt;br /&gt;justru tidak membatasi suku ras agama dll. Tapi yang perlu&lt;br /&gt;diperhatikan di sini adalah bahwa sisa2 keturunan suku Sakya tentu&lt;br /&gt;menyimpan informasi penting karena sebuah suku biasanya&lt;br /&gt;mempertahankan tradisi mereka dan khususnya ini adalah satu satunya&lt;br /&gt;suku di Nepal yang masih berpegang teguh pada tradisi Buddhisme&lt;br /&gt;India khususnya Mahayana.&lt;br /&gt;Yang menarik disini adalah penuturannya yang sangat bermanfaat&lt;br /&gt;mengenai Sutra2 Mahayana dan tradisi chanting yang tentu lebih&lt;br /&gt;terkesan mendekati original mahayana Nepal. Ini menjadi sebuah&lt;br /&gt;informasi penting untuk membandingkan tradisi Theravada yang konon&lt;br /&gt;selalu merasa yang paling original tradisi Buddhis-nya. Namun&lt;br /&gt;perbandingan ini jangan pula dianggap ada maksud ingin menganggap&lt;br /&gt;siapa yang lebih superior atau semacamnya. Semuanya sama sama&lt;br /&gt;berasal dari Buddha Sakyamuni. Ini sudah lebih dari cukup. Ok? ƒº&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kutipan pengenalan dirinya dari sebuah forum dan dialognya&lt;br /&gt;dengan beberapa teman: (ini adalah forum berbahasa mandarin dan&lt;br /&gt;beliau masuk dengan menggunakan bahasa inggris). Saya hanya akan&lt;br /&gt;mengutip penuturan yang inggris, dan mandarin akan terjemahkan dan&lt;br /&gt;ada pula yang saya hilangkan karena ada beberapa tanggapan yang&lt;br /&gt;tidak begitu penting):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hello Dharma friends,&lt;br /&gt;I am Shakya, Studying Buddhism in United States. I have been&lt;br /&gt;studying Buddhism for a while. I like Buddhism because it teaches us&lt;br /&gt;a scientific approach to tackle daily practices, which are valid and&lt;br /&gt;successful for decades. Here I have joined this group to discuss&lt;br /&gt;some of this issues and happy to share what I know on Buddhism and&lt;br /&gt;want to know more from our dharma friends. Hope we will be&lt;br /&gt;communicating each other successfully.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May we Generate Wisdom and Compassion in our Mind!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All the Best&lt;br /&gt;Shakya, USA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;Tony wrote:&lt;br /&gt;Hi Shakya,&lt;br /&gt;Christine claimed that you are a descendent of Buddha Shakyamuni's&lt;br /&gt;family. I'm really surprised. To my limited knowledge, all family&lt;br /&gt;members of Buddha Shakyamuni were killed during the war. Those who&lt;br /&gt;survived were monks and nuns. Can you tell us what you know about&lt;br /&gt;your lineage's history? Thanks,&lt;br /&gt;Tony&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;Hi Tony,&lt;br /&gt;Acually we still believe that we are descendent of Buddha&lt;br /&gt;Shakyamuni's family in Nepal. During all Buddha Shakyamuni period&lt;br /&gt;there are thousands of Sakyas But Virudhaka (The king) killed nearly&lt;br /&gt;70000 Sakyas. Lots of Sakyas escaped. We may be one of them who&lt;br /&gt;escaped from that massacre. Other one story related to our lineage,&lt;br /&gt;It is about the Buddha, making of rules to wear a shoes for monks.&lt;br /&gt;Because after Ananda the disciple of Buddha, eventually he is also&lt;br /&gt;from sakya family. He went to the kathmandu valley to meet his&lt;br /&gt;relatives. After come back from kathmandu his legs were eaten by&lt;br /&gt;show. Buddha saw these things and made a rule to wear shoes if&lt;br /&gt;needed. This story tells us that some of the relatives are living in&lt;br /&gt;kathmandu valley, where we live nowadays. And similarly we had&lt;br /&gt;history of 2000 years that we are worshipping Buddha and being&lt;br /&gt;Buddhist for decades. That points I have mentioned above bring us to&lt;br /&gt;believe that we have some thing relation with Sakyamuni Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I live in CA. Actually I have been through all kinds of Buddhist&lt;br /&gt;practices. When I am teenager, I have got chance to learn theravada&lt;br /&gt;Buddhism in Nepal. I have also been to the 10 days meditation course&lt;br /&gt;of Arcarya Goenka, according to Vippasana tradition., Which is still&lt;br /&gt;practicing well in all over the world. But after some time my father&lt;br /&gt;introduced to the Tibetan Buddhism, I have been very fortunate to be&lt;br /&gt;born in Buddhist family, I have got chance to listen and got&lt;br /&gt;initiated by several Rinpoches., Who live in Nepal. My Guru or&lt;br /&gt;teachers are especially from Kagyupa and Nyigmapa tradition. But I&lt;br /&gt;am also very like the Gelukpa tradition and Specially Dalai lama's&lt;br /&gt;practice of Compassion was unmatchable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;JinHan wrote:&lt;br /&gt;Dear Shakya, Are you a Neward people ?&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;Dear Jinhan,&lt;br /&gt;Yes, I am Newar. I born in Lalitpur city. My mother language is&lt;br /&gt;Newari.&lt;br /&gt;--------------&lt;br /&gt;JinHan wrote:&lt;br /&gt;It is great! Does your family keep the tradition to chant sutras in&lt;br /&gt;Sanskrit ? It seems you are also a Vajrayana buddhist. I know neward&lt;br /&gt;people keep the tradition of indian Vajrayana in Nepal, even some&lt;br /&gt;Thervada also keep the tradition. Would you please introduce it to&lt;br /&gt;us ?&lt;br /&gt;---------------&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;Dear JinHan&lt;br /&gt;Most of the Sutras are in Sanskrit we usually read and chant.&lt;br /&gt;However, these days some sutras are also available in Newari&lt;br /&gt;language. You are right. We are Vajrayana Buddhist according our old&lt;br /&gt;tradition, but new generations are more attracted to Theravada&lt;br /&gt;tradition because they do not keep the ritual going. Vajrayana&lt;br /&gt;tradition and practices are very highly profound. Nepalese Buddhism&lt;br /&gt;is a unique Buddhism. It is a Vajrayana Buddhism. It is unique&lt;br /&gt;because It is tradition which usually practice in Nalanda, India.&lt;br /&gt;Newari Vajrayana Buddhism preserved the tradition and ritual of&lt;br /&gt;Nalanda. Most of the westerners are very much familiar with these&lt;br /&gt;things. They wrote lots of Book regarding Newari Buddhism.&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;ZhiCheng wrote:&lt;br /&gt;Dear Bro. Shakya,&lt;br /&gt;I'm a Theravadin from Malaysia.Nice to know you!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May you be well and happy.&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;Dear Dharma Friends,&lt;br /&gt;I am very pleased to get a warm welcome from all friends. I am very&lt;br /&gt;thankful to all of you. Hope I will continue to talk and post some&lt;br /&gt;knowledge what I know. I am working on a project of Digital Sanskrit&lt;br /&gt;Buddhist Sutras. If some one who are interested to my work they can&lt;br /&gt;ask any question concerning particular topic. I am very happy to&lt;br /&gt;answer. Similarly, everybody can share his or her own knowledge with&lt;br /&gt;me.&lt;br /&gt;------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JinHan wrote:&lt;br /&gt;So powerful idea you given. Many thanks to it. According to your&lt;br /&gt;speech, Newari Vajrayana Buddhism preserved the tradition and ritual&lt;br /&gt;of Nalanda. It is so exciting message to me. Would you please&lt;br /&gt;introduce books concerning this issue or idea ? Because I am&lt;br /&gt;searching stuffs about "Lost" indian Buddhism such as chanting&lt;br /&gt;progress. Also do you know any tapes or CDs about Newary chanting in&lt;br /&gt;Sanskrit? Actually, there is very few message about Newari Buddhism&lt;br /&gt;in Taiwan. My teacher, a professor in Canada, has mentioned about&lt;br /&gt;that, but he said he must collect the materials in Nepal.&lt;br /&gt;Particularly, he said Newar people didn't teach their tradition to&lt;br /&gt;the others people as their wish.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Excuse me. By the way, do you, Newari people also preserve the&lt;br /&gt;Mahayana tradition of Nalanda ? I can find very few materials&lt;br /&gt;regarding that. I am very appreciated at your help if you can tell&lt;br /&gt;me those book about them. Thank you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Also, do your people keep chanting Saddharmapuntarikasutra ? Or do&lt;br /&gt;you hear anyone who is practicing the sutra ? Thank you for your&lt;br /&gt;help !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorry ! My job is the research on the Chinese version of&lt;br /&gt;Saddharmapuntarikasutra translated by Master Kumarajiva¡]¹§¼¯Ã¹¤°¡^.&lt;br /&gt;Very nice to know you here. For your convinience, you may write to&lt;br /&gt;me via E-mail. Here may I ask a query: what are the 9 dharmas in&lt;br /&gt;Nepal ? I would like to know who the first one giving the topic or&lt;br /&gt;organising them ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Previously I memtioned about the chanting tape or CDs in Sanskrit.&lt;br /&gt;The first one is the Saddharmapuntrikasutra because I hope to hear&lt;br /&gt;the voice in Sanskrit so that I can follow. I wish the dream which&lt;br /&gt;can come true. If you know where can buy them, I will come to buy&lt;br /&gt;them.&lt;br /&gt;---------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;Dear Jinhan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glad to know about your interest on Newar Buddhism.&lt;br /&gt;Nine Dharmas in Nepal is the 9 Sutras. They are very popular&lt;br /&gt;indeed.They are as follows.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Prajnaparamita Sutra&lt;br /&gt;2. Lalitavistara Sutra&lt;br /&gt;3. Saddarmapundrika Sutra&lt;br /&gt;4. Tathagatha Guhyaka sutra&lt;br /&gt;5. Suvarna Prabhasa Sutra&lt;br /&gt;6. Gandhavyuha sutra&lt;br /&gt;7. Lankavatara Sutra&lt;br /&gt;8. Dasa Bhumi Sutra&lt;br /&gt;9. Samadhi raja Sutra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;About the book concerning Newar Buddhism and ritual/ pracities, I&lt;br /&gt;have one book to recommend, It was written by By David N. Gellner,&lt;br /&gt;Book title is&lt;br /&gt;Monk, Householder, and Tantric Priest: Newar Buddhism and its&lt;br /&gt;Hierarchy of Ritual&lt;br /&gt;Concerning the Chanting Sutra, There are some Cd or cassettes of&lt;br /&gt;Reciting Namasangati text. and some of Buddhist hymes. But I didn't&lt;br /&gt;know about the sutras reciting tape or Cd which I have metioned&lt;br /&gt;above. I would be glad to answer more question concerning Newar&lt;br /&gt;Buddhism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------&lt;br /&gt;JinHan wrote:&lt;br /&gt;Very thanks for your answer. Kindly please explan why the 9 dharmas&lt;br /&gt;is so popular in Nepal? I mean is it organised by any master in&lt;br /&gt;Nepal ? By the way, it seems that the 9 dharmas has the Sanskrit&lt;br /&gt;version, where I can buy them ? Thank you.&lt;br /&gt;-------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;Nine dharma are very important in Nepal. These are like a 9 precious&lt;br /&gt;jewel for us. Most of the people must have one of sutra in each&lt;br /&gt;home. That¡¦s makes these Sutras very precious indeed. It was not&lt;br /&gt;organized by any master as far as I know. These nines sutras are&lt;br /&gt;very much carrying all the Buddhist teachings. For wisdom,&lt;br /&gt;Prajnaparamita Sutra, compassion stories or Jataka in&lt;br /&gt;Suvarnaprabhasa Sutra. Dasabhumi. Ten stage of Enlightenment.&lt;br /&gt;Similarly Gandavyuha Sutra concerning Sudhana stories. Tathagata&lt;br /&gt;Guhyaka Sutra concerning Buddhist tratric methods. This way These 9&lt;br /&gt;Sutras guide us to lead through the spiritual journey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;About the availability of Sanskrit version of this sutra, basically&lt;br /&gt;these all sutra are originally in Sanskrit language which we can&lt;br /&gt;found in Nepal. There are various versions of printing text&lt;br /&gt;available in market.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JinHan wrote: (mandarin)&lt;br /&gt;Sejauh yang saya ketahui, Suku Newar mungkin adalah satu-satunya&lt;br /&gt;suku yang masih mempertahankan tradisi Buddhisme India. Mereka&lt;br /&gt;merupakan keturunan dari Buddha Sakyamuni (suku Sakya), dan masih&lt;br /&gt;mempertahankan kitab suci Buddhis berbahasa Sankrit dan tata cara&lt;br /&gt;kebaktian bahasa Sanskrit, dan khususnya tradisi Vajrayana. Mereka&lt;br /&gt;menetap di Nepal. Kita masih dapat berjumpa dengan mereka di&lt;br /&gt;Kathmandu. Namun berhubung mereka tidak ingin sembarangan&lt;br /&gt;mengajarkan ajaran mereka kepada orang luar, maka pemahaman orang&lt;br /&gt;luar terhadap mereka masih bersifat misterius. Mengenai ajaran 9&lt;br /&gt;dharma di Nepal, yakni 9 kitab suci, melalui penjelasan dari saudara&lt;br /&gt;Shakya, maka telah jelas ini merupakan tradisi yang dimiliki agama&lt;br /&gt;Buddha Newari di Nepal, termasuk semua jenis kitab suci mahayana.&lt;br /&gt;Sesungguhnya, Tradisi Buddhisme Tibet yang ada sekarang itu sebagian&lt;br /&gt;besar adalah berasal dari suku Newar, termasuk seni Tanka-nya. Pada&lt;br /&gt;sisi lain bahasa yang dimiliki oleh suku Newari sangat berdekatan&lt;br /&gt;dengan bahasa Tibet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JinHan wrote (inggris) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks for your precious explanation. It is very important to us.&lt;br /&gt;What you mentioned the custom about each Newari family keep one&lt;br /&gt;sutra, it remind me of a great Tibetant Buddhism yogi and&lt;br /&gt;poet,Master Milaba. His family also keep a sutra ¤jÄ_¿n&lt;br /&gt;¸g"MahaRatnakutasutra"(? sorry I cannot ensure). I think maybe his&lt;br /&gt;family follow this custom which has the relation of Newari.&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;Dear friends&lt;br /&gt;I am extremely glad to see our friends' interest on Nine Sutras or&lt;br /&gt;Dharmas. They are very highly respected sutras around the world. On&lt;br /&gt;the process of Diffusion of Buddhism from Nalanda to Tibet, most of&lt;br /&gt;the Indian Buddhist Pandits visited Nepal on the way to Tibet. They&lt;br /&gt;spent some times to practice and visit some sacred places of Nepal.&lt;br /&gt;Then they left for Tibet. Most of the renowned Buddhist master like&lt;br /&gt;Marpa, Milarepa and Acarya Atisa Dipamkara Srijnana etc. They stayed&lt;br /&gt;in Nepal and also learned and taught to the Nepalese people. This&lt;br /&gt;way these Masters lineages and practice methods were still being&lt;br /&gt;observed in Nepal. There is no doubt to say that practices methods&lt;br /&gt;of Tibetan Buddhism and Newari Buddhism have lots of common.&lt;br /&gt;However, rituals may be different due to culture differences.&lt;br /&gt;---------------&lt;br /&gt;JinHan wrote:&lt;br /&gt;Throught your explanation, I got an important idea. Is it right that&lt;br /&gt;we can say the complete Mahayana sutras consist of 9 dharmas ? Are&lt;br /&gt;they the main structure of tripitika in Nepal Buddhism or India&lt;br /&gt;Buddhism ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Can you prove that Newari people has the lineage of Nalanda&lt;br /&gt;Buddhism ? Would you please explan what the tradition of Nalanda&lt;br /&gt;Buddhism ? I mean you may has some records or books which decribe&lt;br /&gt;the tradition of Nalanda Buddhism. Really nalanda in Bihar is very&lt;br /&gt;near to Nepal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;9 dharmas consist of important sutras of Mahayana. But it is not&lt;br /&gt;complete Mahayana sutras. Mahayana sutras are innumerable. For&lt;br /&gt;Mahayanist it is respected as tripitika. But not actually it is a&lt;br /&gt;Tripitaka.&lt;br /&gt;My claiming has some logic because there are bunches of Nepalese&lt;br /&gt;Buddhist scholars who also got chance to study at Nalanda. They also&lt;br /&gt;trained well. Some of them also got initiated and learned through&lt;br /&gt;Indian Pandita. They are like Amoghvajra, Vagisvara kirti, santasri&lt;br /&gt;etc. They are renowned as well as good practitioner. We believe that&lt;br /&gt;present Vajracaryas of Nepal are still practicing same lineages,&lt;br /&gt;which is passing through the decade by these Masters. Concerning&lt;br /&gt;Nalanda Buddhism, I am talking about Vajrayana tradition which&lt;br /&gt;consists of different kinds of tantric ritual and initiation of&lt;br /&gt;different tantric deity etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Similarly Buddhism in Nepal is greatly influence by the Theravada&lt;br /&gt;tradition of Srilanka, Burma and Thailand. Most of the Nepalese&lt;br /&gt;people who are trained in this countries and after they come back to&lt;br /&gt;serve and propagate true teaching of the Buddha all over the world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nepal is the land of The Buddha Sakyamuni, It is also a place of&lt;br /&gt;various sacred places like guru Padmasambhava asura cave where he&lt;br /&gt;practices. and Milarepa cave and Svayambhu Stupa and Boudha Stupa&lt;br /&gt;which are a world reknowned Stupa. If friends have any questions&lt;br /&gt;regards these subject Please fill free to ask.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;ZhiCheng wrote:&lt;br /&gt;How about the bhikkhuni lineage in Nepal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;In Newar Buddhism, there are no a monks and nuns like others. But we&lt;br /&gt;called household monks. They look like layman. But they practice as&lt;br /&gt;monks and also have given a status of monk. To be called household&lt;br /&gt;monks we have to practice and also have to become monk for four days&lt;br /&gt;and after disrobe, they have to promise to practice according to&lt;br /&gt;bodhisattva vows and spent whole life to practice bodhisattva way of&lt;br /&gt;life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Similarly present situation of Theravadin tradition in Nepal, we&lt;br /&gt;have no Bhikkhuni lineage. Some of Anagarikas became Bhikkhunis&lt;br /&gt;according to the Chinese Bhikkhuni tradition. But in fact right now&lt;br /&gt;there is no lineage of Theravadin Bhikkhuni in Nepal. But in past&lt;br /&gt;there are some inscriptions in Kathmandu valley showing the presence&lt;br /&gt;of Bhikkuni tradition according to Mahasagika sect. Which proved&lt;br /&gt;that Nepal have a Buddhist monks and nuns who are from the&lt;br /&gt;Mahasagika sect (one of the 18 sects of early Buddhism). After&lt;br /&gt;decades, this tradition also disappeared.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;JinHan wrote:&lt;br /&gt;Do you know any temple belong to Mahasamgika Sect. in Nepal right&lt;br /&gt;now? If possible, please tell us.&lt;br /&gt;Or any other temple or monastery belonged other Buddhism Sect. in&lt;br /&gt;traditional Indian Buddhism ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;Thanks for raising interesting question. Right now there is no&lt;br /&gt;Mahasamgika Sect temple. But if I am not mistaken, there is a place&lt;br /&gt;called Hadi gaon (Village) where found one inscription on which&lt;br /&gt;mention about the Mahasamgika Bhikkhus and Bhikkhunis and&lt;br /&gt;contemporary King patronized their Viharas But inscription indicates&lt;br /&gt;that there must be one Vihara of Mahasamgika sect. But present&lt;br /&gt;situation vihara was disappeared.&lt;br /&gt;Secondly, Gu vihara is the most old Vihara of Nepal. I am sure that&lt;br /&gt;the form of practices in this vihara is most likely to the&lt;br /&gt;traditional Indian Buddhism or we can say Nalanda tradition. But&lt;br /&gt;fortunately this Vihara is still survived but the lost its&lt;br /&gt;originality after long period of time. Local name of this temple is&lt;br /&gt;Saako Vajrayogini temple, when I have visited this place. I saw lot&lt;br /&gt;of cave for meditations. It is located in the Hills. One interesting&lt;br /&gt;thing for its popularity is that from this temple there is a way to&lt;br /&gt;go Tibet. Historian believed that this temple must be used for the&lt;br /&gt;shelter for the Buddhist traveler from India to Tibet. At that&lt;br /&gt;particular time this vihara is very famous destination for the&lt;br /&gt;Buddhist practitioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;JinHan:&lt;br /&gt;Surprisingly I felt what you said ! Thank you for the precious&lt;br /&gt;information. Actually I am very interested in the history of Indian&lt;br /&gt;Buddhism. Since 2000 I came to visited some Buddhism temple in&lt;br /&gt;China, it led my thinking that some records noted in book became&lt;br /&gt;concrete and live. So I love to do fieldwork and investigation on&lt;br /&gt;the history of Buddhism such as India, China or anywhere in Asia. So&lt;br /&gt;far it has been obvious that the history of Nepal Buddhism is&lt;br /&gt;ignored and out of the exploring range of Buddhism history. Someday&lt;br /&gt;I would like to visit the temples in Nepal to search those lost&lt;br /&gt;Buddhism sections and temples which recorded in history.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yet my professor said he has the experince to live with a Nawari&lt;br /&gt;family. He told that Newari didn't like to teach Buddhism to other&lt;br /&gt;who is out of their family people. It seems to become an obstacle to&lt;br /&gt;research Newari Buddhism which I called the survived Indian Buddhism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to your description , the Gu temple seems the oldest&lt;br /&gt;temple in Nepal. I am curious:what kind of the practise form in that&lt;br /&gt;temple ? Why did you recognise that their form looks like that of&lt;br /&gt;traditional Indian Buddhism or Nalanda Buddhism ? Please tell us&lt;br /&gt;about the form of their practise. Thank you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In my opinion, the practices in Gu Vihara must be vajrayana&lt;br /&gt;tradition with tantric practices. But this vihara is also a hut for&lt;br /&gt;different Buddhist traveller. This temple must have been a junction&lt;br /&gt;of all Buddhist Sects. Presently, in the temple there we can see a&lt;br /&gt;deity of Vajrayogini. This sybolized that Vajrayana must have taken&lt;br /&gt;major role in this Vihara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P wrote: (mandarin)&lt;br /&gt;Mohon tanya, si Suku Sakya di forum ini apakah pernah berkunjung ke&lt;br /&gt;Taipei untuk belajar mandarin? Waktunya kira2 di tahun 1994, ada&lt;br /&gt;hubungan dengan beliau yang mengikuti meditasi vipassana dari&lt;br /&gt;Goenka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;I did not learn Chinese in Taiwan. I learned Chinese at&lt;br /&gt;International Language College in Nepal. However, I have been to&lt;br /&gt;Taiwan. I practiced Chinese language when I went there.&lt;br /&gt;About the Vippasana tradition, I like the Goenka's teaching method&lt;br /&gt;of Vippasana. My father and I also took his courses in Nepal. I have&lt;br /&gt;participated ten-day meditation course around year 1996, which is&lt;br /&gt;very impressive too.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------&lt;br /&gt;JinHan:&lt;br /&gt;What do you think about the pratise form of traditional Indian&lt;br /&gt;Buddhism ? Please draw it according to Mahayana in Nepal Buddhism as&lt;br /&gt;you can see ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shakya:&lt;br /&gt;To state briefly, it deals with the following practices of Newar&lt;br /&gt;Buddhists.&lt;br /&gt;1.Taking Refuge inTriple Gems&lt;br /&gt;2. Reciting Namasangiti&lt;br /&gt;3. To recite Bhadracarya Pranidhan&lt;br /&gt;4. To offer Preta bali&lt;br /&gt;5. To Circumambulate Caitya, Buddha statues etc.&lt;br /&gt;6. To perform Gurumandala rite&lt;br /&gt;7. To meditate on tutelary deity&lt;br /&gt;8. To recite Prajnaparamita and other Mahayana sutras&lt;br /&gt;9. To recite Danagatha¡¦&lt;br /&gt;10..To perform Bodhisattva practices joyfully&lt;br /&gt;11.To study Buddhist scriptures&lt;br /&gt;12.Offering food to Triple Gems and tutelary deity before eating&lt;br /&gt;13 Offer fivefold prostration to Buddha of ten directions&lt;br /&gt;14 Sleeping in a lion¡¦s posture after meditating on Deity Yoga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But the Most influential thought regarding Indian Buddhist tradition&lt;br /&gt;is that Master Atisha who wrote Bodhisattvakarmadimargavatara also&lt;br /&gt;propounded the concept of the Adikarmika Bodhisattva practice. Since&lt;br /&gt;Atisha was contemporary with Anupamavajra and Advayavajra, both of&lt;br /&gt;them must have borrowed the ideas of lay bodhisattva practice from&lt;br /&gt;him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By analyzing these references we can conclude that Atisha's teaching&lt;br /&gt;had great influence&lt;br /&gt;on Newar Buddhist tradition too. Atisha's reformation in Buddhist&lt;br /&gt;monasticism is well known in Tibet. He tried his best to uplift&lt;br /&gt;Buddhist monasticism during his sojourn in Nepal. He composed&lt;br /&gt;Caryasamgraha Pradeepa, and Vimalratnalekha nama to enhance the&lt;br /&gt;monastic ideal of Newar Buddhism. He even strongly prohibited the&lt;br /&gt;act of taking initiation of Highest Yoga Tantra for monastics.&lt;br /&gt;Because of short duration of his stay in Nepal he could not&lt;br /&gt;influence to higher degree and strengthen. Later Anupamavajra'&lt;br /&gt;superseded Atisha's influence because of his tantric teachings.&lt;br /&gt;Similarly if we study more we can found different lineage and&lt;br /&gt;pracitices of Indian masters who visited Nepal and taught Buddhist&lt;br /&gt;teachings to the Nepalese people.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;Shakya wrote :&lt;br /&gt;Thanks for sending sweet words and wishes. I am very glad to be a&lt;br /&gt;part of this discuss group. I am learning Buddhism so my view and&lt;br /&gt;answer may not perfect as an expert. However, I try my best to&lt;br /&gt;answer correctly. Feel free to correct my mistakes. Being a Shakya&lt;br /&gt;family is nothing special but we have a good chance to practice&lt;br /&gt;Buddhism. Atmosphere and environment are perfect for learning and&lt;br /&gt;practice Buddhism. Nevertheless, main point whatsoever that person&lt;br /&gt;belong from, there is only way that is to purify your mind and&lt;br /&gt;cultivate goods or merits. That is only way to liberate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------&lt;br /&gt;Sita wrote:&lt;br /&gt;Dear Shakya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dose any Dakini's linage still exist until today in your tradition?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;In Vajrayana tradition, there is a great importance of Dakini. They&lt;br /&gt;are belongs to Sangha family. In Tibetan Buddhism and similarly&lt;br /&gt;Newar Buddhism there is a tradition of worshiping Dakini is quite&lt;br /&gt;often. There is a tradition of calling some people Dakini. Those are&lt;br /&gt;the consorts of the Vajramasters, who are highly advanced in&lt;br /&gt;practice and well qualified.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sita wrote:&lt;br /&gt;However, it seems hard to find dakini teachings regarding tsalung&lt;br /&gt;practices. Say, do you know any living dakinis teaching tsalung? Or,&lt;br /&gt;it is included in consort practice only?&lt;br /&gt;---------------&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;The Tsa Lung practice is as very sacred teachings in Tibetan&lt;br /&gt;tradition but I have no idea of its equivalent practices in Newar&lt;br /&gt;Buddhism. However, in Tibetan resources there are some books on&lt;br /&gt;Dakini teachings, which deal with such sacred teachings. They are as&lt;br /&gt;follows:&lt;br /&gt;Dakini's Warm Breath: The Feminine Principle in Tibetan Buddhism by&lt;br /&gt;JUDITH SIMMER-BROWN&lt;br /&gt;Lady of the Lotus-Born: The Life and Enlightenment of Yeshe Tsogyal&lt;br /&gt;by GYALWA CHANGCHUB&lt;br /&gt;Dakini Teachings by Padmasambhava&lt;br /&gt;Women of Wisdom by Tsultrim Allione&lt;br /&gt;Sky Dancer: The Secret Life &amp; Songs of the Lady Yeshe Tsogyel&lt;br /&gt;by Keith Dowman&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;Sita wrote:&lt;br /&gt;Thank you for the reference books. I've read some of them already.&lt;br /&gt;However, books are for reference only. As far as I know, the tsalung&lt;br /&gt;teachings are all given by male Vajramasters only, and none of the&lt;br /&gt;real dakinis give this kind of teaching &amp;amp; I wonder if there's&lt;br /&gt;differences between male &amp; female practices. Do you recommand any&lt;br /&gt;living dakini for answering questions?&lt;br /&gt;--------------&lt;br /&gt;Shakya:&lt;br /&gt;As I know, Vajramaster or Rinpoche gives Dakinis teaching to people&lt;br /&gt;but they are the real dakini teaching, as I believe. Obviously, we&lt;br /&gt;could not found any dakinis directly. However, if we practices&lt;br /&gt;seriously according to Vajrayana samaya then there is nothing&lt;br /&gt;difficult to find one.&lt;br /&gt;---------------&lt;br /&gt;Shakya wrote:&lt;br /&gt;Dear Dharma friends,&lt;br /&gt;It has been a long time I haven't post any information, Let starts&lt;br /&gt;again, I have been to Monastic retreat. It was very fruitful for me.&lt;br /&gt;I got to know about Chinese&lt;br /&gt;Buddhism Monastic life. It is very challenging through my&lt;br /&gt;experience. I admire all the chinese monks and nuns for practicing&lt;br /&gt;vinaya (rules) so well. I must criticized our Newar&lt;br /&gt;buddhist so called household monk. They have some lack in practicing&lt;br /&gt;vinaya well because of misunderstanding on the rules of vajrayana.&lt;br /&gt;They neglect a lot. One of the most essential feather of the&lt;br /&gt;Buddha teaching is vinaya so if it was neglected by monks and nuns.&lt;br /&gt;The decline always there I must say our Nepalese Buddhism should&lt;br /&gt;learn from the Chinese and Tibetan Buddhism then only we can survive&lt;br /&gt;and sustain.&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;Jinhan wrote:&lt;br /&gt;Dear Shakya,&lt;br /&gt;You may open a new issue or theme to discuss. Such as my replying to&lt;br /&gt;Chi Cheng's topic, I mentioned about the talk between Thero who came&lt;br /&gt;from Sri Lanka and me. We talked about the situation of Buddhism in&lt;br /&gt;Sri Lanka nowadays. After this talk, I learn that I must change my&lt;br /&gt;view about Southern Buddhism, which we called "Hinayana Buddhism".&lt;br /&gt;Actually, I find Sri Lanka Buddhism has a good policy about social&lt;br /&gt;welfare. Monks care the life of people. They preach dharma from door&lt;br /&gt;to door. People often come to temple just like Christan who come to&lt;br /&gt;church on Sunday. Government offers books to children for learning&lt;br /&gt;Buddhism in temples. So many good things in Sri Lanka Buddhism, I&lt;br /&gt;hope I can come to see and learn them in the future.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;Michael wrote:&lt;br /&gt;Hi Shakya, nice to find you here, I think it was Christine that&lt;br /&gt;referred me to this site. Hope all is well. I read all those posts&lt;br /&gt;and I'm really suprised that you've practiced so many different&lt;br /&gt;traditions of Buddhism. I practice Chinese and Tibetan (Nyingmaba)&lt;br /&gt;Buddhism as well under my Master residing here in So. Cal. Still&lt;br /&gt;don't remember who I am? I see you around UWest a lot, or at least&lt;br /&gt;whenever I'm there.&lt;br /&gt;---------------&lt;br /&gt;Shakya wrote: (Last posting June 29-2006)&lt;br /&gt;Dear Michael,&lt;br /&gt;Glad to know you. Thanks for your admiration; actually I am just&lt;br /&gt;learning these different Buddhist traditions. I still need to learn&lt;br /&gt;more so I am here in US. Next time when you come to college, we can&lt;br /&gt;talk more on it. Thanks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shakya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7026672496482314804-95423100298321746?l=dharmoghandul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/95423100298321746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7026672496482314804&amp;postID=95423100298321746' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/95423100298321746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/95423100298321746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/teman-dari-suku-sakya.html' title='TEMAN DARI SUKU SAKYA'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-2670156873529278993</id><published>2007-07-16T23:23:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T23:24:13.138-07:00</updated><title type='text'>RUNTUHNYA KERAJAAN HINDU JAWA DAN TIMBULNYA NEGARA-NEGARA ISLAM DI NUSANTARA</title><content type='html'>http://www.media-indonesia.com/resensi/details.asp?id=101&lt;br /&gt; : Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di&lt;br /&gt;Nusantara&lt;br /&gt;Penulis           : Prof Dr Slamet Muljana&lt;br /&gt;Penerbit          : LKiS Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan I         : Maret 2005&lt;br /&gt;Tebal             : viii + 303 hlm (indeks)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRAGEDI kehancuran Kerajaan Majapahit, yang di sertai tumbuhnya negara-negara Islam di Bumi Nusantara, menyimpan banyak sekali fakta sejarah yang sangat menarik untuk diungkap kembali. Sebagai kerajaan tertua di tanah Jawa, Majapahit bukan saja menjadi romantisme sejarah dari puncak kemajuan peradaban Hindu-Jawa, sudah menjadi bukti sejarah tentang pergulatan politik yang terjadi di tengah islamisasi pada masa peralihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keruntuhan Kerajaan Majapahit banyak mengantarkan suatu peradaban bagi orang&lt;br /&gt;China dalam proses islamisasi di Nusantara. Stigma yang kecenderungan para sejarawan dalam mengungkapkan bahwa kedatangan Islam di Indonesia lebih pada kecenderungan orang Arablah yang berjasa sebagai penyebar Islam, sehingga tidak pernah melirik, orang China pernah andil dalam membangun peradaban Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirnya Buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara&lt;br /&gt;Islam di Nusantara yang di tulis Prof Slamet Muljana pada tahun 1968 yang beredar di Indonesia pernah dilarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971, karena mengungkapkan hal-hal yang kontroversial waktu itu tentang para Wali Songo berasal dari China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pijakan yang dipakai rujukan oleh Slamet Muljana hanya membandingkan dari tiga sumber, yaitu Serat Kanda, Babad, Tanah Jawi dan naskah dari Kelenteng Sam Po Kong yang ditulis Poortman dan dikutip oleh Parlindungan.&lt;br /&gt;Residen Poortman tahun 1928 telah ditugasi pemerintah kolonial untuk menyelidiki&lt;br /&gt;apakah Raden Patah itu orang China atau bukan sebagai dasar rujukan awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan peristiwa itu ternyata menjadi sejarah politisasi bahwa China&lt;br /&gt;dikaitkan terhadap pemberontakan Partai Komunis Indonesia yang terjadi tahun&lt;br /&gt;1926/1927, ini memberikan kesempatan kepada pemerintah kolonial untuk menggeledah Kelenteng Sam Po Kong di Semarang untuk mengangkut naskah berbahasa Tionghoa yang terdapat di sana, sebagian sudah berusia 400tahun--sebanyak 3 cikar (pedati yang ditarik lembu). Arsip Poortman ini dikutip oleh Mangaraja Onggang Palindungan yang menulis buku yang kontroversial--Tuanku Rao.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahapan selanjutnya Slamet memberikan ilustrasi bahwa Bong Swi Hoo yang&lt;br /&gt;datang di Jawa tahun 1445 sama dengan Sunan Ampel. Bong Swi Hoo ini menikah&lt;br /&gt;dengan Ni Gede Manila yang merupakan anak Gan Eng Cu (mantan Kapitan China&lt;br /&gt;di Manila yang dipindahkan ke Tuban sejak tahun 1423). Dari perkawinan ini lahirnya Bonang yang kemudian dikenal sebagai Sunan Bonang. Bonang ini diasuh oleh Sunan Ampel bersama dengan Giri yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra Gan Eng Cu yang lain adalah Gan Si Cang yang menjadi Kapitan China di Semarang. Tahun 1481 Gan Si Cang memimpin pembangunan Masjid Demak dengan&lt;br /&gt;tukang-tukang kayu dari galangan kapal Semarang. Tiang penyangga masjid itu&lt;br /&gt;dibangun dengan model konstruksi tiang kapal yang terdiri dari kepingan-kepingan kayu yang tersusun rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiang itu dianggap lebih kuat menahan angin badai daripada tiang yang terbuat dari kayu yang utuh. Slamet menyimpulkan bahwa Sunan Kali Jaga yang masa mudanya bernama Raden Said itu tak lain dari Gan Si Cang.&lt;br /&gt;SedangkanSunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, menurut Slamet Muljana, adalah&lt;br /&gt;Toh A Bo, putra dari Sultan Trenggana (memerintah di Demak tahun 1521-1546).&lt;br /&gt;Sementara itu, Sunan Kudus atau Jafar Sidik tak lain dari Ja Tik Su.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak ada larangan untuk berpendapat bahwa sebagian Wali Songo itu berasal dari China atau keturunan China. Namun, kelemahan Slamet Muljana, ia hanya mendasarkan kesimpulannya pada buku yang ditulis oleh MO Parlindungan.&lt;br /&gt;Ia hanya melihat arsip Poortman dan tidak membaca sendiri naskah China tersebut. Begitu pula, Slamet sendiri tidak memeriksa sendiri naskah-naskah yang berasal dari kelenteng Sam Po Kong Semarang itu. Bagi para sejarawan di masa mendatang, dengan melakukan penelitian terhadap sumber berbahasa China baik yang ada di Nusantara maupun di daratan China, diharapkan periode ini (terutama mengenai penyebaran agama Islam di Jawa abad XV-XVI) dapat dijelaskan dengan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya pada masa ini cukup banyak sumber mengenai Laksamana Muslim Cheng&lt;br /&gt;Ho yang berlayar ke berbagai penjuru dunia awal abad XV dengan armada yang lebih besar dari pelaut Eropa. Cheng Ho sendiri mempunyai penerjemah Ma Huan yang juga beragama Islam dan menuliskan pengalaman ini dalam buku Yingyai Senglan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam buku ini dilaporkan tentang masyarakat China yang bermukim di Jawa&lt;br /&gt;yang berasal dari Kanton, Zhangzhou, dan Quanzhou. Mereka telah meninggalkan&lt;br /&gt;negeri China dan menetap di pelabuhan-pelabuhan pesisir Jawa sebelah timur.&lt;br /&gt;Di Tuban mereka merupakan sebagian besar penduduk yang waktu itu jumlahnya&lt;br /&gt;mencapai ''seribu keluarga lebih sedikit''. Di Gresik hanya ada ''pantai tanpa penghuni'' sebelum orang Kanton menetap di sana. Di Surabaya sejumlah besar penduduk juga orang China. Menurut Ma Huan, kebanyakan orang China itu telah masuk agama Islam dan menaati aturan agama (hlm 42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta sejarah mulai abad ke-15 di masa dinasti Ming (1368-1643), orang-orang&lt;br /&gt;Tionghoa dari Yunnan mulai berdatangan untuk menyebarkan agama Islam, terutama di pulau Jawa. Tak dapat disangkal bahwa Laksamana Cheng Ho alias Sam Po Kong pada tahun 1410 dan tahun 1416 dengan armada yang dipimpinnya mendarat di pantai Simongan, Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjadi utusan Kaisar Yung Lo untuk mengunjungi Raja Majapahit, ia juga bertujuan menyebarkan agama Islam. Selain Laksamana Cheng Ho, sebagian besar dari Wali Songo yang berjasa menyebarkan agama Islam di pesisir Pulau Jawa dan mendirikan kerajaan Islam pertama di Demak berasal dari etnik Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wali tersebut antara lain Sunan Bonang (Bong Ang), Sunan Kalijaga (Gan Si Cang), Sunan Ngampel (Bong Swi Hoo), Sunan Gunung Jati (Toh A Bo) konon berasal dari Champa (Kamboja/Vietnam), Manila dan Tiongkok. Demikian juga Raden Patah alias Jin Bun (Cek Ko Po), sultan pertama kerajaan Islam Demak, adalah putra Kung Ta Bu Mi (Kertabumi), raja Majapahit (Brawijaya V) yang menikah dengan putri China, anak pedagang Tionghoa bernama Ban Hong (Babah Bantong).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran agama Islam di Nusantara ada pandangan yang menyatakan bahwa Islam yang berkembang di sini berasal Hadramaut, Arab Selatan. Penyebarannya justru datang dari India dan Islam yang berkembang di kepulauan ini berasal dari China. Tetapi Menurut sebagian sejarawan Islam, bahwa Islam datang dari Gujarat, India antara lain, karena persamaan motif batu nisan Maulana Malik Ibrahim di Gresik dengan yang ada di Gujarat. Hal ini didukung pula karena faktor bahasa, istilah pinjaman dari bahasa Arab tidak murni menurut lafal aslinya, seperti terlihat dalam kata salat, zakat, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kata itu dipinjam melalui bahasa Persia atau bahasa-bahasa umat Islam di daratan Asia yang menjadikan bahasa Persi sebagai rujukan. Namun, mazhab di Asia daratan itu adalah Sunni-Hanafi bukan Sunni Syafii yang banyak dianut di Nusantara. Maka Islam itu datang dari Arabia Selatan, khususnya Yaman dan Hadramaut yang juga menganut mazhab Sunni-Syafii. Yang didukung pula dengan fakta, bahwa kawasan itu terkenal dengan aktivitas perdagangan laut internasionalnya. Sejalan dengan persoalan istilah pinjaman di atas.&lt;br /&gt;Islam di Nusantara berasal dari China--paling tidak dalam satu fase tertentu perkembangannya di Asia Tenggara patut diperhitungkan, karena terdapat kesesuaian dalam hal mazhab (Sunni-Syafii) dan faktor bahasa tadi (hlm 164).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan Islam di Nusantara, sebagian berasal dari Arabia Selatan, India, dan China. Peristiwa itu bisa terjadi bersamaan atau berurutan pada satu atau berbagai wilayah. Lagi pula perlu dibedakan antara kedatangan agama Islam, yang mulai dianut oleh penduduk setempat dan berkembang di tengah masyarakat di Nusantara, sebagian berasal dari Arabia Selatan, India, dan China terjadi bersamaan atau berurutan pada satu atau berbagai wilayah. Lagi pula perlu dibedakan antara kedatangan agama Islam, yang mulai dianut&lt;br /&gt;oleh penduduk setempat dan berkembang di tengah masyarakat. Tri Muryono,&lt;br /&gt;pekerja buku aktif di Rumah Baca LKiS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Compare  dengan in pak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Majapahit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     a.. didirikan tahun 1294 oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardana yang merupakan keturunan Ken Arok raja Singosari&lt;br /&gt;        b.. raja yang memerintah:&lt;br /&gt;          a.. Raden Wijaya 1273 - 1309&lt;br /&gt;          b.. Jayanegara 1309-1328&lt;br /&gt;          c.. Tribhuwanatunggaldewi 1328-1350&lt;br /&gt;          d.. Hayam Wuruk 1350-1389&lt;br /&gt;          e.. Wikramawardana 1389-1429&lt;br /&gt;          f.. Kertabhumi 1429-1478&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  a.. mencapai puncak kejayaannya di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk&lt;br /&gt;(1350-1389)&lt;br /&gt;  b.. kebesaran kerajaan ditunjang oleh:&lt;br /&gt;    a.. pertanian sudah teratur&lt;br /&gt;    b.. perdagangan lancar dan maju&lt;br /&gt;    c.. memiliki armada angkutan laut yang kuat&lt;br /&gt;    d.. dipimpin oleh Hayam Wuruk dengan patih Gajah Mada&lt;br /&gt;  c.. di bawah patih Gajah Mada Majapahit menaklukkan daerah lain&lt;br /&gt;  d.. ia mengucapkan Sumpah Palapa yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Ia tidak akan makan buah palapa sebelum berhasil menyatukan seluruh wilayah Nusantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  e.. Mpu Prapanca dalam bukunya Negara Kertagama menceritakan tentang zaman&lt;br /&gt;gemilang kerajaan di masa Hayam Wuruk  dan juga silsilah raja sebelumnya&lt;br /&gt;  f.. tahun 1364 Gajah Mada meninggal disusun oleh Hayam Wuruk di tahun 1389&lt;br /&gt;dan kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran&lt;br /&gt;  g.. Penyebab kemunduran:&lt;br /&gt;    a.. Majapahit kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada&lt;br /&gt;    b.. meletusnya Perang Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan&lt;br /&gt;    c.. daerah bawahan mulai melepaskan diri&lt;br /&gt;    d.. berkembangnya Islam di daerah pesisir&lt;br /&gt;    e.. serangan pasukan Kediri tahun 1478&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  h.. Peninggalan kerajaan Majapahit:&lt;br /&gt;    a.. bangunan: Candi Panataran, Sawentar, Tiga Wangi, Muara Takus&lt;br /&gt;    b.. kitab:&lt;br /&gt;      a.. Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca&lt;br /&gt;      b.. Sitosoma oleh Mpu Tantular yang memuat slogan Bhinneka Tunggal Ika&lt;br /&gt;      c.. Paraton&lt;br /&gt;      d.. Kidung Sundayana dan Sorandaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R Wijaya Mendapat Wangsit Mendirikan Kerajaan Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pohon beringin di pintu masuk Pendopo Agung di Trowulan, Mojokerto.&lt;br /&gt;Dua pohon beringin itu ditanam pada 22 Desemebr 1973 oleh Pangdam Widjojo&lt;br /&gt;Soejono dan Gubernur Moehammad Noer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakang bangunan Pendopo Agung yang memampang foto para Pangdam Brawijaya, terdapat bangunan mungil yang dikelilingi kuburan umum.&lt;br /&gt;Bangunan bernama Petilasan Panggung itu diyakini Petilasan Raden Wijaya dan&lt;br /&gt;Tempat Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu memasuki bangunan Petilasan Panggung, yang memiliki pendopo mini&lt;br /&gt;sebagai latarnya, tampak beberapa bebatuan yang dibentuk layaknya kuburan,&lt;br /&gt;dinding di sekitar " kuburan " itu diselimuti kelambu putih transparan yang&lt;br /&gt;mampu menambah kesakralan tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sajadu ( 53 ) penjaga Petilasan Panggung, disinilah dulu Raden Wijaya bertapa sampai akhirnya mendapat wangsit mendirikan kerajaan Majapahit. Selain itu, ditempat ini pula Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa. " Tempat ini dikeramatkan karena dianggap sebagai Asnya Kerajaan Majapahit " katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu tertentu khususnya bertepatan dengan malam jumat legi, banyak orang datang untuk berdoa dan mengharapkan berkah. " orang berdatangan untuk berdoa, agar tujuannya tercapai " kata Sajadu yang menyatakan pekerjaan menjaga Petilasan Panggung sudah dilakukan turun-temurun sejak leluhurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari menghisap rokok kreteknya, pria yang mewarisi sebagai penjaga petilasan dari ayahnya sejak 1985 juga menceritakan, dulunya tempat itu hanya berupa tumpukkan bebatuan. Sampai sekarang, batu tersebut masih ada di dalam, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada 1964, dilakukan pemugaran pertama kali oleh Ibu Sudarijah atau&lt;br /&gt;yang dikenal dengan Ibu Dar Moeriar dari Surabaya. Baru pada tahun 1995 dilakukan pemugaran kembali oleh Pangdam Brawijaya yang saat itu dijabat oleh Utomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki kawasan Petilasan Panggung, terpampang gambar Gajah Mada tepat disamping pintu masuk. Sedangkan dibagian depan pintu bergantung sebuah papan kecil dengan tulisan " Lima Pedoman " yang merupakan pedoman suri teladan bagi warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selengkapnya " Ponco Waliko " itu bertuliskan " Kudutrisno Marang Sepadane Urip, Ora Pareng Ngilik Sing Dudu Semestine, Ora Pareng Sepatah Nyepatani dan Ora Pareng Eidra Hing Ubaya "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan Sajadu pula, Petilasan Panggung ini sempat dinyatakan tertutup bagi umum pada tahun 1985 hingga 1995. Baru setelah itu dibuka lagi untuk umum, sejak dinyatakan dibuka lagi, pintu depan tidak lagi tertutup dan siangpun boleh masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASA KEJAYAAN MAJAPAHIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk&lt;br /&gt;dengan patihnya Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa.&lt;br /&gt;Majapahit menaklukkan hampir seluruh Nusantara dan melebarkan sayapnya hingga ke&lt;br /&gt;seluruh Asia Tenggara. Pada masa ini daerah Malang tidak lagi menjadi pusat kekuasaan karena diduga telah pindah ke daerah Nganjuk. Menurut para ahli di Malang ditempatkan seorang penguasa yang disebut Raja pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Negara Kertagama dikisahkan Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit melakukan ziarah ke makam leluhurnya (yang berada disekitar daerah Malang), salah satunya di dekat makam Ken Arok. Ini menunjukkan bahwa walaupun bukan pusat pemerintahan namun Malang adalah kawasan yang disucikan karena merupakan tanah makam para leluhur yang dipuja sebagai Dewa. Beberapa prasasti dan arca peninggalan Majapahit dikawasan puncak Gunung Semeru  dan juga di Gunung Arjuna menunjukkan bahwa kawasan Gunung tersebut adalah tempat bersemayam para Dewa dan hanya keturunan Raja yang boleh menginjakkan kaki di wilayah tersebut. Bisa disimpulkan bahwa berbagai peninggalan tersebut merupakan rangkaian yang saling berhubungan walaupun terpisah&lt;br /&gt;Oleh masa yang berbeda sepanjang 7 abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keruntuhan Majapahit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah kisah, Adipati Terung meminta Sultan Bintara alias Raden Patah yang masih "kapernah" kakaknya, untuk menghadap Prabu Brawijaya. Tapi Sultan Demak itu tidak mau karena ayahnya dianggap masih kafir.Brawijaya adalah raja Majapahit, kerajaan Hindu yang pernah jaya ditanah Jawa. Bahkan kemudian Raden Patah lalu mengumpulkan para bupati pesisir seperti Tuban, Madura dan Surabaya serta para Sunan untuk bersama-sama menyerbu Majapahit yang kafir itu. Prajurit Islam dikerahkan mengepung ibu kota kerajaan, karena segan berperang dengan puteranya sendiri, Prabu Brawijaya meloloskan diri dari istana bersama pengikut yang masih setia. Sehingga ketika Raden Patah dan rombongannya (termasuk para Sunan) tiba, istana  itu kosong. Atas nasihat Sunan Ampel, untuk menawarkan segala pengaruh raja kafir, diangkatlah Sunan Gresik jadi raja Majapahit selama 40 hari.&lt;br /&gt;Sesudah itu baru diserahkan kepada Sultan Bintara untuk diboyong ke Demak.&lt;br /&gt;Cerita ini masih dibumbui lagi, yaitu setelah Majapahit jatuh, Adipati Terung ditugasi mengusung paseban raja Majapahit ke Demak untuk kemudian dijadikan serambi masjid. Adipati Bintara itu kemudian bergelar "Senapati Jinbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidina Panatagama".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita mengenai serbuan tentara Majapahit itu dapat ditemui dalam "BABAD TANAH JAWI". Tapi cerita senada juga terdapat dalam "Serat Kanda".&lt;br /&gt;Disebutkan, Adipati Bintara bersama pengikutnya memberontak pada Prabu Brawijaya. Bala tentara Majapahit dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada, Adipati Terung dan Andayaningrat (Bupati Pengging). Karena takut kepada Syekh Lemah Abang, gurunya, Kebo Kenanga (Putra Bupati Pengging) membelot ikut musuh. Sementara itu Kebo Kanigara saudaranya tetap setia kepada Sang Prabu Brawijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentara Demak dibawah pimpinan Raden Imam diperlengkapi dengan senjata  sakti&lt;br /&gt;"Keris Makripat" pemberian Sunan Giri yang bisa mengeluarkan hama  kumbang&lt;br /&gt;dan "Badhong" anugerah Sunan Cirebon yang bisa mendatangkan angin  ribut.&lt;br /&gt;Tentara Majapahit berhasil dipukul mundur sampai keibukota, cuma rumah adipati Terung yang selamat karena ia memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena terdesak, Prabu Brawijaya mengungsi ke (Tanjung) sengguruh beserta keluarganya diiringi Patih gajah Mada. Itu terjadi tahun 1399 Saka atau 1477 Masehi. Setelah dinobatkan menjadi Sultan Demak bergelar "Panembahan Jinbun", adipati Bintara mengutus Lembu Peteng dan jaran panoleh ke sengguruh meminta sang Prabu masuk agama Islam. tapi beliau tetap menolak.&lt;br /&gt;Akhirnya Sengguruh diserbu dan Prabu Brawijaya lari kepulau Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita versi BABAD TANAH JAWI dan SERAT KANDA itulah yang selama ini populer&lt;br /&gt;dikalangan masyarakat Jawa, bahkan pernah juga diajarkan disebagian sekolah&lt;br /&gt;dasar dimasa lalu. Secara garis besar, cerita itu boleh dibilang menunjukkan&lt;br /&gt;kemenangan Islam. Padahal sebenarnya sebaliknya, bisa memberi kesan yang&lt;br /&gt;merugikan, sebab seakan-akan Islam berkembang di Jawa dengan kekerasan dan&lt;br /&gt;darah. Padahal kenyataannya tidak begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain fakta lain banyak menungkap bahwa masuknya Islam dan berkembang ditanah Jawa dengan jalan damai. Juga fakta keruntuhan Majapahit juga menunjukkan bukan disebabkan serbuan tentara Islam demak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. Slamet Muljana dalam bukunya "Pemugaran Persada Sejarah Leluhur&lt;br /&gt;Majapahit" secara panjang lebar membantah isi cerita itu berdasarkan bukti-bukti sejarah. Dikatakan Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda yang ditulis abad XVII dijaman Mataram itu tanpa konsultasi sumber sejarah yang dapat dipercaya. Sumber sejarah itu antara lain beberapa prasasti dan karya sejarah tentang Majapahit, seperti "Negara Kertagama dan Pararaton". Karena itu tidak mengherankan jika uraiannya tentang Majapahit banyak yang&lt;br /&gt;cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Prasasti Petak" dan "Trailokyapuri" menerangkan, raja Majapahit terakhir adalah Dyah Suraprahawa, runtuh akibat serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi, sesuai Pararaton. Sejak itu Majapahit telah berhenti sebagai ibu kota kerajaan. Dengan demikian tak mungkin Majapahit runtuh karena serbuan Demak. Sumber sejarah Portugis tulisan Tome Pires juga menyebutkan bahwa Kerajaan Demak sudah berdiri dijaman pemerintahan Girindrawardhana di Keling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Tuban, Gresik, Surabaya dan Madura serta beberapa kota lain dipesisir utara Jawa berada dalam wilayah kerajaan Kediri, sehingga tidak mungkin seperti diceritakan dalam Babad Jawa, Raden Patah mengumpulkan para bupati itu untuk menggempur Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggubah Babad Tanah Jawi tampaknya mencampur adukkan antara pembentukan&lt;br /&gt;kerajaan Demak pada tahun 1478 dengan runtuhnya Kediri oleh serbuan Demak&lt;br /&gt;dijaman pemerintahan Sultan Trenggano 1527. Penyerbuan Sultan Trenggano ini&lt;br /&gt;dilakukan karena Kediri mengadakan hubungan dengan Portugis di Malaka seperti yang dilaporkan Tome Pires. Demak yang memang memusuhi Portugis hingga menggempurnya ke Malaka tidak rela Kediri menjalin hubungan dengan bangsa penjajah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Kediri jatuh (Bukan Majapahit !) diserang Demak, bukan lari kepulau Bali seperti disebutkan dalam uraian Serat Kanda, melainkan ke Panarukan, Situbondo setelah dari Sengguruh, Malang. Bisa saja sebagian lari ke Bali sehingga sampai sekarang penduduk Bali berkebudayaaan Hindu, tetapi itu bukan pelarian raja terakhir Majapahit seperti disebutkan Babad itu.&lt;br /&gt;Lebih jelasnya lagi raden Patah bukanlah putra Raja Majapahit terakhir seperti&lt;br /&gt;disebutkan dalam Buku Babad dan Serat Kanda itu, demikian Dr. Slamet Muljana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan Mr. Moh. Yamin dalam bukunya "Gajah Mada" juga menyebutkan bahwa&lt;br /&gt;runtuhnya Brawijaya V raja Majapahit terakhir, akibat serangan Ranawijaya dari kerajaan Keling, jadi bukan serangan dari Demak. Uraian tentang keterlibatan Mahapatih Gajah Mada memimpin pasukan Majapahit ketika diserang Demak 1478 itu sudah bertentangan dengan sejarah.&lt;br /&gt;Soalnya Gajah Mada sudah meninggal tahun 1364 Masehi atau 1286 Saka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuturan buku "Dari Panggung Sejarah" terjemahan IP Simanjuntak yang bersumber dari tulisan H.J. Van Den Berg ternyata juga runtuhnya Majapahit bukan akibat serangan Demak atau tentara Islam. Ma Huan, penulis Tionghoa Muslim, dalam bukunya "Ying Yai Sheng Lan" menyebutkan, ketika mendatangi Majapahit tahun 1413 Masehi sudah menyebutkan masyarakat Islam yang bermukim di Majapahit berasal dari Gujarat dan Malaka. Disebutkannya, tahun 1400 Masehi saudagar Islam dari Gujarat dan Parsi sudah bermukim di pantai utara Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya adalah Maulana Malik Ibrahim yang dimakamkan di Pasarean Gapura Wetan Kab. Gresik dengan angka tahun 12 Rabi'ul Awwal 882 H atau 8 April 1419 Masehi, berarti pada jaman pemerintahan Wikramawardhana (1389-1429) yaitu Raja Majapahit IV setelah Hayam Wuruk. Batu nisan yang berpahat kaligrafi Arab itu menurut Tjokrosujono (Mantan kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Mojokerto), nisan itu asli bukan buatan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bukti bahwa sejak jaman Majapahit sudah ada pemukiman Muslim diibu kota, adalah situs Kuna Makam Troloyo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, JATIM. Makam-makam Islam disitus Troloyo Desa Sentonorejo itu beragam angka tahunnya, mulai dari tahun 1369 (abad XIV Masehi) hingga tahun 1611 (abad XVII Masehi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisan-nisan makam petilasan di Troloyo ini penuh tulisan Arab hingga mirip prasati. Lafalnya diambil dari bacaan Doa, kalimah Thayibah dan petikan ayat-ayat AlQuran dengan bentuk huruf sedikit kaku. Tampaknya pembuatnya seorang mualaf dalam Islam. Isinya pun bukan bersifat data kelahiran dan kematian tokoh yang dimakamkan, melainkan lebih banyak bersifat dakwah antara lain kutipan Surat Ar-Rahman ayat 26-27.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.J. Veth adalah sarjana Belanda yang pertama kali meneliti dan menulismakam Troloyo dalam buku JAVA II tahun 1873.L.C. Damais peneliti dari Prancis yang mengikutinya menyebutkan angka tahun pada nisan mulai abad XIV hingga XVI. Soeyono Wisnoewhardono, Staf Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Trowulan mengatakan, nisan-nisan itu membuktikan ketika kerajaan Majapahit masih berdiri, orang-orang Islam sudah bermukim secara damai disekitar ibu kota. Tampak jelas disini agama Islam masuk kebumi Majapahit penuh kedamaian dan toleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu situs kepurbakalaan lagi dikecamatan trowulan yakni diDesa dan kecamatan Trowulan adalah Makam Putri Cempa. Menurut Babad Tanah jawi, Putri&lt;br /&gt;Cempa (Jeumpa, bahasa Aceh) adalah istri Prabu Brawijaya yang beragama Islam. Dua nisan yang ditemukan dikompleks kekunaan ini berangka tahun 1370 Saka (1448 Masehi) dan 1313 Saka (1391 Masehi).&lt;br /&gt;Dalam legenda rakyat disebutkan dengan memperistri Putri Cempa itu, sang Prabu sebenarnya sudah memeluk agama Islam. Ketika wafat ia dimakamkan secara Islam dimakam panjang (Kubur Dawa). Dusun Unggah-unggahan jarak 300 meter dari makam Putri Cempa bangsawan Islam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fakta dan situs sejarah itu, tampak bukti otentik tentang betapa tidak benarnya bahwa Islam dikembangkan dengan peperangan. Justru beberapa situs kesejarahan lain membuktikan Islam sangat toleran terhadap agama lain (termasuk Hindu) saat Islam sudah berkembang pesat ditanah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikompleks Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur misalnya, berdiri tegak Candi&lt;br /&gt;Siwa Budha dengan angka tahun 1400 Saka (1478 masehi) yang kini letaknya&lt;br /&gt;berada dibelakang kantor Pemda tuban. Padahal, saat itu sudah berdiri pondok&lt;br /&gt;pesantren asuhan Sunan Bonang. Pondok pesantren dan candi yang berdekatan&lt;br /&gt;letaknya ini dilestarikan dalam sebuah maket kecil dari kayu tua yang kini&lt;br /&gt;tersimpan di Museum Kambang Putih, Tuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kudus, Jawa Tengah, ketika Sunan Kudus Ja'far Sodiq menyebarkan ajaran&lt;br /&gt;Islam disana, ia melarang umat Islam menyembelih sapi untuk dimakan. Walau&lt;br /&gt;daging sapi halal menurut Islam tetapi dilarang menyembelihnya untukmenghormati kepercayaan umat Hindu yang memuliakan sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menunjukkan rasa toleransinya kepada umat Hindu, Sunan Kudus menambatkan sapi dihalaman masjid yang tempatnya masih dilestarikan sampai sekarang. Bahkan menara Masjid Kudus dibangun dengan gaya arsitektur candi Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika kerajaan Majapahit berdiri sebagai bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Sejak didirikan Raden Wijaya yang bergelar Kertanegara Dharmawangsa, kerajaan ini senantiasa diliputi fenomena pemberontakan. Pewaris tahta Raden Wijaya, yakni masa pemerintahan Kalagemet/Jayanegara (1309-1328), yang dalam sebuah prasasti dianggap sebagai titisan Wisnu dengan Lencana negara Minadwaya (dua ekor ikan) dalam memerintah banyak menghadapi pemberontakan-pemberontakan terhadap Majapahit dari mereka yang masih setia kepada Kertarajasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberontakan pertama sebetulnya sudah dimulai sejak Kertarajasa masih hidup, yaitu oleh Rangga Lawe yang berkedudukan di Tuban, akibat tidak puas karena bukan dia yang menjadi patih Majapahit tetapi Nambi, anak Wiraraja. Tetapi usahanya (1309) dapat digagalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberontakan kedua di tahun 1311 oleh Sora, seorang rakryan di Majapahit, tapi gagal. Lalu yang ketiga dalam tahun 1316, oleh patihnya sendiri yaitu Nambi, dari daerah Lumajang dan benteng di Pajarakan. Ia pun sekeluarga ditumpas.&lt;br /&gt;Pemberontakan selanjutnya oleh Kuti di tahun 1319, dimana Ibukota Majapahit&lt;br /&gt;sempat diduduki, sang raja melarikan diri dibawah lindungan penjaga-penjaga istana yang disebut Bhayangkari sebanyak 15 orang dibawah pimpinan Gajah Mada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dengan bantuan pasukan-pasukan Majapahit yang masih setia, Gajah Mada&lt;br /&gt;dengan Bhayangkarinya menggempur Kuti, dan akhirnya Jayanegara dapat melanjutkan pemerintahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhenti pemberontakan Kuti, tahun 1331 muncul pemberontakan di Sadeng dan&lt;br /&gt;Keta (daerah Besuki). Maka patih Majapahit Pu Naga digantikan patih Daha yaitu Gajah Mada, sehingga pemberontakan dapat ditumpas. Keberhasilan Gajah Mada memadamkan pemberontakan Sadeng membawanya meraih karier diangkat sebagai mahapatih kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada masa pemerintahan Hayam Wuruk pada tahun 1350-1389, berkali-kali&lt;br /&gt;sang patih Gajah Mada --yang juga panglima ahli perang di masa itu—harus menguras energi untuk memadamkan pemberontakan di beberapa daerah.&lt;br /&gt;Pemberontakan Ronggolawe sampai serangan kerajaan Dhaha, Kediri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan salah satu penyebab kemunduran dan hancurnya kerajaan Majapahit adalah ketika meletusnya Perang Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan, daerah bawahan mulai melepaskan diri dan berkembangnya Islam di daerah pesisir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Majapahit yang pernah mengalami masa keemasan dan kejayaan harus&lt;br /&gt;runtuh terpecah-pecah setelah kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan&lt;br /&gt;Gajah Mada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.jawapalace.org/majapahit.htm&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Sunan Ampel Berdarah Cina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, CyberNews. Hasil penelitian dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan&lt;br /&gt;Ampel Surabaya, Drs H Sjamsudduha dalam penelitian sejak 1971 menyimpulkan,&lt;br /&gt;Sunan Ampel yang merupakan "guru" para wali itu keturunan Cina, karena ibunya berasal dari Campa, Cina."Ada sejarahwan yang bilang Campa itu Jeumpa di Aceh Utara, lalu saya melakukan penelitian ke Aceh, ternyata Jeumpa itu kerajaan pra Islam dan&lt;br /&gt;bukan pelabuhan yang mempunyai hubungan dagang dengan Pasai atau Jawa, karena itu Campa itu bukan Jeumpa, apalagi peneliti Aceh sendiri menyebut Campa itu di Indocina," katanya di Surabaya, Rabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengemukakan hal itu dalam bedah buku "Sunan Ampel, Guru Para Wali di&lt;br /&gt;Jawa dan Perintis Pembangunan Kota Surabaya" yang ditulisnya sejak 1971&lt;br /&gt;dalam bentuk skripsi dan akhirnya diterbitkan sebagai buku dalam rangka&lt;br /&gt;"Festival Internasional Ampel 2004" pada 27 Juni - 27 Juli 2004 dengan 19&lt;br /&gt;rangkaian kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sjamsudduha, ayah Sunan Ampel sendiri bernama Ibrahim yang berasal&lt;br /&gt;dari Arab, sedangkan nama ibunya beragam, diantaranya Retna Sujinah, Retna&lt;br /&gt;Dyah Siti Asmara, Darawati, Dewi Candrasasi atau Dewi Candrawulan, namun&lt;br /&gt;semua sumber sepakat bahwa ibu Sunan Ampel adalah seorang putri bangsawan Campa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang ditulis berdasarkan bukti tertulis seperti Babad Tanah Jawi, telaah interteks, dan telaah teori serta tesis itu, katanya, juga menumbangkan teori Prof Dr Slamet Mulyono bahwa Sunan Ampel itu merupakan "aktor intelektual" runtuhnya Kerajaan Majapahit dan lunturnya ajaran agama Hindu Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Profesor Slamet Mulyono menilai runtuhnya Majapahit itu tak lepas dari komunitas muslim Cina di bawah pimpinan Sunan Ampel yang menyerang Majapahit dengan memanfaatkan fanatisme agama, tapi hasil penelitian saya justru meragukan kesimpulan itu, karena Majapahit runtuh pada 1527 dan bukan 1478, sedangkan Sunan Ampel sendiri wafat pada 1484," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, katanya, teks-teks yang ada justru menemukan penyebab keruntuhan Kerajaan Majapahit adalah pemberontakan Raja Keling yang merupakan bawahan Kerajaan Majapahit yang terletak di sekitar Kediri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya itu, Sjamsudduha juga mengupas ajaran Sunan Ampel yang berfaham Ahlussunnah wal Jamaah dalam akidah (keimanan), bermadzhab Imam Syafi'i dalam fiqh (hukum Islam), dan mengajarkan Thariqat Naqsyabandiyah dalam tasawuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Sunan Ampel yang bernama kecil Raden Rahmat itu berjuang dengan&lt;br /&gt;cara dakwah, pendidikan kepesantrenan, pembangunan kota Surabaya, dan pendidikan kader dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masjid Ampel yang sudah mengalami renovasi berkali-kali itu merupakan pusat&lt;br /&gt;perkembangan bagi kampung-kampung di Surabaya, karena itu Sunan Ampel adalah&lt;br /&gt;peletak dasar dan perintis dari perkembangan kota Surabaya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, guru besar Universitas Negeri Malang (UNM) Prof Dr Abdul Mustopo menilai penelitian Sjamsudduha cukup penting dan karenanya harus dilanjutkan peneliti lain, karena masih banyak manuskrip tentang Sunan Ampel yang belum diungkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Misalnya, Sunan Ampel itu pernah mondok di Malaysia," katanya.( ant/Cn07 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0407/01/nas3.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7026672496482314804-2670156873529278993?l=dharmoghandul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/2670156873529278993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7026672496482314804&amp;postID=2670156873529278993' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/2670156873529278993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/2670156873529278993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/runtuhnya-kerajaan-hindu-jawa-dan.html' title='RUNTUHNYA KERAJAAN HINDU JAWA DAN TIMBULNYA NEGARA-NEGARA ISLAM DI NUSANTARA'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-3463774540880204685</id><published>2007-07-16T23:21:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T23:22:47.044-07:00</updated><title type='text'>SABDO PALON NAYA GENGGONG</title><content type='html'>To:Dharmajala@yahoogroups.com&lt;br /&gt;From:"Dhana Putra" &lt;dhanaputra@baliusada.com&gt;  &lt;a href="javascript:document.frmAddAddrs.submit()"&gt; &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Date:Fri, 24 Mar 2006 21:53:05 +0700&lt;br /&gt;Subject:[Dharmajala] Sabdo Palon Naya Genggong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabdo Palon dan Naya Genggong adalah pengikut setia raja Majapahit yang terakhir. Mereka berdua tidak bersedia pindah agama walaupun atasannya telah berganti keyakinan. Berikut ini adalah sebuah artikel yang membahas masalah tersebut.&lt;br /&gt;DP&lt;br /&gt;Sabdo Palon Naya Genggong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M. Dawan Rahardjo, Muslim Cendekiawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seminar yang diselenggarakan Univesitas Surabaya, seorang penganut aliran kepercayaan menanyakan bagaimana pandangan saya tentang ramalan Sabdo Palon Naya Genggong. Pengikut setiap raja Majapahit terakhir itu pernah mengatakan bahwa agama Hindu memang akan digantikan oleh agama Islam, yang pada waktu itu didakwahkan oleh Wali Sanga. Namun, 500 tahun kemudian, Islam akan digantikan oleh suatu agama baru, yang disebutnya “agama budi”. Agama, menurut pengertian kaum penghayat kepercayaan, adalah “ageming budi”, artinya pakaian yang melindungi seseorang itu adalah budi pekerti luhur. Dalam ajaran Islam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, hakikat pakaian setiap orang itu adalah takwa, yang merupakan puncak kecerdasan spiritual manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1979, Nurcholish Madjid (Cak Nur) tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, setelah dua pidato kebudayaannya yang pada pokoknya menganjurkan liberalisasi dan sekularisasi pemikiran Islam, denga jargonnya yang menjadi sangat terkenal, yakni “Islam Yes, Partai Islam No”. Isi ceramah itu memberikan kesan seolah-olah Cak Nur mengemukakan jargon baru, yaitu “Spiritualisme Yes, Agama No.” Istilah itu sebenarnya tidak pernah diucapkan oleh Nurcholish, tapi penyimpulan ceramah Cak Nur yang dipelintir oleh sebuah majalah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Cak Nur mengobservasi gejala ditinggalkannya agama (dalam hal ini Kristen) di Barat. Tapi dalam masyarakat Barat justru timbul banyak aliran spiritual. Nada penilaian Cak Nur sebenarnya sikap kritisnya terhadap aliran-aliran spiritual, terutama yang mengajarkan kesesatan. Dan Cak Nur sebaliknya menginginkan agar masyarakat Barat tetap berpegang pada agama. Saran ini juga ditujukan bagi umat Islam di Indonesia, tapi ceramah Cak Nur itu dipelintir oleh pengritiknya yang mengesankan Cak Nur menganjurkan umat Islam agar menggantikan agama dengan spiritualisme. Sungguhpun begitu, yang diungkapkan Cak Nur itu memang merupakan kenyataan dan gejala baru di masyarakat Barat, yang disebut oleh futurolog John Naissbit. Jadi ramalan Sabdo Palon itu sesungguhnya telah terjadi di Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan Islam yang dikaitkan dengan terorisme dan kekerasan yang muncul dari gerakan radikalisasi Islam, timbul pertanyaan yang ditujukan kepada cendekiawan Dr. Jalaluddin Rahmat. Mengapa Islam, yang disebut sebagai pembawa rahmat bagi sekalian alam, dalam realitas telah melahirkan aksi-aksi kekerasan? Kang Jalal kurang-lebih menjawan, gejala itu karena pemahaman Islam terlalu menekankan pada segi akidah, terutama pada kepercayaan yang fundamental yang bersifat mutlak. Hal ini menyebabkan lahirnya pandangan sempit dan fanatis. Dalam upaya mereka yang merasa “membela Islam” dari kesesatan akidah, apalagi dalam menghadapi apa yang dipersepsikan sebagai ancama, umat Islam memilih pendekatan kekerasan, paling tidak menyetujui atau membiarkan tindakan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, Kang Jalal mengajukan alternatif bahwa tekanan keberagamaan hendaknya diarahkan pada ajaran kemuliaan akhlak atau al-akhlak al-karimah sesuai hadis Nabi yang mengatakan: “Saya sesungguhnya diutus untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak.” Konsep Kang Jalal itu mendekati pengertian “agama iku ageming budi” (agama itu adalah pakaian yang beripa budi) yang dirumuskan oleh kaum kebatinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirjam Kunkler dari Universitas Colombia pernah mengatakan bahwa pertumbuhan gereja di Amerika Serikat sangat pesat. Wacana keagamaan tidak hanya dilakukan di gereja-gereja, tapi juga di gedung-gedung pertemuan dan hotel-hotel yang disiarkan melalui radio dan televisi ke seluruh dunia. Ia menilai bahwa masyarakat Amerika sangat religius. Tapi masyarakat Amerika dikenal sebagai masyarakat yang punya kesadaran etik yang rendah, ditandai dengan praktek bisnis yang tidak etis, politik kotor, kriminalitas yang tinggi, dan penggunaan kekerasaan secara telanjang yang diwarnai politik luar negeri yang didukung oleh agresi militer. Kesimpulannya, masyarakat Amerika itu religius tapi tidak etis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan di Eropa berkebalikan, Di sana gereja telah ditinggalkan. Bahkan banyak gereja yang dijual dan dialifungsikan. Sebagian dijadikan museum, sebagian lagi dijadikan masjid oleh kaum muslim. Sebagaimana kata Friedrich Nietsche “God is dead”, Tuhan telah mati, kehidupan beragama sudah hampir merupakan sejarah masa lampau. Masyarakat Eropa itu tidak religius, bahkan ateis atau agnostik, tapi etis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Kunkler, masyarakat Eropa sekarang usdah menjadi sebuah masyarakat etis (etische community), meminjam istilah Hegel. Teolog-filsuf Jerman, Hans Kung, kini mengembangkan apa yang disebutnya etika global (global ethics) dan mempersiapkan sebuah deklarasi mengenai etika global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang berkembang di Eropa sesungguhnya transformasi dari religi ke etika. Masyarakat memang telah meninggalkan agama, tapi tetap beretika. Bukan Tuhan yang telah mati, melainkan agamalah yang telah mati, sedangkan Tuhan masih hidup. Dengan mengikuti kata-kata Cak Nur, di Indonesia yang terjadi mungkin “God yes, religion no”. Itulah versi lain dari ramalan Sabdo Palon. Sebab, Ketuhanan yang Maha Esa, seperti yang dikatakan Bung Hatta, adalah landasan moral bangsa Indonesia, sebagaimana dimaksud dalam Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran masyarakat Eropa itu mengikuti “agama budi”, sebagaimana diramalkan Sabdo Palon. Karena itu, saya menjawab pertanyaan peserta dari aliran kepercayaan itu bahwa ramalan Sabdo Palon itu mungkin saja terjadi di Indonesia. Islam sekarang sudah makin diidentikkan dengan kekerasan, sebagaimana diungkapkan dalam kartun Nabi Muhammad oleh majalah Denmark, Jyllands-Posten. Begitulah persepsi tentang Islam di Eropa. Jika citra itu berkembang, dan “Islam itu rahmat dari sekalian alam” dinilai sebagai kebohongan terhadap public, orang akan diam-diam atau terang-terangan akan meninggalkan Islam. Komunitas Eden secara terang-terangan telah meninggalkan Islam. Tapi mereka membentuk sebuah masyarakat etis yang didasarkan pada ajaran semua agama, walaupun sumber utamanya Islam. Dalam kaitan dengan gejala itu, mungkin saja agama budi yang bersumber pada ajaran kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa, terutama yang diikuti oleh masyarakat Jawa, akan berkembang menjadi “agama ageming budi” menggantikan agama-agama besar yang mapan dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja Islam sebagai agama yang menekankan akidah (fundamentalisme Islam) dan syariat (hukum Islam) akan ditinggalkan. Dan yang diikuti hanyalah ajaran akhlak sebagaimana yang diisyaratkan oleh Kang Jalal atau termasuk ajaran muamalahnya (dengan contoh keuangan dan perbankan syariah). Dan sebagaimana yang dianjurkan oleh Nurcholish Madjid, Islam sebagai agama publik akan bangkit. Gejala ini pun sudah tampak dalam aliran “Islam progrsif” yang sejalan dengan Islam liberal yang dipelopori oleh generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide. Koran Tempo. Minggu, 19 Maret 2006, halaman 21&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7026672496482314804-3463774540880204685?l=dharmoghandul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/3463774540880204685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7026672496482314804&amp;postID=3463774540880204685' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/3463774540880204685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/3463774540880204685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/sabdo-palon-naya-genggong.html' title='SABDO PALON NAYA GENGGONG'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-6076336190149659395</id><published>2007-07-16T23:20:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T23:21:20.676-07:00</updated><title type='text'>SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA BUDDHA DI INDONESIA</title><content type='html'>Sumber: &lt;a href="http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/"&gt;http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: &lt;a href="mailto:bufe-org@yahoo.com"&gt;bufe-org@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Perkembangan Agama Buddha di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fa Shien, Pengelana China pada abad ke-5, berhasil mengunjungi Sriwijaya dalam perjalanannya ke Asia Tenggara. Dari catatannya diketahui bahwa di Sriwijaya sudah terdapat kaum Brahmawan yang mengajarkan Agama Buddha. Selanjutnya dari Sriwijaya, agama Buddha berkembang ke daerah lain, diantaranya Pulau Jawa dan pulau pulau sekitarnya.&lt;br /&gt;Memasuki masa penjajahan selama 350 tahun seakan Agama Buddha menghilang dari bumi nusantara. Sisa-sisa penduduk Majapahit yang beragama Buddha banyak yang tinggal di Bali dan daerah Jawa Timur dan menjalankan tradisi Buddhis yang masih bertahan sampai sekarang. Perkembangan Agama Buddha pada masa penjajahan ini diwarnai dengan corak Agama Buddha dari China. Tridharma : Buddha, Kong Hu Cu dan Tao. Kebangkitan Agama Buddha baru terasa nyata sejak didirikannya 'Java Buddhist Association' oleh Pandita Belanda Josiast V. Dients tahun 1932, dan kedatangan Bhikkhu Narada pada tahun 1934.&lt;br /&gt;Sejarah Agama Buddha secara garis besar terbagi dalam enam masa :&lt;br /&gt;·  &lt;a href="http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/sejarah/kerajaan.htm"&gt;Masa Jaman Kerajaan Sriwijaya&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;·  &lt;a href="http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/sejarah/jawatengah.htm"&gt;Masa Jaman Kerajaan di Jawa Tengah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;·  &lt;a href="http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/sejarah/jawatimur.htm"&gt;Masa Jaman Kerajaan di Jawa Timur&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;·  &lt;a href="http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/sejarah/abad20.htm"&gt;Masa Abad ke-20&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;·  &lt;a href="http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/sejarah/kemerdekaan.htm"&gt;Masa Setelah kemerdekaan Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;·  &lt;a href="http://www.geocities.com/Athens/Aegean/3666/feature/sejarah/erawalubi.htm"&gt;Era Walubi &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masa Jaman Kerajaan Sriwijaya&lt;br /&gt;Banyak orang menduga bahwa awal masuknya agama Buddha ke Indonesia adalah pada kedatangan Aji Saka ke tanah Jawa pada awal abad kesatu. Dugaan ini berawal dari etimologis terhadap Aji Saka itu sendiri, serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Kata 'Aji' dalam bahasa Kawi bisa berarti ilmu yang ada hubungannya dengan kitab suci, sedangkan 'Saka' ditafsirkan sebagai kata Sakya yang mengalami transformasi. Dengan demikian mungkin kata Aji Saka ditafsirkan sebagai gelar raja Tritustha yang ahli mengenai kitab suci Sakya, dalam hal ini ahli tentang Buddha Dhamma, selain dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap pembuatan aksara Jawa. Bila hal ini benar, tarikh Saka yang permulaanya dinyatakan sebagai 'Nir Wuk Tanpa Jalu' (Nir berarti kosong (0), Wuk berarti tidak jadi (0), Tanpa berarti 0 dan Jalu sama dengan 1) yang sekaligus dimaksudkan untuk mengabadikan pendaratan pertama beliau di Jepara.&lt;br /&gt;Sumber pengetahuan kita tentang Agama Buddha diambil dari prasasti yang ditemukan dan dari berita-berita luar negri, yaitu dari orang China yang mengunjungi Indonesia. Prasasti yang berasal dari abad kelima hingga ketujuh tidak terlalu banyak memberikan informasi. Prasasti itu berasal dari Kalimantan, Sumatra dan Jawa. Dari prasasti itu kita hanya mengetahui bahwa pada waktu itu ada raja-raja yang memiliki nama yang berbau India, seperti Mulawarman di Kutei dan Purnawarman di Jawa-barat. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa raja tersebut berasal dari India. Yang paling mungkin adalah raja-raja tersebut adalah orang Indonesia asli yang sudah masuk agama yang datang dari India. Selanjutnya prasasti tersebut menunjukan bahwa agama yang dipeluk adalah agama Hindu. tapi dari penemuan patung-patung Buddha, dapat disimpulkan bahwa agama Buddha juga sudah ada, walaupun jumlahnya masih sedikit.&lt;br /&gt;Informasi paling tua tentang keberadaan Agama Buddha di Jawa dan Sumatra didapat dari pengelana China bernama Fah-Hien, yang sekembalinya dari Ceylon ke China pada tahun 414 terpaksa mendarat di negri yang bernama Ye-Po-Ti karena kapalnya rusak. Sekarang tidak terlalu jelas apakah Ye-Po-Ti itu Jawa atau Sumatra. Beberapa ahli mengatakan bahwa Ye-Po-Ti adalah Jawa (Javadvipa). Fah-Hien menyebutkan ada umat Buddha di Ye-Po-Ti, walaupun cuma sedikit.&lt;br /&gt;Sekalipun demikian agaknya sesudah abad kelima keadaan berubah.&lt;br /&gt;Tidak sampai tiga ratus tahun kemudian, pada akhir abad ketujuh, Biksu China I-tsing mencatat dengan lengkap agama Buddha dan aplikasinya di India dan Melayu. Ketertarikan utamanya adalah pada 'rumah agama Buddha' India utara dimana I-tsing tinggal dan belajar disana selama lebih dari sepuluh tahun. Dari catatannya dapat dikatakan bahwa agama Buddha di India dan Sumatra mempunyai banyak kesamaan, dimana I-tsing juga menemukan perbedaan antara agama Buddha di China dan di India.&lt;br /&gt;I-tsing menghabiskan waktunya hidup sendirian sebagai Biksu di India dan Sumatra. Seluruh bukunya merupakan catatan lengkap tentang kehidupan biarawan. Ia tinggal di India seluruhnya berdasarkan peraturan vinnaya.&lt;br /&gt;Bila dibandingkan catatan Fah-Hien tahun 414 dengan catatan I-tsing, dapat diambil kesimpulan bahwa agama Buddha dipulau Jawa dan Sumatra telah dibangun dengan sangat cepat. Pekerjaan I-tsing selain menulis catatan seperti dikemukakan diatas, ia juga menulis buku tentang perjalanan seorang guru agama terkenal yang pergi ke negri disebelah barat (Sriwijaya ?). Diceritakannya pada catatannya itu, kehidupan biarawan yang pada intinya hampir sama dengan yang ada di India. Dalam bukunya dikatakan bahwa Biksu asli Jawa dan Sumatra adalah sarjana sanskrit yang sangat bagus. Salah saatunya adalah Jnanabhadra yang merupakan orang Jawa Asli yang tinggal di Sumatra dan bertindak sebagai guru bagi biksu China dan membantu menterjemahkan sutra kedalam bahasa China. Bahasa yang digunakan oleh biksu Buddha adalah bahasa sanskrit. Bahasa pali tidak digunakan. Bagaimanapun hal ini tidak boleh dijadikan patokan bahwa agama Buddha yang berkembang disini adalah Mahayana. I-tsing menjelaskan dalam bukunya&lt;br /&gt;Agama Buddha dipeluk diseluruh negri ini dan kebanyakan sistem yang diadopsi adalah Hinayana, kecuali di Melayu dimana ada sedikit yang mengadopsi Mahayana&lt;br /&gt;Sudah banyak diketahui umum bahwa literatur agama Buddha berbahasa sanskrit tidak melulu berarti Mahayana.&lt;br /&gt;Inilah bentuk agama Buddha yang mencapai kepulauan di laut selatan. I-tsing mengatakan di kepulauan di laut selatan, Mulasarvastivadanikayo hampir secara universal di adaptasi. I-tsing tampaknya tidak mempermasalahkan perbedaan antara penganut Hinayana dan Mahayana. Dikatakannya :&lt;br /&gt;Mereka yang menyembah Bodhisatta dan membaca sutra mahayana disebut penganut Mahayana. Sementara yang tidak disebut penganut Hinayana. Kedua sistem ini sesuai dengan ajaran Dhamma. Dapatkah kita katakan mana yang benar? Keduanya mengajarkan kebajikan dan membimbing kita ke Nirvana. Keduanya menuju kepada pemusnahan nafsu dan penyelamatan semua mahluk hidup. Kita tidak boleh mempersoalkan perbedaan ini. membuat keraguan yang malah akan membuat kebingungan.&lt;br /&gt;Dari karya-karyanya dapat dikatakan bahwa I-tsing tidaklah terlalu dalam bergelut dalam masalah filosofi buddhis tetapi hanya tertarik pada kehidupan biarawan dan tugas-tugas yang diemban oleh mereka. Dengan kata lain, ia memberikan seluruh waktunya untuk belajar vinnaya dan kehidupan biarawan.&lt;br /&gt;Seperti dikemukakan diatas, di Sumatra dan Jawa lebih berkembang Hinayana. I-tsing menceritakan bahwa di Melayu, ditengah-tengah pesisir timur Sumatra ada pula yang menganut Mahayana. Dari sumber lain dijelaskan bahwa sebelum kedatangan I-tsing, telah datang biksu dari India Dharmapala, ke Melayu dan menyebarkan aliran Mahayana. Awal abad ke-20, dua prasasti ditemukan di dekat Palembang yang bercorak Mahayana. Prasasti lain yang dibuat tahun 775, ditemukan di Viengsa, semenanjung Melayu mengemukakan bahwa salah satu raja Sriwijaya dari keturunan Syailendra - yang tidak cuma memerintah di selatan Sumatra tapi juga dibagian selatan semenanjung Melayu - memerintahkan pembangunan tiga stupa. Ketiga stupa tersebut dipersembahkan kepada Buddha, Bodhisatwa Avalokitesvara dan Vajrapani. Dan ditempat lain ditemukan plat emas yang bertuliskan beberapa nama Dyani Buddha ; yang jelas-jelas merupakan aliran Mahayana.&lt;br /&gt;Dari berita I-tsing itu selanjutnya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pada waktu itu Sriwijaya menjadi pusat agama Buddha. Disana terdapat sebuah perguruan tinggi Buddha yang tidak kalah dengan perguruan yang ada di Nalanda India. Ada lebih dari 1000 biksu yang ajaran serta tata upacaranya sama dengan yang ada di India. Kecuali pengikut Hinayana, di Sriwijaya juga terdapat pengikut Mahayana. Bahkan ada guru Mahayana yang mengajar disitu. Dari berita ini jelas bahwa Sriwijaya adalah pusat agama Buddha Mahayana, yang terbuka bagi gagasan baru dan yang juga senang mengadakan pekerjaan ilmiah. Oleh karena itu musafir China yang ingin belajar di India pasti singgah di Sriwijaya untuk mengadakan persiapan. Hal itu juga dilakukan oleh I-tsing sendiri.&lt;br /&gt;Agaknya kemudian Mahayanalah yang berkembang dan berpengaruh besar. Hal ini terbukti dari beberapa prasasti yang didapat disekitar Palembang yang menyebutkan bahwa daputa hyang - barangkali perdana menteri - berusaha mencari berkat dan kekuatan gaib guna meneguhkan kerajaan Sriwijaya, agar segala mahluk dapat menikmatinya. Dari ungkapan yang digunakan, dapat diambil kesimpulan bahwa upacara ini adalah upacara indonesia kuno yang sesuai dengan ajaran Mahayana. Dari berita-berita yang lain jelaslah bahwa Mahayanalah yang berkuasa pada masa itu. Bahkan bukan cuma itu saja, mungkin pengaruh tantra, yang di India mempengaruhi agama Buddha sejak pertengahan abad ketujuh, juga terdapat di Sriwijaya. Hal ini didapat dari uraian bahwa salah satu tingkat untuk mendapatkan hikmah tertinggi adalah wajrasarira, tubuh baja (intan) yang mengingatkan kepada ajaran wajrayana.&lt;br /&gt;Semua ini menunjukan bahwa pada tahap permulaan masih ada hubungan yang erat antara Indonesia dan India. Hubungan ini agaknya makin lama makin mengurang.&lt;br /&gt;Masa Jaman Kerajaan di Jawa Tengah&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan jaman sebelumnya, sumber Agama Buddha di Jawa Tengah sedikit lebih banyak. Pada jaman ini di Jawa Tengah sudah terdapat dua kerajaan besar : Kerajaan dari dinasti Syailendra yang memeluk agama Buddha dan kerajaan dari dinasti Sanjaya yang memeluk agama Siwa. Agaknya hubungan kedua kerajaan ini baik sekali, sebab berita yang ada menyebutkan bahwa kedua kerajaan tersebut saling tolong menolong dalam pendirian candi.&lt;br /&gt;Di kerajaan Syailendra agama yang dipeluk adalah agama Buddha Mahayana. Hal ini dapat diketahui dari peninggalan-peninggalan sejarah dan candi dari kerajaan ini yang bercorak Buddha Mahayana. Walaupun kerajaan Syailendra banyak mendirikan candi namun masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan candi yang dibangun oleh kerajaan Sanjaya. Bahwa yang berkembang adalah Buddha Mahayana, jelas terlihat dari candi di desa Kalasan - yang kemudian diabadikan sebagai nama candi tersebut. Candi ini dipersembahkan untuk Dewi Tara, rekan wanita Buddha. (Avalokitesvara ?).&lt;br /&gt;Agaknya pada masa ini masih ada hubungan yang erat dengan India, sebab ada juga berita bahwa seorang guru dari Gaudidwipa (Bengala) yang memimpin upacara pada waktu peresmian patung Manyuri. Demikian juga diberitakan diprasasti lain bahwa ada orang dari Gujarat yang senantiasa melakukan kebaktian di candi tertentu. Dugaan itu berasal dari berita di India. Raja Dewapala dari dinasti Pala (Bengala) pada tahun pemerintahannya yang ke-39 (antara tahun 856 dan 860) menghadiahkan beberapa desa untuk keperluan pemeliharan sebuah vihara di Nalanda, yang didirikan oleh Balaputra, raja Suwarnadwipa (Sumatra), cucu raja di Jawa.&lt;br /&gt;Sekalipun demikian keadaan di Jawa Tengah tidak sama dengan keadaan di Sriwijaya.&lt;br /&gt;Mahayana yang bagaimanakah yang berkembang di Jawa Tengah? Pertanyaan itu sukar dijawab. Yang perlu diperhatikan adalah pada prasasti Kalurak (782) yang agaknya berhubungan juga dengan peresmian patung Mansyuri, disebutkan bahwa Mansyuri selain disamakan dengan Triratna juga disamakan dengan Brahma, Wisnu dan Maheswara. Bagi para pengikut Mahayana di Jawa Tengah, agaknya para Bodhisatva tidak dibedakan dengan dewa dari hindu.&lt;br /&gt;Disamping prasasti, ada candi-candi yang menjadi saksi agama Buddha di Jawa Tengah. Candi tersebut memberikan penjelasan yang lebih banyak. Yang paling terkenal adalah candi Borobudur.&lt;br /&gt;Jika ingin mengerti arti Borobudur, bangunan itu harus dipandang sebagai satu kesatuan. Dari susunan candi yaitu yang terdiri atas teras-teras yang bermacam-macam, agaknya Borobudur mengungkapkan gambaran dunia menurut salah satu aliran Mahayana. Borobudur menggambarkan seluruh alam semesta atau kosmos ini terbagi atas tiga bagian : Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu. Kamadhatu adalah hawa nafsu dan ini digambarkan dengan jelas pada bagian bawah. Disini hidup orang yang masih terikat oleh hawa nafsu dan segala hal yang berbau duniawi. Rupadhatu adalah dunia rupa, atau alam yang terbentuk, yang digambarkan pada lima teras yang menggambarkan hidup Buddha Gautama. Arupadhatu adalah alam yang tak berupa, tidak berbentuk. Pusat dari alam ini adalah stupa yang dipuncak, yang kosong, yang menggambarkan sunyata atau Nirwana atau Adhi Buddha.&lt;br /&gt;Mengingat susunan Borobudur yang demikian, agaknya dapat diambil kesimpulan bahwa Borobudur ingin mengungkapkan ajaran Mahayana dalam hubungan kosmis. Borobudur adalah tempat untuk ber meditasi, tempat untuk merenung.&lt;br /&gt;Mengingat bahwa Borobudur dibangun diatas bukit, agaknya pembangunan Borobudur itu dijiwai oleh gagasan Indonesia kuno, yaitu tentang afanya tempat suci yang berbentuk teras, yang biasanya dipakai untuk menyembah nenek moyang, dan terletak diatas bukit. Oleh karena itu maka kiranya penyembahan kepada Bodhisatva sudah dipandang sebahai alat untuk menyembah nenek moyang mereka yang sudah meninggal. Jika demukian maka agama Buddha pada waktu ini sudah dipengaruhi oleh cita-cita keagamaan indonesia asli.&lt;br /&gt;Masa Jaman Kerajaan di Jawa Timur&lt;br /&gt;Di Jawa Timur, agaknya agama Buddha dan agama Siwa hidup berdampingan. Hal ini tertera dari prasasti-prasasti dimana mPu Sindok disebut dengan gelar Sri Isana (sebutan Siwa) sedangkan puntrinya menikah dengan Lokapala yang juga disebut Sugatapaksa (sebutan Buddhis). Juga ditemukan pengaruh tantra pada kedua agama ini cukup kuat.&lt;br /&gt;Dari kesusastraan yang ada, didapat bahwa kesusastraan yang terkuno disusun sedemikian rupa, hingga terdiri dari ayat-ayat dalam bahasa Sanskrit, yang diikuti oleh keterangan bebas dalam bahasa Jawa kuno. Dari sini terlihat bahwa ayat-ayat itu berasal dari India. Dalam perkembangan selanjutnya adalah kitab tersebut terdiri dari ayat dalam bahasa Jawa kuno dan diselingi bait-bait dari bahasa Sanskrit. Ini menunjukan hubungan dengan India sudah longgar. Akhirnya terdapat kitab yang seluruhnya terdiri dari bahasa Jawa kuno, hanya kadang terdapat selingan dalam bahasa Sanskrit.&lt;br /&gt;Pada jaman ini ada dua buku yang menguraikan ajaran Mahayana, yaitu 'Sanghyang Kamahayan Mantrayana' yang berisi ajaran yang ditujukan kepada bhikkhu yang sedang ditasbihkan, dan 'Sanghyang Kamahayanikan' yang berisi kumpulan pengajaran bagaimana orang dapat mencapai kele pasan. Pokok ajaran dalam Sanghyang Kamahayanikan adalah menunjukan bahwa bentuk yang bermacam- macam dari bentuk pelepasan pada dasarnya adalah sama. Bagi penulis Sanghyang Kamahayanikan tidaklah terlalu sulit untuk mengidentifikasikan Siwa dengan Buddha dan menyebutnya "Siwa-Buddha", bukan lagi Siwa atau Buddha, tetapi Siwa-Buddha sebagai satu Tuhan.&lt;br /&gt;Beralih ke jaman Majapahit, dapat disimpulkan bahwa jaman ini adalah jaman dimana Sinkretisme sudah mencapai puncaknya. Agaknya aliran Siwa, Wisnu dan Buddha dapat hidup bersamaan. Ketiganya dipandang sebagai bentuk yang bermacam-macam dari suatu kebenaran yang sama. Siwa dan Wisnu dipandang sama nilainya dan mereka digambarkan sebagai 'Harihara' yaitu patung setengah Siwa setengah Wisnu. Siwa dan Buddha dipandang sama. Didalam kitab Arjunawijaya umpamanya diceritakan bahwa ketika Arjunawijaya memasuki candi Buddha, para bhikkhu menerangkan bahwa para Jina dari penjuru alam yang digambarkan pada patung-patung itu adalah sama saja dengan penjelmaan Siwa. Wairocana sama dengan Sadasiwa yang menduduki tempat tengah. Aksobya sama dengan Rudra yang menduduki tempat timur. Ratna sambhawa sama dengan Brahma yang menduduki selatan, Amitabha sama dengan Mahadewa yang menduduki barat dan Amogasiddhi sama dengan Wisnu yang menduduki utara. Oleh karana itu para bhikkhu tersebut mengatakan tidak ada perbedaan antara agama Buddha dengan Siwa. Dalam kitan 'Kunjarakarna' disebutkan bahwa tiada seorangpun, baik pengikut Siwa maupun Buddha yang bisa mendapat kelepasan jika ia memisahkan yang sebenarnya satu, yaitu Siwa-Buddha.&lt;br /&gt;Kita mendapat kesan bahwa pada waktu itu agama Buddha lebih berkembang dari agama Siwa. Ini dilihat dari kitab Sutasoma yang mencaritakan tentang kemarahan Kalarudra yang hendak membunuh Sutasoma, titisan Buddha. Para dewata mencoba meredakan Kalarudra dengan mengingatkan bahwa sebenarnya Buddha dan Siwa tidak bisa dibedakan. Jinatwa (hakekat Buddha) adalah sama dengan Siwatattwa (hakekat Siwa). Selanjutnya dianjurkan agar orang merenungkan Siwa-Buddha-tattwa, hakekat Siwa-Buddha.&lt;br /&gt;Hal ini tampak juga dari cerita Bubuksah yang ceritanya juga dilukiskan di candi Panataran. Dua saudara yang tua bernama Gagang Aking, pengikut Siwa dan Bubuksah pengikut Buddha, sejak muda hidup sebagai pertapa di gunung Wilis. Bubuksah makan segala sesuatu yang dapat dimakan sedangkan Gagang Aking memakan sayuran saja. Mereka berdebat tentang dua pertapaan ini. Kemudian dewa Mahaguru mengutus Kala Wijaya dalam wujud harimau putih untuk menguji kedua anak itu. Ketika harimau putih datang ke Gagang Aking, dinasehatinya supaya pergi saja keadiknya karena tubuhnya lebih gemuk. Ketika harimau itu tiba ditempat Bubuksah, dengan sengaja ia merelakan dirinya untuk disantap, supaya ia lepas dari dunia fana ini. Dari sini jelaslah bahwa Bubuksah itu pengikut Buddha yang suci sekalipun ia tidak keras dalam tapanya. Ia mendapat tempat di surga. Cerita ini mengungkapkan suatu polemik, yang menunjukan keunggulan agama Buddha. Sekalipun demikian carrita ini dilukiskan pada candi Prambanan.&lt;br /&gt;Dari sini makin jelas bahwa unsur-unsur indonesia asli makin kedepan yang diuraikan dalam bentuk agama Hindu dan Buddha.&lt;br /&gt;Masa Abad ke-20&lt;br /&gt;Gunung api akan meluapkan baranya Lima ratus tahun dari sekarang Ajaran Buddha akan kembali Kemudian sang hulubalang menghilang dari depan seterunya, setelah memilih untuk tetap mempertahankan apa yang diyakininya, dengan hanya meninggalkan beberapa baris ramalan. Tahun 1478, kerajaan Majapahit berakhir. Kala itu ikut runtuh juga pilar-pilar kejayaan agama Buddha di nusantara. Rakyat yang setia memeluk agama Siwa-Buddha mengungsi dan berkumpul di berbagai tempat di Jawa Timur dan pulau Bali.&lt;br /&gt;Seratus lima puluh tahun berselang, bangsa Indonesia dijajah Belanda. Ikut datang bersama kaum penjajah, evangelis-evangelis yang menyebarkan agama Kristen. Selain itu, terdapat juga cendikiawan Belanda yang datang, untuk keperluan meneliti sejarah dan kebudayaan bangsa yang dijajah. Belanda mempelajari itu semua, tentu dengan tujuan untuk melanggengkan penguasaan bangsanya atas bangsa yang terjajah.&lt;br /&gt;Ajaran spiritualisme yang menonjol dikalangan orang Belanda yang ikut datang ke Indonesia adalah apa yang dikenal sebagai Perhimpunan Theosofi. Ajaran Theosofi memberikan tekanan pada aspek persaudaraan antar manusia, tanpa membedakan ras, bangsa, maupun agama. Sehingga ada juga orang Indonesia berpendidikan yang ikut menjadi anggota Theosofi.&lt;br /&gt;Disamping dua kelompok diatas - penganut theosofi dan penganut Siwa-Buddha - ritual agama Buddha yang telah membaur dengan tradisi Tiongkok juga dipraktekan oleh kalangan Tionghoa di Indonesia. Agama Tionghoa secara tradisional merupakan perbauran antara agama Buddha, Konfusianisme dan Taoisme. Ajaran agama Buddhanya adalah ajaran dari tradisi utara atau secara umum dikenal sebagai aliran Mahayana.&lt;br /&gt;Tidak jarang, biksu-biksu dari Tiongkok datang memberikan bimbingan di kelenteng-kelenteng. Namum pada umumnya yang mereka berikan hanya penjelasan mengenai bentuk-bentuk upacara seperti bagaimana memasang hio dan cara-cara sembahyang, menjaga lilin dan sebagainya. Jarang sekali mengungkapkan ajaran Buddha secara rinci.&lt;br /&gt;Ditahun 1920-an muncul satu tokoh di kalangan ini yang bernama Kwee Tek Hoay, seorang pedagang , penulis yang tajam dan juga budayawan. Ia pulalah yang mula-mula menerbitkan majalah berbahasa Indonesia berisikan ajaran agama BUddha , dengan nama Moestika Dharma.&lt;br /&gt;Dari majalah Moestika Dharma yang terbit pada tahun 1932 diketahui bahwa telah ada organisasi Buddhis yang bernama Java Buddhists Association, dibawah pimpinan Ernest Erle Power (ketua) dan Josiast v. Dienst (sekretaris). Organisasi ini merupakan bagian dari The International Buddhists Missionary yang berpusat di Thanton, Myanmar. Java Buddhists Association berorientasi pada agama Buddha aliran Theravada.&lt;br /&gt;Kedatangan Pandita Josias membuka pikiran banyak tokoh-tokoh masyarakat yang memperhatikan agama Buddha. Dikelenteng, waktu ia berdiskusi dengan bhiksu-bhiksu, banyak tokoh-tokoh kelenteng yang ikut mendengarkan. Pembicaraan antara upasaka keturunan Belanda itu dengan tokoh kelenteng berkisar pada ajaran agama Buddha dan perkembangannya di Pulau Jawa.&lt;br /&gt;Atas jasa Kwee Tek Hoay, terselenggara dialog antara Josiast v. Dients dan Bhiksu Lin Feng Fei, kepala kelenteng Kwan Im Tong di Prinsenlaan (mangga besar), Jakarta. Dialog itu menghasilkan kesepakatan bahwa kelenteng sebagai tempat ibadah umat Buddha tidak hanya digunakan sebagai tempat pemujaan saja, melainkan pula sebagai tempat untuk mendapatkan pelajaran agama Buddha.&lt;br /&gt;Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan itu, Bhiksu Lin Feng Fei mengizinkan Josiast memberikan ceramah agama Buddha di kelenteng Kwan Im Tong. Kemudian Kongkoan (Chineesche Raad), suatu badan yang mengorganisir kelenteng-kelenteng di Jakarta, mengizinkan pula Josiast memberikan ceramah di kelenteng-kelenteng di sekitar Jakarta.&lt;br /&gt;Pada tahun 1934, tanggal 4 Maret, Bhikkhu Narada Thera, seorang evangelis Buddhist yang terkenal dari Srilangka, datang ke Indonesia untuk pertama kalinya dalam lawatan ke Asia Tenggara, atas undangan Ong Soe An, seorang tokoh Theosifi dari Bandung. Selama di Pulau Jawa, Bhikkhu Narada mengunjungi Batavia, Buitenzorg (Bogor), Bandung, Yogya dan Solo. Di lima kota ini Bhikkhu narada memberikan ceramah-ceramah tentang ajaran agama Buddha.&lt;br /&gt;Oleh aktivis Theosofi, kedatangan Bhikkhu Narada dimanfaatkan untuk memperluas wawasan mengenai ajaran Buddha. Sewaktu mengunjungi Candi Borobudur, di Magelang, pada tanggal 10 Maret 1934, Bhikkhu Narada memberkati penanaman Pohon Bodhi yang dilakukan oleh pemuka Theosofi Yogya, Mr. E E. Power. Sepulangnya dari Borobudur, pada malam harinya, Bhikkhu Narada Thera menahbiskan beberapa orang upasaka di Yogya. Diantaranya terdapat seorang jawa bernama Mangunkawatja.&lt;br /&gt;Pada tahun itu juga dibentuk Java Buddhists Association Afdeeling Batavia (Jakarta) dengan ketuanya J.W. de Witt dan sekretarisnya DR. R. Ng. poerbatjaraka. Disamping itu dibentuk juga Java Buddhists Association Afdeeling Buitenzorg (Bogor) dibawah pimpinan A. van der Velde (ketua) dan Oeij Oen Ho (sekretaris). Tak lama kemudian, tanggal 10 Mei 1934, Java Buddhists Association Afdeeling Batavia melepaskan diri dari Java Buddhists Association pusat dan berdiri sendiri dengan nama Batavia Budhists Association dibawah pimpinan Kwee Tek Hoay (ketua) dan Ny. Tjoa Hin Hoey (sekretaris). Dalam majalah Moestika Dharma, Kwee Tek Hoay menjelaskan bahwa pemisahan ini bukan merupakan pemecahan tapi untuk dapat bergerak lebih leluasa. Batavia Buddhists Association ini condong menyebarkan ajaran Mahayana, berbeda dengan Java Buddhist Association yang Theravada.&lt;br /&gt;Pada tahun 1934 itu juga dibentuk suatu organisasi pusat (semacam Walubi) yang bernama Central Buddhistische Institut Voor Java dengan media cetak berbahasa Belanda yang bernama De Dharma in Nederlandsche Indie.&lt;br /&gt;Pada tahun 1935 oleh Kwee Tek Hoay telah banyak dibentuk Sam Kauw Hwee, yaitu organisasi-organisasi setempat yang anggotanya terdiri dari penganut agama Buddha, Konghucu dan Tao, dengan media cetak bernama Sam Kauw Goat Poo yang berbahasa Indonesia. Tujuan Organisasi ini pada dasarnya adalah untuk mencegah orang Cina dan keturunan Cina menjadi penganut ajaran agama lain. Selama pendudukan Jepang, semua kegiatan organisasi Buddhist terhenti. Baru kemudian pada tahun 1952, Sam Kauw Hwee - Sam Kauw Hwee ini digiatkan kembali dengan menggabungkan diri menjadi Perkumpulan Sam Kauw Hwee Indonesia.&lt;br /&gt;Masa Setelah Kemerdekaan Indonesia&lt;br /&gt;Dalam perkembangan selanjutnya, pada tahun 1969 telah terdapat berbagai organisasi Buddhis yang merupakan organisasi sosial kemasyarakatan dan sekaligus melakukan pengembangan kualitas umat dan kualitas kehidupan beragama umat Buddha. Diantaranya adalah :&lt;br /&gt;1. Gabungan Tridharma Indonesia (GTI)Gabungan Tridharma Indonesia adalah merupakan penggabungan beberapa Sam Kauw Hwee. Perkumpulan Sam Kauw Hwee Indonesia bergabung dengan Thian Lie Hwee yang dipimpin oleh almarhum Ong Tiang Biauw (yang kemudian menjadi Bhikkhu Jinaputta) dan Gabungan Khong Kauw Hwee Indonesia (GAPAKSI). Bagian kebaktian dari Sin Ming Hui (Perkumpulan Sosial Candrayana) dan Buddha Tengger, membentuk Gabungan Sam Kauw Indonesia (GKSI) di bawah pimpinan The Boan An sebagai ketua pada tahun 1953. Setelah The Boan An di tasbihkan menjadi Bhikkhu pada tahun 1954 di Myanmar dengan nama Bhikkhu Jinarakkhita, ketua GKSI beralih kepada DRS. Khoe Soe Kiam (Drs. Sasana Surya). Pada tahun 1962, GKSI berganti nama menjadi Gabungan tridharma Indonesia (GTI).&lt;br /&gt;2. Perhimpunan Buddhis Indonesia (PERBUDHI)Beberapa tokoh umat Buddha dari suku Jawa, diantaranya Sosro Utomo dari Buddha Tengger, melihat bahwa sukar bagi orang Jawa untuk tetap bergabung dengan GTI. Oleh sebab itu untuk pertumbuhan umat disarankan membentuk organisasi baru yang memungkinkan orang Jawa menjadi anggotanya. Tahun 1967 dibentuk Persatuan Buddhis Indonesia (PERBUDHI) dengan ketua umum pertamanya Sosro Utomo. Dalam kongres pertamanyatahun 1978 diganti namanya menjadi Perhimpunan Buddhis Indonesia (PERBUDHI) dengan ketua umum Sariputra Sudono, dan kemudian berturut-turut sebagai ketua umum adalah Kolonel Soemantri M.S. dan Brigjen. Suraji A.A. Atas usaha Bhikkhu JInarakkhita Perbuddhi dengan cepat berkembang dan menyebar ke luar pulau Jawa. Sejak permulaan tahun 60-an kelihatan ketidak-serasian antara Bhikkhu Jinarakkhita dan Perbudhi dengan GTI, yang pada akhirnya berakibat GTI melarang anggotanya menjadi anggota Perbudhi.&lt;br /&gt;3. Musyawarah Umat Buddha Seluruh Indonesia (MUSBI)Dalam tubuh Perbudhi terdapat kelompok Upasaka dan Upasika yang merupakan kelompok elit dalam Perbudhi. Kelompok ini harus menjadi anggota perbudhi dan terikat dalam persaudaraan yang disebut Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI) yang dibentuk pada tahun 1956 oleh Bhikkhu Jinarakkhita dan merupakan pembantu Sangha dan bertanggung jawab kepada Sangha Suci Indonesia pimpinan Bhikkhu Jinarakkhita. Beberapa anggota Perbudhi dari Yogya dan Jawa Tengah menentang adanya kelompok ini. Mereka berpendapat bahwa roda organisasi Perbudhi tidak dapat berjalan dengan baik karena Upasaka-Upasika ini tidak tunduk kepada keputusan kongres, tetapi kepada Sangha. Sedangkan pihak lainnya memandang perlu adanya PUUI. Tahun 1962 mereka yang menolak PUUI menyatakan keluar dari Perbudhi dan membentuk Musyawarah Umat Buddha Seluruh Indonesia (MUSBI) dibawah pimpinan Drs. Soeharto Djojosumpeno dari Yogya, yang terakhir menjabat sebagai staf pada Lemhanas.&lt;br /&gt;4. Buddhis IndonesiaTahun 1965 Perbudhi cabang Semarang melepaskan diri dari Perbudhi dan membentuk Buddhis Indonesia yang bermarkas di Vihara Tanah Putih Semarang. Buddhis Indonesia mendapat dukungan dari berbagai cabang Perbudhi di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan menyatakan diri menjadi cabang Buddhis Indonesia. Awal perpecahan ini adalah ketidak-serasian dan masalah pribadi antara tokoh-tokoh Busshid di Semarang dan Jawa Tengah dengan tokoh sentral umat Buddha, tetapi sebagai alasan untuk keluar dari Perbudhi adalah keikut-sertaan Perbudhi dalam Konferensi World Buddhists of Fellowship (WFB) di Bangkok yang hadir pula utusan dari Malaysia. Pada waktu itu Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia.&lt;br /&gt;Pada bulan Juli 1965 diadakan pertemuan antar organisasi-organisasi Buddhis yang ada untuk membuat landasan kerukunan dan kerjasana. Pertemuan ini dilanjutkan lagi pada bulan Agustus 1966 dan Oktober 1966. Pada pertemuan mereka bulan Februari 1967 berhasil dibentuk Federasi Umat Buddha Indonesia yang anggotanya adalah :&lt;br /&gt;1. Buddhis Indonesia 2. Gabungan Tridharma Indonesia 3. Musyawarah Umat Buddha Seluruh Indonesia 4. Agama Hindu-Buddha Tengger 5. Agama Buddha Wisnu Indonesia&lt;br /&gt;Perbudhi tidak mau bergabung dengan Federasi Umat Buddha Indonesia karena diantara anggota Federasi Umat Buddha Indonesia ini ada yang telah mengeluarkan pernyataan bersama yang merugikan Sangha Suci Indonesia dan Perbudhi. Dalam Maha Samaya II (kongres PUUI) yang diselenggarakan 16-18 Maret 1969 di Bandung, yang dihadiri pula oleh Perbudhi dan Maha Sangha Indonesia, dibentuk Majelis Tertinggi Seluruh Umat Buddha Indonesia yang berfungsi menetapkan kebijaksanaan dalam keagamaan dan bertanggung jawab kepada Maha Sangha Indonesia. Pimpinan majelis ini adalah Bhikkhu Girirakkhito (ketua umum) dan Brigjen Suraji Aryakertawijaya (sekjen).&lt;br /&gt;Pada tahun 1959 oleh Bhikkhu Jinarakkhita dibentuk Sangha Indonesia yang terdiri dari bhikkhu-bhikkhu dan samanera yang ditasbihkan menurut mazhab Theravada. Kemudian Sangha Indonesia diubah menjadi Sangha Suci Indonesia dan pada tahun 1968 diubah lagi menjadi Maha Sangha Indonesia yang terdiri dari bhikkhu-bhikkhu Theravada dan Mahayana.&lt;br /&gt;Perpecahan dan perselisihan diantara umat Buddha sampai tahun 1969 pada umumnya didasarkan pada perselisihan pribadi. Perpecahan diantara para bhikkhu dalam Maha Sangha Indonesia diwarnai dengan adanya perbedaan dalam pemahaman Vinaya dan Dharma.&lt;br /&gt;Beberapa bhikkhu Theravada menghendaki para bhikkhu tidak campur tangan mengenai perpecahan ini dan berdiri sendiri sebagai panutan. Karena usaha ini tidak berhasil, maka para bhikkhu tersebut keluar dari Maha Sangha Indonesia ada membentuk Sangha Indonesia pada tanggal 12 Januari 1972.&lt;br /&gt;Sangha Indonesia mendapat dukungan dari organisasi-organisai yang terhimpun dalam Federasi Umat Buddha Indonesia dan dari organisasi lain seperti Perbudhi dan Persaudaraan Umat BUddha Salatiga. Dukungan PErbudhi terhadap Sangha Indonesia dan menyatakan sebagai Pengayom Perbudhi disamping Maha Sangha Indonesia telah menyebabkan PUUI, yang namanya telah diganti menjadi Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI) menyatakan keluar dari Perbudhi.&lt;br /&gt;Untuk mencegah perpecahan supaya tidak meluas, atas prakarsa Brigjen Saparjo, dilakukan pertemuan untuk mengadakan musyawarah. Setelah beberapa kali pertemuan, pada tanggal 26 Mei 1972 dibuat ikrar di Candi Borobudur untuk membentuk wadah tunggal umat Buddha Indonesia. Ikrar tersebut ditanda-tangani oleh:&lt;br /&gt;1.Suryaputta Ks Suratin (Buddhis Indonesia) 2.Brigjen Sumantri MS (MUABI) 3.Brigjen Suraji Ariya kertawijaya (Perbudhi) 4.Djoeri (MUSBI) 5.Drs. Sasana Surya (GTI) 6.Soepangat Prawirokoesoemo SH (Persaudaraan Umat Buddha Salatiga)&lt;br /&gt;Wadah tunggal itu merupakan peleburan semua organisasi Buddhis dan bernama Buddha Dharma Indonesia disingkat BUDHI. Disamping itu juga dibentuk Majelis Buddha Dharma Indonesia yang anggotanya terdiri dari para pemuka agama Buddha dan cendikiawan Buddhis dari berbagai sekte. Majelis ini berfungsi menetapkan kebijaksanaan keagamaan.&lt;br /&gt;Pada tanggal 14 Januari 1974, atas prakarsa Dirjen Bimas Hindu-Buddha, diadakan pertemuan antara Sangha Indonesia dan Maha Sangha Indonesia. Dalam peretemua itu, disepakati untuk melebur Sangha Indonesia dan Maha Sangha Indonesia menjadi Sangha Agung Indonesia dan setiap bhikkhu akan melaksanakan Vinaya berdasarkan sekte masing-masing. Terpilih sebagai ketua adalah MNS Jinarakkhita dan wakilnya Bhikkhu Jinapiya Thera.&lt;br /&gt;Akan tetapi, pertemuan selanjutnya untuk menetapkan antara lain struktur dan fungsi organisasi Sangha Agung Indonesia tidak pernah dpat dilaksanakan. Konsensus yang dibuat pada tanggal 14 Januari tersebut tidak dapat diwujudkan.&lt;br /&gt;Sebegitu jauh kerukunan, persatuan dan kesatuan masih belum dapat diwujudkan, sedangkan pertentangan antar organisasi makin meningkat, atas dasar Dirjen Bimas Hindu-Buddha dilakukan pertemuan pimpinan organisasi Buddhis dan para pemuka agama Buddha pada tahun 1976 di Jakarta. Dalam pertemuan itu disadari bahwa organisasi Buddhis mempunyai dua bentuk kegiatan, yaitu : aspek sosial kemasyarakatan dan aspek pembinaan kehidupan keagamaan yang dilakukan oleh para rohaniawan dari sekte yang bersangkutan. Dalam keadaan yang demikian sukarlah untuk terbentuk satu wadah tunggal bagi umat Buddha karena masing-masing sekte mempunyai tradisi dan upacara keagamaan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu kedua aspek kegiatan organisasi Buddhis yang ada dipisahkan dan masing-masing dihimpun dalam wadah tunggal.&lt;br /&gt;Aspek sosial kemasyarakatan dihimpun dalam wadah tunggal non sektarial yang dinamakan Gabungan Umat Buddha Seluruh Indonesia (GUBSI) dibawah pimpinan R. Eko Sasongko Pratomo SH (ketua) dan Drs. Aggi Tjetje (sekjen). Aspek kerohanian menjadi Majelis Agama yang mewakili sekte agama Buddha yang ada. Bidang kerohanian BUDHI tumbuh menjadi Majelis Pandita Buddha Dharma Indonesia ( MAPANBUDHI). Dari kelompok Tridharma, dinamakan Majelis Rohaniawan Tridharma se Indonesia ( Martrisia). Kemudian dalam pertemuan berikutnya, dibentuk Majelis Agung Agama Buddha Indonesia MABI yang berbebtuk federasi.&lt;br /&gt;MUABI kemudian mengundurkan diri dari MABI. MUABI pecahannya menjadi Lembaga Dharmaduta Kasogatan Indonesia yang akhirnya menjadi Majelis Dharmaduta Kasogatan Tantrayana Indonesia, yang di pimpin oleh alm Giriputta Sumarsono dan kemudian Drs. Oka Diputhera. MUABI kemudian diganti menjadi Majelis Buddhayana Indonesia (MBI).&lt;br /&gt;Bhikkhu-bhikkhu Theravada yang terhimpun dalam Sangha Agung Indonesia mengundurkan diri dan bersama-sama dengan bhikkhu-bhikkhu Theravada yang baru pulang dari belajar diluar negri, membentuk Sangha Theravada Indonesia. Demikian pula dengan Bhikkhu Mahayana yang ada di Sangha Agung Indonesia mengundurkan diri dan kemudian membentuk Sangha Mahayana Indonesia. Dengan demikian di Indonesia terdapat tiga Sangha : Sangha Agung Indonesia, Sangha Theravada Indonesia dan Sangha Mahayana Indonesia.&lt;br /&gt;Lebih lanjut, Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara mengadakan pertemuan dengan pimpinan semua majelis dan sangha yang ada di Indonesia. Dalam pertemuan ini semua majelis ada sangha menyatakan semua sekte agama Buddha yang ada, berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan sebutan yang berbeda-beda. Dalam pertemuan ini dibentuk Perwalian Umat Buddha Indonesia (WALUBI) yang mewakili umat Buddha pada tahun 1978. Nama Perwalian Umat Buddha Indonesia di berikan oleh Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara.&lt;br /&gt;Era Walubi&lt;br /&gt;Masa selanjutnya adalah masa Walubi yang dibentuk pada tahun 1978. Walubi dalam rapat anggotannya tanggal 21 desember 1978 mendukung pernyataan MABI yang menyatakan bahwa seluruh aliran dan sekte-sekte agama Buddha berkeyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun demikian MUABI dan Sangha Agung Indonesia masih berada di luar Walubi.&lt;br /&gt;Disamping itu atas jasa baik seorang pejabat tinggi pemerintah, pada bulan Januari itu juga diadakan pertemuan para pemuka agama dan organisasi Buddhis. Dalam pertemuan itu dibahas apa yang menjadi persoalan diantara umat Buddha dan disepakati akan mengadakan lokakarya sebelum bulan Pebruari 1979. Dalam pertemuan itu Niciren Syosyu Indonesia (NSI) tidak diikut-sertakan karena salah seorang pemuka umat Buddha dari MUABI tidak memandang NSI sebagai bagian dari rumpun umat Buddha. NSI yang mengakui sebagai agama Buddha yang sama dengan Majelis-majelis lainnya dan menyetujui kesepakatan yang telah dihasilkan dalam pertemuan tersebut diatas diikut sertakan dalam lokakarya yang diselenggarakan bulan Februari 1978.&lt;br /&gt;Lokakarya yang dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 1978 di Jakarta menghasilkan dokumen "Lokakarya Pemantapan Ajaran Agama Buddha dalam kepribadian Nasional Indonesia". Hasil lokakarya ini merupakan dasar untuk mengadakan Kongres Umat Buddha Indonesia.&lt;br /&gt;Setelah diadakan prakongres, Kongres Umat Buddha Indoensia diselenggarakan pada tanggal 8 Mei 1979 di Yogyakarta. Hasil kongres itu antara lain Kode Etik, Kriteria agama Buddha, Ikrar Umat Buddha Indoensia dan pengukuhan Hasil Keputusan Lokakarya Pemantapan Ajaran Agama Buddha Dengan Kepribadian Nasional Indonesia.&lt;br /&gt;Ikrar Umat Buddha yang isinya antara lain akan melaksanakan dengan sepenuh hati dan sebaik- baiknya semua Ketetapan dan Keputusan Kongres Umat Buddha Indonesia, dinyatakan dalam forum terbuka dihadapan Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara dalam Upacara Waisak Nasional pada tanggal 10 Mei 1979 di Candi Mendut dan ditandatangani oleh semua Sangha dan Majelis Agama Buddha, termasuk NSI yang pada waktu itu mengakui sebagai agama Buddha yang sama dengan Majelis-majelis lainnya.&lt;br /&gt;Hasil Kongres Umat Buddha tersebut merupakan dasar dan besar artinya untuk mewujudkan kerukunan, persatuan dan kesatuan umat Buddha di Indonesia. Oleh sebab itu, dikukuhkan dalam Kongres I Walubi pada tahun 1986 di Jakarta.&lt;br /&gt;Dengan adanya hasil Kongres yang merupakan dasar kerukunan, persatuan dan kesatuan umat Buddha bukanlah berarti kerukunan itu akan segera tercipta. Tidaklah mudah untuk melaksanakan program Walubi pada tahun-tahun pertama terbentuknya.&lt;br /&gt;Pada tahun 1981 dengan dalih Anggaran Dasar Walubi tidak sah diadakan Kongres Luar Biasa Walubi untuk membuat Anggaran Dasar baru. hasil Kongres Luar Biasa tersebut ternyata adalah penggantian DPP Walubi. Ketua umum yang baru adalah Soemantri Mohammad Saleh dan Sekjen Seno Sunoto dari NSI.&lt;br /&gt;Penggantian pimpinan Walubi tidaklah membawa peningkatan pada kerukunan intern Umat Buddha dan terlaksananya program Walubi, tetapi sebaliknya Sambutan Hari Raya Waisak dari Seno Sutono selaku Sekjen Walubi yang dimuat dalam surat kabar 'Sinar Harapan' pada tahun 1983 adalah bertentangan dengan kode etik dan hasil lokakarya pemantapan ajaran agama Buddha. Dalam sambutannya itu Seno Sutono mengubah Hari Raya Waisak sebagai hari balas Budi bagi umat Buddha yang didasarkan pada filsafat dan pandangan hidup orang Jepang.&lt;br /&gt;Protes-protes dalam surat kabar dapat dihentikan agar tidak menimbulkan keresahan dan mengganggu kerukunan lebih lanjut dikalangan umat Buddha. Masalah tersebut akan diselesaikan oleh DP Walubi Pusat. Akan tetapi masalah tersebut tidak pernah diselesaikan.&lt;br /&gt;Kemudian pada awal tahun 1985 timbul kembali kepermukaan keresahan dikalangan umat Buddha di Jawa Tengah, terutama di Wonogiri tentang adanya Buddha lain disamping Buddha Gautama. Dalam konsultasi pejabat Direktorat Jendral Bimas Hindu-Buddha dengan pemuka agama Buddha, Seno mengakui bahwa NIciren Daisyonim adalah seorang Buddha.&lt;br /&gt;Permasalahan tentang adanya dua Buddha yang bertentangan dengan kriteria agama Buddha, kode etik dan hasil lokakarya pemantapan ajaran agama Buddha dan merusak kerukunan intern umat Buddha, tidak diselesaikan oleh DPP Walubi sampai pada Kongres I Walubi tahun 1986. Kongres I Walubi diselenggarakan tanggal 8 - 11 Juli 1986 mengukuhkan hasil-hasil kongres umat Buddha Indonesia tentang kode etik, kriteria agama Buddha di Indonesia, agama Buddha dengan kepribadian nasional Indonesia, ikrar umat Buddha Indonesia. Dalam kongres I Walubi itu terpilih sebagai ketua umum adalah Bhikkhu Girirakkhita Maha Thera dan wakilnya adalah Drs. Aggi Tjetje.&lt;br /&gt;Berdasarkan fatwa Widyeka Sabha Walubi dan secara historis, faktual dan keimanan, Buddha masa kini adalah tetap Buddha Gautama. Hal ini berakibat tidak diakuinya Niciren Syosyu Indoensia sebagai bagian dari rumpun agama Buddha, Oleh karena itu NSI dikeluarkan dari Walubi pada tanggal 10 Juli 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER: http://www.walubi.or.id/wacana/wacana_058.shtml&lt;br /&gt;Kedatangan Agama Buddha di Indonesia&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian yang dilakukan beberapa pakar sejarah di tanah air, hingga saat ini masih terdapat berbagai pendapat yang berbeda tentang kapan masiknya agama Buddha di Indonesia. Namun satu hal yang dapat dicatat dalam sejarah, berdasarkan pada catatan perjalanan Fa Hien, seorang misionaris Buddha asal China, sekitar tahun 414 masehi, telah ada penganut agama Buddha di pulau Jawa, walaupun masih dalam jumlah yang tidak banyak.&lt;br /&gt;Kemudian, berdasarkan catatan sejarah, atas usaha Bhikshu Gunawarman, pada tahun 423 Masehi, agama Buddha mulai berekembang di pulau Jawa. Sedangkan perkembangan agama Buddha di Sumatera tercatat pada catatan perjalanan I-Tsing, seorang bhikshu dari China yang dalam perjalanan pulang nya ke China singgah dan menetap beberapa waktu ke Sriwijaya di Palembang yang terletak di pulau Sumatera Selatan (685-695M).&lt;br /&gt;Perkembangan Mazhab Tantrayana di Indonesia&lt;br /&gt;Mazhab Tantrayana berkembang dengan pesatnya dibumi persada Indonesia, terutama pada masa-masa kerajaan Mataram kuno, Singasari dan Majapahit. Perkembangan yang demikian pesatnya seiring dan sejalan dengan mazhab-mazhab lkainnya, bahkan dengan agama Hindu yang juga banyak dianutnya pada masa-masa tersebut.&lt;br /&gt;Bukti-bukti pesatnya perkembangan mazhab Tantrayana pada masa-masa tersebut, antara lain :&lt;br /&gt;1.      Pada masa Kerajaan Kuno : Candi-candi Buddha :&lt;br /&gt;1.      Candi Kalasan, dekat Jogjakarta, didirikan tahun 778 M.&lt;br /&gt;2.      Candi Sari, dekat Candi Kalasan.&lt;br /&gt;3.      Candi Borobudur, dekat Magelang, didirikan tahun 826 M.&lt;br /&gt;4.      Candi Mendut, di sebelah Timur Candi Borobudur, didirikan tahun 809 M.&lt;br /&gt;5.      Candi Pawon, merupakan gerbang Candi Borobudur, didirikan tahun 826 M.&lt;br /&gt;6.      Gugusan Candi Ngawen, dekat Muntilan.&lt;br /&gt;7.      Gugusan Candi Sewu, dekat Prambanan.&lt;br /&gt;8.      Gugusan Candi Plaosan, disebelah Timur Candi Sewu.&lt;br /&gt;Literatur-literatur : Kitab Sanghyang Kamahayanikan.&lt;br /&gt;2.      Pada Masa Kerajaan Singosari : Candi-candi :&lt;br /&gt;1.      Candi Singosari, dekat Malang, tempat pemujaan Raja Kertagama yang merupakan perpaduan antara Tantrayana dan Siwa.&lt;br /&gt;2.      Candi Jawi, dekat Prigen, perpaduan Tantrayana dan Siwa.&lt;br /&gt;3.      Candi Jabung, dekat Krasaan.&lt;br /&gt;Adanya gelar Dharmadhyaksa Ring Kasogatan (kepala agama Buddha).&lt;br /&gt;3.      Pada masa Kerajaan Majapahit : Literatur-literatur : Kitab Sutasoma dan Kitab Kunjarakarna&lt;br /&gt;4.      Di pulau Sumatra terdapat juga peninggalan Candi, yakni :&lt;br /&gt;1.      Candi Muara Takus, dekat Bangkinang, Propinsi Riau.&lt;br /&gt;2.      Candi Portibi-Gunung Tua, dekat Padang sidempuan, propinsi Sumatra Utara.&lt;br /&gt;Masa-masa keemasan mazhab Tantrayana terjadi terutama pada masa berkuasanya raja-raja dari wangsa Syailendra di kerajaan Mataram Purba. Hal itu terbukti dengan bangunan candi Borobudur dan candi-candi lainnya yang bernuansakan Buddha Dharma Tantrayana. Namun sangat disayangkan bahwa perkembangan Tantrayana mengalami masa surut setelah masa Raja Hayam Wuruk. Hal itu terjadi karena terputusnya garis silsilah dan tidak terdapat lagi acharya maupun guru yang mampu membimbing umat dengan baik. Seiring dengan itu, masuknya gama baruke tanah air, yakni agama Islam, juga turut mempengaruhi kemunduran Tantrayana. Sehingga menjelang akhir abad XV, daerah pesisir Utara di pulau Jawa semuanya telah memeluk agama Islam.&lt;br /&gt;Literatur-literatur Buddha Dharma di Indonesia&lt;br /&gt;Berdasarkan pada peninggalan-peninggalandari zaman keemasan agama Buddha pada masa kerajaan-kerajaan, baik di pulau Jawa maupun di pulau Sumatra, dapat kita simpulkan bahwa pada masa-masa tersebut, perkembangan agama Buddha terutama dari mazhab Tantrayana adalah pesat sekali. Apalagi bila kita adakan penelitan terhadap candi Borobudur, yang kita akui sebagai salah satu keajaiban dunia yang masih dapat dinikmati di muka bumi ini.&lt;br /&gt;Pada masa-masa tersebut, literatur-literatur Buddha Dharma telah berkembang sangat pesat. Banyak literatur yang merupakan hasil karya para cendikiawan Buddha Dharma di zamannya. Diantara literature tersebut, antara lain : Sanghyang Kamahayanikan, Sutasoma dan Kunjarakarna.&lt;br /&gt;Kitab Sutasoma&lt;br /&gt;Menurut dr. WK.Dharma, Kitab Sutasoma merupakan karya Mpu Tantular. Adapun ringkasan dari kitab Sutasoma ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Dikisahkan Sanghyang Buddha yang menitis pada putra Prabu Mahaketu, raja Hastina, yang bernama Raden Sotasoma. Setelah dewasa dia sangat rajin beribadah cinta akan agama Buddha (Mahayana). Dia tidak mau dikawinkan dan dinobatkan menjadi raja. Pada suatu malam dia meloloskan diri dari kerajaan, pintu-pintu yang sedang tertutup dengan sendirinya menjadi terbuka untuk memberi jalan keluar pada prabu Sutasoma. Di dalam perjalanannya, Sutasoma tiba pada sebuah candi yang terletak di dalam hutan. Dia berhenti di candi tersebutdan mengadakan samadhi. Kemudian meneruskan perjalanan dan mendaki pegunungan Himalaya dengan diantar oleh beberapa orang pendeta. Mereka tiba si sebuah pertapaan. Diceritakan bahwa para pertapa yang melaksanakan samadhi di pertapaan itu sering mendapat gangguan dari seorang raja raksasa, yang gemar menyantap daging manusia dan bernama Purusada, akhirnya menjadi raksasa penghuni hutan. Tenyata Purusada menderita luka di kakinya dan tak kunjung sembuh.&lt;br /&gt;Para pendeta meminta agar Sutasoma bersedia membunuh Purusada, akan tetapi permintaan tersebut ditolaknya. Dalam melanjutkan perjalanannya, ia mendapart serangan dari raksasa berkepala gajah dan seekor naga. Namun keduanya dapat dia dikalahkan. Ketika sampai disebuah tebing, ia melihat seekor macan betina yang sedang bersiap menyantap anaknya sendiri. Melihat kejadian tersebut, Sutasoma menawarkan diri sebagai pengganti. Maka dihisaplah darahnya oleh macan, dan meninggallah Sutasoma. Namun setelah melihat mayat Sutasoma. Kemudian datanglah Batara Indra untuk menghidupkan kembali Sutasoma. Setelah kejadian tersebut, Sutasoma bersamadhi di dalamsebuah goa. Para dewa mencoba keteguhan tekad sang pertapa tersebut dengan pelbagai godaan. Namun dapat diatasi oleh Sutasoma. Bahkan dalam melaksanakan samadhi, ia dapat menjelma menjadi Buddha Vairocana. Setelah pulih, kembali menjadi Sutasoma dan dirinya berniat untuk pulang ke negerinya. Di dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan bala tentara Purusada yang sedang dikejar olehPrabu Dasabahu. Ternyata ratu ini masih saudara sepupunya sendiri dan ia pun diminta untuk pulang kembali ke negerinya. Setelah kepulangannya, Sutasoma dinikahkan dengan adik Prabu Dasabahu. Setelah selesai perhelatan, ia pun menlanjutkan perjalanan ke Hastina, ia kemudian dinobatkan sebagai raja dan bergelar Prabu Sutasoma.&lt;br /&gt;Pada waktu itu, raksasa Purusada yang bernazar akan mempersembahkan seratus manusia untuk menjadi santapan Batara Kala, bilamana luka di kakinya dapat disembuhkan. Ketika itu, Purusada dapat menawan sembilan puluh sembilan orang raja yang akan dipersembahkan pada Batara Kala. Untukmemperoleh raja ke seratus, Purusada lalu menyamar sebagai seorang pendeta tua yang kemudia berhasil menawan Raja Widarba. Kemudian jumlah ke seratus tawanan tersebut dipersembahkan pada Batara Kala. Namun persembahan tersebut ditolak oleh Batara Kala. Karena menginginkan daging Prabu Sutasoma. Setelah mengetahui duduk persoalan, Prabu Sutasoma bersedia menjadi santapan Batara Kala, asalkan keseratus tawanan lainnya dibebaskan. Kerelaan ini sangat berkenan di hati Batara Kala, bahkan Purusada menjadi terharu. Purusada kemudian bertobat dan berjanji tidak akan makin daging lagi.&lt;br /&gt;Kitab Kunjarakarna&lt;br /&gt;Menurut dr. WK.Dharma, Kitab Kunjarakarna terdiri dari dua redaksi, yakni dalam bentuk Kakawin dan dalam bentuk Prosa. Kitab Kunjarakarna hingga saat ini belum diketahui siapa pengarangnya. Kitab ini isinya antara lain menggambar kan hukuman-hukuman yang diberikan di dalam neraka, dan berisi pujian pada Buddha Vairocana dengan menganggapnya sebagai lambang kebijaksanaan yang tertinggi serta sebagai Guru yang termulia.&lt;br /&gt;Ringkasan narasi dalam Kitab Kunjarakarna sebagaimana telah dikutip, adalah sebagai berikut : Dalam keadaan hati yang bimbang, Kunjarakarna pergi menemui Buddha Vairocana untuk menerima pelajaran Dharma dari beliau. Maka pergilah Kunjara karna menuju Bodhicitta, tempat tinggal Vairocana. Namun sesudah menerima Kunjarakarna,Vairocana menolak permintaannya. Dan pada Kunjarakarna, Vairocana menyatakan agar pergi menghadap Yama, Dewa neraka, supaya dapat mengetahui tentang keadaan neraka, setelah mengetahui keadaan di neraka, barulah Vairocana akan memberikan pelajaran tentang Dharma. Kunjarakarna mengikuti nasehat Vairocana, dan pergi menghadap Yama. Sesudahnya bertemu, kemudian menguraikan maksud kedatangannya, Yama kemudian memberikan ilmu-ilmu yang diperlukan.&lt;br /&gt;Setelah mendengar uraian-uraian Yama, Kunjarakarna melihat sebuah ketel besar yang sedang dipersiapkan untuk menghukum orang. Lalu ia menanyakan pada Yama, untuk siapa ketel tersebut dipersiapkan Jawaban Yama sangat mengejutkan, karena ketel tersebut dipersiapkan untuk Purnawijaya,seorang Widyadhara, yang tak lain adalah temannya sendiri. Sesudah mendapatkan perintah dari Yama, lalu segera kembali menjumpai Buddha Vairocana, setelah itu Kunjarakarna pun meninggalkan dunia neraka.&lt;br /&gt;Kunjarakarna tidak segera menghadap Vairocana, dan malah pergi menemui temannya, Purnawijaya dengan maksud memberitahukan pada Purnawijaya tentang kejadian apa yang telah dilihatnya di dunia neraka. Setelah memperoleh berita dari Kunjarakarna, Purnawijaya sangat terkejut dan meminta nasehatnya. Lalu Kunjarakarna menjawab, bahwa ia tidak dapat menolong Purnawijaya, karena diri Purnawijayabelum dibersihkan dari dosa-dosa yang telah diperbuat. Ia kemudian mengajak Purnawijaya untuk bersama-sama menemui Vairocana di Bodhicitta.&lt;br /&gt;Sesampai di Bodhicitta, Kunjarakarna menyuruh Purnawijaya untuk bersembunyi terlebih dahulu. Sedangkan dirinya menghadap Vairocana lebih dahulu. Setelah memohon pada Vairocana, agar diberikan pelajaran tentang ilmu kesempurnaan hidup untuk dapat mencapai kebahagiaan, sambil menyinggung nyinggung tentang keadaan Purnawijaya. Setelah menerima pelajaran dari Vairocana, ia pun mohon diri dan kembali ke tempat Purnawijaya menyembunyikan diri.&lt;br /&gt;Kemudian tibalah giliran Purnawijaya untuk menghadap Vairocana untuk mengajukan permohonan. Oleh Vairocana, Purnawijaya kemudian diberikan pelajaran dan menerima pelajaran tersebut, segeralah lenyap semua nafsu yang melekat pada dirinya yang menyebabkan ia berbuat dosa. Walupun demikian, Purnawijaya belum dapat tertolong dari maut. Oleh karena dosa-dosa yang pernah diperbuatnya, akhirnya Purnawijaya masuk neraka, tetapi tak akan lama di dunia neraka, hanya sepuluh hari saja. Hal itu perlu untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang pernah diperbuatnya. Setelah menerima pelajaran dari Vairocana, terhiburlah hati Purnawijaya. Kemudian dengan semangatnya Purnawijaya berlatih keras dalam samadhi dan dhyana, sesuai dengan pelajaran yang telah diterima dari Vairocana. Didampingi istrinya, Gandhawati, Purnawijaya lalu berpesan, apabila ajalnya tiba, istrinya yang harus mengurus dan menjaga mayatnya selama sepuluh hari, karena setelah sepuluh hari ia akan bangun kembali.&lt;br /&gt;Saat yang dinanti-nantikan pun tiba. Jiwa meninggalkan tubuh, diikuti oleh sebuah bayangan yang merupakan akibat dosa yang telah diperbuatnya, pergi ke dunia neraka dan menghadap pada Yama. Sesamp[ainya dineraka, oleh para pengawal neraka, Purnawijaya segera dilemparkan dalam ketel panas itu. Namun sekonyong-konyong ketel tersebut pecah dan hancur lebur. Dan ditempat tersebut muncul sebatang pohon surga, dikelilingi kolam dan bunga teratai yang amat indah. Para pengawal neraka sangat terkejut dan melaporkan kejadian tersebut pada Yama.&lt;br /&gt;Kemudian bertanyalah Yama pada Purnawjaya tentang kejadian tersebut, setelah mendapatkan penjelasan dari Purnawijaya, yama lalu mengijinkan Purnawijaya untuk kembali ke asal(tubuh)nya. Setelah bangun kembali, Purnawijaya lalu memangggil semua Widyadhara dan Widyadhari untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Kemudian ia mengajak mereka semua untuk menghadap Vairocana dan meyampaikan puja dan puji untukNya.&lt;br /&gt;Pada saat hampir bersamaan,semua dewa, seperti Indra, Waruna dan lain-lainnya mendatangi Yama untuk menanyakan apa yang telah terjadi. Setelah mendapatkan penjelasan dari Yama, para dewa kemudian menghadap Vairocana untuk memohon penjelasan. Dengan suka hati Vairocana lalu menceritakan kisah Kunjarakarna dan Purnawijaya, mengingatkan para dewa pada ilmu kenyataan itu. Setelah mendapatkan penjelasan dari Vairocana, mereka pun kembali ke alam sorga. Setelah mengalami benyak peristiwa dan pelajaran, Kunjarakarna dan Purnawijaya akhirnya bersama-sama melanjutkan samadhi di kaki gunung Mahameru. Setelah bersamadhi selama dua belas tahun, mereka kemudian naik ke sorga Siddha.&lt;br /&gt;Kitab Sanghyang Kamahayanikan&lt;br /&gt;Sanghyang Kamahayanikan adalah merupakan sebuah literature agama Buddha yang sangat erat hubungannya dengan agama Buddha mazhab Tantrayana di Indonesia. Kitab Sanghyang Kamahayanikan ini seluruhnya berisi 129 ayat. Bagi sebagian besar umat Buddha. Isi dari kitab tersebut masih merupakan suatu kendala untuk dimengerti dan berada di luar kemampuan pikiran mereka.&lt;br /&gt;Menurut penelitian yang pernah dilakukan, kitab Sanghyang Kamahayanikan tersusun antara tahun 929-947 Masehi oleh Mpu Shri Sambhara Surya Warama dari Jawa Timur, sebagai penerus dari kerajaan Mataram yang bergeser ke Jawa Timur. Naskah tertua dari kitab Sanghyang Kamahayanikan ini diketemukan di pulau Lombok pada tahun 1900 Masehi. Naskah ini oleh prof.Yunboll kemudian dibahas pada tahun 1908.dan diterjemahkan kedalam bahasa Belanda oleh, J.deKatt pada tahun 1940. setelah itu,naskah tersebut diteliti lagi oleh Prof.Wuff. Selanjutnya, naskah tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh I Gusti Bagus Sugriwa.&lt;br /&gt;Kemudian oleh Tim Penerjemah Kitab Suci Agama Buddha Ditura Buddha ~Ditjen Bimas Hindu dan Buddha, Departemen Agama RI. Kitab Sanghyang Kamahayanikan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan hasil yang lebih baik dari terjemahan-terjemahan sebelumnya.&lt;br /&gt;Menurut dr.DK.Widya, isi kitab Sanghyang Kamahayanikan ini mengajarkan bagaimana seseorang mencapai Kebuddhaan, di mana seorang siswa pertama -tama melaksanakan Paramita-paramita, kemudian dijelaskan Paramaguhya dan Mahaguhya. Selain itu dijelaskan juga falsafah Adwaya yang mengatasi dualisme"ada" dan "tidak ada".&lt;br /&gt;Disamping itu, dapat diperoleh tambahan informasi berupa hasil wawancara dengan dua orang tokoh Tantrayana, yakni YA. Rinpoche Zurmang Garwang dari Sikkim, India dan YA.Rinpoche Losang Ngudup dari Mysore,India. YA.Rinpoche Zurmang Garwang adalah seorang pemimpin dari Dharma Chakra Centre yang terletak di Rumtek. East Sikkim, India. Menurut keterangan, beliau diyakini telah tumimbal lahir sebanyak tiga belas kali dan penganut Tantra, baik di Sikkim dan di Tibet mengkonsumsi jenis makanan nabati (vegetarian) dan hewani. Vinaya yang berpantang makan dari bahan makanan hewani atau yang dikenal dengan 'vegetarian' hanya pada kelompok Sangha aliran Mahayana di daratan China saja.&lt;br /&gt;Menurut YA. Rinpoche Zurmang garwanglebih lanjut, setiap rohaniwan Tantra (sering disebut sebagai 'Lhama'), mereka harus mendalami dahulu dasar-dasar Buddha Dharma yang ada pada mazhab Theravada dan Mahayana, sebelum mereka mendalami Tantrayana. Karena semua pada Buddha Dharma baik pada Theravada, Mahayana dan Tantrayana adalah sama. Mereka hanya berbeda pada cara pengalamannya saja.&lt;br /&gt;YA. Rinpoche Losang Ngudup berasal dari kelompok Ge-lugpa (Yellow Hat Sect /sekte jubah kuning) adalah Ex Abbot (mantan Rektor) pada sera Mahayana Sermey Monastic University, yang terletak di Mysore, Distrik Karnanata-Southern India. Sera Mahayana Sermey Monastic University adalah lembaga pendidikan tinggi yang dikhususkan bagi para rohaniwan Tantrayana sebelum mereka di wisuda (inisiasi) sebagai "Lhama".&lt;br /&gt;Menurut YA. Rinpoche Losang Ngudup, setiap calon "Rinpoche" harus terlebih dahulu menjadi anggota Sangha, yang dalam Tantrayana disebut sebagai Lhama dan harus mendalami terlebih dahulu Dharma yang ada pada mazhab Tantrayana. Ini adalah informasi yang sama dengan YA. Rinpoche Zurmang Garwang. Menurut beliau lebih lanjut, kunjungan beliau dan rombongan ke Indonesia adalah dalam rangka mencari 'benang merah' dengan Tantrayana di Indonesia. Mereka berkeyakinan bahwa Tantrayana pada masa kerajaan-kerajaan dahulu adalah memiliki 'garis silsilah'(lineage) yang sama dengan mereka, yakni melalui YA. Atissa Srinyana Dipankara. YA. Atissa adalah seorang Rinpoche yang pernah menetap di Sriwijaya (P.Sumatera) dan berguru pada YA. Dharmakirti atau Dharmaphala. YA.Atissa tiba di Sriwijaya pada usia 31 tahun dan beliau menetap di sana sekitar duabelas tahun lamanya. Menurut YA. Rinpoche Losang Ngudup, YA. Rinpoche Atissa telah menanamkan semangat bagi kekuatan spiritual Tantrayana di Tibet&lt;br /&gt;Oleh : Toto&lt;br /&gt;Selesai&lt;br /&gt;1.      Chau Ming, beberapa Aspek tentang Agama Buddha Mahayana, Jakarta 1987, Sasana 1994, Filsafat Buddhis Mahayana 1985&lt;br /&gt;2.      Mulyadi Wahono SH, Pokok-pokok Dasar Agama Buddha, Ditjen Bimas Hindu Buddha Depag RI Jakarta1992.&lt;br /&gt;3.      dr.DK.Widya,Sejarah Perkembangan Agama Buddha, ditjen Bimas Hindu &amp; Buddha Depag RI-UT Jakarta 1993,&lt;br /&gt;4.      Dr.Pdt.HS.Rusli MSA PhD. Teori dan Praktek Tantra-Vajrayana,IBC Medan 1982.&lt;br /&gt;5.      Ven. Narada mahathera,Sang Buddha &amp; Ajaran-ajarannya, Yayasan Dhammadipa Arama 1996.&lt;br /&gt;6.      S.Widyadharma,Dhamma Sari Jakarta 1990.&lt;br /&gt;7.      Kiprah Kasogatan Jakarta 1994&lt;br /&gt;8.      Drs.D.Dharmakusumah, Alam Kematian sementara (Bardo Thodol), Jakarta 1992.&lt;br /&gt;9.      Drs.R.Soekmono, Pengantar Sejarah kebudayaan Indonesia, Jakarta 1973.&lt;br /&gt;10.  Sanghyang Kamahayanikan, Ditjen Bimas Hindu &amp; Buddha Depag RI, Jakarta 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Perkembangan Agama Buddha di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli sejarah masih meneliti kapan sebenarnya agama Buddha masuk ke Indonesia. Namun banyak orang sependapat bahwa kedatangan Aji Saka merupakan tanggal kedatangan agama Buddha di Indonesia.&lt;br /&gt;Apabila kita meneliti arti kata "Aji Saka" ini, kita akan menemukan: "Aji" dalam bahasa Kawi berarti "ilmu kitab suci" sedang "Saka" berasal dari kata "Sakya". Sehingga "Aji Saka" dapat diartikan sebagai "Pakar dalam Kitab Suci Sakya" atau Pakar Buddha Dharma. Dari sini dapat diketahui bahwa Aji Saka sebenarnya bukanlah sebuah nama, tetapi sebuah gelar. Gelar ini diberikan rakyat kepada rajanya yang sebenarnya bernama Tritustha.&lt;br /&gt;Kata "Dewata" artinya dewa dan "Cengkar" artinya jahat, jadi "Dewata Cengkar" tidak lain berarti dewa jahat (awidya). Dengan demikian legenda yang telah merakyat di Jawa Tengah tentang perang dahsyat antara Aji Saka melawan Raja Dewata Cengkar, kiranya dapat diartikan sebagai perang antara Buddha Dharma melawan Kejahatan/Kebodohan (Awidya).&lt;br /&gt;Aji Saka bukan hanya pakar dalam Buddha Dharma, tetapi juga seorang pakar astronomi dan sastra. Dalam legenda Jawa dikatakan bahwa untuk menandai kekhilafan beliau dalam memberi perintah kepada dua orang panglimanya yang setia --yang menyebabkan mereka berperang tanding sendiri dan keduanya gugur karena sama "jayanya"--, beliau membuat Aksara Jawa.&lt;br /&gt;Kalau Ha Na Ca Ra Ka dipakai untuk mengenang kedua panglimanya yang setia --Dora dan Sembada--, maka untuk mengingat kedatangannya, sebuah candrasangkala telah dibuat oleh Aji Saka. Penanggalan tahun Saka (tahun Jawa) ini dimulai pada tanggal beliau mendarat di pulau Jawa. "Nir Wuk Tanpa Jalu" adalah tanggal 0001, karena: Nir = kosong = 0; Wuk = tidak jadi = 0; Tanpa = 0; dan Jalu = 1. Permulaan waktu penanggalan tahun Saka ini sama dengan tanggal 14 Maret tahun 78 Masehi.&lt;br /&gt;Kalau legenda Aji Saka ini kelak ternyata benar, maka dapatlah dikatakan agama Buddha telah masuk ke Indonesia (Jawadwipa) pada abad I Masehi, jadi jauh sebelum Candi Borobudur didirikan oleh raja-raja Wangsa Sailendra pada abad VII.&lt;br /&gt;Secara singkat dapat disusun kurang lebih perkembangan agama Buddha di Indonesia sebagai berikut:&lt;br /&gt;Abad I (14 Maret 78), kedatangan Aji Saka Tritustha menandai masuknya agama Buddha di Indonesia (Jawadwipa).&lt;br /&gt;Abad II, III, dan IV di Indonesia (Jawa) agama Buddha sudah berkembang. Ini terbukti dari catatan-catatan Bhiksu Fa-hien yang datang ke Jawa pada abad V. Beliau menyatakan bahwa sewaktu beliau datang di Jawa agama Buddha sudah ada bersama-sama agama Hindu.&lt;br /&gt;Abad IV dan V, bukti perkembangan agama Buddha dapat dilihat dari prasasti-prasasti kerajaan Purnawarman di Jawa Barat dan Mulawarman di Kalimantan.&lt;br /&gt;Abad VII dan VIII adalah jaman keemasan perkembangan agama Buddha di Jawa, di bawah raja-raja Kerajaan Mataram Purba dan Sailendra. Pada abad VII ini Candi Borobudur dibangun, pembangunannya dikatakan memakan waktu kira-kira delapan puluh tahun.&lt;br /&gt;Abad VIII dan IX, berdiri Kerajaan Sriwijaya di Sumatera, di mana Bhiksu I-tsing pernah datang belajar agama Buddha dan bahasa Sanskerta.&lt;br /&gt;Abad XI, Atisa Dipankara seorang bhiksu yang mengajarkan Vajrayana di Tibet, sewaktu mudanya juga belajar pada Bhiksu Dharmakirti di Swarnadwipa (Sumatera).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1100-1478&lt;br /&gt;berdirilah kerajaan-kerajaan: Kediri, Singasari, Tumapel, Daha, Lumajang, dan Majapahit. Akhirnya Keprabuan Majapahit runtuh, berdiri Kerajaan Islam Demak (tahun 1481) dengan rajanya Raden Patah.&lt;br /&gt;Agama Buddha kemudian "hilang" dan tidak pernah dibicarakan orang lagi, hanya peninggalan-peninggalan candi-candinya masih terus dikagumi orang.&lt;br /&gt;Tahun 1901&lt;br /&gt;Sanghanata Aryamula Maha Upadhyaya (Pen Ching Lau He Sang) datang ke Indonesia, mula-mula menata sejumlah vihara yang dibangun umat Buddha keturunan Tionghoa dan akhirnya membangun Vihara Kuang Hua Se Jakarta.&lt;br /&gt;Tahun 1912&lt;br /&gt;ajaran Theosofi masuk ke Indonesia dan di kalangan para anggotanya agama Buddha mulai kembali dipelajari. Kelak ternyata bahwa kebanyakan dari para aktivis agama Buddha pada Jaman Kemerdekaan belajar agama Buddha melalui Perhimpunan Theosofi selain dari Sam Kauw Hwee.&lt;br /&gt;Tahun 1934&lt;br /&gt;Narada Thera datang ke Jawa dan bersama umat Buddha menanam pohon Bodhi di halaman Candi Borobudur.&lt;br /&gt;Tahun 19..&lt;br /&gt;Kwee Tek Hoay menerbitkan majalah "Mustika Dharma".&lt;br /&gt;Tahun 1953&lt;br /&gt;(Waisak 2497) Anagarika Tee Boan An dan Drs. Khoe Soe Kiam memimpin upacara peringatan Waisak pada tanggal 22 Mei di Candi Borobudur. Dengan demikian api Buddha Dharma kembali menyala di Indonesia.&lt;br /&gt;Bulan Juli tahun 1953 Anagarika Tee Boan An memasuki kehidupan sebagai seorang sramanera dengan menerima diksa secara Mahayana dari Sanghanata Aryamula Maha Upadhyaya (Pen Ching Lau He Sang) di Vihara Kuang Hua Se Jakarta dan diberi nama Seck Tee Tjen. Kemudian atas saran gurunya, pada tahun yang sama beliau berangkat ke Burma untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama Buddha.&lt;br /&gt;Bulan April tahun 1954 beliau menerima upasampada sebagai bhikkhu dengan Upajjhaya Agga Maha Pandita Bhaddanta U Ashin Sobhana Mahathera (Mahasi Sayadaw), dan diberi nama Bhikkhu Ashin Jinarakkhita. Dengan demikian Bhikkhu Ashin Jinarakkhita adalah putera Indonesia pertama yang menjadi bhikkhu sesudah runtuhnya Keprabuan Majapahit kira-kira 500 tahun yang lampau.&lt;br /&gt;Pada Hari Suci Asadha 2498 BE (tahun 1954), untuk membantu perkembangan agama Buddha secara nasional oleh Bhikkhu Ashin Jinarakkhita didirikanlah Persaudaraan Upasaka Upasika Indonesia (PUUI) yang lambangnya sampai sekarang masih dipakai oleh Majelis Buddhayana Indonesia (MBI).&lt;br /&gt;Tahun 1956&lt;br /&gt;diadakan Perayaan Waisak di Candi Borobudur. Perayaan Waisak ini merupakan perayaan yang besar, karena tahun itu tepat 2500 tahun mahaparinirvananya Sang Buddha (2500 Buddhajayanti). PUUI Semarang menerbitkan buku peringatan 2500 Buddhajayanti yang berisi banyak penerangan tentang agama Buddha, antara lain mengenai Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Perbedaan Hinayana dan Mahayana.&lt;br /&gt;Tahun 1958&lt;br /&gt;terbentuklah Perbudhi (Perhimpunan Buddhis Indonesia).&lt;br /&gt;Tahun 1959&lt;br /&gt;untuk pertama kalinya sejak runtuhnya Majapahit, diadakan penahbisan bhikkhu di Indonesia. Untuk penahbisan ini, 13 (tiga belas) orang bhikkhu senior dari berbagai negara datang ke Indonesia. Dua orang bhikkhu yang ditahbiskan saat itu adalah Bhikkhu Jinaputta dan Bhikkhu Jinapiya.&lt;br /&gt;Tahun 1963&lt;br /&gt;terbentuk Maha Sangha Indonesia yang beranggotakan baik bhikkhu-bhikkhu Theravada maupun bhiksu-bhiksu Mahayana.&lt;br /&gt;Tahun 1972&lt;br /&gt;nama Persaudaraan Upasaka Upasika Indonesia (PUUI) diubah menjadi Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI). Kemudian nama ini disempurnakan lagi menjadi Majelis Upasaka-Pandita Agama Buddha Indonesia dengan singkatan tetap MUABI. Akhirnya pada tahun 1979 nama MUABI ini diubah menjadi Majelis Buddhayana Indonesia (MBI).&lt;br /&gt;Tahun 1974&lt;br /&gt;Maha Sangha Indonesia dan Sangha Indonesia (terbentuk tahun 1972 dipimpin Bhikkhu Girirakkhito) bersatu dengan nama Sangha Agung Indonesia, nama yang diberikan oleh Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Depertemen Agama RI. Sebagai Ketua Sangha Agung Indonesia adalah Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, dengan tiga orang wakil ketua, yaitu Bhikkhu Jinapiya, Bhikkhu Girirakkhito, dan Bhikkhu Uggadhammo.&lt;br /&gt;Tahun 1976&lt;br /&gt;terbentuk Gabungan Umat Buddha Seluruh Indonesia (GUBSI) sebagai wadah tunggal organisasi kemasyarakatan umat Buddha Indonesia yang melebur Perbudhi, Buddha Dharma Indonesia (Budhi), dan sebagainya.&lt;br /&gt;Tahun 1976&lt;br /&gt;terbentuk pula federasi dari beberapa majelis agama Buddha, yang diberi nama Majelis Agung Agama Buddha Indonesia (MABI). MABI diketuai oleh Soeparto Hs. dari Majelis Pandita Buddha Dhamma Indonesia (Mapanbudhi) dengan sekretaris Ir. T. Soekarno dari Niciren Syosyu Indonesia (NSI).&lt;br /&gt;Tahun 1976&lt;br /&gt;terbentuk Sangha Theravada yang dipimpin oleh Bhikkhu Aggabalo.&lt;br /&gt;Tahun 1978&lt;br /&gt;terbentuk Sangha Mahayana Indonesia yang dipimpin Bhiksu Dharmasagaro.&lt;br /&gt;Tahun 1978&lt;br /&gt;diadakan Lokakarya Pemantapan Agama Buddha Berkepribadian Indonesia yang diikuti semua majelis agama Buddha di Indonesia.&lt;br /&gt;Tahun 1979,&lt;br /&gt;tepatnya tanggal 7-9 Mei, diadakan Kongres Umat Buddha Indonesia di Yogyakarta yang melahirkan Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi) sebagai federasi dari sangha-sangha dan majelis-majelis agama Buddha di Indonesia yang bersifat koordinatif dan konsultatif. Panitia Kongres diketuai oleh Soewarto Kolopaking, S.H. dengan sekretaris Johan Sani Viryanata, B.A., keduanya pimpinan pusat MBI. Walubi untuk pertama kalinya dipimpin oleh seorang Sekjen, yaitu Soeparto Hs. dari Mapanbudhi. Sedang jabatan Ketua Dewan Pembina Walubi dipegang oleh Brigjen (Purn.) Soemantri M.S. dari MBI.&lt;br /&gt;Tahun 1981&lt;br /&gt;terbentuk Sekretariat Bersama Generasi Muda Buddhis Indonesia (Sekber GMBI) yang merupakan konfederasi dari organisasi-organisasi pemuda di lingkungan vihara. Atas permintaan DP Walubi pada tahun 1985 Sekber GMBI berganti nama menjadi Sekretariat Bersama Persaudaraan Muda-mudi Vihara-vihara Buddhayana Indonesia (Sekber PMVBI).&lt;br /&gt;Tahun 1982&lt;br /&gt; terbentuk Sangha Tantrayana Indonesia dalam naungan Sangha Agung Indonesia, dipimpin oleh Mahawiku Dharma-aji Uggadhammo.&lt;br /&gt;Tahun 1983&lt;br /&gt;Hari Waisak ditetapkan sebagai hari libur nasional.&lt;br /&gt;Tahun 1986&lt;br /&gt; terbentuk Gemabudhi (Generasi Muda Buddhis Indonesia) sebagai wadah tunggal generasi muda Buddhis Indonesia dan tergabung di KNPI. Ketua Umum DPP Gemabudhi saat ini adalah Lieus Sungkharisma dari MBI.&lt;br /&gt;Tahun 1987&lt;br /&gt;terbentuk KBWBI (Keluarga Besar Wanita Buddhis Indonesia) sebagai wadah tunggal wanita Buddhis Indonesia dan tergabung di Kowani. Ketua Umum PB KBWBI saat ini adalah Dr. Parwati Soepangat, M.A. dari MBI.&lt;br /&gt;Tahun 1987&lt;br /&gt;Niciren Syosyu Indonesia (NSI) secara resmi dikeluarkan dari Walubi.&lt;br /&gt;Tahun 1994&lt;br /&gt;Sangha Agung Indonesia (Sagin) dan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) juga memilih berada di luar Walubi. Sagin dan MBI konsisten dalam mempertahankan AD/ART Walubi hasil Munas II (1992) dan menolak AD/ART Walubi hasil Sidang Paripurna (1993).&lt;br /&gt;Tahun 1994&lt;br /&gt; terbentuk Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI), dipimpin oleh Dra. Siti Hartati Murdaya, MBA.&lt;br /&gt;Tahun 1996&lt;br /&gt;terbentuk lima wadah fungsional di lingkungan Sekber PMVBI, yaitu: Ikatan Pembina Gelanggang Anak-anak Buddhis Indonesia (IPGABI), Forum Komunikasi Dharmaduta Muda Buddhis Indonesia (FKDMBI), Ikatan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Imabi), Forum Komunikasi Sarjana Buddhis Indonesia (FKSBI), dan Ikatan Pengelola Media Komunikasi Buddhis Indonesia (IPMKBI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGAMA BUDDHA INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Suci&lt;br /&gt;Dalam perkembangan agama Buddha di Indonesia secara bertahap Theravada, Mahayana, dan Vajrayana telah tumbuh kembali di bumi nusantara. Oleh karena itu Sangha Agung Indonesia sebagai mahasangha dari ketiga aliran tersebut telah menetapkan bahwa kitab suci yang dijadikan pegangan Agama Buddha Indonesia adalah Tripitaka yang terdiri dari:&lt;br /&gt;Pali Pitaka atau keranjang yang berisi Tripitaka yang bahasa pertamanya Pali (Tipitaka Pali). Tipitaka Pali ini terdiri dari Sutta Pitaka, Vinaya Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka. Yang sudah diterbitkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia adalah Dhammapada, sebagian dari Digha Nikaya, dan sebagian dari Majjhima Nikaya.&lt;br /&gt;Sanskerta Pitaka atau keranjang yang berisi Tripitaka dan kitab-kitab suci agama Buddha yang bahasa pertamanya Sanskerta. Pitaka ini sekarang lebih dikenal dalam bentuk Mahapitaka (Mandarin) atau Kahgyur (Tibet). Yang sudah diterbitkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia adalah Saddharma Pundarika Sutra.&lt;br /&gt;Kawi Pitaka atau keranjang Kawi yang berisi kitab-kitab suci agama Buddha peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia sendiri yang ditulis dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno). Yang sudah diterbitkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia adalah Sanghyang Kamahayanikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tripitaka khas milik Agama Buddha Indonesia ini merupakan modal dasar yang tidak ternilai bagi masyarakat Buddha yang majemuk. Mengingat dalam banyak hal diperlukan adanya harmoni dalam ketunggalan, terutama dalam kurikulum pendidikan agama Buddha dan dalam upacara kebersamaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7026672496482314804-6076336190149659395?l=dharmoghandul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/6076336190149659395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7026672496482314804&amp;postID=6076336190149659395' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/6076336190149659395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/6076336190149659395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/sejarah-perkembangan-agama-buddha-di.html' title='SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA BUDDHA DI INDONESIA'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-3212497543268796384</id><published>2007-07-16T23:18:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T23:19:40.998-07:00</updated><title type='text'>SUNAN AMPEL BERDARAH CINA</title><content type='html'>Penelitian: Sunan Ampel Berdarah Cina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, NU Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya, Drs H Sjamsudduha dalam penelitian sejak 1971 menyimpulkan bahwa Sunan Ampel yang merupakan "guru" para wali itu ternyata keturunan Cina. Dalam penelitian itu disebutkan, ibu Sunan Ampel berasal dari Campa, Cina.&lt;br /&gt;"Ada sejarahwan yang bilang Campa itu Jeumpa di Aceh Utara, lalu saya melakukan penelitian ke Aceh, ternyata Jeumpa itu kerajaan pra Islam dan bukan pelabuhan yang mempunyai hubungan dagang dengan Pasai atau Jawa, karena itu Campa itu bukan Jeumpa, apalagi peneliti Aceh sendiri menyebut Campa itu di Indocina," katanya di Surabaya, Rabu.&lt;br /&gt;Ia mengemukakan hal itu dalam bedah buku "Sunan Ampel, Guru Para Wali di Jawa dan Perintis Pembangunan Kota Surabaya" yang ditulisnya sejak 1971 dalam bentuk skripsi dan akhirnya diterbitkan sebagai buku dalam rangka "Festival Internasional Ampel 2004" pada 27 Juni - 27 Juli 2004 dengan 19 rangkaian kegiatan.&lt;br /&gt;Menurut Sjamsudduha, ayah Sunan Ampel sendiri bernama Ibrahim yang berasal dari  Arab, sedangkan nama ibunya beragam, diantaranya Retna Sujinah, Retna Dyah Siti Asmara, Darawati, Dewi Candrasasi atau Dewi Candrawulan, namun semua sumber sepakat bahwa ibu Sunan Ampel adalah seorang putri bangsawan Campa.&lt;br /&gt;Buku yang ditulis berdasarkan bukti tertulis seperti Babad Tanah Jawi, telaah interteks, dan telaah teori serta tesis itu, katanya, juga menumbangkan teori Prof Dr Slamet Mulyono bahwa Sunan Ampel itu merupakan "aktor intelektual" runtuhnya Kerajaan Majapahit dan lunturnya ajaran agama Hindu Jawa.&lt;br /&gt;"Profesor Slamet Mulyono menilai runtuhnya Majapahit itu tak lepas dari komunitas muslim Cina di bawah pimpinan Sunan Ampel yang menyerang Majapahit dengan memanfaatkan fanatisme agama, tapi hasil penelitian saya justru meragukan kesimpulan itu, karena Majapahit runtuh pada 1527 dan bukan 1478, sedangkan Sunan Ampel sendiri wafat pada 1484," katanya.&lt;br /&gt;Selain itu, katanya, teks-teks yang ada justru menemukan penyebab keruntuhan Kerajaan Majapahit adalah pemberontakan Raja Keling yang merupakan bawahan Kerajaan  Majapahit yang terletak di sekitar Kediri.&lt;br /&gt;Dalam bukunya itu, Sjamsudduha juga mengupas ajaran Sunan Ampel yang berfaham Ahlussunnah wal Jamaah dalam akidah (keimanan), bermadzhab Imam Syafi’i dalam fiqh  (hukum Islam), dan mengajarkan Thariqat  Naqsyabandiyah dalam tasawuf.&lt;br /&gt;Selain itu, Sunan Ampel yang bernama kecil Raden Rahmat itu berjuang dengan cara dakwah, pendidikan kepesantrenan, pembangunan kota Surabaya, dan pendidikan kader dakwah.&lt;br /&gt;“Masjid Ampel yang sudah mengalami renovasi berkali-kali itu merupakan  pusat perkembangan bagi kampung-kampung di Surabaya, karena itu Sunan Ampel adalah peletak dasar dan perintis dari perkembangan kota Surabaya," katanya.&lt;br /&gt;Sementara itu, guru besar Universitas Negeri Malang (UNM) Prof Dr Abdul Mustopo menilai penelitian Sjamsudduha cukup penting dan karenanya harus dilanjutkan peneliti lain, karena masih banyak manuskrip tentang Sunan Ampel yang belum diungkap. "Misalnya, Sunan Ampel itu pernah mondok di Malaysia," katanya.(mkf/an)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7026672496482314804-3212497543268796384?l=dharmoghandul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/3212497543268796384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7026672496482314804&amp;postID=3212497543268796384' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/3212497543268796384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/3212497543268796384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/sunan-ampel-berdarah-cina.html' title='SUNAN AMPEL BERDARAH CINA'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-3519176576704791396</id><published>2007-07-16T23:17:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T23:18:46.833-07:00</updated><title type='text'>PELAYANAN KEPADA ORANG SAKIT DAN MEJELANGA KEMATIAN</title><content type='html'>Message: 5     Date: Sat, 15 Jan 2005 13:52:12 +0700   From: "P.T. Animo Sarana" &lt;&lt;a href="http://us.f305.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=levychan@rad.net.id&amp;YY=47888&amp;amp;order=down&amp;sort=date&amp;amp;pos=0"&gt;levychan@rad.net.id&lt;/a&gt;&gt;&lt;br /&gt;Subject: PELAYANAN KEPADA ORANG SAKIT DAN SAKIT MENJELANG KEMATIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutp dari www.samaggi-phala.or.id :&lt;br /&gt;Naskah Dhamma : PELAYANAN KEPADA ORANG SAKIT DAN SAKIT MENJELANG KEMATIAN oleh Lily de SilvaBuddhist Publication Society Bodhi Leaves( BL 132 ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha menasehati murid-muridNya tentang pentingnya pelayanankepada orang sakit. Beliau bersabda :"Seseorang yang merawat orangsakit, berarti ia telah merawat Saya". Pernyataan terkenal ini dibuatoleh Yang Terberkati saat Beliau menemukan seorang bhikkhu yang sedangberbaring dalam jubah kotornya. Bhikkhu tersebut dalam keadaan sakitparah karena serangan disentri. Dengan bantuan Ananda, Sang Buddhamencuci dan membersihkan bhikkhu sakit itu dengan air hangat. Dalamkesempatan ini, Beliau mengingatkan para bhikkhu bahwa mereka tidakmempunyai orang tua maupun sanak keluarga yang menjaga mereka, makamereka harus menjaga satu sama lain. Jika guru sedang sakit, muridmempunyai kewajiban untuk menjaganya, dan jika murid sakit, guruberkewajiban menjaga murid yang sakit. Jika tidak ada guru atau murid,maka masyarakat berkewajiban menjaga orang sakit (Vin.i,301ff.). Pada kesempatan lain, Sang Buddha menjumpai seorang bhikkhu yangtubuhnya dipenuhi dengan luka, jubah lengket di tubuhnya dengan nanahkeluar dari luka-lukanya. Para teman bhikkhu telah meninggalkannyakarena tidak dapat menjaganya. Saat menemui bhikkhu ini, Sang Buddhamerebus air dan mencuci bhikkhu tersebut dengan tanganNya sendiri,selanjutnya membersihkan dan mengeringkan jubahnya. Saat bhikkhutersebut telah nyaman, Sang Buddha memberikan khotbah kepadanya dan iamenjadi arahatta, tidak lama setelah menjadi arahatta, ia meninggaldunia (DhpA.i,319). Oleh karena itu Sang Buddha tidak hanya mendukungpentingnya merawat orang sakit, Beliau juga memberi contoh baik dengandiriNya sendiri memberikan pelayanan kepada mereka yang sangat sakit,mereka yang bahkan dianggap menjijikkan bagi orang-orang lain. Sang Buddha menyebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorangperawat baik. Ia harus mampu memberikan obat, ia harus mengetahui apayang bermanfaat untuk pasien dan apa yang tidak bermanfaat. Ia harusmenjauhkan apa yang tidak bermanfaat dan hanya memberikan apa yangbermanfaat bagi pasien. Ia harus mempunyai cinta kasih dan murah hati,ia harus melakukan kewajibannya atas kesadaran untuk melayani dan bukanhanya untuk imbalan (mettacitto gilanam upatthati no amisantaro). Iatidak boleh merasa jijik terhadap air liur, lendir, air kencing, tahi,luka, dll. Ia harus mampu menasehati dan mendorong pasien dengan ide-idemulia, dengan pembicaraan Dhamma (A.iii,144). Patut diperhatikan di sini bahwa perawat tidak hanya diharapkan cakapdalam merawat badan dengan memberi makanan dan obat yang tepat, tetapiia juga diharapkan untuk merawat kondisi batin pasien. Diketahui bahwakebaikan para perawat dan dokter adalah obat yang hampir samaeffektifnya untuk semangat juang dan kesembuhan seorang pasien. Saatseseorang sedang sakit parah dan merasa tidak berdaya, suatu kata ramahatau suatu tindakan baik menjadi sumber kesenangan dan harapan. Itulahsebabnya cinta kasih (metta) dan belas kasihan (karuna), yang jugamerupakan perasaan-perasaan mulia (brahmavihara), dianggap sebagaisifat-sifat yang patut dipuji dalam seorang perawat. Sutta-suttamenambahkan dimensi lain bagi profesi perawatan dengan memasukkan elemenspiritual dalam pembicaraan perawat. Keadaan sakit adalah saat seseorangsedang menghadapi kenyataan-kenyataan hidup dan kondisi ini adalah suatukesempatan baik untuk menanamkan suatu kesadaran spiritual yangmendesak, bahkan dalam batin yang paling materialistis sekalipun. Lebihlanjut lagi, seseorang yang sedang sakit tentunya mempunyai perasaantakut pada kematian yang lebih besar daripada saat ia sedang sehat.Cara-cara yang paling bagus untuk menenangkan perasaan takut ini adalahdengan mengalihkan perhatian kepada Dhamma. Dalam pengawasannya, perawatdiharapkan memberikan bimbingan spiritual kepada pasien sebagai suatubagian dan paket dari kewajiban seorang perawat. Dalam Anguttara Nikaya, Sang Buddha menyebutkan tiga jenis pasien(A.i,120). Terdapat pasien yang tidak akan sembuh apakah merekamendapatkan atau tidak mendapatkan pelayanan pengobatan dan perawatanyang tepat; terdapat pasien yang akan sembuh tidak peduli apakah merekamendapatkan atau tidak mendapatkan pelayanan pengobatan dan perawatanyang tepat; terdapat pasien yang akan sembuh hanya dengan pengobatan danperawatan yang tepat. Karena adanya jenis pasien ke tiga inilah, makasemua yang sakit harus diberi pengobatan tersedia yang terbaik, makananyang bermanfaat dan perawatan yang tepat. Selama pasien masih hidup,segala yang dapat dilakukan harus diusahakan untuk kesembuhannya. Menurut sutta lainnya (A.iii,56,62), penyakit adalah salah satu yangtidak dapat dihindari dalam kehidupan. Saat menghadapinya, semua sumberyang tersedia bagi seseorang, bahkan mantra-mantra gaibpun, seharusnyadimanfaatkan dengan harapan untuk mengembalikan kesehatan.Di sini tidakakan dibahas masalah perbuatan-perbuatan seperti itu bermanfaat atautidak. Nampaknya inti permasalahan adalah dalam keadaan kritis tidak adaburuknya untuk mencoba, bahkan metode yang secara tradisi dipercaya akanmembawa hasil, walaupun orang yang bersangkutan tidak harus mempunyaikeyakinan atau kepercayaan pada metode tersebut. Tentunya, metode-metodedemikian seharusnya tidak bertentangan dengan hati nurani seseorang.Walaupun dengan upaya-upaya ini, jika kematian tetap datang, makaseseorang harus menerimanya sebagai hasil dari kamma dengan ketenanganhati dan kebijaksanaan. Di sini, kita diingatkan akan sebuah peristiwa (MA.i,203) pada saatseorang ibu yang sedang sakit parah memerlukan daging kelinci sebagaipengobatan. Sang putra tidak mendapatkan daging kelinci di pasar umum,ia mencari seekor kelinci. Ia berhasil menangkap seekor kelinci tetapiia sangat membenci membunuhnya walau pembunuhan tersebut demi ibunya. Iamelepaskan kelinci dan mengharapkan ibunya sembuh. Kebajikan moral putrabersama pengharapannya secara serentak membawa kesembuhan ibu. TradisiBuddhis nampaknya menekankan bahwa kekuatan kebajikan dalamkeadaan-keadaan tertentu mempunyai sifat-sifat penyembuhan yang dapatbekerja bahkan dalam kasus-kasus saat pengobatan umum tidak berhasil. Bab pengobatan-pengobatan di Vinaya Mahavagga (Vin.i,199ff.) menunjukkanbahwa Sang Buddha mengendorkan beberapa peraturan tata tertib minoruntuk menyesuaikan kebutuhan-kebutuhan para bhikkhu yang sakit. Walaupunseorang disiplin yang keras, Sang Buddha menunjukkan rasa simpati danpengertian besar kepada mereka yang sakit. Nilai kesehatan telahdisadari sepenuhnya dan bahkan dikenal sebagai keuntungan yang terbesar(arogyaparama labha, Dhp.204). Sang Buddha mengajarkan bahwa agar sembuh, pasien juga harus bekerjasama dengan dokter dan perawat. Seorang pasien baik seharusnya hanyamenerima dan melakukan apa yang bermanfaat baginya. Bahkan dalam memakanmakanan yang bermanfaat sekalipun, ia harus mengetahui jumlah yangtepat. Ia harus meminum resep obat tanpa merepotkan. Ia harus denganjujur memberitahu penyakit-penyakitnya kepada perawatnya yang sadar ataskewajiban. Ia harus dengan sabar menahan rasa sakit jasmani bahkan saatrasa sakit tersebut sangat nyeri dan menyiksa (A.iii,144). Sutta-sutta menunjukkan bahwa Sang Buddha menggunakan kekuatan tekad danketenangan yang luar biasa pada saat Beliau jatuh sakit. Beliaumengalami rasa sakit yang menyiksa saat serpihan batu tajam yangdilemparkan oleh Devadatta kepadaNya menusuk kaki Beliau. Beliau menahansakit dengan penuh kesadaran dan ketenangan, dan tidak dikuasai olehrasa sakit (S.i,27, 210). Selama masa sakitNya yang terakhir, SangBuddha juga dengan penuh kesadaran menahan rasa sakit jasmani yangbesar, dan dengan keberanian yang mengagumkan Beliau berjalan dari Pavake Kusinara bersama pendamping setiaNya, Ananda, sambil beristirahat dibeberapa tempat untuk mengurangi kelelahan (D.ii,128,134).Maha-parinibbana sutta juga menceritakan bahwa Sang Buddha pernah dengankeras menyembunyikan penyakit yang berbahaya di Beluvagama dan Beliausehat kembali (D.ii,99). Nampaknya mereka yang mempunyai perkembangan batin tinggi mampu menahanpenyakit, setidaknya pada kondisi-kondisi tertentu. Suatu waktuNakulapita mengunjungi Sang Buddha yang telah berusia lanjut, dan SangGuru menganjurkannya agar tetap menjaga kesehatan batin walaupun badansedang lemah (S.iii,1). Terdapat rasa sakit jasmani dan batin (dvevedana kayika ca cetasika ca). Saat seseorang mempunyai rasa sakitjasmani, jika ia menjadi cemas dan menambahkan rasa sakit batin juga,maka hal itu seperti ditembak dengan dua panah (S.iv,208). Seseorangyang berkembang secara spiritual mampu menjaga kesehatan batin seimbangdengan perkembangan spiritualnya. Karena spiritual seorang arahattatelah berkembang sepenuhnya, ia mampu hanya mengalami rasa sakit jasmanitanpa rasa sakit batin (so ekam vedanam vediyati kayikam na cetasikam,S.iv,209). Sejumlah sutta menganjurkan pembacaan unsur-unsur pencerahan (bojjhanga)dengan tujuan untuk penyembuhan penyakit-penyakit jasmani. Pada duaperistiwa, saat para bhikkhu senior Mahakassapa dan Mahamoggallanasedang sakit, Sang Buddha membacakan unsur-unsur pencerahan dandiceritakan bahwa para bhikkhu tersebut kembali sehat (S.v,79-80).Mungkin perlu dicatat bahwa semua bhikkhu yang bersangkutan adalaharahatta, mereka telah mengembangkan unsur-unsur pencerahan secarapenuh. Bojjhanga Samyutta juga menceritakan bahwa suatu waktu SangBuddha sakit, Beliau meminta Cunda membacakan unsur-unsur pencerahan(S.v,81). Sang Buddha merasa senang dengan pembacaan tersebut dandiceritakan Beliau kembali sehat. Pada peristiwa lainnya, saat bhikkhuGirimananda sakit parah (A.v,109), Sang Buddha memberitahu Ananda bahwajika khotbah tentang sepuluh kesadaran (dasa sañña) disampaikankepadanya, ia mungkin menjadi sehat. Sepuluh kesadaran adalah kesadarantentang ketidakkekalan, tanpa diri, kekotoran badan, akibat-akibat buruk(tentang adanya jasmani), pelenyapan (kesenangan-kesenangan nafsu),ketidakmelekatan, penghentian, kekecewaan dengan seluruh duniawi,ketidakkekalan semua benda, dan konsentrasi pernafasan. Anandamempelajari khotbah tersebut dari Sang Buddha, mengulangi khotbah untukGirimananda, dan dilaporkan bahwa Girimananda menjadi sembuh. Suatu waktu, Sang Buddha mendengar bahwa seorang bhikkhu yang baruditahbiskan sedang sakit parah, ia tidak dikenal di antara anggota parabhikkhu. Sang Buddha mengunjunginya. Saat ia melihat Sang Buddhamendatanginya, ia bergerak di tempat tidurnya dan mencoba berdiri,tetapi Sang Buddha memperingatkannya untuk tidak berdiri. Setelah duduk,Sang Buddha menanyakan kesehatannya, apakah rasa sakitnya berkurang atautidak berkurang. Bhikkhu itu menjawab bahwa ia merasa sangat sakit danlemah, bahwa rasa sakitnya bertambah dan tidak berkurang. Selanjutnya,Sang Buddha menanyakan apakah ia mempunyai perasaan ragu-ragu ataupenyesalan apapun. Bhikkhu menjawab bahwa ia mempunyai banyakkeragu-raguan dan penyesalan. Selanjutnya, Sang Buddha bertanya apakahia menyalahkan diri sendiri atas pelanggaran apapun. Ia berkata tidak.Setelahnya, Sang Buddha bertanya mengapa ia merasa menyesal jika iatidak bersalah atas pelanggaran apapun. Bhikkhu menjawab bahwa SangBuddha tidak mengkhotbahkan ajaran untuk kesucian kebajikan, melainkanketidakmelekatan dari nafsu duniawi (ragaviragatthaya). Merasa senang,Sang Buddha menyebutkan 'Sadhu... Sadhu' dalam pujian. Maka Sang Buddha mengkhotbahkan ajaran tersebut kepada bhikkhu itu.Beliau menjelaskan bahwa perasaan-perasaan adalah tidak kekal, tidakmemuaskan dan tanpa inti, maka mereka seharusnya tidak dianggap sebagai"aku" dan "milikku". Pengertian atas sifat mereka sebenarnya, murid baikmenjadi tidak melekat dengan perasaan-perasaan. Saat penjelasan Dhammaini diberikan, penglihatan tentang kebenaran (dhammacakkhu) terjadi padasang bhikkhu; ia menyadari bahwa apapun yang mempunyai sifat timbultentunya mempunyai sifat tenggelam. Dalam kata lain, ia menjadi seorangsotapanna, seorang pemasuk arus. Menurut Sotapattisamyutta, suatu ketika Anathapindika sedang sakitparah, dan Yang Mulia Sariputta mengunjunginya atas permintaanAnathapindika (S.v,380). Atas pemberitahuan bahwa rasa sakit tersebutsangat parah dan bertambah, Sariputta mengingatkan Anathapindika akankebaikan-n-kebaikannya sendiri. Sariputta menjelaskan bahwa makhlukawam, yang tidak mempunyai keyakinan pada Buddha, Dhamma dan Sangha dantidak memelihara kebiasaan-kebiasaan kebajikan, akan merasakan kesedihanatas kehancuran tubuh. Tetapi Anathapindika mempunyai keyakinan yang taktergoyahkan pada Buddha, Dhamma dan Sangha, dan telah memeliharakebiasaan-kebiasaan moral baik. Sariputta memberitahuinya bahwa saatsifat-sifat mulia ini dipahami dengan penuh kesadaran, rasa sakit akanmereda. Lebih lanjut lagi, Sariputta menunjukkan bahwa orang awam mencapaikeadaan sedih atas kehancuran tubuh karena mereka belum mengembangkanJalan Mulia Berunsur Delapan. Tetapi sebaliknya Anathapindika telahmengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Saat perhatian ditujukanpada mereka dan sifat-sifat mulia dipahami, rasa sakit akan reda.Diceritakan bahwa rasa sakit pun mereda dan Anathapindika sembuh daripenyakit itu. Lebih lanjut lagi, Anathapindika bangun dari tempat tidurdan melayani Sariputta dengan makanan yang telah disediakan oleh dirinyasendiri. Sotapattisamyutta mencatat peristiwa lainnya saat Anathapindika sakit(S.v,385). Yang Mulia Ananda dipanggil ke tempat tidur dan ia memberikansebuah kotbah. Ananda menjelaskan bahwa orang awam biasa yang tidakmempunyai keyakinan pada Buddha, Dhamma dan Sangha serta yang mempunyaikebiasaan-kebiasaan tak bermoral akan mengalami kegelisahan danketakutan saat kematian datang. Tetapi pengikut baik yang mempunyaikeyakinan teguh pada Buddha, Dhamma dan Sangha serta yang mengembangkankebiasaan-kebiasaan bermoral tidak akan mengalami kegelisahan danketakutan atas kematian. Selanjutnya Anathapindika mengakui keyakinantak tergoyahkan pada Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan menyatakan bahwa iadianugerahi dengan kebajikan tak ternoda. Ananda menyatakan bahwa halini sesungguhnya adalah suatu pencapaian besar bahwa Anathapindika telahmenunjukkan buah dari pencapaian pemasuk arus. Tetapi, tidak dilaporkanapakah Anathapindika sembuh seketika. Sang Buddha menyarankan bahwa seorang bhikkhu seharusnya tidakmengurangi tenaga dan tekadnya untuk perkembangan spiritual, bahkan saatia sakit (A.iv,335). Mungkin saja penyakitnya akan memburuk, dan sebelumhal itu terjadi, pengembangan spiritual harus dilaksanakan sebanyakmungkin. Setelah sembuh dari penyakit, seseorang juga tidak boleh lalai,karena jika penyakit kambuh lagi, kemungkinan pencapaian spiritual yanglebih tinggi akan berkurang. Metode Buddhis untuk melayani orang sakit, seperti yang ditunjukkan dariteks-teks di atas, tidak hanya menyatakan pentingnya pengobatan danperawatan yang tepat, tetapi juga pengendalian pikiran pasien kepikiran-pikiran baik. Nampaknya terdapat suatu keyakinan bahwa perhatianpada topik-topik berhubungan dengan Ajaran, terutama pengingatan tentangkebajikan-kebajikan yang telah dikembangkan oleh seseorang, memilikisifat-sifat penyembuhan. Dalam kasus Sang Buddha dan para arahatta,pengingatan ketujuh faktor bojjhanga telah mengembalikan kesehatan.Dalam kasus bhikkhu Girimananda yang kemungkinan bukan arahatta padawaktu sakit, ajaran sepuluh kesadaranlah yang telah mengembalikankesehatannya. Anathapindika adalah seorang sotapanna dan percakapantentang sifat-sifat spesial merupakan alat untuk kesembuhannya yangcepat. Mungkin saat seseorang diingatkan tentang sifat-sifat batin yangtelah diperolehnya, kegembiraan besar muncul dalam pikirannya.Kegembiraan demikian mungkin mampu merubah kimia tubuh seseorang dalamcara yang positif dan sehat. Di sini kita diingatkan tentang peristiwa sama yang diceritakan dalamPapañcasudani (MA.i,78). Seorang bhikkhu digigit ular saat iamendengarkan Dhamma. Ia tidak menghiraukan gigitan ular dan tetapmendengarkan uraian Dhamma. Racun ular menyebar dan menjadi sangatsakit. Selanjutnya ia merenungkan kesucian dari tindakan kebajikan yangtelah dilakukannya sejak pentahbisannya. Saat ia menyadari sifatnya yangtanpa noda, rasa puas dan kegembiraan luar biasa muncul di dalamnya.Perubahan psikologis yang sehat ini bertindak sebagai anti racun dan iasembuh seketika. Peristiwa-peristiwa ini nampaknya memperlihatkan bahwapada waktu sakit parah, perhatian ditujukan pada sifat-sifat spiritualseseorang, maka kegembiraan yang luar biasa akan memenuhi pikirannya,dan faktor-faktor yang meningkatkan kesehatan menjadi aktif dalam tubuh,mungkin dengan cara pengeluaran hormon-hormon yang mengembalikankesehatan. Mungkin dengan cara demikianlah individu-individuberspiritual tinggi mendapatkan kesehatannya kembali saat sutta-suttayang tepat dibacakan. Dalam Tipitaka Pali terdapat banyak kejadian tentang pemberian nasihatkepada orang sakit menjelang kematian. Membicarakan tentang kematiankepada pasien yang akan meninggal adalah merupakan pokok pembicaraanyang tidak menyenangkan. Sebaliknya, kenyataan kematian dan kemungkinansegera datangnya kematian haruslah diterima tanpa kepura-puraan danpasien disiapkan untuk menghadapi kematian dengan keyakinan danketenangan. Saran yang diberikan oleh Nakulamata kepada Nakulapita sangat bermanfaatdalam hal yang berhubungan dengan ini (A.iii,295-98). Suatu waktuNakulapita berpenyakit serius dan istrinya Nakulamata memperhatikanbahwa ia gelisah dan cemas. Maka istrinya menyarankannya: "Mohon tuanjangan menghadapi kematian dengan kegelisahan. Kematian adalah sesuatuyang menyakitkan bagi seseorang yang gelisah. Sang Buddha memandangrendah kematian dengan kegelisahan. Mungkin anda cemas bahwa saya tidakakan mampu menyokong keluarga setelah kematian anda. Mohon janganberpikiran demikian. Saya mampu memintal dan menenun, dan saya akanmampu membesarkan anak-anak jika anda tidak di dunia lagi. Mungkin andacemas bahwa saya akan menikah lagi setelah kematian anda. Mohon janganberpikiran demikian. Kita berdua menjalani kehidupan suci menurutperaturan mulia perumah tangga. Maka jangan cemaskan hal ini. Mungkinanda cemas bahwa saya akan melalaikan perhatian pada Buddha dan Sangha.Mohon jangan berpikir demikian. Saya akan lebih setia pada Buddha danSangha setelah kematian anda. Mungkin anda cemas bahwa saya akanmengabaikan pedoman-pedoman perilaku. Mohon jangan mempunyai keraguanapa pun tentang hal ini. Saya adalah salah satu dari mereka yangsepenuhnya berpraktek pada kebiasaan-kebiasaan moral yang dibuat untukorang awam, dan jika anda ingin, mohon bertanyalah pada Sang Buddhatentang hal ini. Mungkin anda takut saya belum mencapai ketenanganbatin. Mohon jangan berpikir demikian. Saya adalah salah satu darimereka yang telah mendapatkan ketenangan batin sebanyak yang dapatdicapai oleh seorang perumah tangga. Jika anda mempunyai keraguantentang hal ini, Sang Buddha sedang di Bhesakalavana, tanyalah kepadaBeliau. Mungkin anda berpikiran bahwa saya belum mencapai kemahirandalam pembebasan sesuai Ajaran Sang Buddha, bahwa saya belum bebas darikeraguan dan kebingungan tanpa bergantung pada yang lain. Jika andaingin kejelasan tentang hal ini, tanyalah pada Sang Buddha. Tetapi mohonjangan menghadapi kematian dengan kecemasan, karena hal itu adalahsangat menyakitkan dan dilarang oleh Sang Buddha." Diceritakan bahwasetelah Nakulapita dinasehati oleh Nakulamata, ia mendapatkankesehatannya kembali, penyakit tersebut hilang dan tak pernah kambuh.Belakangan seluruh peristiwa ini diceritakan kepada Sang Buddha, beliaumemuji saran Nakulamata yang bijaksana. Sotapattisamyutta berisikan ajaran berharga tentang nasehat kepada orangsakit menjelang kematiannya (S.v,408). Suatu waktu, Mahanama seorangsuku Sakya menanyakan Sang Buddha bagaimana seorang umat awam bijaksanaharus menasehati umat awam bijaksana lainnya yang sakit menjelangkematian. Harus dicatat di sini bahwa penasehat dan pasien keduanyaadalah umat awam Buddhis yang bijaksana. Sang Buddha memberikan sebuahkotbah menyeluruh tentang bagaimana hal ini dilakukan. Pertama, umatawam bijaksana harus menenangkan umat awam bijaksana yang sedang sakitmenjelang kematian dengan empat keyakinan: "Tenanglah teman, andamempunyai keyakinan yang tak tergoyahkan pada Buddha, Dhamma dan Sangha,bahwa, Sang Buddha telah sepenuhnya mencapai penerangan, Dhammadibabarkan dengan baik, dan Sangha bertata tertib baik. Anda juga telahmengembangkan tindakan-tindakan bijaksana tak ternoda yang membantukonsentrasi." Maka setelah menghibur pasien dengan empat keyakinan, iaseharusnya menanyakannya apakah ia mempunyai kerinduan / keterikatanapapun pada orang tuanya. Jika ia berkata ada, harus ditunjukkan bahwakematian tentunya akan datang apakah ia mempunyai keterikatan pada orangtuanya atau tidak. Maka, akan lebih baik menghentikan keterikatan itu.Selanjutnya, jika ia berkata ia telah memutuskan keterikatan pada orangtuanya, ia harus ditanyai apakah ia mempunyai kerinduan / keterikatanpada istri dan anak-anaknya. Dengan alasan sama, ia harus diyakinkanuntuk menghentikan keterikatan itu pula. Selanjutnya ia harus ditanyaiapakah ia mempunyai keterikatan pada nafsu-nafsu keinginan duniawi. Jikaia berkata ada, ia harus diyakinkan bahwa keinginan-keinginan spiritualadalah lebih tinggi daripada keinginan-keinginan manusia, dan harusdidorong untuk mencapai keinginan-keinginan spiritual. Selanjutnya, iaperlahan-lahan dibimbing menuju tingkat keinginan spiritual dan saat iasampai di surga tertinggi dari alam kesadaran, perhatiannya dialihkan kedunia Brahma. Jika ia berkata ia telah menyelesaikan pencapaian duniaBrahma, ia seharusnya dinasehati bahwa bahkan dunia Brahma bersifattidak kekal dan kelahiran kembali. Maka, lebih baik bercita-cita untukpenghentian kelahiran kembali. Jika ia dapat mengonsentrasikanpikirannya pada penghentian kelahiran kembali, maka Sang Buddha berkatatidak ada bedanya antara orang tersebut dan bhikkhu yang telah mencapaipembebasan. Tidak diragukan lagi bahwa nasehat ini merupakan bentuk nasehattertinggi yang dapat diberikan oleh orang yang lebih maju kepada orangsakit menjelang kematian yang mempunyai spiritual yang sama tingginya.Kotbah tersebut sangat jelas mengatakan bahwa sang pasien harus semajupemasuk arus, karena empat keyakinan atau faktor-faktor penghiburan yangdisebutkan di awal kotbah mirip dengan sifat dari seorang pemasuk arus. Cittasamyutta berisikan sebuah peristiwa menarik tentang kematianseorang pengikut awam yang telah maju batinnya (S.iv,302). Perumahtangga Citta adalah seorang tak lahir kembali (anagami, A.iii,451). Saatia sakit parah, sekelompok dewa pohon mengundang Citta untuk menetapkanpikirannya agar menjadi raja seluruh alam (cakkavattiraja) karenakebajikannya. Ia menolak karena alam itu juga tidak kekal. Walaupunberbaring di tempat tidurnya, ia menasehati sanak keluarga yangmengelilinginya tentang pentingnya pengembangan keyakinan pada Buddha,Dhamma dan Sangha, dan tentang pentingnya kedermawanan, dan akhirnya iameninggal. Menurut Sotapattisamyutta, suatu waktu Sang Buddha mengunjungi umat awamDighavu yang sedang sakit parah menjelang kematian di tempat tidurnya(S.v,344). Sang Guru menyarankannya agar menetapkan perhatiannya padakeyakinan teguh akan sifat-sifat mulia Tiga Permata dan bertekad bahwaia dianugerahi dengan perilaku kebajikan yang tak ternoda. Dighavumenjawab bahwa ini adalah sifat-sifat seorang pemasuk arus yang telahditemukan pada dirinya. Selanjutnya, Sang Buddha menyarankannya untukbertetap pada kebajikan-kebajikan tersebut dan mengembangkan enam sifatyang membantu menuju pemahaman, yaitu kesadaran tentang ketidakkekalansemua unsur benda, ketidakpuasan dari semua ketidakkekalan, tanpaintinya dari ketidakpuasan, kesadaran dari penghilangan, pelepasan danpenghentian. Dighayu menjawab bahwa sifat-sifat ini juga ditemukan dalamdirinya, tetapi ia cemas bahwa ayahnya akan menjadi sedih saat iameninggal. Selanjutnya ayahnya, Jotipala, menyarankannya agar tidakcemas atas hal tersebut, dan perhatikan apa yang dikatakan Sang Buddha.Sang Buddha pergi setelah menasehatinya dan kemudian Dighavu segerameninggal. Belakangan Sang Buddha menyatakan bahwa Dighavu meninggalsebagai seorang yang tak kembali lagi. Brahmana Dhananjani adalah seorang pemungut pajak yang tak benar, iamemeras raja dan masyarakat umum (M.ii,184-96). Yang Mulia Sariputtapernah bertemu dengannya dan menasehatinya tentang akibat-akibat darikehidupan yang tidak benar. Segera setelah Dhananjani sakit parah,Sariputta dipanggil olehnya. Setelah diberitahu tentang kesehatannya,Dhananjani memberitahu Sariputta bahwa ia mempunyai sakit kepala yangtak tertahan. Selanjutnya Sariputta berbincang dengannya, perlahan-lahanmenuntun perhatiannya dari alam kehidupan lebih rendah ke lebih tinggisampai sejauh alam Brahma. Setelah mengalihkan perhatian pasien yangdiambang kematian ke alam Brahma, Sariputta melanjutkan menjelaskanjalan menuju pencapaian alam Brahma, yaitu pengembangan penuhbrahmavihara -- cinta kasih universal, belas kasihan, simpati dankeseimbangan batin -- agar meliputi semua penjuru. Sariputta pergi dantidak lama kemudian Dhananjani meninggal. Dilaporkan bahwa ia dilahirkankembali di alam Brahma. Belakangan saat peristiwa tersebut diceritakanpada Sang Buddha, Beliau menemukan kesalahan Sariputta karena tidakmembimbing Dhananjani menuju jalan spiritual yang lebih jauh lagi. Sutta ini menunjukkan bahwa manusia yang mempunyai mata pencahariantidak benar juga dapat dibimbing menuju suatu kelahiran kembali yanglebih bahagia dengan pemberian nasehat pada saat penting sebelummenjelang kematian. Sangat diragukan apakah setiap pelaku kejahatandapat dibimbing menuju kelahiran kembali dalam alam bahagia. Mungkinsifat-sifat baik Dhananjani melebihi perbuatan-perbuatan buruknya(Dhp.173) dan mungkin itulah sebabnya mengapa seorang arahatta dapatmembimbingnya menuju kelahiran kembali dalam alam bahagia pada saatkematian. Hal ini dapat disimpulkan dari fakta-fakta yang diceritakan dalam sutta(M.ii,185). Saat Sariputta sendiri sedang melakukan perjalanan jauh diDakkhinapata, ia meminta keterangan tentang kesehatan Sang Buddha dariseorang bhikkhu yang berasal dari Rajagaha, saat itu pula Sariputtasengaja meminta keterangan tentang semangat pencarian spiritualDhananjani. Kemungkinan besar bahwa Dhananjani adalah seorang pendukungSangha yang setia saat istri pertamanya, seorang wanita yang mempunyaikeyakinan penuh, masih hidup. Istri keduanya adalah wanita yang tidakmempunyai keyakinan. Saat Sariputta mendengar bahwa Dhananjani sedanglalai, ia cemas, dan memutuskan untuk berbicara dengan Dhananjani jikaada kesempatan bertemu dengannya. Bagian penting lain yang patut dicatat dalam kotbah ini adalah YangMulia Sariputta memulai kotbah dari alam kelahiran yang paling rendah,dan satu per satu naik ke atas sampai sejauh alam Brahma. Mungkin iamemulai dari neraka-neraka karena Dhananjani telah menurun ke tingkatitu. Sariputta telah membantunya mengingat perbuatan-perbuatan baiksebelumnya, dan juga telah menarik perhatiannya ke kotbah Dhamma yangberkaitan, dan mungkin kotbah Dhamma tersebut telah diberikan olehSariputta kepadanya hanya beberapa hari sebelum ia jatuh sakit. Makadengan menarik perhatian pada potensi spiritual yang tersembunyi didalamnya, Sariputta dapat membantu Dhananjani mencapai kelahiran kembaliyang bahagia dengan nasehatnya di menit terakhir. Di sini kita diingatkan dengan peristiwa Mattakundali muda (DhpA.i,26).Saat ia sedang berbaring sekarat di tempat tidurnya, Yang Terberkatimuncul dan Mattakundali menjadi sangat gembira, kegembiraan tersebutmembangkitkan keyakinan tinggi pada Sang Buddha. Segera setelahmeninggal, ia dilahirkan kembali di alam surga. Sebuah sutta di Sotapattisamyutta (S.v,386) menguraikan bahwa orangbiasa di ambang kematian melihat bahwa ia tidak mempunyai keyakinan padasifat-sifat mulia Buddha, Dhamma dan Sangha, dan ia menjalani kehidupanyang tak bermoral, maka ketakutan besar atas kematian dan kegelisahanakan muncul di dalamnya. Tetapi seorang yang mempunyai keyakinan teguhpada sifat-sifat mulia Tiga Permata, dan yang mempunyai perilaku takternoda, tidak akan mengalami ketakutan dan kegelisahan demikian.Nampaknya kesadaran akan rasa bersalah menyebabkan penderitaan pada saatkematian. Jika ketakutan dan kecemasan berada pada saat penting ini,maka kelahiran kembali pasti akan terjadi di alam yang seimbang dansesuai dengan pengalaman yang menderita itu. Tepatlah di sini untuk mencatat sebuah perbincangan antara Mahanamaseorang Sakya dan Sang Buddha mengenai nasib seseorang yang bertemudengan kematian mendadak (S.v,369). Mahanama memberitahu Sang Buddhabahwa saat ia datang ke vihara yang bersuasana tenang dan berhubungandengan para bhikkhu saleh yang mempunyai sifat-sifat mulia, ia merasacukup tenang dan memiliki pengendalian diri. Tetapi saat ia pergi kejalan-jalan Kapilavatthu sibuk yang mempunyai lalu lintas ramai, iamempunyai perasaan takut bahwa ia akan mengalami kematian mendadak darikecelakaan lalu lintas. Sang Buddha meyakinkannya bahwa seorang yangtelah mengembangkan kebajikan-kebajikan moral dan menjalani kehidupanbenar tidak perlu menanggapi ketakutan demikian. Beliau menjelaskansituasi tersebut dengan sebuah perumpamaan. Jika satu pot minyak mentegapecah setelah tenggelam di air, kepingan pot akan tenggelam ke dalamsungai, tetapi minyak mentega akan muncul di permukaan. Dengan cara yangsama, tubuh akan hancur, tetapi batin tak ternoda akan timbul sepertiminyak mentega. Sutta-sutta seperti Sankharuppatti, (M.iii,99) Kukkuravatika (M.i,387)dan Tevijja (D.i,235) menekankan ide yang sama. Kelahiran kembaliumumnya bergantung pada pikiran-pikiran yang paling sering muncul selamakehidupan. Jika seseorang mempunyai pikiran-pikiran dan watak yang cocokdengan binatang, seperti anjing atau kerbau dalam Sutta Kukkuravatika,maka kemungkinan besar seseorang akan dilahirkan di antarabinatang-binatang ini, yaitu di antara makhluk hidup yang mempunyaiwatak yang mirip. Sebaliknya, jika seseorang membiasakan pikiran-pikirandan watak-watak yang dapat disamakan dengan para Brahma, denganpengembangan perasaan-perasaan mulia seperti cinta kasih dan belaskasih, dia mempunyai kesempatan baik terlahir di antara para Brahma.Maka persiapan untuk kematian benar-benar harus dilakukan saat hidup.Walaupun saat kematian datang pikiran dibimbing menuju kelahiran kembalilebih tinggi, seseorang perlu mempersiapkan keyakinan yang cocok dengankebajikan dan pemahaman manusia -- inilah yang dimaksudkan denganmempunyai keyakinan pada Buddha, Dhamma dan Sangha -- dan pengembangankebiasaan-kebiasaan moral. Jika seseorang tidak mempunyai kebajikan,pembimbingan pola pikiran menuju tingkat lebih tinggi pada saat jamkematian akan menjadi sukar. Tetapi, bagaimanapun susah dan efektifpembimbingan tersebut, mengundang bhikkhu saat pasien menjelang kematianadalah suatu kebiasaan umat Buddhis dengan harapan bahwa pembacaanparitta tertentu akan membantu pasien mengembangkan keyakinan danmeningkatkan pikiran-pikirannya ke tingkat spiritual lebih tinggi. Kita diingatkan di sini bahwa menurut Vinaya (iii,8), beberapa Buddhasebelumnya seperti Vessabhu yang pembebasannya tidak berakhir lama,sering mengajarkan para pengikut Mereka melihat ke dalam pikiran merekadengan memakai kekuatan-kekuatan telepati dan pembimbingan pola-polapikiran mereka: "Pikirlah demikian, jangan berpikir demikian, perhatikanini, jangan perhatikan ini, hentikan ini, kembangkan ini," dll. MungkinBuddha Gotama dan murid-murid terkenalnya memakai teknik ini membimbingpola-pola pikiran para pengikutNya yang patuh di saat kematian. Padasaat-saat biasa mereka nampaknya lebih menyukai memakai teknik-teknikumum dengan khotbah-khotbah ajaran yang panjang daripada meditasibimbingan dengan penglihatan ke dalam pola pikiran individu. Pertanyaan yang mungkin timbul adalah seberapa effektif bimbinganspiritual jika pasien menjelang kematian sedang tidak sadar. Sebenarnyaapa yang penting di sini adalah kita benar-benar tidak mengetahuikondisi batin pasien pada saat kematian. Para dokter dan penontonmungkin menyimpulkan bahwa pasien tidak sadar karena ia tidak bereaksiterhadap sekelilingnya dan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukankepadanya. Lima inderanya mungkin sebagian atau sama sekali tidakberfungsi, tetapi tidak ada yang memastikan apakah fungsi pikirannyaaktif atau tidak. Kita tentunya tidak tahu potensi-potensi spesial apayang ada dalam pikirannya saat kematian. Kemungkinan besar bahwa bagianpikiran adalah yang paling aktif pada saat yang penting ini. Mungkinpada saat inilah seseorang mempunyai perjuangan batin yang paling keras,keinginan hidup yang kuat yang berasal dari kebiasaan kuat menentang danmemprotes kematian. Dugaan kita adalah saat seseorang sangat takut menghadapi kematian, makakeinginan untuk hidup menjadi kuat. Ketakutan atas kematian sangat besarsaat perasaan bersalah seseorang besar, ketakutan bahwa seseorang telahmenghamburkan kesempatan baik dari kehidupan sebagai manusia, suatukesempatan yang dapat digunakan dengan baik untuk perkembanganspiritual. Sebaliknya, jika seseorang telah menggunakan kesempatankehidupan sebagai manusia dengan baik untuk perkembangan spiritual,seseorang dapat menghadapi kematian yang tak dapat dihindari denganketenangan, kesenangan dan kepuasan. Kelahiran kembali seseorangnampaknya sesuai dengan potensi spiritual seseorang yang dalam istilahBuddhis dinamakan kamma. Sangat tepat untuk menyimpulkan karangan ini dengan memikirkan apa yangharus kita lakukan saat kita mengunjungi pasien menjelang kematian.Sikap normal kita adalah kesedihan dan perasaan kasihan, tetapiBuddhisme menganggap salah mempunyai pikiran-pikiran negatif pada saatdemikian. Pendapat saya adalah akan lebih membantu bagi pasien menjelangkematian dan bagi pasien siapapun, jika kita memancarkan pikiran-pikiranmetta, cinta kasih kepadanya. Karena pikiran pasien menjelang kematianmungkin sedang bekerja pada saat penting ini, tak terhalangi olehketerbatasan yang dibebankan oleh fungsi-fungsi jasmani, kemungkinanbahwa batin seseorang akan lebih sensitif dan mudah menerimagelombang-gelombang pikiran spiritual di sekitarnya. Jika kesedihan dantangisan menghasilkan gelombang pikiran negatif, maka orang yang akanmeninggal mungkin terpengaruh. Tetapi jika pikiran-pikiran baik tentangcinta kasih dipancarkan, pikiran-pikiran demikian dapat berfungsisebagai penenang batin yang menghilangkan penderitaan dan kecemasan daridatangnya kematian dan dapat menyelubungi pikiran seseorang dalamselimut yang hangat, tenang dan melindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatan-singkatan :Semua petunjuk dalam teks menunjuk ke edisi-edisi dari the Pali TextSociety, Oxford.A ........... Anguttara NikayaD ............Digha NikayaDhp ....... DhammapadaDhpA ..... Dhammapada AtthakathaM ........... Majjhima NikayaMA ......... Majjhima Nikaya AtthakathaS ........... Samyutta NikayaVin ......... Vinaya Pitaka&lt;br /&gt;Tentang pengarang :Lily de Silva adalah profesor dari Pali dan Buddhist Studi di theUniversitas Peradeniya di Sri Lanka. Seorang penyumbang tetap pelajarBuddhis dan majalah-majalah populer, ia juga editor dari Digha NikayaTika yang diterbitkan oleh Pali Text Society. Penerbitan BPS sebelumnyatermasuk One Foot in the World (Wheel No. 337/338), The Self-MadePrivate Prison (Bodhi Leaves No. 120), dan Radical Therapy (Bodhi LeavesNo. 123). Sumber : &lt;a href="http://www.accesstoinsight.org/lib/bps/leaves/bl132.html" target="_blank"&gt;http://www.accesstoinsight.org/lib/bps/leaves/bl132.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan oleh : Jenny H - SurabayaEditor : Bhikkhu Uttamo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7026672496482314804-3519176576704791396?l=dharmoghandul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/3519176576704791396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7026672496482314804&amp;postID=3519176576704791396' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/3519176576704791396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/3519176576704791396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/pelayanan-kepada-orang-sakit-dan.html' title='PELAYANAN KEPADA ORANG SAKIT DAN MEJELANGA KEMATIAN'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-7562363315854263655</id><published>2007-07-16T23:13:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T23:15:06.169-07:00</updated><title type='text'>ORIGINAL BUDDHISM AND BRAHMINIC INTERFERENCE</title><content type='html'>ORIGINAL BUDDHISM AND BRAHMINIC INTERFERENCE&lt;br /&gt;Dr. K. Jamanadas&lt;br /&gt;kjmndas@nagpur.dot.net.in&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A member of the UK Buddhist Society, and Psychology Ph. D.student and a researcher for an important Broadcasting channel in U. K. (Department of Religion and Ethics), wished me to clarify: "whether it was the 'Brahmins' who included certain misogenous additions to the Sutta Pitaka, and why they might have done this? What would they have to gain? As these attitudes were already prevalent at the time and are only really offensive to modern sentiments."&lt;br /&gt;Yes sir! It was the Brahmins who included certain misogenous additions to the Sutta Pitaka. Why? - To maintain their hegemony!&lt;br /&gt;They did have the ability and the opportunities and they did edit the Pali Canon and did more to discredit Buddhism by changing many other teachings too! These are my personal views and there is no intention to hurt the feelings of anybody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*The fight from inside*&lt;br /&gt;It must be understood that the preaching of equality among the masses was detrimental to the hegemony the Brahmins were enjoying for all times before the Buddha. When that was challenged and when yajnyas were opposed to by the Buddha, their livelihood came in jeopardy. They fought Buddhism both ways, from outside as well as by entering the Sangha. The prejudice of supremacy was not altogether gone from the minds of the Brahmins even after joining the Sangha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Their battle from outside is well known. Some ill effects of that on Indian society have been discussed by us on &lt;a href="http://www.ambedkar.org/jamanadas" target="_blank"&gt;www.ambedkar.org/jamanadas&lt;/a&gt; and &lt;a href="http://www.dalitstan.org/" target="_blank"&gt;www.dalitstan.org&lt;/a&gt; in "Decline and Fall of Buddhism". Here is the story of their fight from within the Sangha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*The caste ridden India*&lt;br /&gt;There were 'varnas' and no castes in the times of the Buddha. For the first time, the caste is seen in 'Gautam Dharma Sutra', which is dated about one hundred years after the Buddha.&lt;br /&gt;The Brahmins felt that they were superior to others. But the Brahmins are not superior - all are equal - said the Buddha, as can be seen in Assalayan Sutta and Vasettha Sutta and many other places. The Buddha had to fight not only against the Vedic culture as depicted in the Vedic Samhitas but also in&lt;br /&gt;"Brahman Granthas" and perhaps even Sutras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brahmins kept the same name to their caste as their varna, whereas gave different names to castes of other varnas,thus uniting themselves and disuniting others. Later, they declared there are no Kshatriyas after Nandas and there being hardly any difference between Vaishyas and Shudras, the real struggle in&lt;br /&gt;India all throughout the history is between Brahmins and non-Brahmins. It may be of interest to note that Chandragupta Maurya is not mentioned in Brahmin literature till about one thousand years, when a fiction drama 'Mudra-rakshasa' mentions him in 8th century A.D. And Asoka was discovered by James Princeps and no Brahminic books mention him. Still then, we are asked to believe that it is Hindu India and not Buddhist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Tipitakas*&lt;br /&gt;The scholars have realized that everything in Tipitakas is not original Dhamma of the Buddha. Even the Tipitaka itself admits this fact. So the scholars, specially those in Pali Text Society of London, have tried to find out original teachings.More research is needed in this field. I believe Mrs. Rhys Davids has&lt;br /&gt;written a book on the subject "What was the original Gospel in Buddhism", published in U. K.&lt;br /&gt;The Tipitakas literature, being as vast as sea, and as it was preserved by word of mouth from generation to generation, there was possibility of error. Even during the life time of the Lord many mis-reportings are recorded to have been brought to the knowledge of the Buddha. Five such were Alagaddupama Sutta, Maha&lt;br /&gt;Kamma Vibhanga Sutta, Kannakatthala Sutta, Maha Tanha Sankhya Sutta and Jivaka Sutta. There were perhaps many more.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*The First Council*&lt;br /&gt;Sariputta and Mogalayana had died before the parinirvana of the Buddha. It fell on Mahakassapa, a Brahmin Bhikku, to preside over the First Sangiti at Rajgriha convened soon after the parinirvana of the Buddha in 483 BCE. The Buddha had exchanged Chivars with him, which shows his respect and status in the Sangha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahakassapa asked Ananda to repeat the Dhamma and asked the congregation whether it was correct. When all agreed the question was closed. Similarly he asked Upali about the Vinaya.He should have asked somebody to narrate some important events in the life of the Buddha so that the posterity should have the authentic biography of the Buddha. Why such an attempt was not done? Dr. Ambedkar believes that this could not be due to indifference. It was because the Buddha Himself did not wish to have place for Himself in the Dhamma, which was evident from his refusal to appoint a successor even after several requests. May be Dr. Ambedkar is correct, or may be he is not correct and Mahakassapa preferred to enhance his own importance, by ignoring to record the life events of the Buddha. The possibility can not be ruled out.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It should be noted that Chulla Vagga mentions the compilation of Dhamma and Vinaya only there being no mention of Abhiddhamma. Similarly Deepvamsa also does not mention Abhiddhama compilation, though the tradition believes that Abhiddhamma was part of Dhamma. It was Buddhaghosha who mentioned that Abhiddhamma was the part of Dhamma and compiled in First Council.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is usually believed that Abhiddhamma Pitaka is by Mahakassapa, though some believe it to be by Sariputta. It is said that Sariputta was called 'Dammasenapati', and was whole and sole in the Sangha and he would lead after the Buddha. So both were having positions of importance and prestige created for&lt;br /&gt;them by putting the words in the mouth of the Buddha to that effect. Sariputta wrote "Niddesh", which is a commentary on 'Sutta Nipat' in Sutta Pitaka, thus creating a tradition of writing of commentary on a book of the Tipitakas. This phenomenon seems rather strange, to say the least, because many times the commentaries become more important than the original. Many passages in the&lt;br /&gt;Tipitakas show glorification of Brahmins.&lt;br /&gt;"Sangit pariyay Sutta" in Digha Nikaya is written by Sariputta. This does not contain "samyak" Noble eight-fold path, but "mithya" eight-fold path. This misled Mrs.Rhys Davids into saying that "Noble Eight-fold Path" was not original gospel of the Buddha. Dhamma Chakka Pavattana Sutta, containing&lt;br /&gt;"Noble Eight-fold Path" is the main Base of the Buddha's teachings, and it appears that Sariputta tried to destroy its importance. Many Nuns, who had active role in spread of Buddhism like Mahaprajapati Gotami, Vishakha, Ambrapali were mostly non-Brahmins. Non-brahmin nun, Khema, the former queen of Bimbisara,&lt;br /&gt;actually had debated with Pasenadi, the King of Kosala.The contribution of non-brahmin nuns in spreading the Dhamma was far greater than the brahmin nuns.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mrs. Caroline Rhys Davids wrote in "Psalms of Brothers and Sisters" about number of Brahmins in the Sangha. It was 113 Brahmins out of total 259 in Buddha's life time. Rhys Davids has averred that Brahmins were not loyal disciples and were not loyal preachers. Bhante Anand and Upali and other non Brahmins were the actual preachers. But Brahmins were enjoying life of comfort in viharas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When non-Brahmin Bhikkus were visiting the non-Brahmin upasakas, then the upasakas were warning the Bhikkus that they should not have taken Brahmins in the Sangha. They willdestroy the Sangha, they said. This is the opinion of RhysDavids. So it is not a modern sentiment alone.&lt;br /&gt;Two Brahmins Bhikkus Yamelu and Tekul, in Vinaya Pitaka, mentioned to the Buddha that people from different classes are likely to corrupt the Buddha 'vachana' and asked for permission to preserve them in Sanskrit. Buddha asked them to preserve in any language but never in Sanskrit. It was and still is the language exclusively of Brahmins. He further said that one who does that will be liable for "Dukkhita" offense (Offense for bad deed). Sanskrit was not the spoken language of masses, it was language restricted to Brahmins.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*The Second Council*&lt;br /&gt;Second Sangiti was the crucial point in the history of Sangha. The reason for disputes given by Sri Lankan tradition is that ten rules of Vinaya were not observed by those who broke away. Chinese Tibetan tradition says the doctrinal changes of Mahadeva was the cause. Both are very flimsy grounds to break up&lt;br /&gt;- an offense of 'Sanghadises'. The Buddha Himself had told that, if the Bhikkus in a Sangha feel proper, they could change the minor rules of conduct. Then what was so great an anxiety to break the Sangha on minor points of salt etc.? There must be other reasons, which become apparent if we look at the activities of those who broke up. These Brahmins were calling themselves Mahasanghikas. They were all Eastern Bhikkus and had captured even Rajgriha and Nalanda and Vaishali. They wrote in Sanskrit. As nobody knew Sanskrit except Brahmins, it follows that they were mostly, if not all, Brahmins.It becomes clear that it was their intention, to start with, to divide the Buddhist Sangha. After they split, they not only changed the 'Vinaya' - about which they had grudge and for which they had a 'mahasangiti' - but they also changed the 'Dhamma' and laid down new Dhamma contrary to established one. They claimed originality&lt;br /&gt;and orthodoxy, but declared Buddha as 'lokottara' - superhuman, having&lt;br /&gt;no worldly attributes - 'sashrava dharmas', and his 'rupa kaya' has limitless powers, he is always in trance -'samadhi'. He came to earth for enlightenment of worldly beings. Bodhisatva concept was put forward. They believed in plurality of Buddhas and changed the summum bonum from Arhanthood to Buddhahood. Thus degrading the 'arhants' - followers of Pali Buddhism. All this, you could not really say, happened just because of ten minor rules of Vinaya. It shows their intention - to start with - was to divide the Sangha and not just ten minor rules like eating of salt etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanskrit speaking Bhikkus in Mathura region also formed their own Bhikku Sangha separating from the original Bhikku Sangha and called themselves Sarvastivadins and remaining original Sangha was Pali speaking, which was the original mother&lt;br /&gt;tongue and language of all northern and central India,and was known as Sthavirvadi, with their HQ at Avanti (now Ujjayin) in Central India in MP. It was the Avanti Tipitakas which was taken to Ceylon by Mahinda, son of Asoka the Great. Its language is akin to that of the Girnar Edict. These Bhikkus lost all&lt;br /&gt;influence in Eastern India - the original area of the Buddha. Thus Sangha got divided into three Buddhist orders.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It must be understood, as Rhys Davids pointed out, wherever the Buddha went - and he had come to west right up to Mathura and beyond - he did not require the assistance of any interpreters. The masses knew the language of the Buddha. Whereas these Bhikkus avoided the language of masses and went nearer to Brahminism by adopting Sanskrit. Their doctrines led in later times the formation of Mahayana school.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Asoka Times*&lt;br /&gt;Asoka was Buddhist before Kalinga war. He removed sixty thousand Bhikkus from the Sangha as they were not following original Buddhism in Pali. The Vinaya Pitaka was closed before Asoka. There is no mention of Asoka in Tipitakas and&lt;br /&gt;this proves that he did not interfere with the Tipitakas, as mentioned by Rhys Davids. It is not proper to use the word Sangiti for further religious conventions. In Third conference in Asokan reign, the President was Mogalliputta Tissa, the preceptor of Asoka, who was a Brahmin. Text of whole Tipitakas was finalized by this conference.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Buddhist Scriptures were known as "Dhamma" and "Vinaya" during First and Second Sangitis. Mogalliputta Tissa enlarged the writings of Mahakassapa and Sariputta and gave them a shape of "Abhiddhamma Pitaka" containing seven books, and one of his own books called "Katha vatthu". Abhiddhamma is made difficult for the masses by adding philosophical and metaphysical discussions without any profit to common masses. The future Mahayanist developed the same concepts into full fledged philosophy. Mahayanists followed the traditions of Mahasanghikas. Tissa thus awarded recognition and prestige to Abhidhamma by&lt;br /&gt;putting them in Pitakas - a tradition far away from the original teachings of the Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Buddha had said your guru in future will be 'Dhamma' and 'Vinaya', and so I did not appoint the successor. Why should it then be called 'Three Pitakas'? It was Mogaliputta Tissa who introduced the nomenclature of Pitakas as Vinaya, Sutta, and Abhidhamma and introduced ordinary book like "Chariya Pitaka", which was given prestige of Pitaka, as if it was original word of the Buddha. Incarnation and Rebirth was introduced here in Chariya Pitaka. Majjhim Nikaya - Chul Dukkh Khanda Sutta clearly mentions that the Buddha had said that there is only One birth and that is the present one. Due to Chariyapitaka, with 34 short stories turned into verse, the technical Jatakas&lt;br /&gt;were later thought of by the Attakathakaras. Paramitas were added for each birth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abhidhamma was tried to be mixed with Khuddak Nikaya. But there is difference of opinion among Bhikkus from Sri Lanka, Myanmar and Thailand about Khudak Nikaya. Only agreed books are five, namely -- Khuddak paath, Udaan, Itivuttukh, Sutta Nipat and Dahammapad. Thus it is clear and can be proved that Sutta Pitaka had been tampered with by the Brahmin Bhikkus. Barring&lt;br /&gt;Khuddak- Paath the remaining four are available in Chinese translations. All others are not considered original 'Buddha Vachana'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asoka reigned from 272 - 232 B.C. In 251 B.C. the Tipitaka and Pali Attakathas got closed in India and went to Sri Lanka in 250 B.C. along with Mahinda and here, role of Indian Bhikkus was more or less finished as far as Tipitakas was concerned. In Sri Lanka, Mahinda translated the Pali Attakathas into&lt;br /&gt;Sinhalese but not the Tipitakas. During Vattagamini's rule around 80 B.C. the Tipitakas was reduced to writing. Brahmins got some setback during Asoka reign&lt;br /&gt;socially and politically as Asoka treated non Brahmins and Brahmins on equal footing. The Shudras and forest folks were treated with respect and also got Government jobs. Even Buddha had asked to give employment to Shudras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Counter Revolution by Brahminism*&lt;br /&gt;In Brahminic priestly circles, Panini around 350 B.C. brought in Sanskrit grammar, changed all old Vedic language. A century later around 250 B.C. Katyayana, who ridiculed Asoka as a 'grass eating king', flourishes and makes Sanskrit more hardened and restricted. This is furthered, around 150 B.C., by Patanjali - after Pushyamitra's counter-revolution - who actually started Ashwamegha sacrifices.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last Mauryan Buddhist king Bhahidrath was assassinated around 185 B.C by his Brahmin commander of army - Pushyamitra Shunga - who usurps the throne, comes to power and open massacre of Buddhists starts. They got entry to Sangha and now could manipulate, gradually and slowly but firmly changed the concepts in Pali, the concepts of Buddhist canonical words like Bodhisatva etc. and gave them new meanings. New concepts are brought in. All these concepts are Mahayanist. Mahayana spread all over the world, it slowly changed and went nearer to Brahminism.&lt;br /&gt;After Pushyamitra came to power, they captured viharas, killed the Bhikkus, who were predominantly Pali speaking, as we do not see any non-Brahmin and Pali speaking Bhikku of any stature after Pushyamitra Shunga's counter-revolution.&lt;br /&gt;Of course, these things would not be recorded. Overseas Buddhists of the present times, who are not conversant with the Chaturvarnya and caste system feel that Brahmins helped Buddhism. It is not too difficult to comprehend these&lt;br /&gt;changes if one recollects the present day Indian scenario of previous political party of Narsinharao passing over reigns of power to the present rulers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During the post Pushyamitra period, we see only one important book in Pali, i.e. 'Milind-Panho' having dialogues of King Milinda with Nagsena, a Brahmin Bhikku. The first three chapters of the book are in keeping with the original ideas of the Buddha, but after that the rest of the book tends to lean towards the Brahminic ideology and concepts are imaginary and miraculous. The Chinese translation of this book does not contain these last chapters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*The reign of Kanishka and later*&lt;br /&gt;From the beginning of Christian era, during the reign of Kanishka, the Mahayanists take over. Brahmins like Ashwaghosha and Nagarjuna flourished. Ashvaghosha wrote 'Buddha Charita'. He depicted Siddhartha in company of women and that is the only biography of the Buddha that is available today. The Buddha in original Tipitakas is forgotten.&lt;br /&gt;Ashvaghosha tried to spoil character of Buddha by saying he was in company of women. Impossible stories that Siddhartha had not known what death is - though he was trained in arms - are shown as the cause of Siddhartha leaving home, and that has now become the traditional reason for Abhinishkramana. Are we really supposed to believe that Siddhartha could not have seen an old man, an ill man and a dead man till the age of twenty nine?&lt;br /&gt;Sanskrit is thrust on the Sangha, long metaphysical and philosophical treatises are created by scholars like Nagarjuna and Ashwaghosha, which are hardly intelligible to common masses, and are meant only for Sanskrit knowing scholars. The image of the Buddha is produced and its worship starts. The Brahmin priests copy this and make images of their own gods like Vishnu. After a long drawn out battle for centuries - struggle which is the whole history of India - which can not be discussed here, the Brahmins get success in eclipsing the religion of the Buddha from the subcontinent.&lt;br /&gt;The Mahayanist changes are far reaching, as is well known. The personality of the Buddha is changed from a human being to something like a divine being, three-kaya doctrine is introduced, even the aim of Buddhism is changed from Nibbana to Buddha-hood. Concept of Arhant is replaced by that of Bodhisatva.&lt;br /&gt;This all bridges the gap between the Brahminic priestly religion and Buddhist religion. From the point of view of common man, there remains not much difference between Buddhism and Brahminism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*The last phases*&lt;br /&gt;The last phases of Pali literature take place in Sri Lanka. There is always a contact between Bhikkus of Sri Lanka and those of India. After image of Buddha is manufactured in India, we find an image installed in Anuradhpura in Sri Lanka. The three famous Attakathakars - Buddhadatta, Buddhaghosha and Dhammapala&lt;br /&gt;flourished during fourth fifth century CE. Let us only consider Buddhaghosha, the greatest name in Commentaries. He was a Brahmin from the land of the Bodhi tree i.e. Buddha Gaya, and well versed in Vedas since childhood, wandered all over India, gave a noted discourse on 'patanjal yoga', met there Bhikku Revata who converted him to Buddhism and sent him to Sri Lanka, presumably with ill intentions.&lt;br /&gt;He goes to Sri Lanka, proves his ability by writing 'Vissuddhimagga', and undertakes the work of writing Attakathas, the work which was started by Buddhadatta and left unfinished. The Attakathas which were translated into Sinhalese by Mahinda are retranslated into Pali. So far so good. But then he&lt;br /&gt;burns the old Attakathas of Mahinda and leaves no trace of verifying the correctness of his translations. The surprising part is that Sri Lankans allow him to do that. As is well known these Attakathas are full of miracles and superhuman ideas, not in consonance with the original ideas of the Buddha.&lt;br /&gt;The greatest distortion added by the Attakathakaras was the creation of technical Jatakas. They did this by adding the commentaries and identification to verses from Chariya Pitaka. Thus the old stories, fables and parables - which were in pre-Buddhist Indian folklore having nothing to do with the&lt;br /&gt;Buddhism - were turned into Jatakas, which now became authentic rebirth stories of the Buddha. Seeing this, one must lament at the loss of Mahinda's original commentaries.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Attakathas were burnt by Buddhaghosha*&lt;br /&gt;"Chullavamsa", a Pali Text, is a part of historical book "Mahavamsa", and contains information about Buddhaghosh. Wiliam Geiger translated Chullavamsa, and also Mahavamsa and Deepvamsa - the two historical books of Ceylon. "Buddha-ghosu-ppatti" is a Pali text of Sri Lanka, [edited and translated by James Gray] gives information about Buddhaghosha. This book mentions about burning of Sinhali Attakathas.When these Attakathas were preserved from 250 BCE from Mahinda till coming of Buddhaghosha in 425 CE. (date by Winternitz), devout Buddhists of Sri Lanka will burn Buddhist book is not possible. There is no such evidence in the world. So Buddhaghosha must have motivated them to do so.&lt;br /&gt;Buddhadatta wrote Attakatha only on"Buddhavamsa", called "Madhu-rattha-vilasini" in Pali, but regretted that he did not write all Attakathas. He did not burn the old Mahinda's Attakathas. This proves it was after him, that they were&lt;br /&gt;burnt. The scholars do not believe that the translations by Buddhaghosha were trustworthy with the original, as he put much of his own views. This shows prejudiced bias towards Brahminism. And to prevent this being exposed he must have motivated the burning of Attakathas. When he returned to India he told Bhante Revata that, "Mission was successful". So what was that Mission? We could presume that the mission included the distortion of Attakathas and destruction of the originals.&lt;br /&gt;This is in short the story of Brahminic interference and sabotaging the Buddha's religion from INSIDE. The outside battle by the Brahmins is too well known to be mentioned. This is in no way to denigrate other forms of Buddhism. The doctrine of Mahayana and later so called esoteric Buddhism were no less important in the life of Indians. The reigns of power, not only religious but also political were in the hands of lower strata of society only during the period of Vajrayana. Neither it is to say that all Brahmins were against Buddha's teachings, but just to show how some important Brahmins deviated from&lt;br /&gt;the original tenets of the Buddha, which were simple, easy to follow and free from metaphysical speculations.&lt;br /&gt;Even then, we should be happy that, these Sanskrit speaking Bhikkus, unlike those in Brahminic priestly circles, did not accept Ishwara -- God -- and 'atma', 'chaturvarnya', 'veda pramanya', austerities and concept of&lt;br /&gt;accumulation of 'punya' by visits to tirthas. Thus the points which&lt;br /&gt;differentiate Buddhism from Brahminism are these five, as was pronounced by Dharmakirti in later times. He said:&lt;br /&gt;''vedapramanayam kasyacit kartivadah, snane dharmeccha jativadavalepah, santaparambhah papahanaya ceti, dhavastapraina nam panca lingani jadye.''&lt;br /&gt;"To believe in infallibility of vedas, to believe in a creator, to believe in bathing in sacred rivers, to believe in caste system, and also to believe in in self-mortification -- these five -- are signs of those whose intellect is shattered."&lt;br /&gt;- - o O o - -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. K. Jamanadas,&lt;br /&gt;"Shalimar", Main Road, Chandrapur&lt;br /&gt;(Maharashtra), 442 402 INDIA Tel: 91-22-717-227-6980&lt;br /&gt;The author is an Ambedkarite Buddhist scholar. His writings can be viewed on &lt;a href="http://www.dalitstan.org/books/www.ambedkar.org/jamanadas" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.ambedkar.org/jamanadas" target="_blank"&gt;www.ambedkar.org/jamanadas&lt;/a&gt; and on &lt;a href="http://www.dalitstan.org/" target="_blank"&gt;http://www.dalitstan.org/&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bio Data&lt;br /&gt;Dr. K. Jamanadas, 70 years, a retired surgeon, being F.R.C.S. (1964) from Edinburgh, U.K. and also a graduate of Nagpur University (India) in Ancient Indian History, Culture and Archeology, a member of Board of studies in History in Nagpur University for six years, has been an active worker in Ambedkarite movement.&lt;br /&gt;His research work "&lt;a href="http://www.dalitstan.org/books/tirupati/" target="_blank"&gt;Tirupati Balaji was a Buddhist Shrine&lt;/a&gt;", published in 1991, creating ripples all over, had an international exposure, by reviews in VISION of America and International Sikh times. It has a rare distinction of being present in the "Library of Congress" of United States and the Library of the British Museum. Khushwant Singh reviewed it and so did Urdu journal "Nai Duniya", apart from almost all Ambedkarite journals of India in all languages. The book was translated in Hindi in 1998, and is running in second edition.&lt;br /&gt;The other book "&lt;a href="http://www.dalitstan.org/books/decline/" target="_blank"&gt;Decline and Fall of Buddhism&lt;/a&gt; - A tragedy in Ancient India" (2000) is published by Dalit forum as e-book and is now on way of publication as paper back. A long research article "Rise and Fall of Buddhist Nuns" dealing with subject that present day "devdasis" -- the temple prostitutes -- are degraded Buddhist Nuns was published in international magazine "World Fellowship of Buddhist Review (WFB REVIEW), Jan. 2000 from Thailand. It is on way to publication as a separate book. There is a long research article "Untouchables in Twenty First Century" depicting their origin from Buddhism and present day atrocities, in American Anthology "Everything you know is Wrong" ed. by Russ Kick, published by Disinformation Co. (&lt;a href="http://www.disinfo.com/" target="_blank"&gt;http://www.disinfo.com/&lt;/a&gt;) - May 2002&lt;br /&gt;Many of his articles are published in international magazines from Sri Lanka and USA, and most of his writings are available on &lt;a href="http://www.ambedkar.org/jamanadas" target="_blank"&gt;www.ambedkar.org/jamanadas&lt;/a&gt; and &lt;a href="http://www.dalitstan.org/" target="_blank"&gt;http://www.dalitstan.org/&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7026672496482314804-7562363315854263655?l=dharmoghandul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/7562363315854263655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7026672496482314804&amp;postID=7562363315854263655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/7562363315854263655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/7562363315854263655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/original-buddhism-and-brahminic.html' title='ORIGINAL BUDDHISM AND BRAHMINIC INTERFERENCE'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-109070408496344396</id><published>2007-07-16T23:07:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T23:13:42.174-07:00</updated><title type='text'>MENGENAL BODHISATTA METTEYA</title><content type='html'>Mengenal Bodhisatta Metteya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : Bodhi Buddhist Centre Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Siapakah Buddha ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha adalah seorang yang telah mencapai pencerahan sempurna denganusahaNya sendiri, sempurna dalam pengetahuan dan tindakanNya, sempurnamenempuh Sang Jalan (  ke Nibbana  ), Pengenal segenap alam semesta,Pembimbing manusia yang tiada taranya, Guru para dewa dan manusia, YangSadar, dan Yang Patut Dimuliakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Saya mendengar bahwa Buddha telah mati sehingga Beliau tidak bisamenolong kita.Apakah betul ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk orang-orang yang sederhana, Sang Buddha tampaknya telah mati.Misalnya anda berpikir bahwa guru yang anda hormati telah mati, bukanlahkeyakinan itu akan membuat anda mengandalkan diri sendiri untuk mengusahakankeselamatan ?Inilah makna dari "kematian" Sang Buddha.Tetapi sebenarnya Sang Buddha tidak pernah mati, ia memasuki MahaPari-Nibbana yang mana secara harafiah dapat diartikan sebagai keadaan yangtidak pernah mati.Bagi mereka yang sadar, Sang Buddha tidak pernah mati.Kebenaran tidak pernah dapat mati; kelahiran dan kematian tidak berkuasaatas kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagaimana seorang Buddha bisa menolong kita ?Sang Buddha merupakan guru kita, Beliau menolong kita dengan menunjukkanjalan tetapi kita sendiri yang harus melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seorangpun yang dapat menyelamatkan kita kecuali diri kita sendiri !Ini adalah pesan yang paling indah yang telah diberikan Sang Buddha kepadakita.Sang Buddha bersabda :Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan ;Oleh diri sendiri seseorang menjadi ternoda.Hanya oleh diri sendiri kejahatan dihentikan ;Oleh diri sendiri seseorang menjadi suci.Kesucian atau ketidaksucian tergantung pada diri sendiri.Tak seorangpun yang dapat menyucikan yang lain.- Dhammapada 165&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bagaimana dengan Maitreya, siapakah Dia ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Maitreya (  Sankserta  ) atau Metteyya (  Pali  ) berasal dari kata'metta' atau cinta kasih ini adalah Buddha masa depan yang sangat dinantikantetapi hingga saat ini BELUM dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bila dikatakan bahwa sekarang ini Beliau hanya merupakan Buddha masadepan, apakah statusNya sekarang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Dhamma, sekarang ini beliau dikenal sebagai seorang Bodhisattva danbiasanya beliau digambarkan atau diukir dalam mahkota-mahkota danpermata-permata karena Beliau belum melepaskan kehidupan duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tadi Bhante juga mengatakan bahwa hingga saat ini Metteyya belumdilahirkan, dimanakah Beliau sekarang ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini calon Buddha Metteyya tinggal di surga Tusita yang merupakan alamkelahiran calon Buddha sebelum menjadi Buddha di alam manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Apakah Sang Buddha pernah bersabda tentang calon Buddha masa depan ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Sang Buddha pernah mengatakan bahwa Buddha yang datang adalah Matteyya.Hal ini terdapat dalam Kitab Suci Tipitaka berbahasa Pali tepatnya padaDigha Nikaya Cakkavatti Sihanada Sutta, Syair no. 25 yang berbunyi :" Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini, di dalam dunia akanmuncul seorang Bhagava Arahat Sammasambuddha bernama Metteyya, yang sempurnadalam pengetahuan dan pelaksanaannya, sempurna menempuh jalan, pengenalsegenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, yang sadar serta yangpatut dimuliakan, yang sama seperti saya sekarang.Ia, dengan dirinya sendiri akan mengetahui dengan sempurna dan melihatdengan jelas alam semesta bersama alam-alam kehidupan para dewa, brahma,mara, serta para samana, para pertapa, para pangeran dan orang-oranglainnya, seperti apa yang saya tahu dengan sempurna dan lihat dengan jelassekarang.Dhamma kebenaran yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indahpada akhir akan dibabarkan dalam kata-kata dan semangat, kehidupan suci akandibina dan dipaparkan dengan sempurna dengan penuh kesucian, seperti yangsaya lakukan sekarang.Ia akan diikuti oleh beberapa ribu bhikkhu sangha, seperti saya sekarang iniyang diikuti oleh beberapa ratus bhikkhu sangha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Apakah juga ada dijelaskan tentang tempat kelahiran Bodhisattva calonBuddha ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa Beliau akan dilahirkan saat kehidupan manusia diperpanjangsampai 84.000 tahun.Tempat kelahiranNya adalah Ketumati di masa pemerintahan Chakkavatti Samkhadimana dia sendiri akan menjadi pengikut Buddha dan melepaskan kehidupanduniawi.Metteyya akan dilahirkan di sebuah keluarga terpelajar yang terkenal dannamaNya adalah Ajita.Nama sukuNya juga Metteyya.Nama ayahNya adalah Subrahma; dan ibuNya adalah Brahmawati.Beliau akan menikah dengan Chandamukhi dan akan mempunyai putraBrahmavaddhana.Beliau akan hidup di empat istana selama 8.000 tahun yaitu Sirivaddha,Vaddhamana, Siddhattha dan Chandaka.Selanjutnya Beliau akan melepaskan keduniawian setelah melihat 4 tanda.Yang akan menjadi para pengikutnya yang luar biasa adalah dua saudaraNyaIsidatta dan Purana; Jatimitta dan Vijaya diantara pengikut pria ; danSuddhana, Sanghaa dan Visakhaa diantara pengikut wanita.Yang akan menjadi murid-murid utamaNya diantara para bhikkhu adalah Asokadan Brahmadeva; dan diantara para bhikkhuni adalah Paduma dan Sumana.Siha akan menjadi pembantu pribadiNya.Beliau akan mencapai pencerahan di bawah pohon Naga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Saya pernah membaca beberapa buku, ada diantaranya yang mengatakan bahwaBuddha Metteyya telah menurunkan ajaranNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapula yang mengatakan Metteyya sebagai Bodhisattva yang berdiam di surgaTusita membabarkan Dhamma.Apakah betul demikian ?Itu adalah TIDAK BENAR.Metteyya adalah calon Buddha yang akan datang, dan seorang calon Buddhatidak mengajarkan Dhamma kepada siapa pun juga karena Dhamma ajaran Buddhayang sebelumnya masih ada dan Ia sendiri belum mencapai Penerangan Sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Bila demikian halnya, kapankah Metteyya baru akan menurunkan ajaranNyake dunia ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha yang akan datang baru akan mengajarkan Dhamma apabila ajaran Buddhasebelumnya telah punah.Hal ini karena ajaran Buddha yang baru adalah SAMA PERSIS dengan ajaranBuddha sebelumnya yaitu tentang Empat Kesunyataan Mulia.Dengan demikian, adalah TIDAK MUNGKIN ketika ajaran tentang EmpatKesunyataan Mulia masih berkembang di dunia, ada fihak lain yang mengajarkanhal yang sama tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Apakah benar semua Buddha mengajarkan Dhamma yang sama ?Mengapa Demikian ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa SEMUA Buddha atau lebih tepatnya disebut Sammasambuddhamengajarkan Dhamma yang sama yaitu Empat Kesunyataan Mulia.Untuk lebih jelasnya, dapat pula dilihat dalam Kitab Suci Tipitaka, DighaNikaya, Maha Vagga, Mahapadana Sutta yang salah satu baitnya menyebutkan :" Sang Buddha Vipassi pergi ke Bandumati dan bertemu dengan mereka.Kepada mereka Sang Buddha Vipassi membabarkan kata-kata prakhotbah, yaitu,uraian tentang manfaat berdana, tentang moral (  sila  ), tentang surga,tentang bahaya dan kesia-siaan serta gangguan-gangguan dari afsu indera,manfaat karena meninggalkan pemuasan nafsu indera.Ketika Sang Buddha Vipassi mengetahui bahwa pikiran mereka telah siap,lembut, tanpa prasangka, baik sekali dan penuh keyakinan, maka berulahbeliau menguraikan Dhamma yang telah ditemukan beliau, yaitu :Kebenaran tentang dukkha, asal mula dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalanmelenyapkan dukkha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Maksud Anda, sewaktu Bodhisattva Metteyya lahir di dunia dan setelahmencapai Samyaksambuddha, Beliau juga akan mengajarkan Dhamma yang samaseperti yang diajarkan oleh Buddha Gotama ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar sekali, karena Dhamma yang diajarkan oleh Buddha Gotama bukanmerupakan ciptaanNya tetapi merupakan hukum kebenaran / hukum alam yangditemuinya sewaktu mencapai penerangan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Tetapi saya mendengar bahwa Buddha Gotama menekankan Kebijaksanaansedangkan Metteya sebagai calon Buddha yang akan datang menekankan cintakasih, apakah ini bukan perbedaan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penekanan pembabaran Dhamma yang dilakukan oleh setiap Buddha disesuaikandengan kondisi manusia yang tidak sama tetapi inti ajaran yang disampaikanoleh semua Buddha adalah sama sebagaimana yang sudah dijelaskan padapertanyaan di atas.Diceritakan bahwa Buddha Gotama membabarkan Dhamma dengan menekankan padaKEBIJAKSANAAN, sedangkan Buddha Metteyya lebih menekankan ajaranNya padaCINTA KASIH.Perbedaan penekanan ajaran ini justru karena disesuaikan dengan kondisimanusia dan kesiapan batin mereka untuk menerima Buddha Dhamma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Apakah hanya seorang Buddha yang mengajarkan Dhamma ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran Dhamma pada mulanya memang diajarkan oleh Sammasambuddha yangkarena perjuanganNya sendiri telah berhasil mencapai kesucian.Salah satu contoh Sammasambuddha adalah Sang Buddha Gotama.Namun, setelah Beliau mengajarkan Dhamma kepada muridNya sehingga merekajuga mencapai kesucian, para murid ini pun dapat mengajarkan Dhammayang SAMA dan membawa pendengarnya mencapai kesucian. Murid yangmencapai kesucian karena mendengar ajaran Sammasambuddha tersebutdinamakan Savaka Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Saya pernah pula membaca buku yang katanya berisi ajaran agama Buddhatetapi di dalamnya terdapat Firman Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dalam agama Buddha dikenal adanya Firman Tuhan ?Pengertian ketuhanan dalam Agama Buddha berbeda dengan pengertian yangbanyak terdapat dalam masyarakat.Tuhan dalam Agama Buddha adalah merupakan tujuan hidup yaitu Nibbana  Pali  ) atau Nirvana (  Sanskerta  ).Nibbana bukanlah pribadi maupun tempat.Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang selanjutnya.Nibbana adalah berhentinya kelahiran kembali.Nibbana tidak terceritakan.Karena beberapa pengertian Nibbana atau Tuhan dalam Agama Buddha sepertiyang telah disebutkan di atas, maka tentu saja TIDAK dikenal adanya FirmanTuhan.Pengertian adanya 'Firman Tuhan' tersebut timbul dari ajaran yang menganggapTuhan sebagai pribadi.Konsep ketuhanan sebagai pribadi ini memang lebih banyak berkembang dalammasyarakat dibandingkan konsep Tuhan bukan sebagai pribadi seperti yangdianut Agama Buddha.Oleh karena itu, orang lebih banyak mengetahui adanya firman Tuhan, karyaTuhan, ciptaan Tuhan dsb yang kesemuanya itu tidak ada dikenal dalam AgamaBuddha.Agama Buddha memandang terjadinya segala sesuatu di alam semesta ini adalahkarena hukum sebab dan akibat yang telah berproses untuk waktu yang sangatlama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Saya pernah pula mendengar bahwa dalam agama Buddha yang dianut olehteman saya, terdapat kata rahasia yang katanya sebagai `password' untuk kesurga.Apakah dalam agama Buddha memang dikenal adanya kata-kata rahasia sepertiitu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Tipitaka, Digha Nikaya, Mahaparinibbana Sutta, dengan jelas SangBuddha menyatakan bahwa tidak ada Dhamma, Ajaran Beliau yang dirahasiakanmaupun dibedakan antara satu orang dengan orang yang lainnya.Oleh karena itu, jelas tidak ada 'Kata Rahasia' yang pernah disampaikan SangBuddha kepada murid-murid Beliau.Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca kutipan sutta tersebut :" Aku telah mengutarakan Dhamma, tanpa membeda-bedakan pelajaran yangbersifat khusus maupun yang umum.Tidak ada apa-apa lagi, yang berkenaan dengan Dharma, yang Sang Tathagatapegang sampai akhir, seperti seorang guru yang menggenggam tangannya,seolah-olah menyimpan sesuatu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Apakah ada bedanya rupang seorang Buddha dan seorang Bodhisatta ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat rupang Bodhisattva Metteyya yang diklaim oleh sebahagian orangsebagai Buddha sangat berbeda dengan rupang Buddha Sakyamuni atauBuddha-Buddha yang lain.Dalam Kitab Suci Tipitaka Pali, tidak pernah disebutkan tentang bentukMetteyya Bodhisattva.Bisa saja rupang Bodhisattva Metteyya dibuat sedemikian rupa untuk mempunyainilai simbolik tertentu.Misalnya, rupangnya yang dibuat tertawa lebar ini mewakili sifat kasihsesuai dengan namanya.Akan tetapi, rupang Buddha atau seseorang yang telah mencapai penerangansempurna memiliki 32 Maha Purisa Lakkhana / ciri-ciri Manusia Agungsebagaimana yang disebutkan dalam Digha Nikaya, Patika Vagga, Lakkhana Suttasebagai berikut :" Para bhikkhu, seorang Manusia Agung (  Maha Purisa  ) memiliki 32 tanda lakkhana  ) ...apakah 32 Maha Purisa Lakkhana yang menyebabkan hanya ada dua kemungkinancara hidupnya dan tidak ada yang lain,jika ia hidup sebagai manusia biasa, maka ia akan menjadi raja dunia cakkavati  ),... maka ia akan menjadi Arahat Samma Sambuddha; yaitu :&lt;br /&gt;1. Telapak kaki rata ( suppatitthita-pado ). Ini merupakan satu lakkhanadari Maha Purissa.&lt;br /&gt;2. Pada telapak kakinya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran danpusat dalam bentuk sempurna.&lt;br /&gt;3. Tumit yang bagus ( ayatapanhi ).&lt;br /&gt;4. Jari-jari panjang ( digha-anguli )&lt;br /&gt;5. Tangan dan kaki yang lembut serta halus ( mudutaluna ).&lt;br /&gt;6. Tangan dan kaki bagaikan jala ( jala-hattha-pado ).&lt;br /&gt;7. Pergelangan kaki yang agak tinggi ( ussankha-pado ).&lt;br /&gt;8. Kaki yang bagaikan kaki kijang ( enijanghi )&lt;br /&gt;9. Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpamembungkukkan badan.&lt;br /&gt;10. Kemaluan terbungkus selaput ( kosohitavattha-guyho ).&lt;br /&gt;11. Kulitnya bagaikan perunggu berwarna emas ( suvannavanno )&lt;br /&gt;12. Kulitnya sangat lembut dan halus / sehingga tidak ada debu yang dapatmelekat pada kulit&lt;br /&gt;13. Pada setiap pori kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.&lt;br /&gt;14. Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.&lt;br /&gt;15. Potongan tubuh yang agung ( brahmuiu-gatta ).&lt;br /&gt;16. Tujuh tonjolan ( sattussado ), yaitu pada kedua tangan, kedua kaki,kedua bahu dan badan.&lt;br /&gt;17. Dada bagaikan dada singa ( sihapubbaddha kayo ).&lt;br /&gt;18. Pada kedua bahunya tak ada lekukan ( citantaramso ).&lt;br /&gt;19. Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, bagaikan pohon( beringin ), Nigroda.&lt;br /&gt;20. Dada yang sama lebarnya ( samavattakkhandho ).&lt;br /&gt;21. Indera perasa sangat peka ( rasaggasaggi ).&lt;br /&gt;22. Rahang bagaikan rahang singa ( siha-banu ).&lt;br /&gt;23. Empat puluh buah gigi ( cattarisa-danto ).&lt;br /&gt;24. Gigi-geligi rata ( sama-danto ).&lt;br /&gt;25. Antara gigi-gigi tak ada celah ( avivara-danto ).&lt;br /&gt;26. Gigi putih bersih ( susukka-datho ).&lt;br /&gt;27. Lidah panjang ( pahuta-jivha ).&lt;br /&gt;28. Suara bagaikan suara-brahma, seperti suara burung Karavika.&lt;br /&gt;29. Mata biru ( abhinila netto ).&lt;br /&gt;30. Bulu mata lentik, bagaikan bulu mata sapi ( gopakhumo ).&lt;br /&gt;31. Di antara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikankapas yang lembut.&lt;br /&gt;32. Kepala bagaikan berserban ( unhisasiso )."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Saya pernah pula mendengar bahwa ada istilah "Lau Mu" yang katanyamerupakan ibunda dunia yang melahirkan para Buddha.Apa benar dalam agama Buddha dikenal adanya hal seperti itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kitab Suci Tipitaka Pali, istilah Laumu atau yang setara dengan itutidak pernah disebutkan sama sekali.Keberadaan para Buddha di dunia ini bukanlah karena kelahiran, melainkankarena perjuangan untuk membebaskan diri dari ketamakan, kebencian sertakegelapan batin.Ratu Maya, istri Raja Suddhodana sekalipun tidak pernah melahirkan seorangBuddha.Di Taman Lumbini beliau melahirkan CALON BUDDHA yaitu Pangeran SiddhatthaGotama.Pangeran Siddhattha kemudian meninggalkan istana dan berjuang sendirisehingga mencapai kebuddhaan menjadi Sammasambuddha.Dengan demikian, seorang Buddha bukanlah karena kelahiran, melainkan karenaperjuangan sendiri.Sekian &amp; Semoga Bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***Sumber :Mengenal Bodhisatta Metteyaoleh : Bodhi Buddhist Centre IndonesiaTim Penerbit Bodhi Buddhist Centre IndonesiaCetakan Pertama, Desember 2004******************************************************************Do not believe in anything simply because you have heard it ;Do not believe in anything by mere traditions just because they have beenhanded down for many generations ;Do not believe in anything only because it is spoken and/or rumored by many;Do not believe in anything just because it is written in your religiousbooks ;Do not believe in anything merely on the authority of your elders andteachers ;But after observation and analysis, when you find that anything agrees withreason and is conducive to the good and the benefit of one and all, thenaccept it and live up to it.**********************************************************************************Bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya, maka ia dapat dikatakan bijaksana; tetapi orang bodoh yang menganggap dirinya bijaksana, sesungguhnya dialah yang disebut orang bodoh. (DHAMMAPADA, syair 63)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7026672496482314804-109070408496344396?l=dharmoghandul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/feeds/109070408496344396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7026672496482314804&amp;postID=109070408496344396' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/109070408496344396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7026672496482314804/posts/default/109070408496344396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dharmoghandul.blogspot.com/2007/07/mengenal-bodhisatta-metteya.html' title='MENGENAL BODHISATTA METTEYA'/><author><name>DHARMO GHANDUL</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01787399119045760210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7026672496482314804.post-7700138145047375144</id><published>2007-07-16T23:03:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T23:04:22.461-07:00</updated><title type='text'>MENGAPA SAYA BERAGAMA BUDDHA?</title><content type='html'>Message: 8        &lt;br /&gt;   Date: Tue, 25 Jan 2005 04:07:16 -0000&lt;br /&gt;   From: "saggadhana" &lt;&lt;a href="http://us.f305.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=saggadhana@yahoo.co.uk&amp;YY=22720&amp;amp;order=down&amp;sort=date&amp;amp;pos=0"&gt;saggadhana@yahoo.co.uk&lt;/a&gt;&gt;&lt;br /&gt;Subject: Mengapa saya beragama Buddha ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin ketika saya surfing di salah satu milis Buddha saya&lt;br /&gt;menemukan pertanyaan yang sangat menggelitik. Bila saya menjadi&lt;br /&gt;orang baik kenapa perlu bagi saya untuk beragama Buddha? Pertanyaan&lt;br /&gt;ini sungguh menyentuh hati saya dan membuat saya merenung kembali&lt;br /&gt;diri saya, Saya menjadi bertanya kepada diri saya "Kenapa saya&lt;br /&gt;beragama buddha ?" Apa yang saya dapat dari beragama buddha?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil perenungan saya terhadap pengetahuan saya tentang agama&lt;br /&gt;buddha dan mencoba melaksanakannya selama 20 tahunan , saya mendapat&lt;br /&gt;beberapa kesimpulan. Kesimpulan tersebut yang saya coba tuangkan&lt;br /&gt;dalam tulisan ini. Bila saya menulis di luar patron agama Buddha dan&lt;br /&gt;saya melakukan kesalahan saya memohon maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pangearan Siddhata dan ilmuwan lainnya&lt;br /&gt;Pangeran Sidhatta menjalani kehidupan pertapa hanya dengan satu&lt;br /&gt;tujuan yaitu menemukan kebenaran. Jalan untuk melenyapkan&lt;br /&gt;penderitaan dan ia sudah menjalaninya bukan hanya dalam 1 kehidupan&lt;br /&gt;namun ia menjalaninya dalam jutaan kali kehidupan untuk mencari&lt;br /&gt;jawabannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat bulan purnama di bulan May, ia menemukan jawabannya dan ia&lt;br /&gt;menyatakan dirinya sebagai Buddha yang berarti "yang tercerahkan "&lt;br /&gt;Dalam perjalanan hidupnya selama 40 tahun ia hanya membabarkan&lt;br /&gt;dhamma. Dhamma inilah kebenaran yang ditemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran siddhata dalam pandangan saya seperti Newton yang menemukan&lt;br /&gt;hukum Fisika dimana Gaya adalah massa dikalikan dengan percepatan.&lt;br /&gt;Atau Einstein dengan hukum relativitas khusus dan umumnya. Atau&lt;br /&gt;ilmuwan lainnya yang menemukan hukum alam lainnya. Hukum alam&lt;br /&gt;tersebut sudah ada dialam dan mereka yang dapat menjelaskan dengan&lt;br /&gt;bahasa yang sederhana dan dapat dimengerti semua orang sehingga&lt;br /&gt;semua orang merasakan manfaat dengan mengtahui dan menggunakannya.&lt;br /&gt;Hal yang sama yang ditemukan oleh pangeran Sidattha yang menemukan&lt;br /&gt;jalan untuk melepaskan diri dari penderitaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sangat berbeda dengan "agama dari langit" dimana semua&lt;br /&gt;ajaran berasal dari "makhluk ADIKUASA" bila kita melanggarnya kita&lt;br /&gt;mendapatkan hukuman dan bila kita melaksanakan maka kita akan&lt;br /&gt;mendapatkan "reward" (imbalan yang menyenangkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha selama 40 tahun hanya membabarkan hukum alam yang&lt;br /&gt;ditemukannya, bukannya membuat aturan lalu memaksakan kehendaknya&lt;br /&gt;kepada manusia. Buddha membebaskan kita untuk memilih jalan  sesuai&lt;br /&gt;dengan kemauan kita tanpa ada kewajiban atau pemaksaan. Buddha hanya&lt;br /&gt;menganjurkan jalan yang sebaiknya dipilih dan menganjurkan jalan&lt;br /&gt;yang seharusnya tidak dipilih mengingat akibatnya yang sangat buruk &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Dhamma&lt;br /&gt;Sang Buddha menjelaskan bahwa alam kehidupan ada 31 Alam dan&lt;br /&gt;sekarang kita hidup dialam manusia . Dibawah alam manusia ada 4 alam&lt;br /&gt;Apaya dan diatas alam manusia ada 6 Alam Dewa ditambah dengan 20&lt;br /&gt;Alam Jhana. Diluar 31 alam ini ada "satu keadaan" yang disebut&lt;br /&gt;nibanna dimana seseorang tidak mungkin untuk kembali kealam lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhamma yang diajarkan sang buddha sangat sederhana yang secara garis&lt;br /&gt;besarnya adalah:&lt;br /&gt;a.      Bila kita berbuat sesuka hati kita tanpa aturan dan selalu&lt;br /&gt;merugikan makhluk lainnnya (bukan saja manusia) maka kita akan masuk&lt;br /&gt;kealam dibawah alam manusia&lt;br /&gt;b.      Bila kita melaksanakan sila (Minimal Panca sila ) maka kita&lt;br /&gt;minimal akan tetap di alam manusia&lt;br /&gt;c.      Bila kita ingin kehidupan yang lebih baik (alam manusia dan&lt;br /&gt;alam dewa) maka kita harus rajin melaksanakan sila dan berdana.&lt;br /&gt;Jangan percaya dengan cerita bahwa manusia hanya bisa ke alam neraka&lt;br /&gt;atau alam manusia&lt;br /&gt;d.      Bila kita ingin ke alam yang lebih tinggi lagi (Rupa Bhumi &lt;br /&gt;dan Arupa Bhumi)  maka kita harus ber meditasi samantha&lt;br /&gt;e.      Bila kita ingin mencapai nibanna maka kita harus bermeditasi&lt;br /&gt;vipassana&lt;br /&gt;Sungguh sederhana bukan. Tentu saja banyak aturan kecil lainnya yang&lt;br /&gt;perlu dipelajari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda ingin kemana maka Anda yang tentukan. Bila Anda ingin ke alam&lt;br /&gt;niraya (Alam neraka yang terburuk kondisinya), anda boleh mebuat&lt;br /&gt;kamma buruk yang besar seperti membunuh ayah dan ibu, memecah belah&lt;br /&gt;sangha, Membunuh Arahat dan melukai Sang Buddha. Apakah kita&lt;br /&gt;beragama buddha atau tidak maka kita tetap akan masuk kealam niraya&lt;br /&gt;karena ini hukum alam dan bersifat pasti adanya&lt;br
