Senin, 16 Juli 2007

KEBANGKITAN AGAMA BUDDHA DI INDONESIA SETELAH JAMAN MAJAPAHIT

To:samaggiphala@yahoogroups.com
From: "kpropria" Add to Address Book Add
Mobile Alert
Date:Sun, 12 Feb 2006 13:34:26 -0000
Subject:[samaggiphala] kebangkitan agama buddha di indonesia setelah
jaman majapahit/serat Dharmogandul


Teman-teman,

Menyambung usulan rekan di milis ini yg menyarankan untuk membaca
buku tokoh antagonis serat Dharmogandul(terbitan gramedia) maka saya
juga akan mengkopi artikel yg mirip yg berasal dari Bhante
Saya sudah baca buku tokoh
antagonis serat Dharmogandul memang informatif.

Ringkasan 3, Diskusi Dhamma (19/10/2002)

Mengungkap Budaya Buddhisme di Nusantara (2): Pasca Majapahit Oleh:
Bhikkhu Dhammasubho Thera

Peninggalan budaya pada Jaman Majapahit di Nusantara sekarang ini
dapat dilihat situsnya di Mojokerto. Di sana ada Situs Majapahit
tetapi karena bahan bakunya dari batu bata, maka tidak bisa bertahan
lama, kini tampak telah aus dimakan waktu/keropos, runtuh. Berbeda
dengan peninggalan Candi-candi Majapahit yang lain di mana bahannya
terbuat dari batu andesit, hingga kini masih utuh. Yang menarik
untuk diperhatikan dan dipelajari adalah bagaimana Agama Buddha yang
demikian besar di Jaman Majapahit akhirnya mengalami kemunduran
hingga lenyap tidak dikenal sama sekali, yang tersisa tinggal berupa
kepingan-kepingan sejarah.

Hal yang patut dicatat bahwa suatu agama akan berkembang menjadi
besar bila didukung oleh beberapa syarat, sekurang-kurangnya ada
lima, yaitu:

Kalau menjadi agama negara; sehingga kegiatan keagamaan maju pesat
karena sepenuhnya didukung oleh raja. Candi Borobudur, Candi
Prambanan, dan lain-lain, dibangun karena sepenuhnya didukung oleh
raja.

Ditangani oleh kaum profesional agama (ulama); artinya sebagai ahli
pelaku agama (ulama), waktu sepenuhnya tercurah, berpikir, berucap,
dan bertindak untuk kemajuan agamanya.

Tingkat kemakmuran masyarakat mendukung;

Tingkat kerelaan umat; jika dari kemakmuran dan kerelaan cukup,
pengadaan sarana dan prasarana demi kegiatan pengembangan keagamaan
semua dengan mudah terwujud.

Tingkat keimanan umat cukup mantap; artinya tidak mudah terpengaruh
atau pindah agama
Agama Buddha pada Jaman Majapahit menjadi besar karena lima hal
tersebut di atas terpenuhi. Raja, pejabat tinggi negara, dan
rakyatnya menganut cara berpikir Buddhis, beragama Buddha. Akan
tetapi ketika yang terjadi sebaliknya, petinggi-petinggi negara
beralih agama, para profesional (ulama) agama menyimpang dari
haluannya, tingkat kesejahteraan rakyat tidak mendukung, keimanan
goyah, maka lambat laun agama akan ditinggalkan. Begitu pula Agama
Buddha pada jaman pasca Majapahit menjadi merosot tajam, lenyap
hilang. Agama Buddha di Indonesia sekarang dalam kondisi baik dan
aman, karena sah dan dilindungi undang-undang, akan tetapi karena
belum ditangani oleh kaum profesional (ulama) sepenuhnya, maka masih
tersendat-sendat, sering ngadat. Selama ini lembaga-lembaga,
organisasi agama masih ditangani oleh pemimpin-pemimpin yang belum
sepenuhnya profesional agama, sehingga perhatian dan pencurahan
energi, serta pemikirannya masih harus dibagi dua dengan tanggung
jawab kebutuhan keluarga atau profesi lain yang menjadi kendala.

Hal lain yang menjadi sebab Agama Buddha menurun adalah Raja ke-5
pada Jaman Majapahit yaitu Raja Brawijaya V mempunyai anak laki-laki
hasil pernikahannya dengan Putri Campa (China), di mana sejak kecil
anak tersebut yang diberi nama Raden Babah Patah dididik oleh Raja
Ariyodamar di Palembang, Sumatera, yang telah beragama lain. Jadi
Raden Patah diajar agama lain bukan Agama Buddha yang telah dianut
di negeri itu, sampai Raden Patah menjadi besar dan kembali ke
negeri Tanah Jawa di Kerajaan Majapahit. Oleh Brawijaya diterima dan
diberikan wilayah kekuasaan untuk dibuka menjadi kerajaan baru.
Tempat tersebut oleh Raden Patah dibangun bersama dengan guru-guru
spiritualnya yakni para wali, jadilah Kerajaan Demak Bintoro, di
Jawa Tengah. Akhirnya demi kepentingan tertentu guru-guru
spiritualnya mendesak Raden Patah sebagai Raja Demak Bintoro, untuk
segera mereformasi Majapahit berganti agama baru. Meskipun berkali-
kali Raden Patah menunda-nunda permintaan gurunya, akan tetapi
karena didesak dan didesak terus, akhirnya Raden Patah menurut juga.
Oleh karena Brawijaya tidak mendidik Raden Patah untuk mempelajari
Agama Buddha, akibatnya Raden Patah tidak menganut Agama Buddha,
malah bermaksud mengganti agama yang dianut Brawijaya, orangtuanya.
Sampai suatu ketika Majapahit didatangi PANSUS tentara dari Demak,
untuk tujuan mereformasi Majapahit. Prabu Brawijaya sebagai orangtua
tentu berpikir panjang, apakah dia harus berperang berhadapan dengan
anak, sedangkan sebagai orangtua rela kurang makan minum, kurang
tidur, asal anak bahagia orangtua sudah cukup puas. Maka meskipun
negeri kerajaan dalam keadaan didesak bahaya, daripada perang dengan
anak, Prabu Brawijaya memilih pergi meninggalkan kerajaan; lewat
pintu belakang beliau meninggalkan Kerajaan Majapahit menuju
Blambangan. Jadi Kerajaan Majapahit ketika itu bukan diambil alih
dengan peperangan atau perundingan, tetapi tepatnya ditinggal pergi
oleh rajanya. Raja Demak berhasil mengambil alih istana Kerajaan
Majapahit, tetapi misinya dianggap belum sukses karena Prabu
Brawijaya belum pindah agama baru. Akhirnya diputuskan untuk
mengirim Raden Sahid Sunan Kalijaga menyusul Prabu Brawijaya ke
Blambangan, di ujung timur Pulau Jawa. Tujuannya membujuk dan
merayu, serta memohon agar Prabu Brawijaya kembali ke Majapahit dan
berganti agama. Pembicaraan ini berlangsung berhari-hari sampai
akhirnya Prabu Brawijaya menyanggupi untuk kembali ke Majapahit.
Tetapi beliau mengatakan bahwa: "Saya mau kembali ke Majapahit bukan
untuk kekuasaan sebagai Raja Majapahit, tetapi demi anak." Sudah
jelas dikudeta, tetapi Prabu Brawijaya tetap tidak pupus rasa sayang
pada anaknya. Walaupun demikian misi para wali guru spiritual Raden
Patah belum tercapai, maka berhari-hari terus diadakan dialog.
Karena alotnya sampai suatu ketika dialog diambil alih oleh kedua
penasehat spiritual Prabu Brawijaya yaitu Sabdopalon dan
Noyoginggong (nama yang sudah diistilahkan, yang dimaksud adalah
bhikkhu). Akhirnya Sabdopalon, Noyoginggong, dan Sunan Kalijaga
berdebat seru mengadu ilmu dan kesaktian.

Di mana untuk membuktikan misi baru ini hebat, Raden Said mengambil
air untuk mencuci muka, begitu tersentuh tangan, air tersebut
berubah menjadi berbau wangi. Untuk menandai kejadian ajaib ini,
maka di tempat itu diberi nama Banyuwangi. Akhirnya disepakati
rombongan meninggalkan Blambangan menuju Majapahit. Dalam perjalanan
ke Majapahit rombongan berhenti di suatu tempat peristirahatan
(villa). Di tempat itu diteruskan lagi diskusi yang belum usai.
Sabdopalon dan Noyoginggong menerima keajaiban air wangi tidak
tinggal diam, tetapi ingin menguji air wangi tersebut sampai kapan
bertahan. Air wangi yang dibawa dalam bumbung (tabung) dari
Blambangan, oleh Sabdopalon dan Noyoginggong dibuka tutupnya,
ternyata air yang semula berbau wangi itu sekarang berubah menjadi
berbau basin (busuk) dan banger. Prabu Brawijaya berkata: "Saya
sudah tua, semuanya demi anak. Permintaan saya, meskipun Majapahit
sudah berganti pemerintahan tetapi jangan sampai dinodai tetesan
darah. Saya sanggup berganti agama tetapi saya mempunyai permintaan,
kalau saya meninggal jangan ditulis di sini makam Brawijaya, cukup
diberi tanda 'di sini peristirahatan si putra bulan [trowulan]."
Begitu Prabu Brawijaya memberi disposisi, kedua penasehat
spiritualnya berkata: "Brawijaya, saya tidak akan mengikuti
perjalananmu lagi, saya akan tidur saja, dan saya tidak akan bangun
sebelum Agama Buddha kembali. Dan ingatlah keharuman air wangi nanti
akan bertahan selama 500 tahun dan 4 jaman." Usai berkata demikian
Sabdopalon dan Noyoginggong "moksa" (menghilang). Mendengar kata-
kata itu Brawijaya menangis tetapi semuanya sudah terlambat. Untuk
memberi saksi harumnya air wangi menjadi berbau basin dan banger,
tempat itu diberi nama Jember. Dihitung-hitung perjalanan dari
Banyuwangi sampai Jember selama 4 hari dan 5 malam. Artinya
keharuman itu nanti bertahan selama 500 tahun dan 4 jaman.

Inilah pentingnya dunia pendidikan, besar sekali pengaruh ucapan
seorang guru pada anak-anak. Diakui atau tidak, sebuah nasehat yang
sama isi kata-kata maupun artinya dari orangtua, masih lebih
didengar ucapan guru untuk anak-anak. Maka berhati-hatilah orangtua
mencarikan guru untuk anak-anak, karena ucapan guru lebih didengar
oleh anak-anak. Orangtua jika ingin hidupnya aman, agamanya tidak
terputus, maka seyogyanya anak-anak harus diajar agama yang sama
dengan orangtuanya. Kalau orangtua terlambat mendidik anak, suatu
ketika akan menjadi masalah dikemudian hari. Jadi jangan heran kalau
nanti anaknya tidak akan menyembayangi orangtuanya yang sudah
menjadi leluhur. Tetapi kadang orangtua terlalu merdeka, bebas, dan
bangga mempunyai keluarga yang berbeda-beda agamanya, padahal itu
akan menjadi masalah dikemudian hari. Sejak terjadi reformasi
pemerintahan di Majapahit, petinggi-petinggi Majapahit banyak yang
terpaksa atau dipaksa berubah haluan. Bagi yang tidak kuat imannya
dan goyah, demi hidup, demi jabatan, mereka pindah keyakinan agama.
Yang bimbang diberi pilihan hidup atau mati. Tetapi yang betul-betul
idealis Buddhis meskipun dengan berbagai cara ditekan, tidak
tergoyahkan. Orang-orang idealis Buddhis ini lebih baik menyingkir,
menjauh sampai ke daerah-daerah pedalaman hingga menjadi komunitas
masyarakat tersendiri. Mereka hidup apa adanya tidak banyak aturan,
tetapi aman tenteram tanpa gangguan, tidak ada gejolak, tetap
memegang teguh ajaran agama lama secara turun temurun. Ajaran
penting ini diberikan sangat tradisional/sederhana, tidak ada tulis
menulis, tetapi dihafal melalui lisan, contoh dalam perilaku dan
perbuatan, bagian-bagian yang amat penting cukup di dalam bathin.
Orang-orang idealis yang ditakut-takuti, ajarannya "diamputasi",
budayanya dilarang berfungsi, dan menyingkir ini, selanjutnya
dikenal sebagai Orang Badui di Jawa Barat, Orang Samin di Jawa
Tengah, Orang Tengger di Jawa Timur, Suku Kajang di Sulawesi
Selatan, Suku Kaly di Sulawesi Tengah, Orang Sangir di Sulawesi
Utara, Suku Dayak Kaharingan di Kalimantan, Suku Karo di Sumatera,
dan lain-lain. Ajaran yang diajarkan turun-temurun melalui hafalan
lisan dan perbuatan itu tadi tetap utuh. Hanya karena tidak terbuka
secara umum dan kadang-kadang hanya di bathin-bathin saja, maka lama-
lama menjadi istilah "Kebathinan" yang di Jawa disebut "Kejawen",
sehingga ketika mengalami kebangkitan lagi 500 tahun kemudian, orang-
orang kebathinan itu umumnya sangat respon pada Agama Buddha. Ibarat
bola karet yang menggelinding di pasir, tidak lagi terlihat itu
sebagai bola karet tetapi yang tampak adalah bola pasir. Begitu juga
dengan Ajaran Buddha yang meskipun tetap dipraktikkan oleh
masyarakat, tetapi tidak dikenal lagi bahwa itu sesungguhnya Ajaran
Buddha. Ajaran ini dapat dilihat hanya dalam bentuk sastra budaya,
tradisi puja, perilaku tata krama, sopan santun, dan beberapa kosa
kata yang menjadi dialek masyarakat, atau kepingan-kepingan candi
yang kita baca lewat prasasti; tetapi bentuk agama yang kongkrit
sudah tidak dikenal lagi selama 500 tahun sejak Majapahit surut,
runtuh.

Meskipun Ajaran Buddha sudah hilang dari permukaan Bumi Nusantara
ini, tetapi tetap tidak lenyap. Ibarat sebatang pohon yang cabang
rantingnya sudah patah, daunnya sudah rontok, batangnya sudah rubuh,
tetapi akarnya belum tercabut. Jadi meskipun pohon tersebut tumbuh
tidak segar, rantingnya tidak panjang, batang tidak besar, daunnya
tidak subur karena tidak dipupuk dan iklim yang tidak menunjang,
tetapi pohon itu tetap hidup. Cuma tumbuhnya kecil seperti bonsai,
namun meskipun bonsai itu kecil, nilainya unggul harganya mahal.
Di Sulawesi Selatan dahulu ada 15 kerajaan yang masyarakatnya
beragama Buddha. Pada abad ke-15 kerajaannya berganti agama, maka
yang tersisa tinggal kosa kata. Seperti Bahasa Makasar, ada beberapa
yang persis sama dengan yang ada di Jawa. Di Kabupaten Bone ada
Kecamatan Palaka, di Kabupaten Sengkang ada Kecamatan Attangasila,
di Kabupaten Sopeng ada Kecamatan Aparitta. Di daerah Aparitta ada
satu hal yang mentradisi dari tahun ke tahun yaitu dilarang keras
orang-orang menggunakan warna kuning. Jika ditanya alasannya,
dikatakan kalau memakai warna kuning hidupnya akan sial. Ternyata
warna kuning adalah warna bagi bhikkhu, warnanya Agama Buddha.
Karena mendapat tekanan politik pada jaman itu, mereka tidak boleh
mengaku ini itu, apalagi membaca paritta (aparitta); tidak memakai
warna Buddhis supaya tidak ketahuan. Di Sulawesi Selatan pernah
diketemukan sebuah Patung Buddha posisi berdiri. Menurut ahli
antropologi patung tersebut duplikatnya ada di Jember dan Nepal.
Patung itu hadiah dari Mpu Tantular ketika melakukan perjalanan
mengunjungi daerah-daerah Wilayah Majapahit.

Disposisi Prabu Brawijaya pada waktu itu ditandai dengan Chandra
Sangkala (Tahun Caka) 'Sirno Hilang Kertaning Bumi' artinya Tahun
Caka 1400 (Tahun Masehi 1408). Itulah awal perjalanan Dhamma selama
500 tahun tidak dikenal wujud sesungguhnya. Baru di jaman Republik
ini 'api' Dhamma mulai berkelip lagi, dan yang mengelipkannya adalah
kaum Theosofi yaitu kelompok kebathinan terdiri dari kumpulan kaum
elit Belanda dan ningrat Jawa yang secara khusus mendiskusikan ilmu
agama-agama serta Ketuhanan dalam Agama Buddha. Sehingga pada tahun
1934 mengundang Bhikkhu Narada dari Sri Lanka berkunjung ke
Indonesia. Tanggal 4 Maret 1934, untuk pertama kalinya ada seorang
bhikkhu di Bumi Nusantara sejak surutnya Majapahit. Dari tahun ke
tahun Beliau selalu datang ke Indonesia mengadakan ceramah-ceramah
umum di berbagai tempat, sehingga akhirnya resmi menjadi kunjungan
negara, dan ditandai dengan penanaman Pohon Bodhi di lingkungan
Candi Borobudur. Setelah putera Indonesia menerima benih-benih
Ajaran Buddha, akhirnya beberapa dari mereka memutuskan untuk
menjadi bhikkhu.
Dihitung-hitung sejak 500 tahun lampau Pemerintahan Majapahit
runtuh, berganti jaman Kerajaan Demak, jaman penjajahan Hindia
Belanda, dan jaman pendudukan Jepang, di ketiga jaman itu Agama
Buddha tidak dikenal sama sekali, tidak sebagai agama negara.
Sekarang dihitung sejak kejatuhan Majapahit, tahun 1400 caka, 500
tahun kedepan berarti tahun 1900 caka, dan tahun 1478, ditambah 500
tahun kedepan berarti tahun 1978, sejak itulah sesuai perkataan
Sabdopalon dan Noyoginggong, Agama Buddha bangkit kembali sejak
kedatangan Bhikkhu Narada dari Sri Lanka tahun 1934. Dan duduk
sejajar dengan agama-agama lainnya di Indonesia sejak Direktorat
Urusan Agama Buddha berdiri tahun 1978.

Saat ini memang Agama Buddha sedang tumbuh kembali di Bumi
Nusantara. Maju atau mundur Agama Buddha ada di tangan kita. Oleh
karena kita sudah belajar dari sejarah mengapa agama yang begitu
besar bisa runtuh, maka dari itu hendaklah kita tidak mengulang
pengalaman tidak indah itu. Tiga hal penting tanda menjadi umat
beragama yang tidak mudah goyah yaitu beragama di tempat ibadah, di
rumah, dan di masyarakat. Tahu, mengerti, mengalami praktik sehari-
hari. Praktik untuk diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan. [MR]


[ ARSIP ]

3 komentar:

Parakawi mengatakan...

Serat Dharmoghandul adalah pembacaan ulang Sejarah Majapahit dari dasar Babad Tanah Jawi yang tidak cerdas. Penulis Dharmogandul menyadur informasi Babad Tanah Jawi dengan utuh tanpa melihat lebih jauh makna informasi itu kemudian di gubah sesuai dengan kebutuhannya. Ini menjadikan Serat Dharmogandul menjadi data sejarah yang tidak falid. Ebook " Meluruskan Penyimpangan Sistematis Sejarah Majapahit" mengurai penyimpangan2 itu dan juga penyimpangan2 yang dibuat oleh sejarawan kemudian. Seperti sistem negara Indonesia pra Mataram adalah federasi seperti Amerika Serikat. Pada masa Mataram sistem pemerintahan kita adalah keshogunan. Kita harus membaca ebook itu sebelum bicara lebih jauh tentang Majapahit.

---+++---OOO---+++--- mengatakan...

semoga ebook nya bisa meluruskan sejarah dan bukan memutarbalikkan sejarah... salam

Yade Wirawan mengatakan...

Sepanjang saudara - saudara sekalian masih mengatakan diri saudara sebagai manusia, sepanjang itu pula saudara disebut sebagai mahluk rasional. Begitu juga sepanjang kita telaah catatan sejarah runtuhnya Majapahit di berbagai sumber yang selama ini bahkan dijadikan kurikulum pendidikan formal di negeri ini. Catatan sejarah tersebut, bagaimanapun jauh dari rasional. Sebagai sebuah kerajaan kuat dan besar, Majapahit tidak mungkin runtuh sekedar akibat sepele sebagaimana di ulas dalam sejarah kontemporer. Disinilah letak irasionalitasnya. Jadi,karena sumber - sumber asli sejarah telah tiada lagi ( mungkin telah hangus terbakar ), hanya rasio yang bisa menuntun kita untuk melihat kebenaran itu. Itulah sebabnya, saya masih percaya bahwa saudara - saudara sampai saat in masih manusia....