Senin, 16 Juli 2007

MENGENAL SE MIEN FO

( Four Face Buddha / Phra Phom )


I. Mengenal ”” Se Mien Fo / Phra Phom ””

Di dalam catatan sutra Buddha alam Pathana Jhana Bhumi terdapat 3 alam yaitu alam Brahma Parisajja, Brahma Purohita dan alam Maha Brahma. ”” Se Mien Fo ”” yang juga kita kenal sebagai Maha Brahma Sahampati ( dalam bahasa thai dikenal sebagai ” Phra Phom Sin Nei / Pah Pong ” ) adalah penguasa dari alam Maha Brahma yang merupakan alam tertinggi dalam alam pathana jhana bhumi dan merupakan penguasa alam semesta.

Dalam sejarah para Dewa Thailand, ditulis bahwa yang pertama sekali lahir di jagad raya ini adalah Maha Brahma ( ”Se Mien Fo” ) oleh karena itu dia dianggap sebagai sang pencipta oleh para Dewa dan manusia, dia dianggap sebagai Dewa terbesar karena menggerakkan alam semesta dan merupakan penguasa dari alam-alam yang ada seperti manusia, asura, yakhsa, para Dewa, dan alam-alam lainnya.

Phra Phom ( ”Se Mien Fo” ) memiliki kesaktian yang tidak terbatas, keistimewaan dari Phra Phom ialah menawarkan pertolongan kepada orang yang dengan tulus bersujud dan berdoa kepada-Nya dari seluruh arah, dan Dia akan dengan senang hati mengabulkan permintaan mereka sehingga terlihat semua hal yang dilakukan manusia adalah adil dan bijaksana.

Phra Phom memiliki empat muka yang melambangkan empat masa penciptaan, delapan telinga yang welas kasih mendengarkan doa dari seluruh makhluk hidup, dan delapan tangan yang membawa alat-alat keagamaan yang dipercaya memiliki makna khusus yaitu :

1. Tasbih ( manik-manik ) = Mengontrol karma makhluk hidup dan reinkarnasi.
2. Tangan di depan dada = Menawarkan belas kasih dan berkah kepada seluruh makhluk hidup.
3. Rumah Keong = Melambangkan kekayaan dan kemakmuran.
4. Vas Bunga ( Teko ) = Air berkat ( keinginan dipenuhi )
5. Buku ( Kitab Veda ) = Ilmu pengetahuan dan kebijkasanaan
6. Tongkat ( Tombak ) = Melambangkan daya kehendak dan kesuksesan .
7. Cinta Mani ( Bendera Kebesaran ) = Melambangkan kekuatan maha kuasa sang Buddha ( kesaktian ).
8. Roda Terbang ( Cakram ) = Untuk menangkal bahaya bencana dan celaka, menangkal setan dan juga menghilangkan semua kemuraman dan kekuatiran.

Oleh karena kewelas asihan dan kesaktian Phra Phom yang sangat besar hingga para Dewa dan alam semesta ini tunduk pada Phra Phom. Sebab itu kita yang telah menerima ajaran welas kasih Phra Phom juga dapat ikut menyelamatkan makhluk hidup lain yang ada di segala alam kehidupan.

Kekuatan dari Phra Phom memberikan bantuan atas kewajiban yang penting, menyelamati nyawa-nyawa dalam bahaya, keuntungan dalam usaha, jodoh dan sebagainya.

Dikatakan bahwa jika seseorang ingin supaya keinginannya dipenuhi, maka dia harus mendapatkan seorang penari striptease ( tarian tanpa busana ) wanita untuk mengadakan pertunjukkan di hadapan Dewa Maha Brahma sebagai persembahan. Hal ini bukan hanya salah pengertian, tapi juga penuh dosa, memojokkan dan tidak menghargai Dewa Maha Brahma.

Jika kita mengembangkan ketulusan dan tidak terpaksa dalam membantu makhluk hidup lain, tidak mengharapkan imbalan, menganggap bahwa semua makhluk adalah sama, tidak memandang musuh atau kawan yang hendak ditolong. Maka tidak sampai satu tahun akan dilihat perubahannya, semua akan berjalan lancar dan tahun-tahun mendatang akan semakin baik lagi.

II Tata Cara Mengundang dan Menyembah Rupang ” Se Mien Fo ” di Rumah.

Dalam mengundang rupang ”Se Mien Fo” ke rumah untuk disembah harus memperhatikan beberapa hal. Tempat sembahyang ( Altar ) dari ”Se Mien Fo” jika tidak dapat ditaruh di ruang terbuka maka dapat ditaruh di dalam rumah, asal ada tempat yang bersih sudah boleh, hanya harus di ingat tidak boleh ditaruh di dekat toilet atau berhadapan dengan toilet serta tempat-tempat yang tidak bersih ( Sangat dianjurkan Rupang ditaruh di ruangan terbuka / diluar rumah yang letaknya didekat persimpangan jalan. )

Hari Ulang Tahun ”Se Mien Fo” diadakan pada tanggal 9 November setiap tahunnya, dan ini merupakan hari terbesar karena merupakan hari kelahiran Phra Phom yang sangat dikeramatkan di Thailand ( bertempat di kota Bangkok, dipersimpangan jalan dekat Hotel Erawan / Sogo )

Hari-hari khusus diperingati untuk berdoa dan memberikan sesajian kepada Phra Phom yaitu :

1. Hari uposatha ( che it, che pek, cap go, dji sha )
2. Hari kamis malam ( malam jumat ) dalam setiap minggunya.

Waktu sembhayang yang terbaik untuk hari-hari biasa ialah Pagi jam 7 – 8 dan Malam jam 7 – 8.
Jika kita hendak memohon sesuatu maka waktu yang terbaik ialah antara jam 7 sampai 8 setiap harinya, karena pada waktu-waktu itu menurut kepercayaan bahwa Phra Phom turun ke dunia, jadi sangat baik untuk berdoa.

Keempat arah wajah Phra Phom memandang keempat penjuru mata angin.

· Face Depan => memohon kesehatan, ketentraman, kerukunan, damai hidup, dijauhkan dari segala penyakit, marabahaya, panjang umur, kesembuhan untuk yang sakit dsb.
· Face Kiri => memohon jodoh yang baik untuk pribadi, pergaulan yang baik di masyarakat, wibawa dalam kepemimpinan, masalah-masalah dalam perkawinan supaya cepat selesai, masalah dengan temen baik, dsb.
· Face Belakang => memohon rezeki ( hokky ) baik cia chai, untuk dagang lancar, usaha berkembang, naik gaji dan pangkat, menang tender, kemakmuran, jual rumah, urusan utang-piutang, dsb.
· Face Kanan => memohon un khi yang baik, mohon kui jin, phien cai, selamat di perjalanan, ujian lulus, kebijakan, mengusir segala kesialan dan kemalangan, dsb.

Dalam berdoa kita mulai dari arah depan, lalu kiri, belakang dan yang terakhir sebelah kanan. Jadi kita berdoa dengan arah yang searah jarum jam.
Jika kita berdoa memohon sesuatu yang khusus, maka lebih baik jika kita berjanji untuk ”tapsia” jika doa kita berhasil dikabulkan dan dimohon dengan sangat kita yang telah berjanji untuk tapsia agar menepati janji.

Phra Phom dengan rendah hati akan mengabulkan semua permohonan dari setiap orang yang tulus berdoa kepadanya.
Phra Phom sangat menyukai bunga mawar kuning, melati, kelapa hijau & buah-buahan sebagai persembahannya.
Phra Phom ( rupang / patung ) yang kita puja lebih baik terbuat dari emas atau warna emas.

Note : Permohonan tidak boleh mencelakakan makhluk hidup lain, permohonan jangan aneh-aneh seperti pengen kaya tapi malas kerja, mau lulus ujian tapi malas belajar, dsb
Sangat dianjurkan untuk tidak memakan daging sapi.

Doa mantram suci dapat dibaca 3x, 7x, 9x, dan sangat dianjurkan sebelum kita membaca mantram suci ini badan kita dalam keadaan bersih baik lahir maupun batin, dan juga sebelum memakan makanan yang bernyawa.

Mantram untuk mengundang sang Dewa Brahma :

” Pah Pong ” ( dibaca 7x )
” Om Palam Pati Lama ” ( dibaca 7x )

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sam Buddhassa
( dibaca 3x sebelum membaca doa suci / mantram / sutta )

Doa Suci Maha Brahma – Phra Phom

Om Karabindunatam Uppannam Brohmasaha Patinama Attikappe Su, A, Kato Pancapatunam Tisva Namo Buddhaya Vandanam.
Siddhi Kiccam, Siddhi Kammam, Siddhi Kariya Tadakato, Siddhi Teco Jayoniccam, Siddhi Ladho Nirantaram Sabba Kammam Pra Siddhime, Sabba Siddhi Bhawantu Me.
Mantram Maha Brahma – Phra Phom

Maha Lapo, Maha Tero, Maha Khong Kha Phan,
Maha Savathit, Maha Sitichai,
Maha Siti Chut, Maha Amalichut,
Om, Si, Siti Ut, Bhavantu Me,
Iti Piso Bhagava, Bhagavan Patik,
Namo Buddhaya, Buddhaya, Buddhaya.

Maha Manggala Sutta ( Sutta berkah termulia )

Eva-me sutang
Ekang samayang Bhagava savathiyang viharati Jetavane Anathapindikassa arame.
Atha kho annatara Devata abhikkhantaya rattiya abhikkan-tavanna kevalakappang Jetavanang obhasetva yena Bahagava tena’ upasankami Upasanakamitva Bhagavantang abhiyadetva ekamantang atthasi, Ekamantang thita kho sa Devata Bhagavantang gathaya ajjhabhasi :

Bahu Deva manussa ca
Mangalani acintayung
Akankhamana sotthanang,
Bruhi mangala muttamang.

Asevana ca balanang
Panditanan ca sevana
Puja ca pujaniyanang,
Etang mangala muttamang.

Patirupadesavaso ca,
Pubbe ca katapunnata
Attha samma panidhi ca,
Etang mangala muttamang.

Bahusaccanca sippanca
Vinayo ca susikkhito
Subhasita ca ya vaca,
Etang mangala muttamang.

Matapitu upatthanang
Puttadarassa sangaho
Anakula ca kammanta,
Etang mangala muttamang.

Danan ca dhammacariya ca
Natakananca sangaho
Anavajjani kammani,
Etang mangala muttamang.

Arati virati papa
Majjapana ca sannamo
Appamado ca dhammesu,
Etang mangala muttamang.

Garavo ca nivato ca
Santutthi ca katannuta
Kalena dhammasavanang,
Etang mangala muttamang.

Khanti ca sovacassata
Samanananca dassanang
Kalena dhammasakaccha,
Etang mangala muttamang.

Tapo ca bramacariya ca
Ariyasaccana dassanang
Nibbana sacchikiriya ca
Etang mangala muttamang.

http://www.geocities.com/sanphraphrom/

Phutthassa lokadhammehi
Cittang yassa na kampati
Asokang virajang khemang,
Etang mangala muttamang.

Etadisani katvana
Sabbattha maparajita
Sabbattha sotthing gacchanti
Tang tesang mangala muttamang ti.

Demikianlah tulisan ini diperbuat untuk memuliakan Sang Maha Dewa Brahma / Phra Phom / Se Mien Fo / Four Face Buddha. Tolong bantu disebarluaskan email ini pada semua family, temen ( any one in this world / khususnya yg beragama Buddha. )
Thanks. Regards, Agan_liu7777@yahoo.com / Agan_liu@hotmail.com

10 komentar:

Ali Sasana Putra mengatakan...

Menurut saya hal ini tidak sesuai dengan hukum Kesunyataan ajaran Buddha. Memang benar ada cerita tentang Brahma Sahampati yang agung, namun Buddha berkata bahwa: "Kita lahir, mati, dll karena akibat dari kamma kita sendiri". Bukan karena makhluk lain yang walaupun mantra tersebut membubuhi Mangala Sutta (Buddhis punya). Namun kita harus sadari bahwa apapun namanya walaupun berasal dari kata-kata buddhis namun sebagai umat Buddha yang baik kita harus tahu bahwa hal itu bukan ajaran Buddha. Terima kasih. So be careful.

Jul mengatakan...

setuju dengan pendapat dari sdr Ali Sasana Putra, bahwasanya Four Face Brahma tersebut tidak sesuai dengan ajaran Sang Buddha. Beliau bisa jadi adalah Dewa/Brahma yang mempunyai kesaktian, untuk mengabulkan permintaan orang-orang tertentu, tetapi kita tidak tahu pasti siapakah sebenarnya yang mengabulkan permintaan kita, mengingaat Dewa Mara pun dapat mengabulkan permintaan kita. Patung tersebut dibawa dari tradisi Hindu dari India, bukan asli dari tradisi Buddhism. Meminta-minta kepada para dewa, ataupun siapapun bukanlah tradisi Buddhism, meskipun tidak dilarang. Yang menjadi tradisi Buddhism adalah Addhithana. Laksanakan Addhitana, jalankan sila yang baik, berdanalah pada ladang yang subur, pupuklah dengan meditasi yang baik. Semoga apapun keinginan kita akan tercapai, sadhu, sadhu, sadhu...

Jul mengatakan...

Lebih lanjut mungkin bisa membaca artikel dari website samaggiphala berikut dibawah ini:

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=838

Candra mengatakan...

Hey, ini juga ajaran agama Buddha. Khan asimilasi agama Buddha juga dari Hindu. Mereka sama2 tidak terpisahkan. Kalau kita belajar agama Buddha lebih lanjut nanti kita tahu ada tingkatannya, Anda mulai dari yang duniawi, lama2 akan meninggalkan yang duniawi. Semua ada progress-nya. Kalau kebutuhan duniawi sudah tercukupi baru bisa belajar agama Buddha lebih mendalam lagi. Saya sarankan Anda googling lebih lanjut mengenai Maha Brahma dan sistem surga di agama Buddha (33 tingkat). Nanti Anda semua akan tahu hubungannya masing2. Thanks dan semoga cukup membantu.

Jul mengatakan...

Saya kira emang Chandra belum mengetahui ajaran Buddha yang sesungguhnya. Kalau ajaran Buddha yang di Tibet, emang ada tercampur kebudayaan Hindu, tetapi itu setelah beratus tahun setelah Sang Buddha Parinibanna, tetapi ketika ajaran itu muncul pertama kali di dunia, tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Hinduism.

Justru Hinduism lah yang berkembang mengikuti perkembangan Buddhism.

Di India, pada saat jaman Sang Buddha masih ada, ada banyak sekali ajaran dan aliran, dan kesemuanya tidak dapat disebut sebagai Hinduism saja, ada Jainism, Brahmanism, dan lain-lain....

Pesan Saya untuk Sdr Candra, coba gali dulu lebih dalam, maka air pengetahuan yang segar akan muncul...

Darwis mengatakan...

Gini Ko Candra, cuma dilurusin aja,klu itu bukan termasuk ajaran Budhism. Tapi juga bukan brarti klu itu dipercayai.. salah. Yah slama menganut dewa tersbut, bisa merubah sifatjiwa, pandangan budi pekerti ke lebih baik.. yah knapa tidak? Sah2 ajah.

Yang salah adalah kalau kita menjalani sesuatu yg dapat mencelakakan,merugikan org/mahluk lain.

Memang org taat beragama itu terbagi atas bbrp type tergantung tingkat pemahamannya masing2/ tujuannya apa dia beragama?

>>Kalau kebutuhan duniawi sudah tercukupi baru bisa belajar agama Buddha lebih mendalam lagi<<

Nah argumen diatas ini rada rancuh, soalnya aq gak tau standarisasi duniawi yg tercukupi itu sbrapa?
Tar lum tercukupi, kbru mati... gak kburu donk blajar agama Budha ^_^

Cuma pesan buat Ko Candra, stlh mencapai ke seberang sungai, jgn lupa itu sampan jgn ditengteng lagi yah.

^_^

Vincent mengatakan...

Mungkin saya bisa dikatakan sangat minim mengenai pengetahuan tentang agama Budha.
Pada intinya semua agama yang baik mengajarkan cinta kasih, bukan hal kesaktian, kuasa atau materi yang dititikberatkan.
Kehidupan duniawi dan agama jangan dicampuradukan, meski ada keterkaitannya.
Dalam kenyataannya kita hidup di dunia, tapi di sisi lain ada sisi rohani yang melekat dalam kehidupan yang kita jalani.
Pada dasarnya agama yang benar mengajarkan hal yang benar, tergantung manusianya yang menerima dan menjalani ajaran itu.
mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan dari penyampaian saya.

Hendri Ang mengatakan...

kisah maha brahma sahampati yang saya ambil dari Pali dictionary:

Sahampati

A Mahábrahmá. When the Buddha was at the Ajapálanigrodha, hesitating as to whether or not he should preach the Dhamma, Sahampati appeared before him and begged of him to open to the world the doors of Immortality. The Buddha agreed to this urgent request (Vin.i.5f.;S.i.137f), and accepted from Sahampati the assurance that all the Buddhas of the past had also had no other teacher than the Dhamma discovered by them. S.i.139; see also S.v.167f.,185, 232, where he gives the same assurance to the Buddha regarding the four satipatthánas and the five indriyas; A.ii.10f.

Buddhaghosa (E.g., SA.i.155) explains that the Buddha was reluctant to preach, not on account of indolence, but because he wished Sahampati to make him this request. For, thought the Buddha, the world honours Brahmá greatly, and when people realized that Brahmá himself had begged of the Buddha to spread his teaching, they would pay more attention to it. Sahampati was, at this time, the most senior of the Brahmás (jettha-Mahábrahmá) (DA.ii.467).

Sahampati once saw that the brahminee, mother of Brahmadeva Thera, habitually made offerings to Brahmá. Out of compassion for her, Sahampati appeared before her and exhorted her to give her offerings to Brahmadeva instead (S.i.140f). On another occasion, when Kokáliya died and was born in Padumaniraya, Sahampati appeared before the Buddha and announced the fact to him (SN. p.125; cp. S.i.151; A.v.172). The Samyutta (S.i.154f) contains a series of verses spoken by Sahampati at Andhakavinda, when the Buddha sat out in the open during the night and rain fell drop by drop. The verses are in praise of the life and practices of the monks and of the results thereof. Sahampati again visited the Buddha, simultaneously with Sakka, and as they stood leaning against a doorpost of the Buddha's cell, Sakka uttered a verse in praise of the Buddha. Sahampati then added another verse, exhorting the Buddha to preach the Doctrine, as there were those who would understand (S.i.233). A verse spoken by him immediately after the Buddha's death is included in the books (D.ii.157; S.i.158).

During the time of Kassapa Buddha, Sahampati was a monk, named Sahaka, who, having practised the five indriyas (saddhá, etc.), was reborn in the Brahma world. Thereafter he was called Sahampati (S.v.233). The Commentaries say (SNA.ii.476; SA.i.155) that he was an Anágámí Brahmá born in the Suddhávásá, there to pass a whole kappa, because he had developed the first Jhána as a monk. The Buddhavamsa, Commentary (BuA.p.11; see also p.29) says that, strictly speaking, his name should be "Sahakapati." When the Buddha attained Enlightenment, Sahampati held over the Buddha's head a white parasol three yojanas in diameter. BuA.239; this incident was sculptured in the Relic Chamber of the Mahá Thúpa (Mhv.xxx.74); cp. J.iv.266.

Once he offered to the Buddha a chain of jewels (ratanadáma) as large as Sineru (KhA.171; Sp.i.115; Vsm.201). On the day that Alindakavási Maháphussadeva attained arahantship, Sahampati came to wait upon him (VibhA.352).

It has been suggested (VT.i.86, n.1) that Brahmá Sahampati is very probably connected with Brahmi Svayambhú of brahmanical literature.

Hendri Ang mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
maleo mengatakan...

Saya sendiri Buddhist.

Bagi kalian yang mengaku Buddha sebaiknya ke Thai atau Tibet. Disanalah letak keindahan Buddha itu sendiri, Agama Buddha mampu berasimilasi dengan agama apapun asal tujuannya sama. Tidak ada kata "Salah" dan "Benar" dalam Buddha, Paling Buddha hanya mengatakan "Tidak Dianjurkan".
Buddha dikenal selalu menghargai keyakinan agama lain.

Kalau ada yang selalu berusaha memisahkan Buddha dengan mengagungkan agamanya(Mengaku Buddha) tetapi tidak berkaca kepada dirinya, saya pastikan orang itu belum "Buddha", dirinya masih dipenuhi oleh ego dan tinggi hati.

Disini kita berusaha mencari kesamaan dari tiap-tiap agama tetapi beberapa oknum perusak malah mencari perbedaannya dengan mengatai keyakinan orang lain. Apa sidharta pernah mengatai Dewa Bhramana ? Sidharta dikenal sebagai orang yang sangat bijak dalam bertindak dan berkata-kata. Beliau sangat dihormati petapa hindu pada masanya dan diberi gelar MahaDeva oleh mereka.

Dalam Pattakamma Sutta (AN 4.61) Buddha berkata kepada Anathapindika bahwa setiap manusia yang memperoleh rejekinya dengan terhormat (Halal) sebaiknya menyisihkan sebagian rejekinya untuk persembahan (pañcabali.m kattaa hoti) yang didedikasikan kepada 5 entitas berbeda yaitu : Devas & Dewata, Raja, Keluarga yang telah meninggal, Tamu dan Keluarga yang masih hidup.

Disini anda bakal tau betapa Buddha itu sendiri sangat menghormati Para Devas dan Dewata yang ada dialam semesta ini.

Saya tidak mengerti bagaimana setelah 2500 tahun banyak pengikutnya yang melenceng dari Tekad (Vow) Buddha itu sendiri.