Senin, 16 Juli 2007

PELAYANAN KEPADA ORANG SAKIT DAN MEJELANGA KEMATIAN

Message: 5 Date: Sat, 15 Jan 2005 13:52:12 +0700 From: "P.T. Animo Sarana" <levychan@rad.net.id>
Subject: PELAYANAN KEPADA ORANG SAKIT DAN SAKIT MENJELANG KEMATIAN

Dikutp dari www.samaggi-phala.or.id :
Naskah Dhamma : PELAYANAN KEPADA ORANG SAKIT DAN SAKIT MENJELANG KEMATIAN oleh Lily de SilvaBuddhist Publication Society Bodhi Leaves( BL 132 )

Sang Buddha menasehati murid-muridNya tentang pentingnya pelayanankepada orang sakit. Beliau bersabda :"Seseorang yang merawat orangsakit, berarti ia telah merawat Saya". Pernyataan terkenal ini dibuatoleh Yang Terberkati saat Beliau menemukan seorang bhikkhu yang sedangberbaring dalam jubah kotornya. Bhikkhu tersebut dalam keadaan sakitparah karena serangan disentri. Dengan bantuan Ananda, Sang Buddhamencuci dan membersihkan bhikkhu sakit itu dengan air hangat. Dalamkesempatan ini, Beliau mengingatkan para bhikkhu bahwa mereka tidakmempunyai orang tua maupun sanak keluarga yang menjaga mereka, makamereka harus menjaga satu sama lain. Jika guru sedang sakit, muridmempunyai kewajiban untuk menjaganya, dan jika murid sakit, guruberkewajiban menjaga murid yang sakit. Jika tidak ada guru atau murid,maka masyarakat berkewajiban menjaga orang sakit (Vin.i,301ff.). Pada kesempatan lain, Sang Buddha menjumpai seorang bhikkhu yangtubuhnya dipenuhi dengan luka, jubah lengket di tubuhnya dengan nanahkeluar dari luka-lukanya. Para teman bhikkhu telah meninggalkannyakarena tidak dapat menjaganya. Saat menemui bhikkhu ini, Sang Buddhamerebus air dan mencuci bhikkhu tersebut dengan tanganNya sendiri,selanjutnya membersihkan dan mengeringkan jubahnya. Saat bhikkhutersebut telah nyaman, Sang Buddha memberikan khotbah kepadanya dan iamenjadi arahatta, tidak lama setelah menjadi arahatta, ia meninggaldunia (DhpA.i,319). Oleh karena itu Sang Buddha tidak hanya mendukungpentingnya merawat orang sakit, Beliau juga memberi contoh baik dengandiriNya sendiri memberikan pelayanan kepada mereka yang sangat sakit,mereka yang bahkan dianggap menjijikkan bagi orang-orang lain. Sang Buddha menyebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorangperawat baik. Ia harus mampu memberikan obat, ia harus mengetahui apayang bermanfaat untuk pasien dan apa yang tidak bermanfaat. Ia harusmenjauhkan apa yang tidak bermanfaat dan hanya memberikan apa yangbermanfaat bagi pasien. Ia harus mempunyai cinta kasih dan murah hati,ia harus melakukan kewajibannya atas kesadaran untuk melayani dan bukanhanya untuk imbalan (mettacitto gilanam upatthati no amisantaro). Iatidak boleh merasa jijik terhadap air liur, lendir, air kencing, tahi,luka, dll. Ia harus mampu menasehati dan mendorong pasien dengan ide-idemulia, dengan pembicaraan Dhamma (A.iii,144). Patut diperhatikan di sini bahwa perawat tidak hanya diharapkan cakapdalam merawat badan dengan memberi makanan dan obat yang tepat, tetapiia juga diharapkan untuk merawat kondisi batin pasien. Diketahui bahwakebaikan para perawat dan dokter adalah obat yang hampir samaeffektifnya untuk semangat juang dan kesembuhan seorang pasien. Saatseseorang sedang sakit parah dan merasa tidak berdaya, suatu kata ramahatau suatu tindakan baik menjadi sumber kesenangan dan harapan. Itulahsebabnya cinta kasih (metta) dan belas kasihan (karuna), yang jugamerupakan perasaan-perasaan mulia (brahmavihara), dianggap sebagaisifat-sifat yang patut dipuji dalam seorang perawat. Sutta-suttamenambahkan dimensi lain bagi profesi perawatan dengan memasukkan elemenspiritual dalam pembicaraan perawat. Keadaan sakit adalah saat seseorangsedang menghadapi kenyataan-kenyataan hidup dan kondisi ini adalah suatukesempatan baik untuk menanamkan suatu kesadaran spiritual yangmendesak, bahkan dalam batin yang paling materialistis sekalipun. Lebihlanjut lagi, seseorang yang sedang sakit tentunya mempunyai perasaantakut pada kematian yang lebih besar daripada saat ia sedang sehat.Cara-cara yang paling bagus untuk menenangkan perasaan takut ini adalahdengan mengalihkan perhatian kepada Dhamma. Dalam pengawasannya, perawatdiharapkan memberikan bimbingan spiritual kepada pasien sebagai suatubagian dan paket dari kewajiban seorang perawat. Dalam Anguttara Nikaya, Sang Buddha menyebutkan tiga jenis pasien(A.i,120). Terdapat pasien yang tidak akan sembuh apakah merekamendapatkan atau tidak mendapatkan pelayanan pengobatan dan perawatanyang tepat; terdapat pasien yang akan sembuh tidak peduli apakah merekamendapatkan atau tidak mendapatkan pelayanan pengobatan dan perawatanyang tepat; terdapat pasien yang akan sembuh hanya dengan pengobatan danperawatan yang tepat. Karena adanya jenis pasien ke tiga inilah, makasemua yang sakit harus diberi pengobatan tersedia yang terbaik, makananyang bermanfaat dan perawatan yang tepat. Selama pasien masih hidup,segala yang dapat dilakukan harus diusahakan untuk kesembuhannya. Menurut sutta lainnya (A.iii,56,62), penyakit adalah salah satu yangtidak dapat dihindari dalam kehidupan. Saat menghadapinya, semua sumberyang tersedia bagi seseorang, bahkan mantra-mantra gaibpun, seharusnyadimanfaatkan dengan harapan untuk mengembalikan kesehatan.Di sini tidakakan dibahas masalah perbuatan-perbuatan seperti itu bermanfaat atautidak. Nampaknya inti permasalahan adalah dalam keadaan kritis tidak adaburuknya untuk mencoba, bahkan metode yang secara tradisi dipercaya akanmembawa hasil, walaupun orang yang bersangkutan tidak harus mempunyaikeyakinan atau kepercayaan pada metode tersebut. Tentunya, metode-metodedemikian seharusnya tidak bertentangan dengan hati nurani seseorang.Walaupun dengan upaya-upaya ini, jika kematian tetap datang, makaseseorang harus menerimanya sebagai hasil dari kamma dengan ketenanganhati dan kebijaksanaan. Di sini, kita diingatkan akan sebuah peristiwa (MA.i,203) pada saatseorang ibu yang sedang sakit parah memerlukan daging kelinci sebagaipengobatan. Sang putra tidak mendapatkan daging kelinci di pasar umum,ia mencari seekor kelinci. Ia berhasil menangkap seekor kelinci tetapiia sangat membenci membunuhnya walau pembunuhan tersebut demi ibunya. Iamelepaskan kelinci dan mengharapkan ibunya sembuh. Kebajikan moral putrabersama pengharapannya secara serentak membawa kesembuhan ibu. TradisiBuddhis nampaknya menekankan bahwa kekuatan kebajikan dalamkeadaan-keadaan tertentu mempunyai sifat-sifat penyembuhan yang dapatbekerja bahkan dalam kasus-kasus saat pengobatan umum tidak berhasil. Bab pengobatan-pengobatan di Vinaya Mahavagga (Vin.i,199ff.) menunjukkanbahwa Sang Buddha mengendorkan beberapa peraturan tata tertib minoruntuk menyesuaikan kebutuhan-kebutuhan para bhikkhu yang sakit. Walaupunseorang disiplin yang keras, Sang Buddha menunjukkan rasa simpati danpengertian besar kepada mereka yang sakit. Nilai kesehatan telahdisadari sepenuhnya dan bahkan dikenal sebagai keuntungan yang terbesar(arogyaparama labha, Dhp.204). Sang Buddha mengajarkan bahwa agar sembuh, pasien juga harus bekerjasama dengan dokter dan perawat. Seorang pasien baik seharusnya hanyamenerima dan melakukan apa yang bermanfaat baginya. Bahkan dalam memakanmakanan yang bermanfaat sekalipun, ia harus mengetahui jumlah yangtepat. Ia harus meminum resep obat tanpa merepotkan. Ia harus denganjujur memberitahu penyakit-penyakitnya kepada perawatnya yang sadar ataskewajiban. Ia harus dengan sabar menahan rasa sakit jasmani bahkan saatrasa sakit tersebut sangat nyeri dan menyiksa (A.iii,144). Sutta-sutta menunjukkan bahwa Sang Buddha menggunakan kekuatan tekad danketenangan yang luar biasa pada saat Beliau jatuh sakit. Beliaumengalami rasa sakit yang menyiksa saat serpihan batu tajam yangdilemparkan oleh Devadatta kepadaNya menusuk kaki Beliau. Beliau menahansakit dengan penuh kesadaran dan ketenangan, dan tidak dikuasai olehrasa sakit (S.i,27, 210). Selama masa sakitNya yang terakhir, SangBuddha juga dengan penuh kesadaran menahan rasa sakit jasmani yangbesar, dan dengan keberanian yang mengagumkan Beliau berjalan dari Pavake Kusinara bersama pendamping setiaNya, Ananda, sambil beristirahat dibeberapa tempat untuk mengurangi kelelahan (D.ii,128,134).Maha-parinibbana sutta juga menceritakan bahwa Sang Buddha pernah dengankeras menyembunyikan penyakit yang berbahaya di Beluvagama dan Beliausehat kembali (D.ii,99). Nampaknya mereka yang mempunyai perkembangan batin tinggi mampu menahanpenyakit, setidaknya pada kondisi-kondisi tertentu. Suatu waktuNakulapita mengunjungi Sang Buddha yang telah berusia lanjut, dan SangGuru menganjurkannya agar tetap menjaga kesehatan batin walaupun badansedang lemah (S.iii,1). Terdapat rasa sakit jasmani dan batin (dvevedana kayika ca cetasika ca). Saat seseorang mempunyai rasa sakitjasmani, jika ia menjadi cemas dan menambahkan rasa sakit batin juga,maka hal itu seperti ditembak dengan dua panah (S.iv,208). Seseorangyang berkembang secara spiritual mampu menjaga kesehatan batin seimbangdengan perkembangan spiritualnya. Karena spiritual seorang arahattatelah berkembang sepenuhnya, ia mampu hanya mengalami rasa sakit jasmanitanpa rasa sakit batin (so ekam vedanam vediyati kayikam na cetasikam,S.iv,209). Sejumlah sutta menganjurkan pembacaan unsur-unsur pencerahan (bojjhanga)dengan tujuan untuk penyembuhan penyakit-penyakit jasmani. Pada duaperistiwa, saat para bhikkhu senior Mahakassapa dan Mahamoggallanasedang sakit, Sang Buddha membacakan unsur-unsur pencerahan dandiceritakan bahwa para bhikkhu tersebut kembali sehat (S.v,79-80).Mungkin perlu dicatat bahwa semua bhikkhu yang bersangkutan adalaharahatta, mereka telah mengembangkan unsur-unsur pencerahan secarapenuh. Bojjhanga Samyutta juga menceritakan bahwa suatu waktu SangBuddha sakit, Beliau meminta Cunda membacakan unsur-unsur pencerahan(S.v,81). Sang Buddha merasa senang dengan pembacaan tersebut dandiceritakan Beliau kembali sehat. Pada peristiwa lainnya, saat bhikkhuGirimananda sakit parah (A.v,109), Sang Buddha memberitahu Ananda bahwajika khotbah tentang sepuluh kesadaran (dasa sañña) disampaikankepadanya, ia mungkin menjadi sehat. Sepuluh kesadaran adalah kesadarantentang ketidakkekalan, tanpa diri, kekotoran badan, akibat-akibat buruk(tentang adanya jasmani), pelenyapan (kesenangan-kesenangan nafsu),ketidakmelekatan, penghentian, kekecewaan dengan seluruh duniawi,ketidakkekalan semua benda, dan konsentrasi pernafasan. Anandamempelajari khotbah tersebut dari Sang Buddha, mengulangi khotbah untukGirimananda, dan dilaporkan bahwa Girimananda menjadi sembuh. Suatu waktu, Sang Buddha mendengar bahwa seorang bhikkhu yang baruditahbiskan sedang sakit parah, ia tidak dikenal di antara anggota parabhikkhu. Sang Buddha mengunjunginya. Saat ia melihat Sang Buddhamendatanginya, ia bergerak di tempat tidurnya dan mencoba berdiri,tetapi Sang Buddha memperingatkannya untuk tidak berdiri. Setelah duduk,Sang Buddha menanyakan kesehatannya, apakah rasa sakitnya berkurang atautidak berkurang. Bhikkhu itu menjawab bahwa ia merasa sangat sakit danlemah, bahwa rasa sakitnya bertambah dan tidak berkurang. Selanjutnya,Sang Buddha menanyakan apakah ia mempunyai perasaan ragu-ragu ataupenyesalan apapun. Bhikkhu menjawab bahwa ia mempunyai banyakkeragu-raguan dan penyesalan. Selanjutnya, Sang Buddha bertanya apakahia menyalahkan diri sendiri atas pelanggaran apapun. Ia berkata tidak.Setelahnya, Sang Buddha bertanya mengapa ia merasa menyesal jika iatidak bersalah atas pelanggaran apapun. Bhikkhu menjawab bahwa SangBuddha tidak mengkhotbahkan ajaran untuk kesucian kebajikan, melainkanketidakmelekatan dari nafsu duniawi (ragaviragatthaya). Merasa senang,Sang Buddha menyebutkan 'Sadhu... Sadhu' dalam pujian. Maka Sang Buddha mengkhotbahkan ajaran tersebut kepada bhikkhu itu.Beliau menjelaskan bahwa perasaan-perasaan adalah tidak kekal, tidakmemuaskan dan tanpa inti, maka mereka seharusnya tidak dianggap sebagai"aku" dan "milikku". Pengertian atas sifat mereka sebenarnya, murid baikmenjadi tidak melekat dengan perasaan-perasaan. Saat penjelasan Dhammaini diberikan, penglihatan tentang kebenaran (dhammacakkhu) terjadi padasang bhikkhu; ia menyadari bahwa apapun yang mempunyai sifat timbultentunya mempunyai sifat tenggelam. Dalam kata lain, ia menjadi seorangsotapanna, seorang pemasuk arus. Menurut Sotapattisamyutta, suatu ketika Anathapindika sedang sakitparah, dan Yang Mulia Sariputta mengunjunginya atas permintaanAnathapindika (S.v,380). Atas pemberitahuan bahwa rasa sakit tersebutsangat parah dan bertambah, Sariputta mengingatkan Anathapindika akankebaikan-n-kebaikannya sendiri. Sariputta menjelaskan bahwa makhlukawam, yang tidak mempunyai keyakinan pada Buddha, Dhamma dan Sangha dantidak memelihara kebiasaan-kebiasaan kebajikan, akan merasakan kesedihanatas kehancuran tubuh. Tetapi Anathapindika mempunyai keyakinan yang taktergoyahkan pada Buddha, Dhamma dan Sangha, dan telah memeliharakebiasaan-kebiasaan moral baik. Sariputta memberitahuinya bahwa saatsifat-sifat mulia ini dipahami dengan penuh kesadaran, rasa sakit akanmereda. Lebih lanjut lagi, Sariputta menunjukkan bahwa orang awam mencapaikeadaan sedih atas kehancuran tubuh karena mereka belum mengembangkanJalan Mulia Berunsur Delapan. Tetapi sebaliknya Anathapindika telahmengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Saat perhatian ditujukanpada mereka dan sifat-sifat mulia dipahami, rasa sakit akan reda.Diceritakan bahwa rasa sakit pun mereda dan Anathapindika sembuh daripenyakit itu. Lebih lanjut lagi, Anathapindika bangun dari tempat tidurdan melayani Sariputta dengan makanan yang telah disediakan oleh dirinyasendiri. Sotapattisamyutta mencatat peristiwa lainnya saat Anathapindika sakit(S.v,385). Yang Mulia Ananda dipanggil ke tempat tidur dan ia memberikansebuah kotbah. Ananda menjelaskan bahwa orang awam biasa yang tidakmempunyai keyakinan pada Buddha, Dhamma dan Sangha serta yang mempunyaikebiasaan-kebiasaan tak bermoral akan mengalami kegelisahan danketakutan saat kematian datang. Tetapi pengikut baik yang mempunyaikeyakinan teguh pada Buddha, Dhamma dan Sangha serta yang mengembangkankebiasaan-kebiasaan bermoral tidak akan mengalami kegelisahan danketakutan atas kematian. Selanjutnya Anathapindika mengakui keyakinantak tergoyahkan pada Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan menyatakan bahwa iadianugerahi dengan kebajikan tak ternoda. Ananda menyatakan bahwa halini sesungguhnya adalah suatu pencapaian besar bahwa Anathapindika telahmenunjukkan buah dari pencapaian pemasuk arus. Tetapi, tidak dilaporkanapakah Anathapindika sembuh seketika. Sang Buddha menyarankan bahwa seorang bhikkhu seharusnya tidakmengurangi tenaga dan tekadnya untuk perkembangan spiritual, bahkan saatia sakit (A.iv,335). Mungkin saja penyakitnya akan memburuk, dan sebelumhal itu terjadi, pengembangan spiritual harus dilaksanakan sebanyakmungkin. Setelah sembuh dari penyakit, seseorang juga tidak boleh lalai,karena jika penyakit kambuh lagi, kemungkinan pencapaian spiritual yanglebih tinggi akan berkurang. Metode Buddhis untuk melayani orang sakit, seperti yang ditunjukkan dariteks-teks di atas, tidak hanya menyatakan pentingnya pengobatan danperawatan yang tepat, tetapi juga pengendalian pikiran pasien kepikiran-pikiran baik. Nampaknya terdapat suatu keyakinan bahwa perhatianpada topik-topik berhubungan dengan Ajaran, terutama pengingatan tentangkebajikan-kebajikan yang telah dikembangkan oleh seseorang, memilikisifat-sifat penyembuhan. Dalam kasus Sang Buddha dan para arahatta,pengingatan ketujuh faktor bojjhanga telah mengembalikan kesehatan.Dalam kasus bhikkhu Girimananda yang kemungkinan bukan arahatta padawaktu sakit, ajaran sepuluh kesadaranlah yang telah mengembalikankesehatannya. Anathapindika adalah seorang sotapanna dan percakapantentang sifat-sifat spesial merupakan alat untuk kesembuhannya yangcepat. Mungkin saat seseorang diingatkan tentang sifat-sifat batin yangtelah diperolehnya, kegembiraan besar muncul dalam pikirannya.Kegembiraan demikian mungkin mampu merubah kimia tubuh seseorang dalamcara yang positif dan sehat. Di sini kita diingatkan tentang peristiwa sama yang diceritakan dalamPapañcasudani (MA.i,78). Seorang bhikkhu digigit ular saat iamendengarkan Dhamma. Ia tidak menghiraukan gigitan ular dan tetapmendengarkan uraian Dhamma. Racun ular menyebar dan menjadi sangatsakit. Selanjutnya ia merenungkan kesucian dari tindakan kebajikan yangtelah dilakukannya sejak pentahbisannya. Saat ia menyadari sifatnya yangtanpa noda, rasa puas dan kegembiraan luar biasa muncul di dalamnya.Perubahan psikologis yang sehat ini bertindak sebagai anti racun dan iasembuh seketika. Peristiwa-peristiwa ini nampaknya memperlihatkan bahwapada waktu sakit parah, perhatian ditujukan pada sifat-sifat spiritualseseorang, maka kegembiraan yang luar biasa akan memenuhi pikirannya,dan faktor-faktor yang meningkatkan kesehatan menjadi aktif dalam tubuh,mungkin dengan cara pengeluaran hormon-hormon yang mengembalikankesehatan. Mungkin dengan cara demikianlah individu-individuberspiritual tinggi mendapatkan kesehatannya kembali saat sutta-suttayang tepat dibacakan. Dalam Tipitaka Pali terdapat banyak kejadian tentang pemberian nasihatkepada orang sakit menjelang kematian. Membicarakan tentang kematiankepada pasien yang akan meninggal adalah merupakan pokok pembicaraanyang tidak menyenangkan. Sebaliknya, kenyataan kematian dan kemungkinansegera datangnya kematian haruslah diterima tanpa kepura-puraan danpasien disiapkan untuk menghadapi kematian dengan keyakinan danketenangan. Saran yang diberikan oleh Nakulamata kepada Nakulapita sangat bermanfaatdalam hal yang berhubungan dengan ini (A.iii,295-98). Suatu waktuNakulapita berpenyakit serius dan istrinya Nakulamata memperhatikanbahwa ia gelisah dan cemas. Maka istrinya menyarankannya: "Mohon tuanjangan menghadapi kematian dengan kegelisahan. Kematian adalah sesuatuyang menyakitkan bagi seseorang yang gelisah. Sang Buddha memandangrendah kematian dengan kegelisahan. Mungkin anda cemas bahwa saya tidakakan mampu menyokong keluarga setelah kematian anda. Mohon janganberpikiran demikian. Saya mampu memintal dan menenun, dan saya akanmampu membesarkan anak-anak jika anda tidak di dunia lagi. Mungkin andacemas bahwa saya akan menikah lagi setelah kematian anda. Mohon janganberpikiran demikian. Kita berdua menjalani kehidupan suci menurutperaturan mulia perumah tangga. Maka jangan cemaskan hal ini. Mungkinanda cemas bahwa saya akan melalaikan perhatian pada Buddha dan Sangha.Mohon jangan berpikir demikian. Saya akan lebih setia pada Buddha danSangha setelah kematian anda. Mungkin anda cemas bahwa saya akanmengabaikan pedoman-pedoman perilaku. Mohon jangan mempunyai keraguanapa pun tentang hal ini. Saya adalah salah satu dari mereka yangsepenuhnya berpraktek pada kebiasaan-kebiasaan moral yang dibuat untukorang awam, dan jika anda ingin, mohon bertanyalah pada Sang Buddhatentang hal ini. Mungkin anda takut saya belum mencapai ketenanganbatin. Mohon jangan berpikir demikian. Saya adalah salah satu darimereka yang telah mendapatkan ketenangan batin sebanyak yang dapatdicapai oleh seorang perumah tangga. Jika anda mempunyai keraguantentang hal ini, Sang Buddha sedang di Bhesakalavana, tanyalah kepadaBeliau. Mungkin anda berpikiran bahwa saya belum mencapai kemahirandalam pembebasan sesuai Ajaran Sang Buddha, bahwa saya belum bebas darikeraguan dan kebingungan tanpa bergantung pada yang lain. Jika andaingin kejelasan tentang hal ini, tanyalah pada Sang Buddha. Tetapi mohonjangan menghadapi kematian dengan kecemasan, karena hal itu adalahsangat menyakitkan dan dilarang oleh Sang Buddha." Diceritakan bahwasetelah Nakulapita dinasehati oleh Nakulamata, ia mendapatkankesehatannya kembali, penyakit tersebut hilang dan tak pernah kambuh.Belakangan seluruh peristiwa ini diceritakan kepada Sang Buddha, beliaumemuji saran Nakulamata yang bijaksana. Sotapattisamyutta berisikan ajaran berharga tentang nasehat kepada orangsakit menjelang kematiannya (S.v,408). Suatu waktu, Mahanama seorangsuku Sakya menanyakan Sang Buddha bagaimana seorang umat awam bijaksanaharus menasehati umat awam bijaksana lainnya yang sakit menjelangkematian. Harus dicatat di sini bahwa penasehat dan pasien keduanyaadalah umat awam Buddhis yang bijaksana. Sang Buddha memberikan sebuahkotbah menyeluruh tentang bagaimana hal ini dilakukan. Pertama, umatawam bijaksana harus menenangkan umat awam bijaksana yang sedang sakitmenjelang kematian dengan empat keyakinan: "Tenanglah teman, andamempunyai keyakinan yang tak tergoyahkan pada Buddha, Dhamma dan Sangha,bahwa, Sang Buddha telah sepenuhnya mencapai penerangan, Dhammadibabarkan dengan baik, dan Sangha bertata tertib baik. Anda juga telahmengembangkan tindakan-tindakan bijaksana tak ternoda yang membantukonsentrasi." Maka setelah menghibur pasien dengan empat keyakinan, iaseharusnya menanyakannya apakah ia mempunyai kerinduan / keterikatanapapun pada orang tuanya. Jika ia berkata ada, harus ditunjukkan bahwakematian tentunya akan datang apakah ia mempunyai keterikatan pada orangtuanya atau tidak. Maka, akan lebih baik menghentikan keterikatan itu.Selanjutnya, jika ia berkata ia telah memutuskan keterikatan pada orangtuanya, ia harus ditanyai apakah ia mempunyai kerinduan / keterikatanpada istri dan anak-anaknya. Dengan alasan sama, ia harus diyakinkanuntuk menghentikan keterikatan itu pula. Selanjutnya ia harus ditanyaiapakah ia mempunyai keterikatan pada nafsu-nafsu keinginan duniawi. Jikaia berkata ada, ia harus diyakinkan bahwa keinginan-keinginan spiritualadalah lebih tinggi daripada keinginan-keinginan manusia, dan harusdidorong untuk mencapai keinginan-keinginan spiritual. Selanjutnya, iaperlahan-lahan dibimbing menuju tingkat keinginan spiritual dan saat iasampai di surga tertinggi dari alam kesadaran, perhatiannya dialihkan kedunia Brahma. Jika ia berkata ia telah menyelesaikan pencapaian duniaBrahma, ia seharusnya dinasehati bahwa bahkan dunia Brahma bersifattidak kekal dan kelahiran kembali. Maka, lebih baik bercita-cita untukpenghentian kelahiran kembali. Jika ia dapat mengonsentrasikanpikirannya pada penghentian kelahiran kembali, maka Sang Buddha berkatatidak ada bedanya antara orang tersebut dan bhikkhu yang telah mencapaipembebasan. Tidak diragukan lagi bahwa nasehat ini merupakan bentuk nasehattertinggi yang dapat diberikan oleh orang yang lebih maju kepada orangsakit menjelang kematian yang mempunyai spiritual yang sama tingginya.Kotbah tersebut sangat jelas mengatakan bahwa sang pasien harus semajupemasuk arus, karena empat keyakinan atau faktor-faktor penghiburan yangdisebutkan di awal kotbah mirip dengan sifat dari seorang pemasuk arus. Cittasamyutta berisikan sebuah peristiwa menarik tentang kematianseorang pengikut awam yang telah maju batinnya (S.iv,302). Perumahtangga Citta adalah seorang tak lahir kembali (anagami, A.iii,451). Saatia sakit parah, sekelompok dewa pohon mengundang Citta untuk menetapkanpikirannya agar menjadi raja seluruh alam (cakkavattiraja) karenakebajikannya. Ia menolak karena alam itu juga tidak kekal. Walaupunberbaring di tempat tidurnya, ia menasehati sanak keluarga yangmengelilinginya tentang pentingnya pengembangan keyakinan pada Buddha,Dhamma dan Sangha, dan tentang pentingnya kedermawanan, dan akhirnya iameninggal. Menurut Sotapattisamyutta, suatu waktu Sang Buddha mengunjungi umat awamDighavu yang sedang sakit parah menjelang kematian di tempat tidurnya(S.v,344). Sang Guru menyarankannya agar menetapkan perhatiannya padakeyakinan teguh akan sifat-sifat mulia Tiga Permata dan bertekad bahwaia dianugerahi dengan perilaku kebajikan yang tak ternoda. Dighavumenjawab bahwa ini adalah sifat-sifat seorang pemasuk arus yang telahditemukan pada dirinya. Selanjutnya, Sang Buddha menyarankannya untukbertetap pada kebajikan-kebajikan tersebut dan mengembangkan enam sifatyang membantu menuju pemahaman, yaitu kesadaran tentang ketidakkekalansemua unsur benda, ketidakpuasan dari semua ketidakkekalan, tanpaintinya dari ketidakpuasan, kesadaran dari penghilangan, pelepasan danpenghentian. Dighayu menjawab bahwa sifat-sifat ini juga ditemukan dalamdirinya, tetapi ia cemas bahwa ayahnya akan menjadi sedih saat iameninggal. Selanjutnya ayahnya, Jotipala, menyarankannya agar tidakcemas atas hal tersebut, dan perhatikan apa yang dikatakan Sang Buddha.Sang Buddha pergi setelah menasehatinya dan kemudian Dighavu segerameninggal. Belakangan Sang Buddha menyatakan bahwa Dighavu meninggalsebagai seorang yang tak kembali lagi. Brahmana Dhananjani adalah seorang pemungut pajak yang tak benar, iamemeras raja dan masyarakat umum (M.ii,184-96). Yang Mulia Sariputtapernah bertemu dengannya dan menasehatinya tentang akibat-akibat darikehidupan yang tidak benar. Segera setelah Dhananjani sakit parah,Sariputta dipanggil olehnya. Setelah diberitahu tentang kesehatannya,Dhananjani memberitahu Sariputta bahwa ia mempunyai sakit kepala yangtak tertahan. Selanjutnya Sariputta berbincang dengannya, perlahan-lahanmenuntun perhatiannya dari alam kehidupan lebih rendah ke lebih tinggisampai sejauh alam Brahma. Setelah mengalihkan perhatian pasien yangdiambang kematian ke alam Brahma, Sariputta melanjutkan menjelaskanjalan menuju pencapaian alam Brahma, yaitu pengembangan penuhbrahmavihara -- cinta kasih universal, belas kasihan, simpati dankeseimbangan batin -- agar meliputi semua penjuru. Sariputta pergi dantidak lama kemudian Dhananjani meninggal. Dilaporkan bahwa ia dilahirkankembali di alam Brahma. Belakangan saat peristiwa tersebut diceritakanpada Sang Buddha, Beliau menemukan kesalahan Sariputta karena tidakmembimbing Dhananjani menuju jalan spiritual yang lebih jauh lagi. Sutta ini menunjukkan bahwa manusia yang mempunyai mata pencahariantidak benar juga dapat dibimbing menuju suatu kelahiran kembali yanglebih bahagia dengan pemberian nasehat pada saat penting sebelummenjelang kematian. Sangat diragukan apakah setiap pelaku kejahatandapat dibimbing menuju kelahiran kembali dalam alam bahagia. Mungkinsifat-sifat baik Dhananjani melebihi perbuatan-perbuatan buruknya(Dhp.173) dan mungkin itulah sebabnya mengapa seorang arahatta dapatmembimbingnya menuju kelahiran kembali dalam alam bahagia pada saatkematian. Hal ini dapat disimpulkan dari fakta-fakta yang diceritakan dalam sutta(M.ii,185). Saat Sariputta sendiri sedang melakukan perjalanan jauh diDakkhinapata, ia meminta keterangan tentang kesehatan Sang Buddha dariseorang bhikkhu yang berasal dari Rajagaha, saat itu pula Sariputtasengaja meminta keterangan tentang semangat pencarian spiritualDhananjani. Kemungkinan besar bahwa Dhananjani adalah seorang pendukungSangha yang setia saat istri pertamanya, seorang wanita yang mempunyaikeyakinan penuh, masih hidup. Istri keduanya adalah wanita yang tidakmempunyai keyakinan. Saat Sariputta mendengar bahwa Dhananjani sedanglalai, ia cemas, dan memutuskan untuk berbicara dengan Dhananjani jikaada kesempatan bertemu dengannya. Bagian penting lain yang patut dicatat dalam kotbah ini adalah YangMulia Sariputta memulai kotbah dari alam kelahiran yang paling rendah,dan satu per satu naik ke atas sampai sejauh alam Brahma. Mungkin iamemulai dari neraka-neraka karena Dhananjani telah menurun ke tingkatitu. Sariputta telah membantunya mengingat perbuatan-perbuatan baiksebelumnya, dan juga telah menarik perhatiannya ke kotbah Dhamma yangberkaitan, dan mungkin kotbah Dhamma tersebut telah diberikan olehSariputta kepadanya hanya beberapa hari sebelum ia jatuh sakit. Makadengan menarik perhatian pada potensi spiritual yang tersembunyi didalamnya, Sariputta dapat membantu Dhananjani mencapai kelahiran kembaliyang bahagia dengan nasehatnya di menit terakhir. Di sini kita diingatkan dengan peristiwa Mattakundali muda (DhpA.i,26).Saat ia sedang berbaring sekarat di tempat tidurnya, Yang Terberkatimuncul dan Mattakundali menjadi sangat gembira, kegembiraan tersebutmembangkitkan keyakinan tinggi pada Sang Buddha. Segera setelahmeninggal, ia dilahirkan kembali di alam surga. Sebuah sutta di Sotapattisamyutta (S.v,386) menguraikan bahwa orangbiasa di ambang kematian melihat bahwa ia tidak mempunyai keyakinan padasifat-sifat mulia Buddha, Dhamma dan Sangha, dan ia menjalani kehidupanyang tak bermoral, maka ketakutan besar atas kematian dan kegelisahanakan muncul di dalamnya. Tetapi seorang yang mempunyai keyakinan teguhpada sifat-sifat mulia Tiga Permata, dan yang mempunyai perilaku takternoda, tidak akan mengalami ketakutan dan kegelisahan demikian.Nampaknya kesadaran akan rasa bersalah menyebabkan penderitaan pada saatkematian. Jika ketakutan dan kecemasan berada pada saat penting ini,maka kelahiran kembali pasti akan terjadi di alam yang seimbang dansesuai dengan pengalaman yang menderita itu. Tepatlah di sini untuk mencatat sebuah perbincangan antara Mahanamaseorang Sakya dan Sang Buddha mengenai nasib seseorang yang bertemudengan kematian mendadak (S.v,369). Mahanama memberitahu Sang Buddhabahwa saat ia datang ke vihara yang bersuasana tenang dan berhubungandengan para bhikkhu saleh yang mempunyai sifat-sifat mulia, ia merasacukup tenang dan memiliki pengendalian diri. Tetapi saat ia pergi kejalan-jalan Kapilavatthu sibuk yang mempunyai lalu lintas ramai, iamempunyai perasaan takut bahwa ia akan mengalami kematian mendadak darikecelakaan lalu lintas. Sang Buddha meyakinkannya bahwa seorang yangtelah mengembangkan kebajikan-kebajikan moral dan menjalani kehidupanbenar tidak perlu menanggapi ketakutan demikian. Beliau menjelaskansituasi tersebut dengan sebuah perumpamaan. Jika satu pot minyak mentegapecah setelah tenggelam di air, kepingan pot akan tenggelam ke dalamsungai, tetapi minyak mentega akan muncul di permukaan. Dengan cara yangsama, tubuh akan hancur, tetapi batin tak ternoda akan timbul sepertiminyak mentega. Sutta-sutta seperti Sankharuppatti, (M.iii,99) Kukkuravatika (M.i,387)dan Tevijja (D.i,235) menekankan ide yang sama. Kelahiran kembaliumumnya bergantung pada pikiran-pikiran yang paling sering muncul selamakehidupan. Jika seseorang mempunyai pikiran-pikiran dan watak yang cocokdengan binatang, seperti anjing atau kerbau dalam Sutta Kukkuravatika,maka kemungkinan besar seseorang akan dilahirkan di antarabinatang-binatang ini, yaitu di antara makhluk hidup yang mempunyaiwatak yang mirip. Sebaliknya, jika seseorang membiasakan pikiran-pikirandan watak-watak yang dapat disamakan dengan para Brahma, denganpengembangan perasaan-perasaan mulia seperti cinta kasih dan belaskasih, dia mempunyai kesempatan baik terlahir di antara para Brahma.Maka persiapan untuk kematian benar-benar harus dilakukan saat hidup.Walaupun saat kematian datang pikiran dibimbing menuju kelahiran kembalilebih tinggi, seseorang perlu mempersiapkan keyakinan yang cocok dengankebajikan dan pemahaman manusia -- inilah yang dimaksudkan denganmempunyai keyakinan pada Buddha, Dhamma dan Sangha -- dan pengembangankebiasaan-kebiasaan moral. Jika seseorang tidak mempunyai kebajikan,pembimbingan pola pikiran menuju tingkat lebih tinggi pada saat jamkematian akan menjadi sukar. Tetapi, bagaimanapun susah dan efektifpembimbingan tersebut, mengundang bhikkhu saat pasien menjelang kematianadalah suatu kebiasaan umat Buddhis dengan harapan bahwa pembacaanparitta tertentu akan membantu pasien mengembangkan keyakinan danmeningkatkan pikiran-pikirannya ke tingkat spiritual lebih tinggi. Kita diingatkan di sini bahwa menurut Vinaya (iii,8), beberapa Buddhasebelumnya seperti Vessabhu yang pembebasannya tidak berakhir lama,sering mengajarkan para pengikut Mereka melihat ke dalam pikiran merekadengan memakai kekuatan-kekuatan telepati dan pembimbingan pola-polapikiran mereka: "Pikirlah demikian, jangan berpikir demikian, perhatikanini, jangan perhatikan ini, hentikan ini, kembangkan ini," dll. MungkinBuddha Gotama dan murid-murid terkenalnya memakai teknik ini membimbingpola-pola pikiran para pengikutNya yang patuh di saat kematian. Padasaat-saat biasa mereka nampaknya lebih menyukai memakai teknik-teknikumum dengan khotbah-khotbah ajaran yang panjang daripada meditasibimbingan dengan penglihatan ke dalam pola pikiran individu. Pertanyaan yang mungkin timbul adalah seberapa effektif bimbinganspiritual jika pasien menjelang kematian sedang tidak sadar. Sebenarnyaapa yang penting di sini adalah kita benar-benar tidak mengetahuikondisi batin pasien pada saat kematian. Para dokter dan penontonmungkin menyimpulkan bahwa pasien tidak sadar karena ia tidak bereaksiterhadap sekelilingnya dan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukankepadanya. Lima inderanya mungkin sebagian atau sama sekali tidakberfungsi, tetapi tidak ada yang memastikan apakah fungsi pikirannyaaktif atau tidak. Kita tentunya tidak tahu potensi-potensi spesial apayang ada dalam pikirannya saat kematian. Kemungkinan besar bahwa bagianpikiran adalah yang paling aktif pada saat yang penting ini. Mungkinpada saat inilah seseorang mempunyai perjuangan batin yang paling keras,keinginan hidup yang kuat yang berasal dari kebiasaan kuat menentang danmemprotes kematian. Dugaan kita adalah saat seseorang sangat takut menghadapi kematian, makakeinginan untuk hidup menjadi kuat. Ketakutan atas kematian sangat besarsaat perasaan bersalah seseorang besar, ketakutan bahwa seseorang telahmenghamburkan kesempatan baik dari kehidupan sebagai manusia, suatukesempatan yang dapat digunakan dengan baik untuk perkembanganspiritual. Sebaliknya, jika seseorang telah menggunakan kesempatankehidupan sebagai manusia dengan baik untuk perkembangan spiritual,seseorang dapat menghadapi kematian yang tak dapat dihindari denganketenangan, kesenangan dan kepuasan. Kelahiran kembali seseorangnampaknya sesuai dengan potensi spiritual seseorang yang dalam istilahBuddhis dinamakan kamma. Sangat tepat untuk menyimpulkan karangan ini dengan memikirkan apa yangharus kita lakukan saat kita mengunjungi pasien menjelang kematian.Sikap normal kita adalah kesedihan dan perasaan kasihan, tetapiBuddhisme menganggap salah mempunyai pikiran-pikiran negatif pada saatdemikian. Pendapat saya adalah akan lebih membantu bagi pasien menjelangkematian dan bagi pasien siapapun, jika kita memancarkan pikiran-pikiranmetta, cinta kasih kepadanya. Karena pikiran pasien menjelang kematianmungkin sedang bekerja pada saat penting ini, tak terhalangi olehketerbatasan yang dibebankan oleh fungsi-fungsi jasmani, kemungkinanbahwa batin seseorang akan lebih sensitif dan mudah menerimagelombang-gelombang pikiran spiritual di sekitarnya. Jika kesedihan dantangisan menghasilkan gelombang pikiran negatif, maka orang yang akanmeninggal mungkin terpengaruh. Tetapi jika pikiran-pikiran baik tentangcinta kasih dipancarkan, pikiran-pikiran demikian dapat berfungsisebagai penenang batin yang menghilangkan penderitaan dan kecemasan daridatangnya kematian dan dapat menyelubungi pikiran seseorang dalamselimut yang hangat, tenang dan melindungi.

Singkatan-singkatan :Semua petunjuk dalam teks menunjuk ke edisi-edisi dari the Pali TextSociety, Oxford.A ........... Anguttara NikayaD ............Digha NikayaDhp ....... DhammapadaDhpA ..... Dhammapada AtthakathaM ........... Majjhima NikayaMA ......... Majjhima Nikaya AtthakathaS ........... Samyutta NikayaVin ......... Vinaya Pitaka
Tentang pengarang :Lily de Silva adalah profesor dari Pali dan Buddhist Studi di theUniversitas Peradeniya di Sri Lanka. Seorang penyumbang tetap pelajarBuddhis dan majalah-majalah populer, ia juga editor dari Digha NikayaTika yang diterbitkan oleh Pali Text Society. Penerbitan BPS sebelumnyatermasuk One Foot in the World (Wheel No. 337/338), The Self-MadePrivate Prison (Bodhi Leaves No. 120), dan Radical Therapy (Bodhi LeavesNo. 123). Sumber : http://www.accesstoinsight.org/lib/bps/leaves/bl132.html

Diterjemahkan oleh : Jenny H - SurabayaEditor : Bhikkhu Uttamo

Tidak ada komentar: