Senin, 16 Juli 2007

SABDO PALON NAYA GENGGONG

To:Dharmajala@yahoogroups.com
From:"Dhana Putra"
Date:Fri, 24 Mar 2006 21:53:05 +0700
Subject:[Dharmajala] Sabdo Palon Naya Genggong

Sabdo Palon dan Naya Genggong adalah pengikut setia raja Majapahit yang terakhir. Mereka berdua tidak bersedia pindah agama walaupun atasannya telah berganti keyakinan. Berikut ini adalah sebuah artikel yang membahas masalah tersebut.
DP
Sabdo Palon Naya Genggong

Oleh: M. Dawan Rahardjo, Muslim Cendekiawan

Dalam seminar yang diselenggarakan Univesitas Surabaya, seorang penganut aliran kepercayaan menanyakan bagaimana pandangan saya tentang ramalan Sabdo Palon Naya Genggong. Pengikut setiap raja Majapahit terakhir itu pernah mengatakan bahwa agama Hindu memang akan digantikan oleh agama Islam, yang pada waktu itu didakwahkan oleh Wali Sanga. Namun, 500 tahun kemudian, Islam akan digantikan oleh suatu agama baru, yang disebutnya “agama budi”. Agama, menurut pengertian kaum penghayat kepercayaan, adalah “ageming budi”, artinya pakaian yang melindungi seseorang itu adalah budi pekerti luhur. Dalam ajaran Islam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, hakikat pakaian setiap orang itu adalah takwa, yang merupakan puncak kecerdasan spiritual manusia.

Pada tahun 1979, Nurcholish Madjid (Cak Nur) tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, setelah dua pidato kebudayaannya yang pada pokoknya menganjurkan liberalisasi dan sekularisasi pemikiran Islam, denga jargonnya yang menjadi sangat terkenal, yakni “Islam Yes, Partai Islam No”. Isi ceramah itu memberikan kesan seolah-olah Cak Nur mengemukakan jargon baru, yaitu “Spiritualisme Yes, Agama No.” Istilah itu sebenarnya tidak pernah diucapkan oleh Nurcholish, tapi penyimpulan ceramah Cak Nur yang dipelintir oleh sebuah majalah Islam.

Memang Cak Nur mengobservasi gejala ditinggalkannya agama (dalam hal ini Kristen) di Barat. Tapi dalam masyarakat Barat justru timbul banyak aliran spiritual. Nada penilaian Cak Nur sebenarnya sikap kritisnya terhadap aliran-aliran spiritual, terutama yang mengajarkan kesesatan. Dan Cak Nur sebaliknya menginginkan agar masyarakat Barat tetap berpegang pada agama. Saran ini juga ditujukan bagi umat Islam di Indonesia, tapi ceramah Cak Nur itu dipelintir oleh pengritiknya yang mengesankan Cak Nur menganjurkan umat Islam agar menggantikan agama dengan spiritualisme. Sungguhpun begitu, yang diungkapkan Cak Nur itu memang merupakan kenyataan dan gejala baru di masyarakat Barat, yang disebut oleh futurolog John Naissbit. Jadi ramalan Sabdo Palon itu sesungguhnya telah terjadi di Barat.

Dalam kaitannya dengan Islam yang dikaitkan dengan terorisme dan kekerasan yang muncul dari gerakan radikalisasi Islam, timbul pertanyaan yang ditujukan kepada cendekiawan Dr. Jalaluddin Rahmat. Mengapa Islam, yang disebut sebagai pembawa rahmat bagi sekalian alam, dalam realitas telah melahirkan aksi-aksi kekerasan? Kang Jalal kurang-lebih menjawan, gejala itu karena pemahaman Islam terlalu menekankan pada segi akidah, terutama pada kepercayaan yang fundamental yang bersifat mutlak. Hal ini menyebabkan lahirnya pandangan sempit dan fanatis. Dalam upaya mereka yang merasa “membela Islam” dari kesesatan akidah, apalagi dalam menghadapi apa yang dipersepsikan sebagai ancama, umat Islam memilih pendekatan kekerasan, paling tidak menyetujui atau membiarkan tindakan kekerasan.

Di samping itu, Kang Jalal mengajukan alternatif bahwa tekanan keberagamaan hendaknya diarahkan pada ajaran kemuliaan akhlak atau al-akhlak al-karimah sesuai hadis Nabi yang mengatakan: “Saya sesungguhnya diutus untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak.” Konsep Kang Jalal itu mendekati pengertian “agama iku ageming budi” (agama itu adalah pakaian yang beripa budi) yang dirumuskan oleh kaum kebatinan.

Mirjam Kunkler dari Universitas Colombia pernah mengatakan bahwa pertumbuhan gereja di Amerika Serikat sangat pesat. Wacana keagamaan tidak hanya dilakukan di gereja-gereja, tapi juga di gedung-gedung pertemuan dan hotel-hotel yang disiarkan melalui radio dan televisi ke seluruh dunia. Ia menilai bahwa masyarakat Amerika sangat religius. Tapi masyarakat Amerika dikenal sebagai masyarakat yang punya kesadaran etik yang rendah, ditandai dengan praktek bisnis yang tidak etis, politik kotor, kriminalitas yang tinggi, dan penggunaan kekerasaan secara telanjang yang diwarnai politik luar negeri yang didukung oleh agresi militer. Kesimpulannya, masyarakat Amerika itu religius tapi tidak etis.

Keadaan di Eropa berkebalikan, Di sana gereja telah ditinggalkan. Bahkan banyak gereja yang dijual dan dialifungsikan. Sebagian dijadikan museum, sebagian lagi dijadikan masjid oleh kaum muslim. Sebagaimana kata Friedrich Nietsche “God is dead”, Tuhan telah mati, kehidupan beragama sudah hampir merupakan sejarah masa lampau. Masyarakat Eropa itu tidak religius, bahkan ateis atau agnostik, tapi etis.

Kata Kunkler, masyarakat Eropa sekarang usdah menjadi sebuah masyarakat etis (etische community), meminjam istilah Hegel. Teolog-filsuf Jerman, Hans Kung, kini mengembangkan apa yang disebutnya etika global (global ethics) dan mempersiapkan sebuah deklarasi mengenai etika global.

Apa yang berkembang di Eropa sesungguhnya transformasi dari religi ke etika. Masyarakat memang telah meninggalkan agama, tapi tetap beretika. Bukan Tuhan yang telah mati, melainkan agamalah yang telah mati, sedangkan Tuhan masih hidup. Dengan mengikuti kata-kata Cak Nur, di Indonesia yang terjadi mungkin “God yes, religion no”. Itulah versi lain dari ramalan Sabdo Palon. Sebab, Ketuhanan yang Maha Esa, seperti yang dikatakan Bung Hatta, adalah landasan moral bangsa Indonesia, sebagaimana dimaksud dalam Pancasila.

Gambaran masyarakat Eropa itu mengikuti “agama budi”, sebagaimana diramalkan Sabdo Palon. Karena itu, saya menjawab pertanyaan peserta dari aliran kepercayaan itu bahwa ramalan Sabdo Palon itu mungkin saja terjadi di Indonesia. Islam sekarang sudah makin diidentikkan dengan kekerasan, sebagaimana diungkapkan dalam kartun Nabi Muhammad oleh majalah Denmark, Jyllands-Posten. Begitulah persepsi tentang Islam di Eropa. Jika citra itu berkembang, dan “Islam itu rahmat dari sekalian alam” dinilai sebagai kebohongan terhadap public, orang akan diam-diam atau terang-terangan akan meninggalkan Islam. Komunitas Eden secara terang-terangan telah meninggalkan Islam. Tapi mereka membentuk sebuah masyarakat etis yang didasarkan pada ajaran semua agama, walaupun sumber utamanya Islam. Dalam kaitan dengan gejala itu, mungkin saja agama budi yang bersumber pada ajaran kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa, terutama yang diikuti oleh masyarakat Jawa, akan berkembang menjadi “agama ageming budi” menggantikan agama-agama besar yang mapan dewasa ini.

Mungkin saja Islam sebagai agama yang menekankan akidah (fundamentalisme Islam) dan syariat (hukum Islam) akan ditinggalkan. Dan yang diikuti hanyalah ajaran akhlak sebagaimana yang diisyaratkan oleh Kang Jalal atau termasuk ajaran muamalahnya (dengan contoh keuangan dan perbankan syariah). Dan sebagaimana yang dianjurkan oleh Nurcholish Madjid, Islam sebagai agama publik akan bangkit. Gejala ini pun sudah tampak dalam aliran “Islam progrsif” yang sejalan dengan Islam liberal yang dipelopori oleh generasi muda.

Ide. Koran Tempo. Minggu, 19 Maret 2006, halaman 21

9 komentar:

---+++---OOO---+++--- mengatakan...

Memang begitulah adanya, suatu kebenaran yang hakiki akan tetap menjadi suatu hal yang mutlak dan berlaku di mana saja. kebenaran yang hakiki adalah kebenaran yang tidak maya semu, hanya diyakini kelompok dan golongan tertentu saja, akan tetapi kebenaran yang selalu runtut terhadap perkembangan jaman... semoga makhluk yang memiliki nalar tidak silau dengan kebenaran-kebenaran yang semakin menjamur di jagad ini.... salam

Abdi Sang Gusti mengatakan...

Kebenaran dan kebaikan pasti akan datang... Tuhan tidak akan membiarkan bumi musnah.... Kapan ya Satria Piningit Datang????... coba lihat catatan teman kita terkini mengenai SP itu... di blog : tesblogsp.blogspot.com

Salam buat semuanya...

KI JOKO PAGERSARI mengatakan...

yaa... harusnya islam memberikan damai dan keselamatan,bisa menghidupkan nurani yang mati dan menselaraskan antara jagad gede dan jagad cilik. Sehingga nantinya bisa mahayuhayuning bawono....sabar dan trimo ing pandum sudah hilang dari ajaran islam..... jangan heran kalau di koruptor yang tertangkap banyak yang beragama islam he he he....

KI JOKO PAGERSARI mengatakan...

yaa... harusnya islam memberikan damai dan keselamatan,bisa menghidupkan nurani yang mati dan menselaraskan antara jagad gede dan jagad cilik. Sehingga nantinya bisa mahayuhayuning bawono....sabar dan trimo ing pandum sudah hilang dari ajaran islam..... jangan heran kalau koruptor yang tertangkap banyak yang beragama islam he he he....

sutowijoyo mengatakan...

saudaraku saya ingin belajar ilmu metafisik apabila ada info tolong di inform. saat ini saya ingin sekali mempunyai kekuatan metafisik yang mumpuni. terima kasih

bayuaji mengatakan...

Apa sih sebenarnya tujuan hidup itu?
Banyak pihak terutama tokoh-tokoh yang mengaku sebagai tokoh agama bahwa agamanya adalah jalan terbaik bagi umat.
Tetapi bila sudah sampai pada ranah aktual, maka agama yang diyakini tidak sanggup menyelesaikan persoalan faktual tadi.
Apanya yang salah???
Bukan agama dan ajarannya yang salah, tetapi si pelaku itulah yang salah.
Lalu apa yang dapat diberikan oleh si tokoh agama.
Sang tokoh hanya memberikan nasehat yang bersifat normatif saja. Tidak pernah menyentuh di dunia nyata.
Lalu, maka sipelaku akan mencari "agama" lain yang dia yakini dapat menyelesaikan masalahnya.
[miras, narkoba, dugem, bar, itulah "agama" lain itu].

So.... Bagaimana pak ustadz, pendeta, pedanda,bhiksu ???

Mohon jawaban yang logis, yang menyentuh ranah faktual, kongkrit jawabannya.

Web'S sang Guru mengatakan...

kalau ingin membuat pernyataan bijak, hendaknya didasari hati yang bijak juga... harap dibedakan antara agama dan oknumnya, benang merah semua agama itu adalah mengajak kebaikan dan menolak kezaliman... kalau ada pernyataan dalam kitab suci mengenai perang dan kekerasan, semua adalah bersifat tuntunan Tuhan manakala perang memang dibutuhkan untuk mempertahankan eksistensi agama, tetapi selama eksistensi agama dihormati, Tuhan tidak pernah menganjurkan perang, baca lagi semua kitab suci , pasti mengajarkan yang demikian itu... adapun pada akhirnya wajah fundamentali agama mana saja menampakkan kekerasan dan teror, percayalah, itu adalah oknum manusianya atau paling tidak lihatlah gambar besarnya dan mencoba menelusuri akar masalah dari wajah kekerasan itu... jadi sangat konyol kalau mengatakan Tuhan ya, agama tidak... mungkin jauh lebih logis ungkapan , Tuhan ya, agama ya, toleransi ya, kekerasan no... semoga Tuhan selalu membimbing hati kita yang gampang tersesat ini... tapi walaupun manusia meninggalkan agama dan Tuhanya secara keseluruhan, percayalah, Tuhan tidak rugi sama sekali apalgi menangis... manusialah yang akan rugi

Jayasena Dipankhara mengatakan...

Dengan adanya Serat Dharmogandul ini, semoga menambah khasanah pengetahuan kita akan masa Akhir Kerajaan Majapahit dan Awal berdirinya Kerajaan Islam Demak.

Walaupun banyak mengandung kontroversi, setidaknya Serat Dharmogandul ini menjawab pertanyaan, mengenai:
1. "Mengapa orang Islam Jawa masih percaya akan HUKUM KARMA", sedangkan seperti yang kita tahu, bahwa Islam tidak mengenal HUKUM KARMA.

2. Kaitan keberadaan suku-suku yang mengasingkan diri dari Islam, seperti suku Tengger.

3. Kaitan isolasi pulau dewata (bali) terhadap masuknya Islam ke pulau dewata.

4. Kemiripan kasus antara hancurnya Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Pajajaran.
Persamaannya adalah:
1. Sama-sama, berkaitan dengan Islam
2. Hubungan antara Ayah dengan Anak
Brawijaya dengan raden Patah
Siliwangi dengan cakrabuana

3. Ada pengaruh Wali Songo di dalam kehancuran 2 kerajaan besar ini.
4. Usaha Islam untuk menghilangkan budaya-budaya Pra-Islam.

Kesimpulan:
memang diakui, salah satu perkembangan Islam di Indonesia melalui perdagangan dan perkawinan, dan juga peran para mubalig. Namun, bila hanya dilihat dari peran-peran itu saja tidak cukup kuat untuk menggantikan budaya dan agama di Nusantara, selain dengan cara Revolusi, yakni menggantikan penguasa lama dengan penguasa baru.

Bila pemimpinnya sudah beralih keyakinan, maka para bawahan, termasuk rakyat akan dapat dengan mudah di alih keyakinannya.

Tak heran bila saat ini ada sekelompok aliran Islam yang radikal, melakukan cara-cara seenaknya sendiri. perilaku ini mirip dengan cara-cara Wali Songo, menggantikan Buddhisme dan Hinduisme di Tanah jawa dengan Islam.

joko mursodo mengatakan...

yg jelas kesalahan kerajaan2 besar semacam majapahit di jawa karena dirinya sendiri bukan dari islam karena agama ini mengajarkan kedamaian.sejak awal raja2 sdh menanam benih permusuhan mulai dari pemberontakan,perang saudara(perang paregreg)sampai serangan dari kerajaan lain keling kediri(darmawangsa)dan ini yg mnghakiri majapahit